Hiperbola Ketergantungan. Uh!

Aku menyanjungnya, menyayangnya, mengasihinya, seolah ia lahir dari rahimku, atau aku hidup dari detak jantungnya. Bukan aku tak tahu, tapi justru karena aku tahu persis bahwa hatiku telah memilih dia untuk dicintai.

Siapa bilang aku tak butuh dia…jika membayangkan kami akan berpisah saja, sudah membuat robekan luka ini bertambah lebar. Perihnya keterlaluan menggoda sesak nafasku.

Aku tak mampu berkelit, jika sebuah hati telah memilih, apa dayaku untuk menolak ini. Sedang dayaku sendiri telah ikut berjuang untuk memilih cinta pada manusia ini.

*

Dari Diary Diri -> Jumat,14 Mei 2004

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s