Satu Ibu Dalam Diriku

Aku muak pada sosok ibu. Muak semuak muaknya, sampai sampai aku enggan tatap muka dengan muka ibu. Aku disiksa siksa lagi. Kuberitahu rasa sakit lewat tangis teriak, malahan buat ibu makin marah, ada alasan tuk tusuk tusuki hati jiwa badan.

Keras, sekeras keras tangis keluar, makin keras tubuh dipukuli, pun kata kata kasar nyasar ke jiwa. Ini ibu, ibuku kah?

Tangisku makin pecah tak karuan, ibu teriak kencang, ssshhhh ..diamlah! Diam! Diam! Bisa diam tidak!! Kepalaku ada dalam genggaman ibu, dilemparnya aku ke tembok. Tangisku membengkak, aku terjatuh. Diaaamm!! Diaaamm!! Anak tak ngerti kesulitanku! Ibu injak kepalaku dengan kakinya yang surga, aku mengaduh teriak cari cari perhatian sesiapa di luar rumah. Makin keras aku menangis, makin kuat ibu pukuli aku.

Aku berusaha lari keluar rumah. Ibu kejar aku. Ibu memburuku. Aku akan berhasil lari keluar, sedikit lagi. Kuraih pintu dan kubuka. Kena! Mau kemana kau? Bajuku ditarik ibu. Tanganku tertangkap ibu. Aku terjepit pintu. Aku teriak ketakutan. Ada beberapa orang diluar melihat ke arahku. Singkat sekali mereka tengok diriku. Tak ada yang menujuku, menolongku. Masuk!! Kamu mau tetangga tahu, ha! Mau bikin hidup ibu tambah susah?!

Tidak ibu. Aku takut.

Ibu tak dengar jeritku. Aku takut teriak. Aku terjatuh, ibu tendang tubuhku. Diam! Tak ada yang kasihan padamu, tahu?!! Atau masih kurang?! Aku tahan tangisku. Ibu berusaha membuatku berdiri tegak. Dengan satu tangan, rambutku terikat kuat dalam genggamannya. Jangan cengeng! Diam, ngerti?! Mata ibu tiba tiba dekat ke wajahku. Mata kupejam rapat rapat agar air mata dapat kutahan bersama sakit bersama takut. Mau ibu tinggal pergi? Ha?! Bapakmu sudah tak urusi kamu! Mau ibu tinggal juga?!

Jangan ibu. Aku takut.

Ibu kelelahan. Napasnya tersengal. Diam. Matanya awasi wajahku. Kulihat ibu kasihan padaku. Mataku yang diam dan memelas, juga dadaku yang naik turun. Ada isak tanpa air mata. Tapi ibu remas dan tinju wajahku lagi. Aku benci wajahmu! Aku benci matamu! Gambar Bapakmu jelas disana. Kamu mau seperti Bapakmu! Tak ngerti kesulitanku?! Ikut ikutan bikin susah! Mau kubikin nasibmu seperti anak anak di tetevisi itu! Mati di tangan ibu kandungnya, iya?!! kepalaku dibantingnya lagi. Hanya isak tersisa dari tubuhku. Airmata rembes masuk ke pori.

Ibu. Aku habis tenaga. Aku tak lapar lagi.

Aku ketakutan. Tubuhku dingin seolah tanpa darah. Anakku. Oh, anakku. Bergeraklah. Bergeraklah! Oh. Maafkan ibu! Maafkan. Kuratapi tubuh anakku.

Ohhh, ibu. Ini jawab atas benci. Ini jawab atas dendam. Tertanam sempurna di milyaran waktu.

Ibu. Ibu!! Lihat anakku! Ia tak bergerak.

Ibu membeku.

Ibu!! Lihat cucu ibu!!

Ibu tak bisa bicara, apalagi menggerakkan badannya yang lumpuh. Ibu seolah mengucap sayup i b u, ah ia ingat ibunya. Lalu air mata. Leleh. Menatapi ku, juga keadaan anakku. Terkunci pilu.

Ibu. Kita kalah lagi.

SandraPalupi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s