Tengah Malam di Muka Seorang tuhan,…Hudan Hahahihi…

Jika saja jiwaku tidak sedang menarik-narik ujung rokku untuk segera bertemu dengannya. Tak kan kulakukan hal gila begini. Menjelang tengah malam buta,..bersama penyair Kurniawan Yunianto (Mas Iwan) yang belum lama kukenal. Hendak bertemu dengan seorang yang belum lagi kutahu persis sari wajahnya, di suatu tempat yang akupun masih merasa buram. Lewati jalan Sigarbencah. Nekat? Entahlah.

Penduduk Semarang tahu bagaimana jalan Sigarbencah itu. Aku hapal betul lekuk likunya karna hampir setiap pagi aku melaluinya bersama deru bebek primaku. Motor jadul yang setia itu…hah. Berada diatasnya bersama semilir angin kulalui jalan berbukitbukit yang sepertinya selalu bergerak merubah lekuk kulit jalannya, konon naga raksasa tinggal didalamnya.

Aku selalu asik lihat hamparan sawah menggiurkan, lihat tubuh sungai yang begitu sensual, lalu di kiri jalan ada sebuah tempat tersembunyi diatas sana dengan tulisan cantik Leyla (sampai sekarang aku masih penasaran tempat apakah itu), lihat hutan begitu rimbun dan pada musim tertentu menghasilkan bunga bangkai yang laris dijual penduduk sekitar.

Kala siap menanjak diatas bukit tertinggi bisa kutatap sambutan dada bidang bukit gagah itu berbatas birunya langit yang bermain dengan arak-arakan awan ramai bentukannya. Whuiii,..menuju keatasnya aku seperti disambut alunan orkestra yang begitu membahana. Jurang di sebelah kanan tertawaiku lebar-lebar.

Tapi malam-malam begini lalui jalan Sigarbencah. Hal gila yang pernah kulakukan. Bukankah jalan itu sangat rawan. Kecelakaan. Perampokan. Pemerkosaan. Bahkan aku ingat betul letak mayat yang dibuang setelah penembakan itu. Juga kawanku yang meninggal di dasar jurang sana. Uh,..sudah seharusnya aku membatalkan niatan ini karena takut.

Akupun pernah terjatuh dari atas sana. Kala itu aku sedang bersukacita akan kehamilanku. Aku asik menuruni bukit Sigarbencah sambil ajak jabang bayiku ini pandangi langit, juga pemandangan luas diujung sana. Amboi, indahnya. Tiba-tiba saja aku sudah berpelukan dengan motor jadulku.

Namun Tuhan begitu baik karna dijalan sepi itu Ia kirimkan pemuda ganteng berwajah mirip Donny ADA BAND yang tergopoh-gopoh di seberang sana menghampiriku dan membantuku berdiri dengan wajah kuatirnya…hihhi dimanakah dia, pasti sudah tak mengenaliku lagi karna sekarang aku sedang genit, gendut nikmat kata si Bapak.

Lalu, serbaketidakpastian ini… bagaimana jika Mas Iwan disebelahku bekerja sama dengan mereka diujung sana. Bagaimana jika yang akan kutemui nanti bukanlah yang hendak kutemui. Bagaimana jika mereka bekerjasama hendak melakukan sesuatu kepadaku. Namun pikiran ini dengan santainya ditepis si Bapak,…”Istriku, jika saja kau cantik dan kaya seperti Luna Maya, tentulah kau boleh berpikiran seperti itu…”  Aha, aku manggut-manggut, sungguh benar dan kurang ajar juga si Bapak.

Lalu kudramatisir lagi rasaku, bagaimana bila ada orangorang bertopeng mencegat mobil yang kami naiki ini. Atau para teroris muncul dari balik pohon-pohon jati itu untuk latihan perang dimalam hari..?? Ah, harusnya kemepyur kepalaku bayangkan itu.

Tapi aneh, mengapa aku santai saja disini. Bersama Mas Iwan disampingku yang sedang menyetir dan asik ngobrol, sesekali mengurai rambutnya yang panjang terlepas dari kuncirannya yang asal. Kutetap merasa bebas melihat keluar jendela yang gulita.

Kala kutatap berani rimbunan hutan-hutan itu. Yah, kesana aku akan berjalan dengan gagah. Loncat keluar dari dalam mobil ini,..tak pernah sesat karna yakin tujuan. Sang Guru. Aih,..kusibakkan semak semak dan kulihat bintang hanya berkerumun di tempat itu. Itu dia! Itu dia! Jerit batinku. Itukah dia! Itukah dia! Yang lain bertanya takjub. Wahai,..ia yang sedang tidur-tiduran dengan seorang pelayan setia,.hehehe Galih Pandu Adi. “Silakan minum tuhanku,…masih ada sebotol tersisa..” seru Pandu berbinarbinar.

Mas Iwan terengah-engah menyusulku. Kutepuk keras pipiku, inikah dia? Menguap kemana semua pikiranku. Kududuk diam bersila, dimuka seorang tuhan. Hudan Hahahihi…perjamuan mewah yang buatku terkesiap. Perjamuan ini hanya sebentar, jadi baiklah aku serap saja daya milik tuhan ini..aku memang sedang butuh di-charge. Dan aku pilih untuk off….mohon tambahlah energiku.

