Jeppe Indrawisudha dan American Splendor

Dari Catatan Fesbuk: Purwono Nugroho Adhi

Geliat Relism sajak-sajak Jeppe Indra

Pada suatu kesempatan, saya berdiskusi panjang lebar dengan Jeppe. Saya masih teringat, tentang apa yang diungkapkannya menyoal puisi. Secara singkat, ia menyatakan, “mengapa puisi harus menipu mata”. Ketika ada banyak keprihatinan dan kenyataan pahit, baik dari hidup pribadi, ruang publik maupun hidup sebagai warga negara, menghiasi setiap langkah kehidupan.

Saya teringat seperti juga yang diungkap oleh Eli Siegel dengan gagasannya mengenai Estetika Realisme. Estetika Realisme ingin mengatakan bahwa dunia dan semua yang ada di dalamnya, dapat dilihat begitu puitis. Apapun itu, hingga kejujuran tentang apa yang ingin dilihat mata, walau tak indah, walau tak sempurna, katakan saja “jujur” apa adanya. Keindahan itu pasti terjadi.

Diskusi dengan Jeppe, rasa-rasanya tak perlu lagi membongkar gerakan realisme yang terkenal sebagai gerakan kebudayaan di Perancis sebagai reaksi terhadap paham romantisme yang telah mapan di pertengahan abad 19. Atau gerakan “postkolonial” atau gerakan sastrawan-sastrawan Rusia. Bagi saya, cukup dengan menghubungkannya dengan American Splendor, sebuah buku komik yang berisi serangkaian otobiografi yang ditulis oleh Harvey Pekar. Mengapa saya menghubungkannya dengan Jeppe. Rasa-rasanya, apa yang digelisahkan Jeppe dalam berbagai sajak-sajaknya “mirip” dengan Harvey Pekar ketika melahirkan American Splendor.

Jeppe selalu mengawali kegelisahan dirinya, berpijak dari apa yang sehari-hari dilihat “mata”. Sejak keluar dari rumahnya, ada sesuatu yang ia tuliskan, tentu bukan “keindahan” bunga bakung di taman, tetapi “grundelan” atau lontaran mengapa jalan rusak, mengapa berita TV selalu disibukkan dengan berita korupsi, demo mahasiswa, dan berbagai ketidak puasan seorang warga biasa. Namun, tak hanya menyoal ruang publik semata, kadang ia tuliskan secara tajam mengenai isi hati atas kenyataan hidupnya.

Pada intinya, apa yang ia tuliskan dalam secarik puisi, sungguh dekat dan mampu dipegangnya, disaksikannya dan apa yang ia hadapi. Jika puisi-puisi itu direntangkan dan ditautkan, seakan merangkai otobiografi perjalanannya setiap hari dari rumah menuju kantor, begitu sebaliknya dari kantor menuju rumah, atau yang ia saksikan ketika berjuang di seberang pulau untuk kerja kantornya.

Jika itu dikomikkan, maka mirip dengan Harvey Pekar dengan American Splendornya. Cerita dalam Amerika Splendor menyangkut kehidupan sehari-hari Harvey Pekar di Cleveland, Ohio. Komik bercerita atas pekerjaan sebagai juru arsip di administrasi rumah sakit Veteran, hubungan dengan rekan kerja dan pasien di sana. Ada juga cerita tentang Harvey Pekar dalam relasinya secara pribadi dengan teman dan keluarga, termasuk istri ketiganya Joyce Brabner dan putri angkat mereka Danielle. Namun, tak sebatas itu, sering ada cerita-cerita lain mengenai kekhawatiran atas situasi sehari-hari dengan masalah mobil, uang, kesehatannya, dan keprihatinan dan kecemasan pada umumnya. Jika dirunut, sering hal itu menjadi desakan kritis atas situasi ruang publik yang terjadi.

