GRrrr….!!! Indonesia!

Sebagai warga negera Indonesia. Semakin saya dewasa, semakin saya sadari, betapa banyaknya hal hal yang menjengkelkan, hal hal yang bikin geram, hal hal yang bikin hati ini selalu bertanya tanya. Semakin hari perilaku bangsa ini makin tak masuk akal. Sulit diterima oleh logika kemanusian. Hah!

Seperti yang terjadi di Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, siang ini. Ketika hukuman cambuk mulai diberlakukan bagi 26 pemain judi togel. Satu orang bebas sebab ia mampu membayar denda 25 juta. Satu orang itu adalah bandar judi togel ini. Bayangkan! Hukuman itu akan dilaksanakan setelah sholat Jumat di depan Masjid.

Ah. Aceh yang telah porak poranda karena tsunami. Mengapa hanya memikirkan soal hukuman yang tepat bagi penjudi seolah itu adalah hal mendesak dan perlu. Bagaimana dengan pembangunan negerinya. Pemberantasan orang orang yang merampok bangsa saat Aceh kesulitan. Koruptor. Mereka yang menggunakan kesengsaraan rakyat sebagai jalan untuk memperkaya diri. Mengapa kita masih saja tidak jeli akan hal itu.

26 orang itu hanyalah orang kecil yang digunakan sebagai percontohan dari kekuasaan pemerintah tertentu. 26 itu hanyalah kumpulan tugu peringatan, bahwa kekuasaan sanggup membuat nasib seseorang menjadi seperti apapun, yang kekuasaan itu kehendaki.

26 orang itu adalah orang yang tak mampu membayar denda karena mereka ‘pencuri’ kecil, sehingga mereka harus dihukum cambuk. Mereka bukan koruptor, pencuri uang negara. Mereka juga bukan bandar judi.

Mereka orang kecil yang sedang tak mampu menghadapi dunia, hingga mereka mencari jalan lain yang ‘kurang terpuji’ dengan bermain judi. Mereka hanya berharap hal itu dapat mengubah nasib mereka. Toh banyak orang diluar sana korupsi seenaknya dan menjadi kaya raya dan masih dihormati. Toh para bandar yang cepat menjadi kaya, lolos dengan uang hasil ‘kerja’nya.

Bukan melegalkan, namun pemberian hukuman dengan hukum cambuk, bagi ke 26 orang ini sepertinya perlu ditinjau lagi. Mengapa hanya berlaku bagi orang orang kecil?  Mereka bermain main dengan membeli nomor. Mereka ‘beli’, bukan ‘mencuri’. Lalu berharap menang, berharap kehidupan akan berubah menjadi sedikit lebih baik.

Ah, tapi kita lihat. Siapa saja yang mendapat hukuman tak berperikemanusiaan itu. Sekali lagi, keadilan terinjak di negeri ini. Ah. Indonesia.

***

Dari Diary Diri -> jumat,24 juni 2005

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s