Pernikahan dalam Mal

Lukisan Shanti Yani Rahman 1, dalam buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – ADDIS ABABA, dalam buku SERAPAH IBU

Dalam kosong ceriaku, ikuti langkah kemana lalu. Pergi meniti awan berkantung tebal, penuh dengan taburan ribuan kertas, lembar uang seratus ribu. Ceriaku mengangkasa, menyeret kakiku melangkah tegap menuju sebuah mal mewah di metropolitan. Pada pintu masuk yang berputar, aku merubah diriku.

Tubuhku menyukai kerja sama antara celana, baju, sepatu jinjit, tas, dan aksesoris yang kupasangkan. Persis dandanan artis di berita selebritis. Apalagi wajahnya kutaburi bedak dan seperangkat pewarna lain, hingga percaya dirinya membuatku sedikit kewalahan.

Aku sedang banyak masalah, dan baiknya kuselesaikan di sini. Aku dapat meletakkan masalahku di toko kelontong raksasa ini. Sebaiknya pula kuselaraskan cara berjalanku seperti mereka kebanyakan. Senyum mengembang sempurna dan dagu diangkat, sedikit saja. Lalu biarkan dada memimpin di depan, sedikit membusung, dan tinggalkan pantat di belakang. Ia akan setia mengikuti kemanapun, dengan sendirinya. Ramah pada siapapun termasuk pelayan toko, dan tunjukkan tutur kata yang berkesan intelek, berpendidikan, terpelajar, dan sejenisnya.

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk kedua orang tuaku di kampung, bertengkarlah sepuasnya. Bercerai sekalipun, aku takkan peduli. Pikirkan saja diri kalian sendiri. Lupakan anak perempuanmu ini, di masa dewasa akhir. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Baju pengantin. Ini kios milik perancang terkenal. Wah, indahnya. Aku ingin berwarna merah. Oh, tidak. Atau biru. Oh, tidak. Hijau redup. Tidak. Ah, putih. Aku jarang sekali memakai warna putih. Putih dengan hiasan siluet bunga perak. Aku ingin berbentuk kebaya modern dan mewah. Seperti yang dikenakan orang-orang terkenal dalam tabung kaca. Kebaya yang berbuntut panjang menyapu bumi.

“Ya, betul. Saya suka ini. Yah, saya pesan yang seperti ini.”

“Baik. Jadi yang putih, dengan siluet perak. Untuk kapan?” asisten perancang gaun pengantin bertanya sopan, dengan anting yang selalu bergerak mengikuti kepalanya. Wajahnya kelabu, seperti penjual peti jenazah.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk saudara-saudaraku. Tak usah campuri pernikahanku. Ayah dan ibuku memang egois, tapi itu cukup dalam daftar masalahku saja. Tak perlu kalian bergosip, ingin menjadi pahlawan. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Perhiasan-perhiasan ini begitu indahnya. Aku ingin warna perak. Yah, emas putih pasti cocok. Tentu saja, agar serasi dengan gaunku. Kalung berinisial namaku. ‘S’. Dihiasi permata berbunga indah. Cincin, gelang, anting, ah… segala bertabur bintang kerlip. Kreasi terbaik yang kulihat. Tanganku menggenggam rindu. Mataku menggeliat terpesona.

“Ya, saya mau yang ini, dan masing-masing diukir dengan inisial ‘S’.”

“Baiklah. Jadi ini sudah anda pesan. Akan diambil kapan?” pramuniaga bersuara alto tersenyum ramah. Wajahnya berkerudung malam.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk calon mertuaku. Jangan tanya padaku kapan hendak melamar. Meski tak karuan, orang tuaku yang harus kau ajak bicara. Tak usah tunggu hubungan mereka membaik, karna kutahu takkan. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Kugeluti buku demi buku tentang pernikahan di sebuah toko buku. Nama penulisnya cukup terkenal dan tak diragukan lagi pengalaman dan keahliannya. Konsultasi seputar Pernikahan, Persiapan Pernikahan, Pernak-Pernik Pernikahan, Pernikahan yang Bahagia, Menuju Pernikahan Sejati,…kubeli seluruhnya. Tentang pernikahan. Ini penting. Agar aku tak keliru langkah.

“Saya beli semua buku tentang pernikahan ini.”