Jeppe dan Harvey Pekar tentu saja sangat berbeda. Tetapi , mereka melihat yang sama ketika mereka mulai keluar dari pintu rumahnya, yaitu apa yang sedang dilihat “mata”. Jika itu kemiskinan, kekerasan, kekacauan atau memang kebahagiaan, kesenangan, katakanlah dengan jujur. Jika pemerintah memang kacau dengan pelayanan ruang publiknya, katakanlah, selayaknya “surat pembaca” dalam harian surat kabar. Begitu juga, kalau jatuh cinta, hingga minum di kedai kopi, atau ketika melalui jalan raya yang berlubang, bisa aja jadi puisi.

“Hati-hati. Jalanan Jakarta berlubang lagi
padahal baru sekian hari
itu jalan diperbaiki.

Hey, hati-hati! Lajulah santai-santai.
Jalan bopeng itu jalan korupsi
kau bisa mati.”

Pulogadung, 7 Februari 2010

(Jeppe Indrawisudha – Jalanan Jakarta)

purwono nugroho adhi
Penikmat kerja budaya

****************************O……………………

Hanna Fransisca

Hanna Fransisca

Aku suka dengan tulisan ini, Mas. Tidak semua orang mampu menulis dengan kejujuran dan kepekaan. Tapi, selama ini saya selalu berusaha menulis apa yang paling dekat dengan aku dan kerap menggelisahkan hati. Tulisan ini mencerahkan.
Sel pukul 13:12 melalui Facebook Seluler · Laporkan
Justin CHandra

Justin CHandra

karena itulah saya menyukai jeppe.. eh karyanya..
bahkan saat mengenal aku rasa dia hanya menuliskan fakta tanpa sudut pandang subyektif dari penyairnya.. tetapi pada akhirnya ia menuliskan juga kegelisahan hatinya.. tetapi itu baik saja dan sangat membantu mengerti suatu keadaan. Meminjam larik rendra..

“apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan”

dan saya belajar menulis darinya..
mengeksplor thema, menemukan warna
mempertajam teknik,
tanpa perlu serupa jeppe..

Sel pukul 13:13 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

HANNA: banyak diskusi tentang realisme estetika atau avant garde, menyoal kesinambungan seni dengan realitas sosial, tetapi saya hanya ingin sedikit saja melontarkan gagasan yang sebenarnya sederhana, menyoal realisme ini, ya “mengapa puisi menipu mata” , makasih mbak, salam
Sel pukul 13:16 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

JUSTIN: siip Anda kutip larik Rendra yang pas…..realisme tak harus mengkerutkan dahi dengan, cukup jujur aja pada mata, makasih mas, puisi Anda kapan-kapan tiba gilirannya
Sel pukul 13:18 · Laporkan
Kupu Hitam

Kupu Hitam

Memang, Karya sastra adalah cermin dr lingkungannya..
Sel pukul 14:23 melalui Facebook Seluler · Laporkan
Frans. Nadeak

Frans. Nadeak

He.. he.. he…
Mengajak melihat keluar melalui pintu dengan jujur..

dan sajak itu…
🙂

Sel pukul 14:55 · Laporkan
Musyafak Timur Banua

Musyafak Timur Banua

ehm… menulis sebagai perjalanan hidup. ia justru mengendapkan laku… salam mas pur,
Sel pukul 15:04 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

KUPU & FRANS: terima kasih, mengajak mata mengenal hatinya, dari apa yang dilihatnya
Sel pukul 15:05 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

MUSYAFAK: puisi sebenarnya adalah “laku” itu….
Sel pukul 15:06 · Laporkan
Yayan Triyansyah II

