FAJAR DI TEPI HATIMU

Cerita ini kupersembahkan bagi para perempuan yang berjuang mengalami kanker apapun, baik yang masih hidup, ataupun pada mereka yang telah tiada.

=====================================================


Ketika fajar tiba, kukirimkan tiupan mesra ini untukmu. Akankah kau balas angin yang membawa hatiku padamu. Jika tak lagi kau mampu tuk merasa semua keindahan yang datang bersama fajar.

Tadinya fajar adalah awal segala hari bagimu, yang kau bangun dengan segala keceriaan. Kau bawa kehangatannya masuk kedalam hati seisi rumah. Rasakan langit yang membiru, sejuknya tetes embun, juga nyanyian dedaunan yang memanjakan awal harimu. Fajar adalah harapan. Itu katamu berkali-kali.

Tapi tidak dengan fajar belakangan ini. Fajar laksana senja temaram, yang senantiasa ingin menutup harinya. Aku tak sepandai kau dalam menyongsong fajar. Apalagi jika kucoba untuk mengirimkan tiupan mesra ini. Akankah birunya langit, tetes embun, juga nyanyian dedaunan itu bersekutu denganku untuk menghangatkan lagi hatimu.

Kau katakan pada fajar, hatimu sedang beku. Kehidupan terasa hambar tak beragi. Tak berpengharapan. Absurd. Ah. Bagaimana aku bisa menghiburmu. Katakanlah padaku. Bagaimana rasa hatimu kini. Tolong, uraikan padaku satu persatu.

“Kau tak tahu rasanya..” katamu waktu itu. Apa harus kujawab, aku memang tak tahu. Tapi apa perlunya, jika aku selalu ada disisimu, mencintaimu, sampai kapanpun.

“Setelah semuanya ini, kau akan jadi berbeda, meninggalkanku. Aku harus bersiap diri untuk kehilangan segala yang kumiliki, dan kucinta.”  Katamu lagi sambil mencari arah mataku. Aku hanya menggelengkan kepalaku…tak mungkin sayang…”Jika kau masih disisiku, itu karna kau kasihan padaku. Atau karna idealismemu sebagai seorang Katekis. Atau karna hukum pernikahan kita yang tak terceraikan.”  Lanjutmu datar.

“Tidak Sayang. Aku mencintaimu seutuhnya. Apa adanya dirimu.”

“Cinta.” kau tersenyum getir. “Senang hatiku mendengar kata cinta darimu. Meski usia pernikahan kita hampir seperempat abad. Aku mrasa takjub.”

“Mengapa kau meragu. Kau kenal diriku seperti kau mengenal dirimu sendiri. Kau tahu hal yang tak kuucapkan.”

“Akankah tetap sama? Setelah semuanya nanti?” Lagi, kau mempertanyakannya.

“Ya. Selalu sama.” Aku menjawab tegas.

“Tubuhku tak lagi sempurna. Kau akan melihat hal yang menjijikkan pada tubuhku.”

“Tetap sayang. Selalu sama.”

“Kepalaku menjadi botak. Tanganku menghitam. Aku akan berada dalam krisis kepercayaan diriku.”

“Tak mengubah apapun. Kau tetap cintaku.”

“Keadaanku lemah. Tak berdaya. Aku akan merepotkan kalian. Menguras seluruh tenaga, pikiran. Batinmu tak tenang karena keadaanku.”

“Itu mungkin terjadi, tapi takkan mengubah besarnya kasihku padamu.”

“Bagaimana dengan keuangan kita? Bukankah kau sudah mulai bingung? Darimana semua biaya penderitaan ini dapat kita cari. Ekonomi keluarga kita menjadi kacau. Anak-anak kita ikut kebingungan dan terbebani. Dan, semua ini karena aku. Seorang ibu yang hanya bisa menghiasi fajar dengan keluhan.”

“Mengeluhlah sebanyak yang kau mau. Lalu menjadi kuatlah, semampu yang kau bisa. Semua ini akan kita hadapi bersama-sama. Percayalah, kita pasti bisa melaluinya.” Aku berusaha menguatkan batinmu. Tahukah kau, kesedihanku sungguh  memuncak. Akupun tak tahu, apa yang akan terjadi esok..

“Percaya dengan apa? Inikah hasil doaku? Hal mengerikan yang kini menimpaku. Mengapa Tuhan membisu. Mengapa ini juga menjadi bagianku..” Kau mulai menangis..

“Hei. Kau sendiri bilang. Dalam doa, kita akan menemukan ketenangan dan kekuatan yang kita cari. Kita berdoa bukan agar hidup kita tak punya persoalan bukan? Berdoa bukan agar segala masalah kita menjadi beres. Bukan juga agar Tuhan memberi hal yang kita inginkan. Karena  jika yang kita temui sebaliknya, kita akan mudah berputus asa, mempertanyakan keberadaan Tuhan, kebaikan, kekuasaanNya… Kita berdoa, untuk menemukan kekuatan, menjadi kuat dan semakin kuat dalam menghadapi cobaan apapun.”

