Manusia Baik. Kah?

Apakah ini… yang dinamakan rasa sakit itu… datangnya tak terduga, tak bisa diperkirakan,.. dan rasa sakit itu justru bersumber dari kebahagiaan yang sudah diraih … bencana ini berasal dari suatu anugerah.

Hatiku  kesakitan menahan marah, emosi, dendam, yang kutahan dan kutaruh pada kantung pedihku … karena kemarahan itu menimbulkan kepedihan dalam dan buruk… sangat. Sedihnya, ini justru pemberian dari seorang yang dicintai, sumber kebahagiaan yang amat sulit dipeluk, yang ketika ada waktu aku boleh memeluknya, kupikir yang ditawarkan adalah sukacita yang bertahan selamanya…

Bayangan perempuan yang gembira-ria menari-nari karena berhasil merasakan benda berharga kepunyaanku tanpa seijinku terus membelit-belit leherku, memukuli dadaku, membakar mataku yang meleleh. Terlalu panas. Dan ini untuk kali kesekian.

Antara pemberian diri untuk rela berbagi, dengan rasa terhina menjadi manusia yang kalah, tak tahu lagi mana yang seharusnya aku raih… untuk aku perjuangkan. Karena hal ini datangnya bukan sekali, dan siapa yang tidak mengerti dalam hubungan ini. Aku,.. atau diakah…

Bagaimana manusia yang baik itu seharusnya ?

Apa yang bisa dipertahankan dari hubungan ini.. ketika tak juga dia mengerti akan arti dirimu? Coba pikir, mengertikah dia arti dari sebuah harga diri yang tinggal satu-satunya kamu punya dan sangat berarti buat kamu? Mengertikah dia apa yang menjadi ketakutanmu, pengharapanmu, sekaligus semangat hidupmu? Apakah dia pernah belajar dari perasaan-perasaanmu .., mampu menganggap hal itu sebagai hal yang sangat berarti bagimu sebesar kau menganggapnya berarti?

Atau dia hanya menganggap segalanya hanyalah hal kecil yang biasa dan wajar untuk dilakukan… ada cerita, ada perjanjian, ada pelanggaran, ada ungkapan maaf, ada penyesalan, ada cerita baru, ada perjanjian baru, ada pelanggaran baru, ada ungkapan maaf baru, ada penyesalan baru, ada cerita baru lagi, ada perjanjian baru lagi, ada pelanggaran baru lagi, ada ungkapan maaf baru lagi, .. ada penyesalan baru lagi, ….. ada dan ada lagi,…

Apakah aku sungguh-sungguh lapang menelan ucapan maafnya yang kadang diselingi tawa keyakinan, bahwa masalah ini akan segera selesai, dan aku akan menjadi baik lagi…

Bagimana seharusnya menjadi orang yang baik itu ..?

Lalu apa artinya menjaga sebuah perasaan. Apa artinya rasa saling. Ini bukan cemburu. Bukan pula takut kehilangan. Kita sudah melampaui ini. Aku percaya pada apapun dirinya. Tapi, yah. Ketika aku tidak bisa membuat dia memperhatikan seluruh yang ada pada rasa ini, keberadaan ini, luka, bahagia, harga diri,… aku adalah manusia yang gagal. Dalam bayangan perempuan yang tertawa-tawa itu.. terus mengangkat kemarahan ini naik ke kepala dan memotongi urat candaku, dan .. aku yakin, dia juga tertawa,.. karena dia pikir, apa yang aku rasakan paling-paling tak lebih dari rasa melankolik yang didramatisir…

Jangan katakan ini akan berakhir, atau tak pernah berakhir, … aku tak mau keduanya. Siapapun tak berhak memberi keputusan tentang ini. Atau aku harus mengusir mereka dari hidupnya sedangkan dia mempersilahkan mereka masuk.. Atau membunuh mereka dan dia dari hidupku akan bantu membalut luka ini. Siapapun tak berhak memutuskan. Atau membalasnya dengan menyakiti hatinya, karna kutahu persis apa yang menjadi titik kelemahannya. Mencabik-cabik hubungan yang sudah lelah diraih, untuk dilemparkan di tempat pembuangan sampah dan dimusnahkan. Itupun bukan hak siapapun, …

Lantas, katakan lekas, bagaimana manusia yang baik itu seharusnya ?!!..

Kemarahan yang sama, karena masalah yang sama. Kepedihan yang sama karena sayatan yang sama. Kelelahan yang sama, karena melalui jalan yang sama. Penyesalan yang sama karena kekeliruan yang sama. Permintaan maaf yang sama, karena pemberian maaf yang sama…

Apakah ini mendewasakan hubungan ini,.. atau kita mulai pada titik kemunduran,.. pelajaran apa lagi yang bisa kita raih,.. jika hal yang sama terjadi dan sama menyakitkannya dengan yang sebelumnya. Mengapa manusia terlalu tolol untuk terseret pada kubangan yang sama,…

Apa yang harus aku lakukan menghadapi hal ini. Aku butuh udara. Aku butuh angin. Aku butuh petir. Aku butuh hujan. Aku butuh pelangi. Aku butuh segala kekuatan  yang bisa menyatukan kembali bahagia yang sudah terlanjur hancur sekali lagi…

Bagimana seharusnya manusia yang baik itu ?

***

Dari Diary Diri -> 10 Mei 2004

2 thoughts on “Manusia Baik. Kah?

  1. membaca diari atau tulisan lama yang tersimpan, kerap memberikan efek kejutan dan bisa mengirimkan ide untuk tulisan lain. bisa dimanfaatkan untuk menjadi puisi atau cerpen. atau tulisan jenis lainnya.

    beberapa ungkapandlam tulisan di atas, telah memaparkan keindahan. ada beberapa bagian yang sangat puitis. ini sudah menajdi draft karya puisi. tinggal dilanjutkan.

    salam juang, kawan.

    • trimakasih Mas apresiasinya. sy berencana untuk menuliskan tajuk dari diary diri disini. kadang kita memang tdk menyangka, di suatu waktu tertentu, kita bisa menulis ttg sesuatu. tulisan pribadi kadang menjadi penemuan luar biasa bagi diri sendiri. hehehe… sukses untuk buku buku puisimu Mas. salam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s