FACEBOOK JADI BUKTI: PUISI BELUM MATI – Harian Semarang

Ditulis Oleh :Harsem, Pada Tanggal : 21 – 09 – 2011 | 00:38:37


 

 

 

 

 

 

Pengaruh Facebook (FB) begitu hebat. Hanya karena seorang ibu rumahtangga yang gemar menulis di FB, dia langsung disebut-sebut sebagai salah satu bukti, bahwa puisi belum mati. Pernyataan itu tidak main-main, karena dikatakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, belum lama ini di Teater Terbuka Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Dia mengatakan itu saat berlangsung peluncuran Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen, Serapah Ibu karya Sandra Palupi, seorang ibu rumah tangga yang aktif menulis puisi di FB. Selain “panen” apresiasi, saat peluncuran buku tersebut, menurut Sutardji, menjadi bukti tetap langgengnya dunia kepenyairan Indonesia.

“Ada seorang kawan saya bilang bahwa masa depan puisi di Indonesia itu sangat redup dan pada akhirnya tidak akan mampu bertahan hidup. Sebab itu, saya diminta untuk tidak menulis puisi-puisi lagi. Menurutnya itu percuma,” beber Sutardji ketika berlangsung peluncuran buku yang diprakarsai Openmind Community dan Dewan Kesenian Semarang (Dekase) bekerjasama dengan Buku POP dan Gala Budaya ini.
Namun, Presiden Penyair ini yakin prediksi tersebut akan salah. Puisi akan terus hidup dan berkembang seperti perkembangan makna sebuah kata dalam puisi itu sendiri. “Dan kumpulan puisi karya Sandra Palupi ini bisa membuktikan bahwa prediksi itu telah salah,” ucapnya.

Membaca puisi-puisi Sandra, Sutardji memang masih menemukan kekurangan. Kata-kata yang dipakainya belum mendobrak makna awalnya. “Kata dalam puisi itu ibarat uang koin yang memiliki dua sisi. Kerja penyair itu termasuk mengubah kata-kata, sehingga maknanya menjadi lebih tinggi,” paparnya.
Lalu siapakah Sandra Palupi itu? Dia hanyalah seorang ibu rumahtangga. Ia mulai serius menulis sejak sekitar 1996. Setelah demam FB mewabah, dia pun mulai mengunggah puisi-puisinya. “Di FB, tulisan-tulisan saya banyak mendapat komentar dari teman-teman penggemar puisi,” ujarnya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan pihak penerbit Buku POP, yang kemudian menerbitkan puisi-puisinya ini.

Sastrawan Hudan Hidayat mengatakan, memang sudah saatnya sastra di Indonesia membicarakan soal generasi. Banyak penulis dan penyair pemula yang bermunculan dengan beragam bentuk dan gaya penulisan. Namun, hal ini jarang sekali diperhatikan oleh pelaku seni sastra lain, apalagi khalayak awam.

Purwono dari Openmind Community menambahkan, Sandra Palupi juga aktif di Openmind. “Karya-karya dia kerap menghiasi jejaring sosial di FB, hingga kemudian dibukukan dan dikemas menjadi acara ini,” kata Purwono.

Acara yang menampilkan karya-karya Sandra Palupi ini semacam tribute to dan merupakan bagian dari Celebration of Reading ke-2. Mereka yang turut tampil membacakan karya Sandra adalah Galih Pandu, Latree Manohara, Erna Hernadid, serta Suprex dan Sompli Square. Kegiatan tersebut mendapatkan apresiasi sangat tinggi dari para pekerja seni, para seniman, sastrawan dan masyarakat penikmat seni pada umumnya.(Harsem).

2 thoughts on “FACEBOOK JADI BUKTI: PUISI BELUM MATI – Harian Semarang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s