Dimanakah Letak Keadilan Tuhan?

Diary 21 Juli 2005, + 23 Desember 2010 di alinea terakhir🙂

Segala hal yang tak pernah saya sangka-sangka dan terjadi selalu saya alami dalam kehidupan saya. Hal baik, buruk, sangat baik, sangat buruk. Yah. Segalanya saya alami. Saya ingin terus menjalani hidup yang penuh misteri ini. Bertahan sampai akhir!

Bagaimana saya harus terus menggenggam harapan dalam ketidakpastian. Bagaimana saya harus menjadi kuat dalam kerapuhan. Bagaimana saya bergembira dalam tangisan, berserah dalam kemalangan. Bagaimana bersyukur dalam kehampaan, berteguh dalam kepedihan, keputus asaan,..

Namun memang banyak hidup yang menggembirakan. Saya bisa ber haha hihi saat orang lain kesepian. Saya bisa makan di mal saat orang lain kelaparan. Saya bisa beli sepatu, baju dengan mudah saat orang lain mengharapkan barang bekas. Saya bisa bernyanyi saat orang lain menangis, saya bisa berdiskusi saat orang lain melamun sendiri. Saya bisa tinggal di rumah cukup baik saat orang lain harus tidur di emperan. Saya punya teman-teman yang tulus dan baik, saat orang lain ditipu saudara dan kawan-kawan dekatnya. Saya punya banyak orang yang mengasihi saya saat orang lain merasa ditinggalkan. Ah…

Masih banyak lagi. Dan,…mungkin hal hal ini yang mestinya saya ingat-ingat hingga saya akan selalu bersyukur atas anugerah kehidupan yang Tuhan beri untuk saya. Hingga luka luka itu tak akan saya anggap sebagai luka. Tapi hanyalah sebuah tugas kehidupan yang semakin membuat saya bersyukur dan bersyukur lagi.

Kehidupan yang terlihat buruk, adalah sebuah kesempatan berharga yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menjadi saksi dari warna warni kehidupan itu sendiri. Itulah hebatnya Dia. Itulah letak bersyukurnya saya.

Tugas saya adalah, saya harus mampu mengambil makna dari setiap bentuk kehidupan yang Tuhan sediakan untuk saya. Untuk itu saya harus terus berefleksi. Saya harus terus berjaga jaga. Saya tidak boleh mengeluh, apalagi putus asa. Saya harus menjaga diri saya agar selalu punya prinsip, landasan yang kuat, dalam melakukan suatu tindakan.

Semuanya tadi membawa saya ke masa pacaran dulu, ketika kekasih saya bertanya, dimana letak keadilan Tuhan itu? Kami mengolahnya bersama, dan kami temukan, bahwa keberhasilan manusia dalam menemukan setiap makna atas hidupnyalah, keadilan Tuhan sungguh terasa hadir disana…

Salam Manis,

SandraPalupi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s