“Baik. Selamat, karena tentu anda akan segera menikah.” Pramuniaga bergigi mungil merasa perlu memberi selamat. Wajahnya remang-remang.

“Ya, betul. Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk kawan-kawanku. Berhentilah merasa kasihan. Tak perlu kalian membantuku. Aku telah biasa sendiri. Akupun lahir atas usahaku sendiri. Mencari udara dan bertahan hidup sendiri, meski ayahku memukuli kantung asalku, ibuku menyiramiku dengan racun. Aku tetap tumbuh dan menjadi besar karena diriku. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Salon terkenal di mal ini membantu pikiranku berkelana akan cantiknya diri di hari pernikahan. Perias terkenal itu mendengarkan keinginanku dalam tatapan kosongnya. Pria yang gemulai itu sangat profesional sebagai penabur riasan pengantin. Aku percaya padanya. Segala sepi di wajahku akan sanggup dihapusnya, jadi topeng kegembiraan. Yah, bukankah itu sudah menjadi tugas utamanya.

“Jadi, kapan tepatnya anda akan siap untuk dirias?” perias itu bertanya lagi dalam wajahnya yang tertutup awan mendung.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk semua tamu yang hadir nantinya, tunggu saja di pesta pernikahanku nanti. Akan sangat berbeda, berkomentarlah yang baik saja. Sebab jika tidak, aku akan sedih, dan pasti marah. Kan kubuat semua orang bahagia. Sungguh. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Jangkrik-jangkrik di perutku saling berceloteh ‘krik-ikrik’ dalam suaranya yang lebih besar dan parau. Merajuk pada otak yang memutuskan bahwa tubuhku lapar. Pada suasana nyaman sebuah tempat makan dalam mal kutemukan brosur menu makanan pesta dari catering terkenal. Ini penting. Harga tidak ada artinya dibanding pujian para tamu undangan di pesta pernikahanku nantinya. Makanan adalah pengikat tali keakraban. Maka, aku tak boleh sembarangan dengan pengisi lambung ini. Hubungan gampang sekali remuk meski ini hanya soal makanan.

Mie hot plate dan coffee rhum juice asyik menyela pembicaraan antara aku dan pemilik catering, tentang segala makanan istimewa yang akan kupesan untuk pesta pernikahanku. Lengkap dengan dekorasi yang sempurna. Redup, bernuansa alam liar. Pemilik catering nampak ceria pada wajahnya yang buram. Aku yakin pada keramahan semunya, dan pada kuku jarinya yang di cat hitam mengkilat.

“Yah. Jadi kita sudah sepakat dengan menunya.”

“Oke. Terimakasih. Kapan menu ini akan dihidangkan?”

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk calon suamiku, yang tak pernah berani menantang masa depan. Delapan tahun lelah bertali kasih. Rengkuh segala cinta dariku seluruh. Tak lupa selingan kisah tentang tikaman kepedihan pada jaring sukmaku yang ringkih. Tunda dan tunda lagi masa pernikahan. Tidak. Kali ini tidak lagi. Tidak ada lagi kepedihan. Jika ia yang karena masih merasa miskin belum berani, maka aku takkan lagi menunggunya. Karena rasa miskin itu takkan pernah lepas dari dirinya yang bernyali kecil. Tapi aku adalah wanita berhati baja yang berani. Sanggup menghadapi segala badai. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Ah, tinggal tentukan gedung pernikahan yang akan kugunakan. Aku mengingini tempat besar, megah, dan itu ada dalam… mal ini! Yah, tentu saja! Bukankah tamu yang akan datang di pernikahanku ada ribuan orang. Tak ada gedung yang dapat menandingi mal ini. Wih, aku tersenyum sendiri membayangkan hal ini. Pernikahan ini akan menjadi sejarah sepanjang masa yang tak pernah terlupakan, bagi siapapun.

“Saya setuju dengan perjanjian ini. Ini akan menjadi berita yang menarik. Jadi mal ini akan anda gunakan sepenuhnya?” tebaran tanya dari pemilik mal yang kaku dengan keramahan yang kelabu. Pada lehernya tertambat kilauan kalung emas dalam kerut wajah abu-abu penuh tekanan.

