Rahasia Setia Rosa

Lukisan Shanti Yani Rahman - Okavango River, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – OKAVANGO RIVER, dalam Buku SERAPAH IBU

“Pasti selingkuhannya banyak…” Bu Tejo berusaha memancing Mbok Nah yang sedang menyeterika.

“Waduh. Itu saya ndak tahu njih Bu, yang saya tahu Ibu itu sayang sama Pak Purbo, sama anak-anak, sayang sama saya juga.”

“Lhoh,.. situ pembantu, kok ikut merasa disayang. Kamu biasa dikasih uang banyak ya?” Bu Jumi, yang juga tetangga dekat ikut-ikutan bergosip.

“Mana mungkin bisa menghidupi keluarga kalau Bu Rosa itu tidak macam-macam dengan lelaki berduit, lha wong obat untuk suaminya saja kan mahal sekali,.. ditambah untuk sekolah anak-anaknya, untuk bayar situ, Mbok…”

“Astaga, Bu. Saya saja yang bertahun-tahun ikut Ibu, ndak punya pikiran kesitu. Lha kok ibu-ibu ini, sebagai sesama perempuan, tega-teganya berpikiran begitu,” sanggah Mbok Nah sambil sedikit-sedikit matanya mengawasi kamar utama.

“Sekarang, apa pekerjaan Bu Rosa, ha?! Pekerjaannya saja ndak jelas. Sering pulang malam, kadang malah ndak pulang,” suara Bu Tejo mengeras. Jengkel dia diingatkan oleh Mbok Nah, yang hanya seorang pembantu.

“Ibu itu,… juru tulis. Sibuk. Langganannya banyak…”

“Walah… juru tulis itu kan sekretaris. Apa hubungannya sekretaris dengan langganan? Simbok jelas sudah diakali…” Bu Jumi semakin usil.

“Lagipula, lima tahunan lho, Pak Purbo itu kena stroke. Bayangkan, lima tahun!” Bu Tejo menjulurkan kelima jarinya ke wajah Mbok Nah, ”Masa Bu Rosa ndak kepingin…begituan hehehe..” Tambah Bu Tejo melirik nakal ke arah Bu Jumi sambil sikunya menyenggol lengan Mbok Nah. Mereka cekikikan.

“Aduh,…maksud penjenengan ini apa. Saya sampai risih mendengarnya. Ibu-ibu ini bukannya prihatin dan kasihan, tapi kok malah mikir yang bukan- bukan.”

“Lha justru itu. Aku kasihan dengan Pak Purbo, sudah sakit, namanya tercemar.. kan tambah kasihan…apalagi nasib anak-anaknya.”

“Siapa yang namanya tercemar?!“ Mbok Nah mencabut kabel seterikanya. “Panjenengan ini memang tidak patut dihormati. Sudah dibantu Ibu, hutang ndak pernah bayar didiamkan saja, malah ngerasani jelek!”

Bu Tejo dan Bu Jumi kaget dengan sikap Mbok Nah. “Kamu itu cuma pembantu kok berani omong kasar begitu!”

“Orang-orang seperti panjenengan memang pantasnya dikasari oleh pembantu macam saya ini. Silahkan keluar. Saya pikir kemari mau menjenguk Pak Purbo, malah mengganggu pekerjaan saya. Bawa kembali makanan ini. Kasihan ibu, menerima pemberian beracun!!” Mbok Nah emosi.

“Lha kok situ yang marah-marah! Apa hak kamu menolak. Ini bukan untuk kamu!” Pembicaraan yang semula bisik-bisik di dalam rumah, jadi keras dan ramai menuju pintu keluar, lalu teras. Kini di luar pagar.

“Sesama perempuan kok begitu! Pikirannya curiga, pikirannya jorok, kemproh!”

Orang-orang keluar rumah. Menyaksikan ribut-ribut antara Mbok Nah dengan dua Ibu yang suka bergunjing di komplek perumahan itu.

