Mengintip Dunia Perempuan – Musyafak Timur Banua

Musyafak Timur Banua

Musyafak Timur Banua

Sebuah laku atau sikap tak lahir dari ruang hampa. Momentum hidup selalu menemu konteks sendiri-sendiri bagi seseorang yang kemudian merasai keadaan, dan lantas “bicara”. Begitupun sebuah karya—sebagai laku penciptaan atau sikap hidup, bisa jadi keduaduanya—seringkali tak lepas dari situasi ruang hidup yang disetubuhi pengarangnya.

Keadaan, genap suka dukanya, senantiasa didekati oleh pengarang sebelum diformulasikan menjadi karya utuh. Proses pendekatan itu memungkinkan pelibatan pikir dan rasa yang setimbang untuk mendedah sebuah topik hidup secara detail dalam permenungan dan imajinasi yang tak berbatas. Darinya, memungkinkan kedalaman dan ketinggian sebuah karya.
***
Membaca puisi-puisi Sandra Palupi, persis seperti membukakan mata saya pada dunia perempuan yang begitu lebar. Karenanya, bagi saya puisi-puisi Sandra serupa lubang untuk kita mengintip “ruang lebar” perempuan. Di sana, realitas kaum perempuan yang penuh paradoks di struktur sosial yang berhadap-hadapan dengan kaum lelaki dituturkan. Pun, perempuan yang berhadapan dengan dunianya sendiri. Ya, perempuan yang “kalah”. Luka dan menjadi homo patient (manusia yang tabah menerima penderitaan) dan nyaris tercerabut dari dunianya.

Seperti Jati Diri yang mempertanyakan keperempuanannya. Di sana, yang dihadirkan tidak secara pribadi. Tapi tampaknya adalah situasi universal perempuan yang masih berada di bayang-bayang patriarkhi. Simak saja: Alam sepakat menamaiku lelaki/ sedang di antara bungan dan belati/ rohku memilih bunga dalam tubuh yang belati./ Hasratku mati suri/ tertimbun ilalang yang menjalar, mengunci,/ pada sebuah ruang aneh, dan ngeri/ berbau maskulin.

Apa yang terbuka di sana? Mempertanyakan kembali posisi diri (perempuan) di sebuah ruang yang, disebut sebagai “aneh” dan “ngeri”. Ruang yang “berbau maskulin” itu adalah gerak bahasa yang menggiring saya pada keadaban sosial, keadaban kita. Di mana perempuan masih mengalami penepian. Perempuan yang seperti berlari mengejar bayangannya sendiri. Tapi jalan pengejaran itu terhadang rambu-rambu maskulinitas.

Saya harus mengakui, hanya sebuah refleksi di Jati Diri. Tak ada sikap yang ditawarkan. Atau sekadar identifikasi eksistensi. Namun, kerja puisi bukan hanya untuk bersikap. Bahwa, pun ia cukup bisa mengambil posisi untuk membuat manusia-pembaca bersikap setelah didorong untuk mengidentifikasi diri dan kahanan.

Namun, puisi Sandra telah mengambil peran bersikap itu puisi yang lain. Di Bukan Perempuan dalam Pasungan, seperti sebuah affirmasi sikap yang digemborkan. Apa? Tak lain adalah kemerdekaan diri sebagai perempuan. ‘Aku perempuan’, yang secara implisit dirujuk sebagai aku-lirik di sana, merasa selama ini terpasung oleh aturan keadaban atau social order yang tidak menguntungkan.

kulepas bungkus tubuh seluruh/ menari suka suka ke segala arah

Ada kehendak bertelanjang di sana. Seperti telah merasa pengap yang berlarut-larut di dalam baju kurung lantas ingin melepasnya hingga segar dan semeriwing. Jadilah “menari suka suka ke segala arah” dalam laju bahasa konotatif adalah perayaan diri yang merdeka dari kekangan. Ia menandai sebuah kehadiran baru yang telah diupayakan.

pada terang, badanku ditutup tutupi/ pada gelap, tubuhku dibuka buka

Bahasa sarkastik yang membuka di sana. Membuka kemungkinan yang terkunci pada aksi/ reaksi dua subjek yang berlainan. Bahwa, dalam sebuah interaksi logis, salah satu subjek “kalah” hingga menjadi “objek” yang di(paksa)kenai pekerjaan. Lihat, pada frase “badanku ditutup tutupi” atau “tubuhku dibuka buka” terdapat prefiks (“di”) yang secara fungsional menandai salah satu subyek harus pasrah dikenai keadaan. Sama halnya, adalah gerak bahasa diam. Cukup menerima.