“Tentu. Jangan lupa, tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

************

Tanggal satu. Bulan April. Hari pernikahan kebahagiaanku … dan saat ini bulan April, dan tanggal satu. Hatiku bersenandung haru… cincin emas bernama engkau/ kapan kan hampiriku/membiarkan jari manisku/menjejalmu dengan rindu bercahaya emas menggebu,…lalu/cincin emas bernama aku/kusarungkan pada jari manismu yang berkilau mesra/merayap di hamparan lautan berwarna cinta/yang menganga oleh harapan/berbingkai awan kesetiaan berarak mengikuti pelukan kita/pada segala waktu.. /yah, di segala waktu…

Segalanya telah kusiapkan… seharian pagi wajahku telah diubah menjadi topeng kegembiraan. Perias ini berhasil. Guratan sendu tak ada disudut wajah dalam cermin itu. Gaun pengantin menjuntai indah dengan segala perhiasan berinisial ‘S’, milikku. Sempurna. Mal riuh rendah ramainya, oleh tamu undangan yang tak sabar melihat kecantikanku,… atau perubahan wajahku yang sangat berbeda, hingga mereka sukar mengenali seluruh diriku …

Segala kios dalam mal berubah menjadi meja jamuan makan. Indah, mewah,… dalam dekorasi taburan angkasa yang menyeruak membelai bintang. Malam ini telah menjadi hari yang sangat berbeda dalam hidupku… Lihat, banyak orang berwajah jelaga membawa kamera, … Oh, mungkinkan itu wartawan,… Ah, ya. Tentu saja, pernikahan dalam mal suatu hal yang sangat jarang terjadi.

Kilatan lampu dari kepala mereka telah menusuk keheningan otakku yang kaku tak tersentuh. Segala tamu undangan yang tak dapat kulihat wajahnya berkelompok dan berbisik. Bayang wajahnya kabur ke arahku, tanpa mata yang membutakan senyumku, sedang riasan pada wajah ini, mengapa mulai dilumuri air dari mataku.

Aliran air ini bukan buatan. Wajah yang basah ini bukan bagian dari rekayasa make up yang disapukan di wajahku. Tak mampu kukendalikan. Menggulir perlahan dan tak henti, selalu sabar menunggu gilirannya untuk menitik pada kilau lantai keramik. Sukmaku layu dan sulit bernafas. Ada yang aneh. Seharusnya tidak begini perasaanku. Ada sesuatu yang lain.

Lagu pernikahan yang lupa kususun, menjadi lagu hingar bingar tak keruan. Jauh dari melodi kedamaian agung dan romantisme yang seharusnya. Oh, pernikahan ini harusnya indah. Aku lupa wajahku. Aku tak tahu ekspresi yang seharusnya kuhidangkan untuk mereka. Mimik wajahku kebingungan. Dalam sedih yang tertawa. Dalam bahagia yang luka. Dalam hambar yang gamang. Dalam bangga yang sunyi.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku…

Aku berjalan perlahan dalam dingin yang menjalar, dari telapak kakiku, hingga seluruh tubuh yang mulai menggigil. Ah, aku lupa membeli sepatu pengantinku. Pakaian ini terlalu tipis untuk udara sedingin mal ini. Aku sendirian, tak ada yang berjalan disampingku. Tak ada yang kupeluk. Tak ada yang menatapku hangat penuh cinta. Sayatan ini datang tiba-tiba menghias rangkaian bunga yang kugenggam hampa.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut.

Aku juga lupa membeli segala perlengkapan pengantin priaku. Baju pengantinnya, perhiasannya, ah, aku sungguh tak mengingatnya. Buku-buku tentang pernikahan yang telah kubeli entah dimana. Sesuatu telah menyembunyikannya. Atau, … telah menjadi alas bagi ranjang tidurku yang gulita.

Aku adalah pengantin sendirian yang kesepian. Oh, dimana dia. Tak ada yang menuntunku berjalan. Segala wajah yang menggiringku adalah wajah kelabu yang mulai kabur oleh hujan kasihan. Aku telah salah mengundang mereka. Disini aku menikahi ruang kepedihan yang memerah, sunyi oleh harapan tak terengkuh. Sakitku mulai menyesak udara panas diwajahku.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu.

