Lukisan Shanti Yani Rahman - RWANDA, dalam Buku SERAPAH IBU
Lukisan Shanti Yani Rahman – RWANDA, dalam Buku SERAPAH IBU

Aku tak tahu bagaimana perasaan ini mulai ada. Juga tak tahu mengapa Tuhan kirimkan kau yang berkelebat lewat, dan akhirnya melekat di hati. Kita berkawan erat. Entah, bagaimana awalnya. Aku tak pernah tahu. Mungkin juga kau.

Persahabatan ini bergulir begitu saja. Subur, kehijauan. Begitu berkilauan cahyanya tanpa pernah silaukan mata. Begitu mencengkeram ke pori pori jantung tanpa pernah membuatnya mati.

Memang, aku pernah memohon pada Tuhan, tuk menghunus sebentuk luka ini. Timbunan luka yang masih basah. Adakah seseorang dapat membantu? Tapi Tuhan memilih mempertemukanku denganmu. Dan Ia tinggalkan aku, sambil sekelebat berkata, “Sembuhkanlah dirimu sendiri!” Hah, Tuhan. Mengapa sebegitu terhadapku.

Kau. Pengamen jalanan yang kesepian. Bagai seorang abdi, ku ikuti perjalananmu, demi ribuan kata yang keluar dari bibirmu. Namun yang kutemui, selalu hening dan penuh jeda. Sedikit saja kata yang tumpah. Padahal aku sedemikian telaten menunggu untuk memunguti kata yang berjatuhan itu.

Kesabaranku timbul dengan sendirinya. Kerelaan hadir begitu saja. Ah. Hampir tak mengerti aku, pada diri.

“Mari nyanyikan lagu-lagu para Dewa.” Katamu sekali waktu. Tanpa kau seret, aku mengekor di belakang. Sebentar kita sudah menyatu dengan terminal tua. Atau stasiun kereta. Kau petik gitar lusuhmu, dan mulai bernyanyi.

Aku mulai terbiasa dengan tugasku. Menyorongkan gelas plastik kosong, kepada para penumpang. Sambil sesekali ikut bernyanyi, atau bertepuk, atau bahkan menari. Kuikuti begitu saja musik yang kau mainkan. Bis bertemu bis. Kereta bertemu kereta.

Tak ada waktu bercerita setelahnya. Sia-sia tunggu tuturmu. Kita lelah dan terlelap.

Sembuhkanlah dirimu sendiri! Yah. Sembuhkanlah! Terbayang suara itu saat terakhir kali Tuhan tinggalkanku. Harapan atas kesembuhan leluka milikku ini, memudar rasanya.

Sungguh. Aku semakin tak mengerti mauNya. Karna bersamamu. Entahlah. Tak ada yang kudapat. Tak ada. Ceritera tentangmu? Bahkan kau pun berkata tak punya kisah.

Suatu pagi yang basah, aku hendak bersiap ikuti perjalananmu lagi. Ibu menahan pergiku. Mengata-ngataiku tanpa saringan kata. Hanya berawal masalah kecil, seperti biasanya. Lalu, merambat ke lain perkara.

“Menyesal aku melahirkanmu! Anak tak tahu diri.” seru ibu sekeras mungkin di teras rumah.

“Aku tak pernah minta dilahirkan, ibu.” Dari dalam rumah berkata tertahan. Malu rasanya ibu mulai berkoar-koar membiarkan semua dengar.

“Dasar anak durhaka. Kualat kamu, berani sama ibu!” makin keras ibu berteriak.

“Ibu yang berhati baik tak akan menghujat anaknya sembarangan.” Aku tak mau kalah. Bertahun-tahun aku diam, bagai anak dungu dan bodoh. Ini saatnya.

“Oh. Sudah pintar berkata-kata kamu ya! Sombong betul kamu! Mentang-mentang sudah besar! Kualat kamu!” Teriak ibu ke arah rumah para tetangga. Seperti hendak memberikan pengumuman penting. Makin keras saja ibu bicara.

“Lihat kelakuan ibu selama ini. Apa pantas ibu lemparkan kata kualat ke arahku?! Bila arah jalanmu benar, dan hatimu bersih, pasti aku benar-benar kualat. Bukankah sedari kecil, sudah kau takuti aku dengan kata itu!” terpancing aku. Ah. Hanya ibu yang mampu membuatku emosi begini rupa.

