Satu Ibu dalam Diriku

Lukisan Shanti Yani Rahman - SIERRA LIONE, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – SIERRA LIONE, dalam Buku SERAPAH IBU

Aku muak pada sosok ibu. Muak semuak-muaknya, sampai sampai aku enggan tatap muka dengan muka ibu. Aku disiksa-siksa lagi. Kuberitahu rasa sakit lewat tangis teriak malah marah ibu makin menjadi, makin ada alasan tuk tusuk tusuki hati jiwa badan.

Keras, sekeras keras tangis keluar, makin keras tubuh dipukul, pun kata kata kasar nyasar ke jiwa. Ini ibu, ibuku kah?

Tangisku makin pecah tak karuan, ibu teriak kencang, ssshhhh ..diamlah! Diam! Diam! Bisa diam tidak!! Tahu-tahu kepalaku ada dalam genggaman ibu, dilemparnya aku ke tembok. Tangisku membengkak, aku terjatuh. Diaaamm!! Diaaamm!! Anak tak ngerti kesulitanku! Ibu injak kepalaku dengan kakinya yang surga, aku mengaduh teriak cari-cari perhatian sesiapa di luar rumah. Makin keras aku menangis, makin kuat ibu pukuli aku.

Aku berusaha lari keluar rumah. Ibu kejar aku. Ibu memburuku. Aku akan berhasil lari keluar, sedikit lagi. Kuraih pintu dan kubuka. Kena! Mau kemana kau? Bajuku ditarik ibu. Tanganku tertangkap ibu. Aku terjepit pintu dan aku teriak ketakutan. Ada beberapa orang diluar melihat ke arahku. Singkat sekali mereka tengok ke arahku. Tak ada yang menolongku. Masuk!! Kamu mau tetangga tahu, ha! Mau bikin hidup ibu tambah susah?!

Tidak ibu. Aku takut.

Ibu tak dengar jeritku. Aku takut untuk teriak. Aku terjatuh dan ibu tendang tubuhku. Diam! Tak ada yang kasihan padamu, tahu?!! Atau masih kurang?! Aku tahan tangisku. Ibu berusaha membuatku berdiri tegak. Dengan satu tangannya, rambutku terikat kuat dalam genggamannya. Jangan cengeng! Diam, ngerti?! Wajah ibu tiba tiba dekat di hadapanku. Mata kupejam rapat-rapat agar air mata dapat kutahan bersama sakit bersama takut. Mau ibu tinggal pergi? Ha?! Bapakmu sudah tak urusi kamu! Mau ibu tinggal juga?!

Jangan ibu. Aku takut.

Ibu kelelahan. Diam. Matanya awasi wajahku. Kulihat ibu kasihan padaku. Mataku yang diam dan memelas, juga dadaku yang naik turun. Ada isak tanpa air mata. Tapi ibu remas dan tinju wajahku lagi. Aku benci wajahmu! Aku benci matamu! Gambar Bapakmu jelas disana. Kamu mau seperti Bapakmu! Tak ngerti kesulitanku?! Ikut-ikutan bikin susah! Mau kubikin nasibmu seperti anak-anak di televisi itu! Mati di tangan ibu kandungnya, iya?!! Hanya isak tersisa dari tubuhku. Airmata rembes masuk ke pori.

Ibu. Aku kehabisan tenaga. Aku tak lapar lagi.

Aku ketakutan. Tubuhku dingin seolah tanpa darah. Anakku. Oh, anakku. Bergeraklah. Bergeraklah! Oh. Maafkan ibu! Maafkan. Kuratapi tubuh anakku. Ohhh,.. aku benci ibu..

Ibu. Ibu!! Lihat anakku! Ia tak bergerak.

Ibu membeku.

Ibu!! Lihat cucu ibu!!

Ibu tak bisa bicara, apalagi menggerakkan badannya yang lumpuh. Hanya air mata. Leleh. Menatapku, juga anakku yang sekarat. Pilu.

Ibu. Kita kalah lagi.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.119-

2 thoughts on “Satu Ibu dalam Diriku

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s