Demikian, gejolak selalu ada seperti lazimnya pada tiap-tiap upaya bersikap. Pun pada aksi pemerdekaan diri yang digambar-hidupkan di puisi Bukan Perempuan dalam Pasungan memunculkan reaksi yang represif. Tahan sejenak sebelum ke puncak: aku dipaksa paksa kembali ke asal/ rumah dimana aku dilahirkan.

Betapa dalam upaya pembebasan, ada yang hendak merebutnya untuk tidak kemana-mana. Alias, selalu berdiam di tempat semula. Ruang yang sebelumnya mapan. Tak harus lagi memperhitungkan kerja-kerja baru untuk merubah posisi.

Namun, seperti keinginan yang tuntas—meski konsekuensi antargerak membuat sikap mengambang dan tidak tuntas—puisi ini benar kukuh pada upaya pemerdekaan diri. Bagaimana tidak?: ah, barangkali mereka gila/ inilah asal adaku/ bukan rahim ibu.

Ya, sebuah penolakan ulang pada fase pasungan yang berlapis-lapis. Betapa pejuang.
Namun apa yang baru di sana? Mungkin, feminisme—jika benar Sandra sengaja mengusungnya—yang berkutat pada keterpinggiran perempuan di tengah budaya maskulin, sudah menjadi hal umum dan common sense. Namun setidaknya, ini adalah sebuah sikap pengingatan Sandra kepada dunianya. Bahwa banyak pekerjaan yang belum tuntas untuk membangun dunia perempuan yang lebih humanis.
***
Pada fragmen di atas, adalah gambaran realitas perempuan yang berhadapan dengan laki-laki sebagai pengendali nilai hidup. Tapi, pada banyak puisi Sandra juga menyingkap perempuan yang gusar dengan dunianya sendiri. Perempuan yang hiruk-pikuk mengejar eksistensi dirinya. Puisi tentang pengejaran eksistensi macam itu tentu tercipta dengan daya selidik lebih detail oleh penciptanya.

Taruhlah pada Sebelum berada di dasar mal: berapa harga sebatang gincu/ pulas bibir biar indah menceracau/ barapa harga sepetak bedak/ pupur wajah biar itu sinar bikin muka tegak/ berapa pakaian hendak kau beli/ tertawa geli dalam tangan mendamba/ damba decak kagum yang bayang, adalah perempuan yang riuh mengejar keinginan.

Pada tatataran pencarian eksistensi, apa yang (mungkin) digelar Sandra melalui gincu, pupur dan baju? Menurut saya, adalah perempuan yang punya asumsi kurang puas, bahkan ragu pada tubuh dan dirinya sendiri. Hingga ia butuh “penolong” sewujud adanya materi lain sewujud bahan rias untuk, barangkali, “menyempurnakan diri”. Atau berbalik dari itu: “menyembunyikan diri”. Seperti yang saya tangkap pada sajak Bukan Perempuan dalam Pasungan yang sedikit menyinggung mal: tak ada aku di mal nan megah/ tempat wangi palsu ditabur. Mungkin, ada keterkaitan di sana, bahwa mal adalah ruang mentransaksikan hidup. Di sana penuh ketersembunyian, kebohongan, dan kepalsuan yang selalu hendak ditutupi.

