Dicari: Sebentuk Peluk

Lukisan Shanti Yani Rahman - DJIBOUTI, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – DJIBOUTI, dalam Buku SERAPAH IBU

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Didekatinya seorang ibu yang menangis di samping rumah sakit. Wajahnya kuyu, putus asa. Ibu itu berkisah, suaminya sekarat. Biaya rumah sakit tak terkira, tak mampu berpikir. Hati Ia ikut hancur luluh mendengarnya.

Ia peluk ibu itu. Hendak dibiarkannya menangis di pundaknya. Tapi belum sampai ke peluknya ibu itu meronta. “Apa-apaan sih Mbak ini! Aneh sekali. Tak enak dilihat orang, tahu?!” Ibu itu pergi mempercepat langkahnya. Ada malu yang dibawanya.

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Sampai akhir hidup ayah, Ia tak pernah dipeluknya. Ada semacam perasaan ganjil, canggung berbentuk marah, bila Ia coba memeluk ayah. Pernah mata ibu membeliak curiga, kala saking senangnya Ia peluk tubuh ayah yang ringkih.

Bahkan di hari kematian ayah, Ia dan ibunya tak saling peluk. Tak ada peluk untuk menenangkan. Peluk. Mengapa begitu asing dalam keluarga, kampung, mungkin negerinya. Tabu. Ataukah Ia, memiliki kelainan jiwa?

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Dijumpainya para sahabat. Mereka saling bercerita, bercanda, akhirnya berkeluh. Ketika mereka tahu, Ia mencari sebentuk peluk. Mereka tertawa terbahak-bahak.

Ia begitu gusar karena mereka terus tertawa. Langsung saja Ia peluk salah seorang diantara mereka, yang meronta-ronta melepaskan diri. Ditariknya lagi coba Ia peluk, kawannya meronta lagi. Ia tarik sekali lagi agar masuk kepelukan. Lagi-lagi kawannya meronta.

Suasana yang tadinya penuh canda, jadi serius dan memucat. Mereka menganggap Ia sudah gila. Tiba-tiba mereka menyudahi pertemuan. Pergi tinggalkan Ia. Seonggok daging yang kering. Kembali pada sunyi.

Ah… Siapa hendak memeluk Ia?

Suami Ia sendiri enggan dan risih, merasa keinginan istrinya sepele dan mengada ada. Kolokan dan manja, bikin kikuk suasana.

Biasanya langsung saja ditindihnya sang istri, dibukanya kain yang melekat, melumuri tubuh Ia dengan hasratnya. Lalu, begitu saja mereka bergoyang dan, selesai.

Ah,… Siapa hendak memeluk Ia?

Selalu Ia berpikir, begitu hebatkan mereka, hingga tak butuh peluk? Apakah rahasianya? Orang-orang yang rapuh, namun jaga martabat. Pilih menderita daripada meminta. Pilih saling pukul, daripada saling peluk.

Oh. Ingin Ia menembus layar kaca, pergi ke negeri orang. Tempat dimana peluk begitu subur, mudah didapat. Kau senang, kau bangga, kau terharu, kau sedih, kau takut, kau bahagia. Seolah siapapun layak mendapatkan peluk. Begitu saja. Tak ada yang marah. Tak ada yang terusik gusar. Atau merasa kikuk karenanya.

Siapa hendak memeluk Ia?

Entah anugerah atau bencana, ada sosok lelaki mendekat. Wajahnya tak asing lagi. Tokoh masyarakat dan terkenal. Kata-katanya memberi cerah semua orang. Buku tentangnya laris di pasaran. Sosoknya kerap muncul di tabung kaca. Ia jatuh percaya padanya.

“Saya paham dan cukup mengerti kegelisahan anda.” Kata lelaki terkenal itu. Kegelisahan? Gelisah? Tokoh terkenal itu, pandai betul membacai aku. Pencarianku akan sebentuk peluk, ia sebut kegelisahan. Sungguhkah?

“Apa kau tahu apa yang harus aku lakukan?” Ia bertanya tanpa ingin memberinya jarak.

“Aku bisa membantumu. Kita bisa buat pertemuan jika kau ingin.” Tokoh itu mengubah sebutan ‘saya’ dan ‘anda’.

Mereka berada di sebuah ruang yang nyaman. Ruang kerja tokoh terkenal itu. Luas, bersih, sejuk oleh pendingin ruangan.

“Jadi, apa yang menjadi kegelisahanmu?” Lelaki itu bertanya penuh simpati.

“Aku mencari sebentuk peluk.”

“Hanya itu?”

