Pernikahan dalam Mal

Dalam kosong ceriaku, ikuti langkah kemana lalu. Pergi meniti awan berkantung tebal, penuh dengan taburan ribuan kertas, lembar uang seratus ribu. Ceriaku mengangkasa, menyeret kakiku melangkah tegap menuju sebuah mal mewah di metropolitan. Pada pintu masuk yang berputar, aku merubah diriku. Tubuhku menyukai kerja sama antara celana, baju, sepatu jinjit, tas, dan aksesoris yang kupasangkan.... Continue Reading →

Negeri Yang Tertidur

Ibu mengemasi pakaian. Bapak coba nyalakan mobil pick-up sewaan. Kami bimbang berangkulan, saksikan para tetangga hilir mudik, masuk keluar rumah, memindahkan barang-barang ke dalam bak mobil. Sesekali aku ikut membantu, tapi untuk apa? Aku masih tak mengerti.  Ibu dan Bapak tak bersuara sejak tadi. Sampai akhirnya Bapak berlutut, sejajar dengan mata kami. ”Mulai sekarang, kita... Continue Reading →

Membaca ‘Perempuan Kopi’, Saya Ingin ‘Lebay’ (Catatan sederhana atas buku Kumcer ‘Perempuan Kopi’ karya Dewi Nova)

“Aku kehilangan rumah. Rumah tempat kubaringkan hati dan tubuhku. Rumah yang sempurna dengan segala wangi rempah cinta.”  -Dewi Nova – Kekasih Pagi- Sore-sore sepulang kerja, saya baca buku ini. Duduk-duduk santai, di teras rumah. Rumah. Ya. Sebuah ruang aman nyaman. Lengkap dengan secangkir kopi, dan kudapan. Tak lupa musik lembut milik Joan Baez, yang lamat-lamat.... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