“Terkadang aku takut untuk terikat dalam doa. Sebab, dengan begitu sepertinya Tuhan memberiku cobaan yang semakin besar saja untuk mengujiku.”

Kupeluk dirimu erat.. “Lalu, apakah situasi menjadi sama saja ketika kita memilih untuk tidak berdoa? Hmm? Aku yakin, masalah yang kita hadapi selalu sama besarnya. Dalam doa, manusia lebih bisa mengurai satu persatu persoalan hidupnya. Dalam keheningan jiwa, manusia menemukan dirinya dalam keterbatasan sekaligus kekuatan yang akhirnya ia temukan sendiri dalam dirinya. Inilah letak keadilan Tuhan. Bagiku, inilah yang disebut mukjizat. Keajaiban.”

“Letak keadilan Tuhan? Keajaiban?” Kau memandangku penuh. Matamu masih sembab dengan air mata.

“Dalam penderitaan, manusia akhirnya mampu menemukan makna hidupnya. Itulah keajaiban yang diberikan Tuhan. Sebuah penemuan akan makna hidup. Hal terpenting dan sangat berarti.”

“Trimakasih Pak.” sahutmu setelah terdiam beberapa saat. “Kau memang suami sekaligus bapak terindah. Aku tak kan merasa aneh, jika kau tetap setia.”

“Hei, Aku tidak main-main sewaktu mengucap janji dalam Sakramen Pernikahan kita. Bukan semata-mata karena hukum Gereja, ataupun karena idealismeku dalam membangun keluarga yang membuat kita utuh bertahan. Tapi tlah kutemukan belahan jiwa, waktu demi waktu. Hingga saat ini. Bersamaitu pula, kutemukan makna hidup yang sungguh menguatkan kehidupan perkawinan kita.”

“Makna hidup. Hal terpenting dalam hidup manusia. Dan kau akan menemaniku untuk mencari dan menemukannya terus bukan? Aku mencintaimu.” air matamu terurai lagi. Isak tangismu menguat dalam pelukanku. Tapi aku yakin, tangisanmu kini dalam kedamaian.

***sp***

Yah. Disini aku. Bersama kedua anak kita. Menunggumu yang sedang berjuang dalam ruang operasi. Rasanya lama sekali. Kau tak sendirian sayang. Semua yang mencintaimu ada disini. Apapun yang terjadi. Kami tetap ada bersamamu.

Kau takkan kehilangan apapun. Dimataku, kau tetap seseorang yang utuh. Sama seperti waktu pertama kita bertemu. Atau bahkan jauh sebelum kita dipertemukan. Kau tetap wanitaku. Kau istriku tercinta.

Semua ini takkan mengubah pandanganku terhadapmu. Kau tak perlu malu. Aku adalah bagian hidupmu. Kau dan aku, harus kuat demi anak-anak. Mereka akan belajar menerima kehidupan, apa adanya.

Aku ingat, kau berusaha tegar menerima hasil pemeriksaan itu. Kanker payudara. Wajahmu sejenak mematung. Tanganmu menguat dalam genggamanku. Aku merasa wajahku tertampar benda dingin waktu itu.

Ada saat-saat kau begitu rapuh. Membayangkan dadamu rata tak berbentuk.  Berganti gambar parutan bekas luka operasi. Lalu karna proses kemoterapi, rambutmu yang indah itu perlahan rontok. Tubuhmu melemah.

Ah. Tapi lihatlah… kau mampu bertahan hidup, hingga lima tahun lamanya. Kau masih menemani kami, dengan ketegaranmu yang mengagumkan.

***sp***

Ketika fajar tiba, aku selalu ingat semangat dan keceriaanmu. Kukirimkan tiupan mesra ini untukmu. Pasti kau sedang merasa birunya langit, tetes embun, juga nyanyian dedaunan yang lebih sempurna keindahannya. Fajar tak lagi menepi, ia selalu sempurna bersama hatimu.

Selamat berbahagia istriku.

Kelak, dalam pertemuan kita, kan kubawakan cintaku yang utuh padamu.SELESAI

4 thoughts on “FAJAR DI TEPI HATIMU

  1. Duh, aku belajar banget dari cerpenmu ini. Aku jadi ingat seseorang telah memintaku menulis tentang temannya yang kena kanker, walaupun aku yakin orang itu telah lupa. Terima kasih. (MMSM)

    • Saminist…trimakasih. Penuhilah permintaan seseorang itu, kau tak pernah tau apa yang akan terjadi setelahnya. Hidup ini penuh kejutan, bukan? Salam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s