Yayan Triyansyah II

tulisan yang sangat mencerahkan, Mas.. saya juga sepakat dengan JC,

dalam menulis, saya lebih suka menggunakan imaji yang berangkat dari realita. bisa dikatakan mengimajikan realita dan kedekatan-kedekatan rasa seperti yang diungkapkan oleh mbak Hanna. tapi, dalam puisi itu sendiri, seharfiah apapun bahasa yang digunakan dalam menghadirkan pesan, bukankah hal itu tetap sebagai simbol/ kode-kode yang menyimpan makna? sajak pendeknya sitor situmorang contohnya, yang menceritakan tentang malam lebaran, ketika ia hendak bertandang ke rumah pram. sajak pendek itu sempat menjadi perdebatan–dan mungkin sampai sekarang–di bangku perkuliahan sastra.

juga sajak ini:

“Hati-hati. Jalanan Jakarta berlubang lagi
padahal baru sekian hari
itu jalan diperbaiki.

Hey, hati-hati! Lajulah santai-santai.
Jalan bopeng itu jalan korupsi
kau bisa mati”

ketika membaca sajak Mas Pur, jelas pembaca akan dengan mudah menerima pesan yang disampaikan. tapi ketika idiom-idiom yang dihadirkan Mas Pur dimakanai sebagai suatu simbol yang menyimpan pesan. tetap bisa saja itu menjadi suatu pemaknaan baru yang tentunya tak keluar dari haluan pesan yang ingin disampaikan. mungkin inilah yang disebut dengan multi interpretatif ya, Mas?

Sel pukul 15:40 · Laporkan
Jeppe Indrawisudha

Jeppe Indrawisudha

Wah, saya nggak menduga Mas Ipung akan menganalisa seserius ini. Meskipun kita sama-sama tau bahwa keseriusan selalu jadi bagian tak terpisahkan dalam setiap diskusi kita. Sampai hari ini saya masih seperti itu, Mas. Setiap kali hendak menulis, saat menulis, sampai selesai menulis selalu muncul pertanyaan: Mengapa puisi harus menipu mata?

Tujuan saya hanya satu, bagaimanapun yang tidak benar itu harus dituliskan agar kepekaan sosial saya tak lekas mati. Mungkin estetikanya memang tak semegah para penyair atau bahkan jika dibandingkan dengan Harvey Pekar sang maestro tapi toh saya tetap menuliskannya sebagai puisi.

Bagi saya, puisi adalah media untuk melawan lupa dan ketidakpekaan. Sederhana saja.

Sel pukul 16:39 · Laporkan
Andreas T Wong

Andreas T Wong

: jempol deh untuk yang namanya Jeppe ….
Sel pukul 17:57 · Laporkan
Anwar Agus Abidin

Anwar Agus Abidin

salut dan hormat untuknya
Sel pukul 18:12 melalui Facebook Seluler · Laporkan
Bening Parwitasukci

Bening Parwitasukci

sastra memang wadah untuk hidup yang sebenarnya, wahana untuk mencapai tujuan sang penulis. dan mas Jeppe memang membawa kita untuk tidak sekedar lewat tanpa memperhatikan. Dia mengajak kita mampir dan mencari akar. jempol untuk kalian berdua. Mas Jeppe dan mas Pur, yang selalu mengajak kita mampir dan tak melewatkan apapun.
Sel pukul 19:37 · Laporkan
Begjo Kangpinanggih

Begjo Kangpinanggih

Mas Pur begawanku , terima kasih berbagi pada yang plonga plongo ini , dan pangandikan para begawan yang lain sungguh mencerahkan mas ! meskipun tetap saja aku masih plonga plongo !! paling tiudak aku akan menghapal satu persatu…. terima kasih ya begawan !! aku senang sekali mas !!
Sel pukul 20:41 · Laporkan
Awan Hitam

Awan Hitam

Setiap orang mungkin melihat namun tak melihat dan cendrung mengabaikan…Untuk bertindak seperti mas Jeppe atau Harvey Peker tentunya harus memilki nurani yang peka..pemahaman akan masalah sosial…

Begitulah seperti koment mas Jeppe ..apa yang diharapakannya sendiri dari tulisannya tsb
“Bagi saya, puisi adalah media untuk melawan lupa dan ketidakpekaan. Sederhana saja.”

