Negeri Yang Tertidur

Ibu mengemasi pakaian. Bapak coba nyalakan mobil pick-up sewaan. Kami bimbang berangkulan, saksikan para tetangga hilir mudik, masuk keluar rumah, memindahkan barang-barang ke dalam bak mobil. Sesekali aku ikut membantu, tapi untuk apa? Aku masih tak mengerti.  Ibu dan Bapak tak bersuara sejak tadi.

Sampai akhirnya Bapak berlutut, sejajar dengan mata kami.

”Mulai sekarang, kita tak tinggal disini lagi. Rumah ini sudah tergadai.”

Aku masih terlalu kecil untuk mengerti artinya.

***

Seperti kembali ke masa lalu, kami harus terusir dari tanah tumpah darahku. Bangsa yang tergadai. Penghianat bangsa ini telah minggat duluan. Tersebar di banyak negara, ganti kewarganegaraan.

“Mulai sekarang,…  Ini bukan negara milik kita lagi. Negara ini sudah tergadai.”

Seperti de javu, kuucapkan kata-kata yang persis sama, diucapkan Bapak kepada kami dulu.  Aku harus berlutut, sejajar dengan semua keturunanku. Tanpa sanggup menjelaskan artinya.

Aku bisa rasakan.  Nafas berat, panas mata, dan tangan mengepal milik Bapak, merasuki tubuhku.

Dalam kedua waktu, aku bergeming. Aku pasrah. Aku menunggu.

Dan aku keliru.

SandraPalupi

2 thoughts on “Negeri Yang Tertidur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s