Aku ingat, sesungguhnya ini adalah hari kelahiranku. Yah, tanggal satu, bulan April. Aku lahir, menunggu dewasa untuk menikah dan melahirkan. Pernikahanku pada diriku, dalam usiaku yang sudah terlalu dewasa. Tak jua kurengkuh dirinya dalam pelukku, dalam sepasang cincin berinisial ‘S’ dan nama seorang pria, yang belum juga meminangku. Hanya mal ini mampu mengikat lelahku, mampu menidurkan pikiranku, memanjakan pandanganku, merangkulku erat dan dekat.

Maka kan kunikahi mal ini, dengan sepenuh hati. Kan kuhempas wajah-wajah berkabut itu. Jangan minta aku untuk pulang atau ikut kalian. Aku ingin tinggal disini saja. Bersama dengan wajah-wajah hitam, gelap, dan pekat. Bersedia menciumi pipiku. Memeluk tubuhku.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak lagi. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara-suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu. Itu karena mereka, yang berteriak palsu, seolah tangis tumbuh dari suara mereka, bermuatan kasih yang menggelegak rindu.

“Suyem, ayo pulang, nduk…”

Tidak. Aku memilih disini. Dalam toko kelontong raksasa ini, tubuhku telah terikat, sama seperti kalian telah mengikatku. Hanya kali ini dengan kebebasan yang gembira. Sungguh. Keterikatan ini membebaskan aku. Tak perlu memintaku pulang, untuk kubiarkan lagi perlakuan yang sama menimpaku.

Tanpa air mata penantian. Tanpa harapan yang terus terpaku pada kekosongan. Aku telah muak oleh segala kabut ketidakpastian ini. Bunga-bunga yang tak juga tumbuh, layu yang tak pernah berakhir.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak lagi. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu. Itu karena mereka, yang berteriak palsu, seolah tangis tumbuh dari suara mereka, bermuatan kasih yang menggelegak rindu. Sulit kupercaya.

“Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara-suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku. Coba tusuk-tusuk awan mimpiku dengan jarumnya yang besar berkilat. Cahayanya ajakku melihat perempuan metropolitan kampung yang kere, putus asa dan sempoyongan oleh bayangan luka bawah sadar di dalamnya. Wajah keangkuhan yang tak yakin, keramahan yang tolol, dan percaya diri yang tersisih. Akulah kini.

“Suyem, ayo pulang, nduk…”

Tolonglah. Biarkan aku disini. Menjadi bagian dari para patung peraga yang kesepian, dan mungkin pernah mengadakan pernikahan yang sendiri, dalam mal ini. Tak lagi menunggu dan berharap untuk dinikahi.

Berdiri tegar dalam deretan embun yang tak lepas dari mata yang putus asa. Berpagar kaca besar sambil memperhatikan orang yang lalu lalang. Sesekali orang-orang itu ganti melihat aku, memperhatikan gaun pengantin yang kukenakan, ah tidak hanya itu, tapi juga diriku utuh. Dalam pandangan kekaguman yang melati.

Lalu di setiap malam yang hening dalam mal ini, kami para patung peraga akan berkumpul saling bercerita dan pada giliranku, akan kuawali kisahku dengan…, “Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus mereka dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri…..”

Hingga giliran mereka diluar sana yang ganti menggilaiku, sarat dengan kenangan tak terengkuh. Menangis dan meratap, karena duniaku yang tak lagi tersentuh. Selamat tinggal semua. Mal ini adalah tonggak perubahanku. Biarkan aku menjadi bagiannya. Menjadi patung peraga yang setia penuh, meski tak lagi gaun pengantin yang kukenakan.

Lalu kan kukabarkan sebuah puisi kecil, untuk bentangan alam di luar sana yang mungkin tak lagi dapat kutemui nafasnya, pada langit berbintil cahaya, pada tanah bermata hijau, pada laut bergerigi karang, pada matahari yang ramah, kukatakan…

Aku Menikahi Damai

Kesepianku sendirian, pada malam pertama kau lahir

hadir sebuah tanya berkeringat embun, cintakah kau padaku

karna kemewahan ini ternyata milikmu, aku hanya meminjamnya

untuk kutebar pada hening.

Dan kami telah temukan pernikahan yang bersahaja. Sungguh.

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU hal.3-

 

One thought on “Pernikahan dalam Mal

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s