Sahabat

Kulihat Samaran Gundah Pada Wajahmu
: semua sobat sobit

kau duduk pada malam sendiri
pandangi langit yang bukan biru
sadari hidup kini berjalan di kakimu
kurang indah dan sedikit berdebu.
mentari jadi terlalu bercahaya, dan
sinarnya tak mampu menghiburmu
kau hanya yakin satu, hidupmu sudah hancur
terbakar oleh teriknya
lalu kau lihat jalan menjauh, dan
sedikit tergoda tuk berada
diatasnya.

hei, kawan!
birunya kehidupan takkan pernah tersapu indahnya
meski debu kelabu bersarang di dalamnya
karna pelangi adalah harapan
kepada siapa
kita ingin berpihak.

kelak lagi,
jika kau temukan dirimu dalam
pelukan badai
jangan jadi ragu dalam tangis yang murka
injak dunia dengan caramu
karna kau adalah dirimu
dan bintang itu selalu ada untukmu.
untukmu.
untukmu.

Bandungan petang, rapat kafe daun, 1997

*

Lukisan Lugu

:obat stress manusia

marahmu terbungkus oleh senyum
yang kau tebarkan pada langit sunyi
peranmu tak kentara, tapi terasa hangatnya
kau adalah satu titik dalam sebuah garis,
dan satu garis dalam goresan gambar.

tanpamu,
garis dan gambar tetap ada, tapi
tiada sempurna indahnya.

Rintik  Semarang, Kafe Daun,1997

*

TibaTiba di 1999 I

.

akhirnya, dari sini dapat kulihat

heningmu yang begitu senyap, dan

tawamu yang tak seutuhnya

selama derai waktu ini

adalah gelisah rindu

merangkul helai jiwa kekasih, yang

ingin kau nyanyikan

tibatiba

Kampus, 1999

*

TibaTiba di 1999 II

(perjumpaan dengan Chaz!)

kini, berapa mozaik kisah telah kita lompati
aku sungguh tak menghitung waktu, hingga
tibatiba
kau dalam sapaanmu mengelus kenanganku
akan persahabatan kita,
akan riuhnya kegembiraan berurai duka
saling jadi wadah sampah, yang
selalu bisa mendaur ulang
kunantikan saat bahagiamu, dan
kami lihat kau telah bahagia
bersama kekasihmu, yang kau petik
tibatiba
melenyapkanmu dari ukiran kisah kita
kami sedikit kehilanganmu, tapi
kami saling mengobati
sungguh
tibatiba

musik yang kau mainkan
terlalu jauh gaungnya bagi telingaku
masihkah kau dalam genggaman angin
yang sesekali mengibarkanmu keras, dan
kadang membuatmu oleng
masihkah kau dalam keterbatasanmu
berkawan dengan rasa sakit
namun tetap menjadikannya milikmu
asal kau masih sama, dan
kau masih saja
sama
dalam emosi yang tak kentara warnanya
dalam katakata yang tak menggema
dalam jingga jiwamu yang terbungkus kabut
dalam letupan hasrat yang tak jua kau tunjukkan
tibatiba
kau sulam pintu kesadaran kami

segala yang hidup, memiliki
udaranya sendiri.

(1999, jumpa sekilas di tangga kampus, siap-siap mau kuliah, beda kelas,

wis suwi ora pethuk!…)

*

Kau dan Kekasih
.

kita bertemu, kau dan kekasihmu,
dan diriku,
dan deretan kawan sejiwa
berboncengan membelah malam gulita
menuju rumah sahabat sedang
muram memeluk air mata

yang sebagian telah ditabur bagi ayahanda
di atas kuburnya, siang tadi

malam ini, aku hanya melihat
kau dan kekasihmu
sangat sunyi, hanya ada warna biru yang dingin
bahkan ibadat duka cita ini,
lebih ramai dentingnya
lebih mesra hangatnya

seperti waktu yang sudahsudah, pada tiaptiap babak
yang menjebak pertemuan kita
kau dan kekasihmu,
sangat sunyi, hanya ada warna biru
dingin
setipis angin batasan itu terbaca
antara kau dan kekasih

Ungaran murung, Selasa, 31 Oktober 2000

*

Kenangan

memory of Cafe Daun

masih kugenggam sebutir hujan itu
yang kusimpan dari kilauan masa lalu
saksi penggalan cerita manis lucu
sehangat kopi susu
mengalir mulus diantara bibirbibir pelanggan kafe kita

kala itu, kita hanya ingin
meletakkan tangan di ketiak kehidupan
rasakan alirannya, deras merengkuh dada kita

kadang jadi sesak dan kesakitan, payah

mencari arti dari bekerja

seperti menu masakan yang hendak kita racik
bergulat mencari selera, apa jua kita tlah coba

ah,
hasrat tak bernama
…………marah tak bertuan
…………………tangis tak bermata
……………………….bahagia tak terkata

kita telah cicipi satupersatu, warna kita masingmasing
hati yang beradu dalam cinta yang menyendiri
………………………………………inilah irama lagu kita

dan, jika akhirnya kita berkumpul
bicara tentang perpisahan
tuk tempuh hidup masingmasing
berpencar ke segala arah mata angin,
……………………………….aku tak salahkan apapun

dulu kita masih lugu
………………bagai separuh bait lagu
…………………………belum tahu arti perjalanan

untung aku masih menyimpannya
sebutir bening hujan masa itu
yang kucuri dari Tuhan, agar kudapat puas
memandanginya dalam rindu yang haru
……………………………………….pada segala masa
kapanpun, semau warna hati.

Semarang, 2004

*

Serupa ‘White Crime’ Aroma Tubuhmu

:sebuah tepukan di pundak sahabat

serupa tawa. gigigeligi tanpa malu berhambur pamer diri
serupa hati. lidah jiwajiwa bertaut nyaring bercerita ramai
sebentuk kisah kau juga dia selusuri persahabatan
begitu erat menghangat lebihi jabat tangan

serupa tangis. ada rembes air diujung dahan padi
serupa resah. tidurtiduran gelisah mendesah separuh asa
kulihat aku. tunggui setiamu di titian hari
bawa pulang wewangi damai bagi rumah kita

ijinkan aku bermenung sendu
batas kawan berkawan ngertikah kau
berikut sulur siratan aturan itu
kala kau berdansa dengan kaumku
sedang seluruhmu mengikat padaku

adakah serupa sadar tanpa pudar, bisa
kuharap tinggal di ceruk hatimu yang paling sunyi
jejak yang kau tinggal itu pusat segala
kisah hidup anak beranak kita esok

jangan pernah beri aku putih
bila serupa hitam tak kentara

2009

*

Rasa yang  Entah
:Inez Pecia Zen

mengapa aku begini sedih
lihat duka tepuk bahumu
beruntun tak mau tahu
kembali kala pertama disapih

mengapa aku begini sakit
menyatu dekat pada derita
di sabarmu yang makin renta
bahagia serasa makin sedikit

mengapa aku begini pedih
pandangi kau bergelut makna
berdiri bangkit, lalu kuat menganak
sedang dadamu tersayat perih

lalu, mengapa aku begini murka
tarik dirimu cari keadilan
ketegaranmu itu samudera
bening hatimu bukan buatan

ah, kurayu saja Tuhan
peluk engkau jalani proses menerima
lalu lekas ajak kau ke masa depan
saat kautemukan dirimu mengaca

lalu puas tertawai
dukamu pada kini

2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s