Suatu hati yang sederhana yang dapat menangkap keruwetan dan kebuntuan itu …melihat realitas yang beku dikehidupan modern dan kesibukan ibu kota serta rutinitas..

Salam hangat untuk mas Pur
Terimakasih atas tulisannya yang mencerahkan

Sel pukul 21:25 · Laporkan
Bagus Armanusa

Bagus Armanusa

Saya mengenal jepe sebaik jepe mengenal saya, tentunya saya mengenal karya puisi jepe tidak sebaik mas pur dan sayang sekali saya asing dengan sosok Harvey Pekar. kepenyairan seorang Pembabtis Indra adalah sebuah pilihan yang menarik, dari seorang propagandis muda berbakat mengubah dirinya sebagai pelayan kata-kata pendek yang bebas, berbeda sekali dengan akar propaganda yang ia geluti sebelumnya. Menyampaikan tanpa basa basi, menggugat tanpa memaksa berkuasa, berpolemik tanpa menggurui. menyaksikan awal dan sampai saat inii kepenyairan jeppe indra bagi saya adalah kesenangan tersendiri, melihat indonesia dan dunia dalam kacamata seorang yang kalah, seorang yang tidak ingin diinjak dan tidak mau menginjak kekuasaan, seorang manusia yang sederhana dengan mimpi yang sederhana juga, seorang penyair yang berkata dengan hati dan menulis tanpa ragu akibatnya, karena ia tahu pertanggungjawaban seorang sastrawan kepada rakyatnya. Salut kepada mas Pur, carpediem untuk Jeppe!
Sel pukul 23:28 · Laporkan
Inez Pecia Zen

Inez Pecia Zen

Saya ikut kagum aja..
Kemarin jam 9:13 melalui Facebook Seluler · Laporkan
Kurniawan Yunianto

Kurniawan Yunianto

iya mengapa puisi harus menipu mata .. pesan serius ini .. seringkali dan bahkan nyaris selalu mewarnai tulisan mas jeppe dan mas ipung menelaahnya dengan tajam …

terimakasih mas ipung atau mas pur .. semoga menemu manfaat

Kemarin jam 9:41 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

YAYAN: pada akhir itu, kutipan sajak Jeppe. Soal multitafsir, itulah kekayaan sastra, sebuah bahasa tak pernah menunggu kepenuhannya. Proses kreatif juga menjadi salah satu yang pantas dihargai, walau sering kali itu bukan yang paling penting. terima kasih memperkayanya
Kemarin jam 13:00 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

JEPPE: puisi adalah media untuk melawan lupa dan ketidakpekaan. Sederhana saja. terus berkarya dik, warnailah dengan kata dan bahasa kenyataan
Kemarin jam 13:03 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

ATW & ABIDIN: makasih, teruskan juga berkarya
Kemarin jam 13:04 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

INEZ & KY: makasih mas, dukungan Anda semua menjadi penguat kami untuk selalu berkarya
Kemarin jam 13:05 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

BENING: jangan pernah terlewatkan…..jangan lupa kenyataan
Kemarin jam 13:06 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

BEGJO: jangan sebut “begawan”, ini hanya cantatan sederhana yang masih jauh dari karya “ilustrasi” Anda yang “khas”
Kemarin jam 13:07 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

AWAN: membaca realitas, membaca kehidupan, inilah sumber larik dari bait-bait, apa yang telah dilihat “mata”, makasih mas, atas tanggapnnya yang selalu memperkaya
Kemarin jam 13:08 · Laporkan
Purwono Nugroho Adhi

Purwono Nugroho Adhi

BAGUS: mas, baru kali ini Anda, menanggapi dengan begitu “menawan”, tentu untuk seorang “sahabat” yang terus berjuang mengarungi kerasnya Jakarta, salam hangat, terima kasih
Gambar American Splendor diatas diambil dari Internet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s