Pada tataran wacana identitas perempuan, puisi Sandra patut diperhitungkan. Sebab identitas akan terbentuk dalam sebuah cara pandang yang lantas mendorong pada gaya hidup. Pencarian jati diri akan terus berproses. Di mana ada berbagai fase—yang mungkin akan selalu berulang dan menemui banyak kekaburan di tengah jalan: kehilangan, pencarian kembali, dan penemuan kembali.
***
Perempuan Singatak pernah nyaman berbagi denganmu,
ibu
pada murkamu yang garang
kau serukan bilik bilik rahasia
milikku

egoku menguncup malu,
pilu sejadi jadinya
pada diriku si peragu
setia tertahan amarah yang kuyu
: aku benci dirimu

harusnya aku tahu
uban dikepala tak pernah mampu
paksa hatimu tuk sejenak bijak

harusnya aku juga tahu
bersamamu
sebentar domba, lalu mengaum

ah,
mengapa singa tak pernah mengembik

lagi,
anganku tertepis badai

ke dekatmu
ke dekapmu
sia sia

Merindui Ibunda

. . . . a k a n k a h k a u j a d i d u r h a k a ,

b i l a k u t e r i a k k a n k u t u k a t a s m u . . . .

 

Perempuan Singa dan Merindui Ibunda, contoh puisi yang menabrak sendi-sendi kehidupan perempuan, khusunya Ibu. Ibu yang dalam tata moral kita diletak sebagai sesuatu yang sakral, indah, dan teduh. Namun apa yang digambar Sandra dengan “singa” yang lantas “mengaum” di puisnya? Sebuah potret lain tentang Ibu yang kejam. Betapa puisi ini sebenarnya menyajikan hal-hal yang kurang nyaman. Bau traumatik dan hawa ngeri mengemuka. Lain dengan banyaknya puisi tentang ibu yang selama ini “ngelangut” dan seperti menidurkan dalam pelukan.

Inilah yang, dalam diskusi-diskusi puisi di Sastra Pojok Pendhopo-Opendmind Community, oleh kawan-kawan seperti Agung Hima dan Kurniawan Yunianto, disebut sebagai disorientasi. Sebuah laku yang bertolakbelakang dengan nilai-nilai hidup yang sudah dimapankan di masyarakat. Sebut saja “balik kanan” dari mainstream.

Disorientasi, serupa pembelokkan alur hidup. Secara eksistensial, disorientasi adalah proses manusia dalam melakukan adaptasi kondisi terhadap manusia liyan atau ruang hidup sosialnya. Sepertinya Sandra begitu, dengan menghadirkan ilustrasi perempuan yang kejam di puisinya, adalah memandang bahwa keburukan yang ada harus didedahkan untuk menyampaikan kebaikan di baliknya. Seperti di”gugat” dalam Merindui Ibunda, bahwa memungkinkan juga seorang anak meneriakkan kutukan pada Ibunya yang mungkin durhaka secara kewajiban terhadap anaknya.

Saya sepakat, untuk mengatakan maksud yang baik, tak harus menggunakan bahasa yang baik. Artinya, kekejian yang melukai dan memupuskan atau mengendori hidup, adalah sebuah “sampiran”. Seperti dalam khazanah pantun, “sampiran” menjadi penggiring untuk mengantarkan isinya. Maka, bahasa-bahasa keras—dalam arti persepsi dan pengungkapan pengarang—persis seperti halnya jendela untuk kita melihat ke luar. Jadi simbolisasi bahasa kekerasan di sana, saya lihat mengatasi apa yang ditunjukkan sebagai kekerasan itu. Melampaui itu.

Meski dalam persepsi keadaban moral kita, penabrakan secara radikal yang dilakukan Sandra akan sedikit terganjal. Sebab, dalam pandangan lazim, orang masih tabu untuk mengatakan ketidakbaikan seorang Ibu. Ibu yang selalu menjadi terkasih, pecinta, dan pelindung. Kecuali Ibu tiri yang dalam budaya kita dijadikan sebagai “cacian” sepanjang sejarah. Bahwa ia kejam. Lagu Ibu Tiri yang sering kita nyanyikan, meski dengan iseng-iseng, tapi itu sangat memengaruhi prapaham: takut punya ibu tiri sebab ia kejam. Jujur, kita harus mengatakan, Ibu tiri menjadi korban atas stigmatisasi negatif di masyarakat kita. Bahwa sebenarnya, baik dan buruk adalah kemungkinan yang terbuka di kehidupan.