“Kau! Kau sungguh kurang ajar. Anak macam kamu itu, yang ajari anak-anak kecil di bawah kolong jembatan sana?! Anak macam kamu, yang katanya sabar membantu orang-orang tua di panti jompo itu, ha?! Anak macam kamu, yang punya banyak kawan setia?! Puihh!! Biar kuceritakan pada mereka bagaimana kelakuanmu di rumah. Lihat saja! Aku tak akan main-main. Lihat saja!!” ancaman yang tak perlu dilakukan lagi. Membayangkan para tetangga yang pasang kuping saja, sudah buatku begitu malu dan putus asa.

“Apa ibu mau, aku beberkan keburukan ibu juga?” tanyaku datar menantang wajah ibu. Kebencianku kembali datang. Belum pernah aku senekat ini. Sedikit kikuk, aku pergi meninggalkannya.

“Hei! Jangan sombong kamu! Bagaimanapun kamu, ingatlah! Kamu tetap saja anak kere! Tak bisa apa-apa! Tak akan ada laki-laki yang mau kawin denganmu! Ingat itu ya! Pergi sana! Pergi yang jauh. Malas ibu melihatmu lagi!”

Aku pergi. Benar-benar pergi. Diiringi suara ibu yang masih teriak-teriak di belakangku. Sungguh tak tahu bagaimana lagi caraku tuk sembunyikan wajahku.

Jalan bergoyang-goyang tak keruan. Rumah, pohon, orang-orang, semua berguncang makin kencang. Kerongkongan kurasa sakit, menahan luapan emosi. Ada air, di ujung mata. Begitu saja menetes. Entah aku hendak kemana.

Pada ibu, aku ingin terbuka. Bila wajah ibu sedang sumringah. Aku bercerita banyak hal. Padahal, aku sudah tahu, akan selalu begini akibatnya. Ceritera-ceritera itu akan hadir di setiap amarahnya yang meledak-ledak. Aku masih saja kanak-kanak baginya, tak punya rasa malu.

Oh. Aku sungguh tak tahu hendak berbuat apa. Aku begitu kewalahan hapusi air mata. Kewalahan berjalan tanpa menatap ke depan. Kewalahan hindari tatapan mata orang-orang sekitar. Aku tak tahu. Aku bingung.

Aku teringat kau. Oh. Akupun tak tahu, bagaimana caraku berkabar. Aku tak mampu ikuti perjalananmu kali ini. Tak sanggup. Tapi, apakah kau mencariku. Selama ini, bukankah aku yang rajin mengikutimu. Demi mencari kesembuhan itu.

Masih terisak, kutemukan tempat tersembunyi. Sebuah gerbong tua, yang lorongnya biasa untuk tidur para gelandangan di malam hari. Tempat yang akhir-akhir ini begitu dekat dan akrab. Ah, bukankah aku mengenalnya karenamu?

Uh. Teringat aku akan serapah ibu. Siapa aku? Aku hanya anak durhaka yang seharusnya belum layak dan pantas mengajari anak-anak di kolong jembatan. Apalagi tentang kehidupan. Lalu apakah kesabaran dan keramahanku pada mereka selama ini cuma topeng? Tidak. Aku memberikan hatiku untuk mereka. Sungguh.

Kukeluarkan sebuah buku harian. Tempat aku menulis warna warni hatiku. Hidupku memang bergantung padanya. Ada setumpuk buku harian yang sudah penuh di rumah, kusimpan di tempat tersembunyi, agar tidak terbaca ibu.

Buku ini pun pernah ketahuan ibu, ia memarahi sekaligus mengolok-olokku. Menjadikannya bahan tertawaan bersama kakak sepupunya, yang belakangan ketahuan bahwa ia ayahku sebenarnya. Itulah mengapa ada bagian tubuhku yang cacat. Ya, kaki ini. Salah satu kakiku sangatlah kecil. Aku selalu berjalan terhuyung-huyung.

Rasa minder sudah lama tak kuberi tempat di hatiku. Banyak kawan mengasihiku. Pelukan mereka selalu terasa hangat. Aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan keterbatasanku. Seadanya aku, dengan segalaku. Aku tak mau mati tanpa bekas.

Kusadari, ibu tak sepenuhnya menerima keberadaanku. Kembali terbayang serapah itu. Hmm…serapah. Ibu memang tak lagi pukuli aku seperti dulu. Apalagi membenturkan kepalaku di tembok, menghempaskan tubuhku ke lantai, lalu menginjak-injaknya jika ia sedang marah. Tapi serapah itu, masih saja tajam menghunusku.

Sambil kutulis dan kutulis…

Aku masih ingin berlama-lama di gerbong ini. Ada bayang lelaki membawa gitar, hadir dari salah satu pintu gerbong. Kaukah itu? Mungkinkah?