“E..e.. pembantu saja kok sok! Sok setia, sok benar, sok membela! Kamu juga ndak tau majikanmu bagaimana kalau di luaran kan?!” Bu Jumi tak mau kalah. Seolah berusaha agar para tetangga lain paham apa yang dibicarakan, dan ikut membenarkannya.

“Biar saya kasih tahu ya. Ibu Rosa itu pantas saya bela. Perempuan hebat, ndak cengeng dengan keadaannya, ndak mau merepotkan orang. Setia sama keluarga, kerja keras banting tulang buat keluarga, ndak pernah ikut campur urusan orang, kulo niki bangga nderek Bu Rosa. Ngerti?!” kini airmata rembes di pipi Mbok Nah. Sakit hati, majikannya dibicarakan orang.

 

 

“Mereka kebanyakan memang lelaki. Aku menulis tentang mereka, seturut keinginan mereka, meski dengan caraku. Ini bagian dari pekerjaan, demi kebutuhan dan keutuhan keluarga kita, bukan?” Rosa bicara terbata, penuh tekanan.

Purbo Jatmiko mengerjapkan matanya. Coba diangkatnya kepalanya.

“Meninggalkanmu, tak pernah ada dalam pikiranku. Kaulah kekuatanku. Aku mencintaimu.” Bisik Rosa sambil berkali kali menciumi wajah Purbo. Bibirnya dingin. Rahangnya mengeras.

Purbo Jatmiko mencoba tersenyum. Tangannya kesulitan menggapai wajah istrinya. Rosa menarik tangan Purbo, meletakkannya di pipi, lalu menciuminya. Ia seperti sedang menahan sesuatu.

Mbok Nah masuk sebentar, setelah suara ketukan. Meletakkan teh hangat untuk Rosa, dan minyak urut buatannya di dalam mangkuk kecil. Kikuk ia keluar kamar.

 

Rosa mengerjapkan matanya berkali kali, “Tidak..” pundaknya berguncang, ”Aku berbohong,” makin kencang, dan tiba-tiba, pecah tangis itu…”Ya. Kuakui, aku menyerah.. aku menyerah…” sesenggukan di telapak tangan Purbo.

Purbo mengerjapkan matanya. Ada air leleh dari ekor mata menuju telinga.

“Aku harus selalu tersenyum disana. Menguatkan siapapun yang jatuh di pundakku. Atau merayuku menawarkan perhatiannya. Betapa sulitnya ini bagiku. Karna diam diam aku mesti menata keresahanku.” Rosa bicara terbata, sambil mulai memijit kaki Purbo.

Harum minyak ramuan Mbok Nah menjadi biasa saja.

“Aku berusaha menatap pertemuan kita. Kau, penyair yang terbaring sakit. Puisi-puisimu menjadi kekuatan. Kembali kembali kembali, kubacai semua syairmu itu…”

Purbo menyaksikan nafas Rosa yang terengah sedang mencoba mengangkat kakinya. Menggerak-gerakkannya seturut anjuran terapis. Tapi kepalanya terhenti di ujung kaki Purbo. Air mata jatuh disana.

“Kata-katamu menjadi kekaguman, inspirasiku. Kudapati kesepianmu, namun juga cemburu. Menebak-nebak, siapa sedang dalam jiwamu. Andaikan mungkin, akan kubuka negeri imaji di sekelilingmu, seperti menyibak rambutmu tuk mencari si warna putih, dan mencabutinya agar tinggal kenangan.”

Purbo seperti hendak berkata.

“Diam-diam. Akupun ingin kita sama setara. Banyak penyinta puisi terutama para gadis yang datang dan pergi belajar entah apa padamu, sementara aku yang membuatkan minuman untuk mereka. Atau, diskusi hingga pagi diluar sana, sementara anak-anak rindu pada bapaknya. Dan aku, berada di luar kalian.”

“Aku sudah berusaha, dan,… aku mulai ingin menjadi sepertimu, menjadi sesuatu, menjadi seseorang, ..dan berteriak, aku mampu sepertimu!!…”

“Jangan lupa, terkadang. Ada nama-nama perempuan lain terselip dan mengusik kehidupan perkawinan kita….” Rosa memelankan suaranya.

