Membuka Kerudung Sandra – Agung Hima

Agung Hima

…Anakku,
lihat tanda itu…

(puisi apokaliptik)

Aku belum begitu mengenal Sandra bahkan dunianya tak pernah kusapa sebelumnya. Tiba-tiba puisinya hadir dengan soliloqui yang panjang dengan cerita kontemplasi yang serius. Hebat kan, udah berkontemplasi, serius pula. Aku kemudian mendekati dengan gaya yang berbeda karena puisi Sandra serupa “menentang dialektika” yang pernah kubaca selama ini.

Sandra menekankan fakta bahwa daya memiliki daya yang lain sebagai obyeknya. Meski daya-daya tersebut masih sangat perlu untuk dilihat lebih jauh lagi, ada semacam ilustrasi kehidupan yang berjuang untuk kehidupan lainnya.

Saya ingat bagaimana puisi Sandra bercerita serupa “pluralisme” dan kemudian merapat dalam satu topik yang menyerupai dialektika penceritaan hasil kontemplasinya.

Kadang aku berpikir bahwa perenungan bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya, satu-satunya musuh yang sama sekali tidak bisa di remehkan. Pada puisinya berjudul APOKALIPTIK yang begitu panjang, dengan bacaan yang cukup terbatas aku mencoba menyelusuri kemungkinan intepretasi Sandra tentang apapun yang tertera di puisinya tersebut. Dengan agak ngawur pula aku menelusuri anti dialektika Nietzsche dan merapatkan genealogi (asal-usul nilai dan nilai-nilai) pada teks yang tersurat di puisi Sandra.

Puisi Sandra memang lebih asyik jika didekati dengan genealogi sehingga akan menghadirkan sebuah stimulus baru, aku melihat ia pun tak mementingkan gaya bahasa atau irama yang harus dilesakkan supaya puisinya kelihatan indah dengan bunyi. Sandra hanya mencoba menceritakan daya hidup itu untuk ditandingkan dengan persepsi daya hidup yang lain. Karena disitulah ia mulai eksistensi dan “ketidakbersalahan”nya ketika ia menuliskan puisi2nya.

Dalam puisi TABULA RASA, ia hanya “menuliskan” kekosongan yang kemudian diperuntukan bagi pembacanya untuk mengisi apa saja. Seolah ia tengah memancing segala aktifitas yang berkelindan di dalam rasa siapa saja. Sandra tengah mengintip dari balik kerudungnya sembari mengintepretasikan penghormatan atas fakta dan kecintaan terhadap kebenaran. Namun sebagaimana lumrahnya “fakta” hanyalah suatu intepretasi yang berjenis entah apa dan kebenaran mengekspresikan suatu kehendak : siapa yang menghendaki kebenaran?

Maka membaca seluruh puisi Sandra, aku menemukan ia masih merahasiakan banyak hal yang belum terselesaikan atau malah ia meloncat pada terra incognita mendapati segala sesuatunya adalah misteri?

jangan pernah beri aku putih
bila serupa hitam tak kentara

(serupa white crime aroma tubuhmu)

Sandra dalam puisinya tidak mengaromakan keindahan gaya bahasa dan sebagainya, ia mungkin berpikir bahwa cerita hidupnya itulah yang membuat segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Tentu saja saya tak hendak memakluminya, bagaimanapun puisi Sandra mempunyai gaya penceritaan dengan menggunakan penjelasan symbol-simbol yang kadang tak tertafsirkan kecuali oleh dirinay sendiri. Maka ijinkan aku membuka kerudungmu Sandra.

 

Agung Hima

Pendiri OpenMind Comunity, komunitas sastra di Semarang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s