Membaca ‘Perempuan Kopi’, Saya Ingin ‘Lebay’ (Catatan sederhana atas buku Kumcer ‘Perempuan Kopi’ karya Dewi Nova)

“Aku kehilangan rumah. Rumah tempat kubaringkan hati dan tubuhku. Rumah yang sempurna dengan segala wangi rempah cinta.”  -Dewi Nova – Kekasih Pagi-

Sore-sore sepulang kerja, saya baca buku ini. Duduk-duduk santai, di teras rumah. Rumah. Ya. Sebuah ruang aman nyaman. Lengkap dengan secangkir kopi, dan kudapan. Tak lupa musik lembut milik Joan Baez, yang lamat-lamat.

Ketenangan itu tak lama. Tiba-tiba saja saya menjadi begitu cemas. Berada dalam rumah, saya amat gelisah. Rumah yang memberi ruang-ruang aman dan nyaman selama ini, seolah sedang berguncang hebat. Kopi dan kudapan berserakan. Suara Joan Baez makin menuntut dalam lagu ‘Where Have All The Flowers Gone’.

Saya amat terganggu membaca buku ini. Terjadilah segalanya. Hei, sekelompok orang datang berlarian minta perhatian. Aih, suara tangis si penyabar. Bentakan-bentakan kemarahan dari si pendiam. Adakah hal yang mereka (atau juga saya) tuntut, hingga seolah ‘keluar’ dari yang aslinya??

Saya cemas menghadapi nasib rumah di masa mendatang. Saya cemas pada nasib ruang-ruang. Terlebih, cemas pada nasib diri apabila yang aman dan nyaman kini, terenggut dari hidup saya kelak. Saya dipaksa melakukan atau mengenakan atau menyetujui, sesuatu yang bertentangan dengan saya. Atap rumah tiba-tiba hilang. Hujan petir sesegera mungkin mendatangkan banjir.

Bagaimana harus menghadapinya? Halaman rumah asri, yang tiba-tiba dipotong untuk pelebaran jalan. Atau sama sekali hilang demi proyek negara. Rumah dilenyapkan akibat bencana alam atau bencana buatan negeri. Tsunami, lumpur Lapindo, banjir kiriman, kebakaran, bukit-bukit diratakan, hutan digunduli atau ditukar dengan kebun kelapa sawit. Rumah-rumah kena gusur dengan alasan tata kota. Rumah penuh sengketa, akibat tanahnya yang tiba-tiba jadi milik negara. Rumah dan kisahnya, tinggal kenangan.

Sempat saya berpikir, pelanggaran HAM paling keji adalah, upaya penguasa untuk memasung kenangan.

Saya jadi cemas mendengar helikopter terbang rendah di atas rumah. Bisa saja, daerah ini bakal dijadikan tempat latihan perang, atau semacam daerah operasi militer. Apakah perang sesungguhnya datang, sehingga rumah ini akan menjadi garis batasnya? Akankah terjadi juga, perang antar bangsa, pulau, suku, saudara?

Dan kita terpaksa mengungsi. Atau lari.

Lalu, ada perkara apa dari dalam rumah? Oh, gairah seksual dan kesepian yang bernyala-nyala, ikut hadir dalam benak. Dorongan hasrat yang harus di-merdeka-kan. Anak perempuan yang diam-diam jatuh cinta pada sesama jenis, atau justru seorang ibu jatuh cinta pada sahabat perempuannya. Pergerakan diam-diam, atas pergeseran pikiran, perasaan, dan perilaku, yang mungkin saja terjadi, tanpa seorang pun menyadarinya, termasuk yang bersangkutan.

Mengapa kemarin saya ‘hilang’ dari kegelisahan soal rumah ini? Begitu banyak hal terlewatkan. Harus apa saya? Bisakah saya menjadi bagian dari perempuan-perempuan berani di dalam sana? Ataukah diam-diam secara naluri, sedang melangkah ke arah sana, tanpa saya sadari? Tekad atas kemerdekaan menuntaskan ranah pribadi, bersanding dengan perjuangan atas hak-hak kemanusiaan.

Dewi Nova mengguncangkan pikiran saya lewat kumpulan cerita pendek ‘Perempuan Kopi’. Semacam reportase perjalanan yang dikemas tajam dalam bentuk cerita pendek. Tentunya sarat dengan pengalaman nyata, dari berbagai daerah di Indonesia, berbagai negara, khususnya daerah-daerah konflik. Dan, paparan pelik ini makin menggelisahkan sanubari saya. Meski di satu titik tertentu, saya temukan hal menakjubkan. Perempuan-perempuan memberontak, memerdekakan diri dengan cara yang tak selalu sama, namun senantiasa terselip gairah dan keberanian.

Ya. Sungguh. Membaca berderet cerita pendek dalam buku ‘Perempuan Kopi’ ini, saya, amat sangat ingin ‘lebay’. Tapi nampaknya ini bukan hal yang ‘lebay’. Sayangnya, bukan. Ini kenyataan. Kenyataan yang nyata-nyata seringnya kita tekan-tekan, simpan, dan sembunyikan, dengan masuk ke dalam selimut ruang aman nyaman, milik kita. Rumah.

Salam damai dalam karya,

SandraPalupi

2 thoughts on “Membaca ‘Perempuan Kopi’, Saya Ingin ‘Lebay’ (Catatan sederhana atas buku Kumcer ‘Perempuan Kopi’ karya Dewi Nova)

    • belilah. kayanya udah sampe surabaya. banyak wawasan yang bisa kita dapat dari sudut pandang pengarang. seru buat didiskusikan🙂

      makasih yah…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s