Kepala Purbo bergerak-gerak cepat.

“Tapi, memang begini bagianku, bukan? Kupaksa diri, tuk jadi penulis bayangan, bagi banyak tokoh terkenal itu. Tak ada namaku di buku manapun, tak ada. Asalkan aku dibayar cukup untuk keluarga. Aku menerima keadaan ini. Sementara mereka bergunjing tentang aku tanpa aku bisa leluasa menjelaskannya, anak-anak jadi kurang perhatian.”

Rosa mendesah, “aku tak bermimpi soal kepopuleran lagi, karya perempuan bernama Rosa Venerini,… kisah hidup seseorang yang dibuatnya, novelnya, naskah-naskah pidatonya, puisi-puisinya, aku harus menyimpan rahasia terhadap karya Rosa Venerini, yang berganti nama menjadi entah siapa. Setiap hari aku hidup dalam pertentangan ini…”

“Selalu separuh hati ini berteriak, itu karyaku! Tepuk tangan itu milikku! Dan di kesepian, perasaan-perasaan ini makin liar saja. Dalam keadaan seperti ini aku sangat rapuh, sayang. Tiba-tiba, aku bisa merasakan bagaimana berada di ruang sunyi sepi itu, seperti dirimu. Dan kau tahu? Aku sangat membutuhkan orang yang mendukungku.”

Purbo mengedipkan matanya berkali-kali. Mengeraskan tulang-tulangnya. Kaku. Rosa masih memijiti kaki-kaki Purbo.

“Ya. Ya, suamiku.” Ketegasan Rosa tiba-tiba kembali. “…aku menginginkan seseorang yang membalas kata-kataku. Balas memelukku! Balas merangkulku! Menghapus air mataku dengan jemarinya! Mengusap rambutku dengan telapaknya! Memberiku selimut kala tubuh hampir beku! Membimbingku dengan lengannya! Bujuk rayu mereka makin masuk akal saja bagiku… Ngertikah kau bahwa semua ini begitu menggodaku??… Ah!!” tubuh Rosa terlempar ke dinding.

Sebuah gerak reflek telah menghentaknya begitu rupa. Mangkuk minyak terjatuh di dada Rosa, lalu lepas ke lantai. Pecahannya bikin gaduh.

“Ada apa denganmu?!” Rosa menantang Purbo. Sikapnya datar dan dingin. “Kau takut?! Kau takut aku menjadi sepertimu di masa lalu?!”

Purbo terus bergerak-gerak gelisah.

“Tak bolehkah? Tak bolehkah kuikuti jejakmu? Tak pantaskah?!” Rosa bergegas melepas pakaian yang ketumpahan minyak. Purbo mengawasi gerak istrinya.

Dalam keterpasungan, dilihatnya Rosa berganti pakaian. Ah. Tubuh sintal yang kenyal dan kencang. Pastinya sangat menggairahkan para lelaki penggoda itu.

Lalu terpana pada kutang dan celana dalam Rosa, yang lusuh dan jelek. Disana ada lubang dan sobekan di sana sini.

Purbo tersentak pada masa pacaran dulu, ketika Rosa enggan bermesraan dengannya sebelum menikah. Tak ingin keperawanannya hilang sebelum ada ikatan suci. Gadis kuno. Sampai-sampai Purbo penasaran, begitu kuatnya pertahanan kekasihnya saat itu.

“Memakai kutang dan celana dalam yang lusuh dan jelek, hal yang paling tak diingini perempuan manapun. Ia akan malu membuka baju di depan prianya.” Goda Rosa dimalam pertama mereka.

“Oh ya?”

“Ya, sayangku. Bila hasrat sulit dibendung, perlu jeruji untuk mengekang suatu kebebasan diri, bukan?”

Dan kemesraan yang tercipta di malam pertama itu, menjadi begitu puncak.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal. 55-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s