Kesulitan kucari-cari bola matanya..mana mata itu. mata yang sepanjang hidupnya kurasa,..baca.baca.tulis.tulis. mata yang tak pernah berhenti itu. Aku bertanya pada matanya, apa kalian baik-baik saja? Lelahkah kalian? Dukakah? Tapi seketika mata miliknya balik tatap aku. Sepasang mata itu seperti mata bocah yang hanya kenal gembira. Bermain dengan anak-anak rambut yang selalu saja berayun seperti tarian rinai hujan. Sungguh dinamis.

Lalu bibir-bibir itu.. ciptakan suara-suara yang keras lembutnya kadang tak kupahami. Duduk dimuka seorang tuhan, Hudan Hahahihi…kami bermazmur, bernyanyi-nyanyi.. ikuti kemauannya yang tak pernah surut energinya, aku jadi teringat betapa lelahnya ikuti anak-anak kecil yang selalu bergerak. Mungkin tubuhnyapun kelelahan ikuti gelisah jiwanya,..namun semacam energi cadangan selalu ada setiap waktu, hal yang buatku kagum atas itu.

Paling kusuka adalah telinga kirinya,..disitu bergantung anting perak yang tertawa menyambutku sedari tadi. Sama dengan telinga kiri jiwa dewaku,…Valentino Rossi. Waow,..tuhan dan dewa sejiwa. Sarat daya untuk berkarya. Memiliki need of achievement yang mengagumkan. Para seniman di bidangnya. Para pribadi yang mampu tulariku juga siapa saja jadi manusia full energi.

Juga kalung salib kecil mungil itu,..yang bandulnya seumur hidup belum pernah kupakai.. hehehe berkilaukilau mengitari leher yang misterius..

Dengar,..selera musiknya asik. Pendengaran yang tajam atas fals tidaknya suatu nada. Pada sakralnya tengah malam, ia berteriak-teriak lalu diam, bawa kami kegurun,..bawa kami ke kutub,.cinta..oohhh cinta…teriak lagi uh. Kali ini  Angie ia nyanyikan dengan caranya tentunya. Berpasrah pada alunan gitar yang dimainkan bergantian,..Mas Iwan, dan tuhanku itu. Ah, andai saja pertemuan bisa lebih lama lagi, sudah kutanggalkan seluruh jubahku yang terasa berat malam ini, pilih menceburkan diri, gila bersama-sama.

Didekatnya,..aku merasa berada di ruang simbol. Menebak-nebak yang sulit ditebak. Mencari-cari yang sulit dicari. Bahkan tuhanpun kadang tak mengerti dirinya, desahnya kudengar sayup. Di tengah hutan. Ditemani bintang. Bisa seenaknya saling menembus pikiran. Mengapa ia begitu dekat, Tuhan? Seorang tuhan dihadapanku. Bersedia duduk dalam satu perjamuan. Bersama kawan-kawan seirama yang juga menakjubkan.

Sebentuk sabda diujung pertemuan kami, kuresapi seperti menghisapi batang tebu. Sudah lewat tengah malam, aku harus pulang, kembali pada kehidupanku. Kami tutup dengan membacakan sebuah doa bergantian,…puisi milik Herlinatiens,

Outside

Aku pernah merayu seseorang
Hingga dia mabuk dan muntah darah
Menggilaiku tanpa syarat

Aku pernah menghujani seseorang dengan harapan
Hingga dia lena dan pingsan
Memujaku dengan sekarat

Aku sungguh berulangkali meremas banyak hati
Meludahinya dengan kesadaran
Dan menepukinya saat kematian

Kini padamu kuminta
Lakukanlah semua itu padaku
Hingga aku gila dan mati tanpa waktu

(Herlinatiens)

Dimulai dari Mas Iwan yang syahdu menghentak, lalu aku yang seperti membaca resep dapur, lalu beliau, tuhan Hudan dengan tarikan suaranya yang nge-soul habis…

Hah, siapa sih aku ini. Jelas hanya seorang ibu rumah tangga yang kepingin bertemu tuhan, si pembuat kue terkenal legit itu dan selalu dihampiri begitu banyak pengunjung. Seperti mimpi, akhirnya kami bertemu. Entah bagaimana pendapatnya tentangku. Sayang, tak ada si Bapak bersama kami. Jika saja ada, pasti suasana akan semakin gayeng.

Aku merasai tuhan Hudan Hahahihi dengan caraku. Mungkin banyak orang tak sependapat, termasuk juga beliau. Tapi, sudahlah. Aku hanya ingin katakan, bahwa di muka seorang tuhan, Hudan Hahahihi,..aku mendapati jiwaku menemukan sebuah pembaharuan hidup. Bukan hal yang berlebihan kurasa, jika aku tuliskan ini semua bagi beliau. Bagiku ini adalah sebuat pengalaman spiritual. Semoga cahaya bintang yang kuambil darinya selalu nyala bernyawa. Takkan kubiarkan jika ini sekedar menjadi semacam masturbasi spiritualitas.

Aku ingin terus menulis. Hingga di kehidupanku setelah mati.

*

Lukisan diatas adalah Hudan Hidayat, karya Kupu Hitam.

Dari Diary Diri -> 29 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s