“Ya. Aku penasaran dengan peluk. Peluk seperti oase, daripadanya aku mendapati hidupku penuh gairah. Damai. Penuh kekuatan. Aduh, aku mulai gusar. Ya. Aku butuh peluk.”

“Apakah kau tak pernah mendapatkannya?”

“Itu hal yang asing di sekitarku.”

“Begitukah?” Tokoh terkenal itu tersenyum simpul.

“Apakah aku ini aneh?”

“Bagiku tidak. Kebutuhanmu sederhana, tapi tak bisa diterima oleh budaya yang membesarkanmu. Kau hanya berada di tempat yang belum tepat saja. Belum tepat tempat, situasi, dan waktu.”

“Tepat tempat? Tepat situasi? Tepat waktu?? Rumit.”

“Ya. Kita tak bisa memburu keinginan kita begitu saja. Tahukah kau, sebetulnya di Bali, terdapat budaya Omed Omedan, dimana ada saat peluk cium bagi pria dan wanita diperbolehkan. Bahkan mereka pun kuatir terancam Undang Undang Pornografi yang terbit di negeri ini.”

“Begitukah?”

“Ya. Banyak orang mendamba peluk, namun kesulitan mendapatkannya.”

“Oh, ya?” Mata Ia berbinar. Ia tak sendirian. Jiwanya tak jadi layu.

“Bersediakah kupeluk?” Tokoh terkenal itu menawarkan hal yang mengejutkan.

“Kau ingin?”

“Ingin, bila kau juga ingin.”

Jawaban terakhir meluluhkan hati. Mereka berpeluk erat melekat. Oh, jiwa Ia begini tenang. Takjub pada rencana Tuhan. Sebentuk peluk yang berharga. Ada sayatan es menyisipkan dingin di jiwa. Ia telah mendambanya ribuan waktu lalu.

Sebuah cium terselip. Mula-mula terasa di rambut. Kening. Pipi. Dagu. Dalam peluk, ciuman lelaki itu memburu bibir.

Perlahan, tangan lelaki itu begitu saja terlepas. Hendak menuju kancing celana.

Pelukan terlepas.

Hangat peluk pudar seketika. Hambar. Tubuh Ia jadi dinding. Bercat putih pucat. Terang lampu jadi benderang. Tebal mengepal, hati Ia.

“Aku tak bisa.” Lirih dan yakin Ia mengejar mata lelaki itu.

Begitu saja segalanya terhenti. Pembicaraan hangat lesap keluar jendela. Hening. Berjarak. Setelahnya, mereka jadi dua orang asing kembali.

Ia berpisah penuh gelisah. Bukan bukan bukan bukan. Bukan peluk tadi yang Ia cari. Perasaan Ia semakin kacau. Tadinya Ia sudah bahagia. Sungguh. Ia jengah peluk yang itu! Ia mau peluk tulus tanpa hasrat lain. Oh.

Dilajunya kendaraan dalam gundah pikir. Motor tuanya menuju jalan menanjak yang panjang. Sebelah kiri jalan terdapat hutan liar. Sebelah kanan, ada sungai sempit tertutup tanaman liar. Letaknya kira-kira lima belas meter di dasar jurang.

Sebuah bis menyalip pelan, sembarangan. Bis miring dan sesak. Duh. Hampir saja. Dibelakang bis, laju motor Ia tahan. Makin menanjak, bis sedikit pelan. Tak tahan asapnya, Ia berusaha menyalip bis itu lagi. Sulit.

Mengapa tokoh terkenal itu begitu terhadapku. Adakah ini hal biasa baginya? Bukankah awalnya ia begitu hangat? Ataukah peluk di negeri ini malah membuat kemaluan lelaki mengencang?

Ataukah pencarianku ini keterlaluan. Hingga mudah dijadikan permainan.

Sampai pada tanjakan paling curam. Bis itu semakin pelan menanjak. Ia masih kesulitan melewatinya.

Peluk. Mengapa sulit sekali mencari peluk. Ia merasa tak berharga. Mengapa mereka begitu munafik. Ia yakin tak hanya dirinya. Tapi semua orang butuh peluk. Setiap orang!

Mengapa mereka begitu tangguh tanpa peluk. Sudah limpahkah kebahagiaan mereka. Ia ingin melihat semua orang saling peluk. Kapan? Kapankah? Tepat tempat, tepat situasi, tepat waktu. Nasihat tokoh terkenal yang merobek peluknya tadi, melintas.

Lihat orang-orang dalam bis disana. Campur baur. Laki laki, perempuan, berbagai generasi. Orang kantoran, pedagang, buruh, guru, anak sekolah dan sebagainya. Apakah mereka juga merindu peluk? Mencarinya sampai kepayahan. Haruskah menunggu waktu paling terpaksa. Paling genting.