Kau naik dan hampiriku. Kuhapus begitu saja peluh di wajahmu. Kusematkan peluh itu di rambut panjangmu, yang kau ikat asal.

“Apa yang kau tulis?” langsung kau rebut buku dari tanganku.

Aku ingin bertanya banyak hal. Tentang bagaimana kau menemukanku. Apakah kau mencariku, ataukah hanya kebetulan. Namun pertanyaan itu tiba-tiba menjadi tak penting lagi.

“Mengapa kau buat puisi seperti ini untuk ibumu?” kau bertanya lagi.

Aku terdiam bukan karna tak tahu harus jawab apa. Aku terdiam karna kali ini kau mulai bertanya. Tentangku. Tentang hal yang kulakukan. Kau selalu hening.

“Ini, hal yang kutulis tentang ibuku…” ucapmu pelan sambil kau keluarkan secarik kertas dari dalam dompetmu. “Ini kutulis waktu usiaku tujuh belas tahun…” tambahmu.

Lipatan kertas itu kubuka perlahan. Lusuh sekali, sedikit koyak disana sini.

“Ibumu sudah tiada?” mataku meleleh lagi.

“Ya. Sejak aku kecil.” Kulihat matamu ikut berkaca.

“Kau sangat merindukannya, ha?”

“Sangat.” katamu terbata, “Aku hanya mampu membayangkan saja. Semacam siluet yang tak pernah sanggup kuhadirkan.”

“Apakah kerap menyiksamu?”

“Uh. Kau tak kan bisa bayangkan rasanya. Ketika kesepian datang, kerinduan ini sangat menyiksa. Hidupku seperti tak berarti lagi. Namun bersamaan dengan itu aku harus terus berjuang agar tujuanku berhasil. Benar-benar situasi yang menyiksa.”

Kau menghela nafas yang begitu berat. Memejamkan mata. Sambil tanganmu merabai saku celana, mengeluarkan korek api. Lalu menyulut sebatang rokok yang sedari tadi kau sematkan di telingamu.

Aku tak ingin bertanya apapun. Hanya diam menunggumu berkata-kata. Kepedihanku melebur dengan kerinduan milikmu. Kemarahanku menyublim dengan ketakutanmu. Air mataku terbawa asap rokokmu yang melenggang bersama angin.

Ah. Aku tersenyum dalam hati. Betapa Tuhan penuh kejutan. Tiba-tiba aku tahu mengapa ia mempertemukanku denganmu. Ada yang mendesir di sanubari.

Yah. Bukankah kita memiliki leluka yang sama? Luka yang sedari kecil tak pernah tersembuhkan. Ketika kehadirannya sering tak terduga. Bikin sesak. Bikin penat. Bikin tersiksa dan terisak diam-diam.

Ibu. Leluka karna keberadaan ibu kita. Luka karna kau tak memilikinya, yang justru aku memilikinya. Luka karna bertahun-tahun lamanya kau merindukannya, dan aku membencinya. Kau ingin memilikinya sekali lagi, dan aku ingin membuangnya. Kau ingin dekat melekat dan mendekap pada ibu. Dan aku, ingin mengusirnya. Menyingkirkannya jauh-jauh dari hidupku.

Apakah sungguh sembuh? Entahlah. Paling tidak, masing-masing dari kita mulai tahu, dimana letak syukur itu. Kita saling bercerita tentang ibu-ibu kita. Menangisinya, lalu terbahak bersama. Tawa yang begitu pahit dan getir. Sampai kita lelah dan terlelap.

Lalu bulan tertidur, hingga pagi terlepas dari tangannya. Setelah cium yang indah, kau pergi, sambil mengusung kesepianmu sendiri. Ah, kau memang perindu sepi, apapun kau lakukan tuk menemukannya. Aku sendiri, siap bangkit lanjutkan hidupku. Pulang.

Kutemui wajah ibu yang mencuri-curi mataku. Cemas. Makanan kesukaanku yang ibu masak, begitu nikmat, dan membuat suasana tiba-tiba hangat. Kami menertawai kekonyolan kami. Pun aku, mulai bercerita apapun kepada ibu.

Tak ada lagi bilik rahasia.

Perasaanku begitu ringan, ingin dekat pada ibu. Bukankah katamu, aku masih lebih beruntung memiliki ibu? Dan, ya. Bagaimanapun, ia ibuku.

Seminggu setelahnya, kudapati biji mataku bergambar api yang permanen. Api itu telah membuat panas wajahku, terutama jiwaku. Setumpuk buku harianku, hangus dibakar ibu. Tanpa sisa.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.85-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s