Karenanya, cara pandang disorientatif adalah pertahanan hidup untuk menemu laku flexible dan adaptable. Pun pengungkapan hidup dengan cara pandang macam itu, mampu menempati peran sebagai “jaga-jaga” atau “terapi menumbuhkan kekebalan”. Demi tidak terlalu didera trauma atau fobia dalam menghadapi masalah sejenisnya. Ini mungkin.

Disorientasi bergerak dalam diri seseorang. Dalam mass culture (budaya massa), atau ruang kerumunan yang lebar dan saling berikatan sebagai struktur masyarakat, disorientasi—mungkin, anggapan saya—mirip sebagai negativitas. Ya, negativitas adalah pendedahan realitas dan makna hidup bersama dengan penghadiran sesuatu yang tidak nyaman untuk dibincangkan. Untuk “membangun kesadaran”, di sana yang tampil adalah luka berdarah-darah dan basah oleh nanah. Adalah gejolak dunia yang membuntungkan nasib sekumpulan manusia yang dilayarkan di hadapan publik. Adalah dunia yang tercerabut dan memasuki gelapnya.

Maka, adalah kerumitan di sana. Sebab, “pembangunan kesadaran” dalam negativitas harus dilimpasi dengan cara “pengremangan kesadaran”. Penghadiran dunia gelap akan menyerap seseorang pada “kebimbangan” akan sebuah nilai yang sudah tertata. Fase ini yang mungkin tepat dinamai sebagai “pengremangan kesadaran”. Yang lantas, tentu, akan dimatangkan dalam fase khatarsis menjadi apa yang hendak dituju: “pembangunan kesadaran” itu. Simak saja di puisi Diamlah Nak, di Balik Bangkai Ibu: mari nak, kemari/ ibu ajari/ cara berpura mati/ bila saatnya nanti/ serdadu Tuhan, datang/ menyisir bangkai/ kau, diamlah/ di balik bangkai ibu.

Betapa ngeri di sana. Namun, kemungkinan untuk terang tetap terbuka.
***
Ada laju bahasa kencang dan ruah yang kemudian lahir sebaga puisi bertema perempuan. Juga tema ibu yang sangat universal dalam kehidupan. Sebab, ibu adalah induk kehidupan. Dalam kosmologi alam, maupun hidup, ibu adalah penjaga harmonisasi. Keselarasan tegak di kediriannya sebagai makhluk privat maupun sosial. Dan Sandra menyelam dalam di dalamnya. Dengan keseluruhan terang dan gelap lautannya.

Dengan puisi, Sandra mencoba menawar realitas sosial, budaya, dan keadaban manusia. Sebuah daya yang lembut dan lentur pada tataran pengungkapan “bahasa yang tak sekadar bahasa”. Kesegenapan rasa dan pikir sebagai yang teralami dan intim dengan pengarangnya, niscaya memunculkan chemistry seni/ sastra yang amat kuat.

Akhirnya, tak ada kritik di tulisan ini. Kecuali ini hanya pembacaan tentang suatu kemungkinan bagi puisi-puisi Sandra Palupi. Dengan pengetahuan seadanya dan tidak bertolak dari teori kritik sastra atau puisi yang selama ini menjadi juri. Sebab memang saya tidak memadai untuk itu. Sekadar sebagai hasil pembacaan yang saya tumbukkan pada realitas kepengalaman yang amat subyektif. Dan tentunya orang lain memiliki tawaran pandang yang berbeda. Maaf, jika kehendak saya membaca sedemikian justru menyempitkan makna atau maksud yang dikandung oleh puisi-puisi Sandra Palupi. Bahwa, bagaimanapun “bebasnya membaca”, teks harus diakui memiliki otoritas tersendiri.

Musyafak Timur Banua,
Untuk diskusi puisi Sastra Pojok Pendopo-Opendmind Community, Minggu 14 Maret 2010 di TBRS Semarang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s