A R W A H

Satu hal yang buat diri ini prihatin adalah tentang arwah orang yang meninggal ataupun belum meninggal. Bagaimana ya…mungkin karna ini merupakan misteri, maka banyak orang yang penasaran tentangnya. Lalu mulai cari tahu. Lalu mulai sibuk belajar ilmu-ilmu ghaib. Lalu menjajal ilmu, memanggil arwah-arwah itu dengan ilmu yang dipunyai untuk ditanya-tanyai. Lalu (katanya) menolong mereka agar kembali ke alamnya dan tidak ‘mengganggu’ manusia.

Tapi…apakah menolong, jika hal itu justru mendatangkan keuntungan manusia untuk mendapatkan kekayaan. Coba lihat, di TV lah yang paling jelas. Tokoh si ‘makhluk halus’ yang tak perlu dibayar mahal inilah yang dijual. Lalu … kalau memang ‘makhluk halus’ ini ada, apakah mereka tidak terganggu. Ataukan mereka memang benar-benar ingin masuk TV? Belum lagi praktek praktek pengusir ‘hantu’ yang marak. Mereka juga dapat bayaran khusus. Apakah tidak berperi ke’hantu’an kalau arwah yang dianggap jahat mau diusir.

Saya terlalu curiga, bahwa semua adalah manusia yang membuatnya. Mereka saling menyakiti, ‘makhluk halus’lah yang jadi tersangkanya. Heran. Penyakit yang susah didiagnosa, kematian, kemalangan, kecelakaan, dan sejenisnya yang biasanya dimasukkan dalam daftar ‘petaka’, kalau tidak Tuhan, hantu yang jadi bahan salah-salahan. Bagi saya, wajarlah bila lantas para arwah ini tidak tenang di alam sana. Karna manusia terlalu usil dan jahil dengan keberadaan mereka. Bagaimana sih yang seharusnya…

Atau jangan-jangan,..bagi arwah itu, kitalah yang arwah. Kita inilah sumber perkara. Kita pengganggu, meski tidak semua.

Saya sendiri takut dan jangan sampai melihat sosok arwah yang (katanya) bentuknya beraneka ragam menakutkan (seperti di buku, film,dll), tapi saya percaya mereka ada disekitar, hanya saya menghormati mereka. Sangat. Saya lebih ingin membiarkan mereka tenang dan tidak merasa terganggu apalagi ketakutan jika melihat saya dan manusia lain.

Ah, Tuhan. Bagi saya, Dia pusat segala hidup dan mati. Dan saya mengandalkanNya dalam segala hal. Termasuk soal arwah ini!

*

Dari diary diri -> 30 September 2004

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s