Terpaksa? Aha! Ia temukan kini. Terpaksa, artinya tepat segalanya. Akhirnya Ia temukan jawab. Jiwanya kewalahan oleh girang yang meletup seketika. Tergoda bayangkan orang-orang di dalam bis saling peluk.

Alangkah hebatnya bila semua menemukan peluk. Menuju tempat paling damai. Sungai ketenangan. Hutan kekuatan. Tiada keterasingan jiwa. Tiada tubuh dibiarkan basah dan dingin oleh hujan kabut. Jiwa-jiwa terselamatkan, bukan?

Tak akan ada lagi kisah tentang mati bunuh diri. Tentang orang-orang marah di jalanan. Tentang ibu yang membiarkan anak-anaknya ketakutan oleh siksa.

Ia ingin rasakan sensasi, ketika laju bis itu melambat mundur, berhenti. Mundur, dan berhenti lagi. Lalu mundur teratur, menerjang jalur berlawanan, lalu meluncur menuju jurang. Mau tak mau, mereka akan pasrah saling berpeluk di dalam bis sana bukan? Ah. Tidak. Jangan. Tak boleh ada korban.

Lagipula, siapa bisa bersaksi, betapa indahnya bertemu peluk.

Oh, ya. Begini saja. Laju bis itu merambat mundur, lalu tiba-tiba ada suatu penghalang sehingga terhenti. Orang-orang panik saling peluk. Saling jaga. Saling melindungi. Ia yakin. Peluk akan datang dari gelisah, lalu lahir gairah. Bis itu sedikit lagi jatuh ke dalam jurang, dan, ya, Ia melihat orang orang di dalamnya teriak panik, dan, saling peluk!

Tak ada kakek nenek saling acuh. Tak ada ibu dan putrinya saling sengit. Tak ada kakak adik saling sengketa. Tak ada suami istri saling asing. Kekasih saling egois. Antar kawan saling curiga. Guru dan anak sekolah berjarak. Orang kantoran dan pedagang kecil menjauh. Orang-orang saling sunyi. Ahaha.. Tak ada lagi! Sebab disana peluk ditemukan. Ah. Haha.. Ia terbahak sendiri. Yah! Tepat tempat, tepat situasi, tepat waktu. Hahaha. Ahahaha…

Ada sebuah peti berwajah Ia di dasarnya. Senyum paling manis dan ayu. Inikah kematian Ia? Baiklah, bila kau mati. Tak mengapa. Nyatanya seperti ibu melahirkan. Sakit sebentar lalu hilang karna kebahagiaan. Bisik hati Ia…

Ada pesta pemakaman Ia. Sebuah Misa Requiem tergelar.

“Saudara saudari terkasih,” seorang Pastor berkotbah dalam suara penuh tekanan, lirih, “di hari kematiannya, saudari Maria seharusnya bisa menghindar dari laju bis yang mundur ke arahnya. Namun almarhum memilih diam, berhenti dibelakangnya. Mengapa? Semua karena hati almarhum yang kaya. Saudari Maria mengorbankan diri, agar seluruh penumpang dalam bis selamat, tak terperosok ke dalam jurang. Ia tahu persis, motor yang ditumpanginya dapat menahan laju bis. Saudari Maria masih sempat tersenyum lebar ketika tubuhnya digendong penduduk setempat.“

Soal kematian, Ia bisa terima. Tapi kotbah ini…

“Seperti teladan Yesus yang rela mati di kayu salib demi keselamatan umat manusia, saudari Maria seolah berusaha meneladaninya dalam sikap dan tindakan….”

Berhentiiiii…! Tiba-tiba saja Ia ingin teriak. Berontak sekuat-kuatnya. Berusaha masuk ke dalam tubuhnya lagi. Berharap mayat itu bangun dari dalam peti. Ia harus menyudahi kotbah Pastor ini. Ia harus segera meluruskannya.

Oh. Sesiapapun harus tahu, ini hanyalah soal mencari peluk.***

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.29-

One thought on “Dicari: Sebentuk Peluk

  1. dua hal yang menarik dari tulisan di atas yaitu pertama pelukan persahabatan itu memang menyejukkan hati, namun sayang di Indonesia hal itu asing dan tampak aneh, apalagi bila lelakinya berwajah kriminal, maka gemparlah dunia dan menganggap si wanita sebagai murahan Yang kedua lukisan anak afrika memeluk keledai di atas sangat menyentuh perasaan, dengan latar belakang padang pasir yang gersang tergambarlah betapa sepinya hati si anak itu. dan sahabat serianya hanya keledai.
    salam dan pelukan persahabatan dari saya oldman Bintang rina

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s