SEPOTONG LANGIT UNTUKMU

“Bagaimana kabarmu sekarang ?” Surya menatap wajahku dalam.

“Bahagia.” jawabku tegas dan pendek.

“Syukurlah … saya selalu berdoa untuk kamu …” jawaban Surya yang begitu tenang dan tulus, malah membuatku sebal setengah mati.

“Doa ?!Kau yakin jika itu karena doamu, Romo ?!” kupertegas sebutan ‘Romo’ tadi. Ada cabikan kepedihan muncul tiba-tiba menyayat kembali.

Kurasa Surya merasakan sindiranku. Malam ini, wajahnya tetap terlihat tenang, tapi kutahu … tidak dengan hatinya. Pandangannya berubah ke arah lain. Aku berharap dia merasa bersalah. Tapi sepertinya sia-sia. Ketenangannya tetap saja tampak di wajahnya yang bersih dan bercahaya. Ingin rasanya kuacak-acak rambutnya, dan kutempeli wajahnya dengan tepung, atau bahkan lumpur. Lalu ke arah ulu hatinya, kulempari kata-kata yang menyakitkan hingga gelombang besar muncul di wajahnya yang tenang, setenang telaga bening. Telaga bening di Banyubiru… awal  ukiran kepedihan masa lalu.

“Kau masih sama …” Surya seolah berkata pada dirinya sendiri setelah lama terdiam. Mungkin pikirannya juga sedang menerawang pada ukiran yang sama di masa lalu kami. Bedanya, ukiran itu menjadi indah baginya,.. tapi buruk bagiku.

Lima belas tahun lalu, kami memutuskan untuk berpisah… bukan kami. Tapi dia. Surya. Setelah ratusan hari lamanya… dengan susah payah kami membangun hubungan kasih. Berdinamika bersama … dalam kebahagiaan tentunya.

***sp***

“Kau pernah menonton film City of Angels ?” tanya Surya waktu itu, pada awal masa pacaran kami. Tepatnya, sembilan puluh lima menit sebelum kami hendak memutuskan untuk menjalin kedekatan yang lebih. Berpacaran. Saat itu kami masih sama-sama kuliah, di tingkat akhir.

“Belum…” jawabku ketika itu, sambil mulai bertanya-tanya , hal apa lagi yang ada di kepalanya. Bagiku, setiap pernyataan ataupun pertanyaannya bisa menjadi jebakan. Maka aku agak berhati-hati jika Surya mulai berbicara serius.

Lalu ia mulai bercerita tentang hidup seorang malaikat yang tak pernah bisa mati, tak pernah merasa sakit, abdi Tuhan untuk menentukan kehidupan atau kematian seseorang, dan tugasnya adalah menolong manusia di dunia untuk menemukan makna hidup. Suatu ketika malaikat itu  jatuh cinta pada salah seorang manusia bumi. Malaikat itu rela menjatuhkan diri dari ketinggian, rela merasakan kesakitan, dan rela menjadi manusia, agar dapat hidup bersama wanita yang dicintainya, seorang manusia bumi. Sayapnya hancur tercabik-cabik. Ia tak mungkin berubah kembali menjadi malaikat. Meski hal apapun menimpanya, termasuk akhirnya kehilangan wanita yang telah ia cinta.

“Seperti malaikat itu …, sayapun merasakan hal yang sama.” Surya menyambung ceritanya.

“Apanya yang sama ?” jawabku kebingungan. Atau was-was, lebih tepatnya. Dia mulai berfilosofis lagikah … Ah, tentu aku tidak boleh terjebak dengan kata-katanya. Sebab jawabanku akan selalu diingat dan dipegangnya. Gawat.

“Sayap saya sedang tercabik-cabik kini. Saya tak mampu terbang kembali. Hanya kau yang bisa memperbaikinya. Maukah kau …?”

Aku melongo. Sungguh. Aku tak tahu arah bicaranya. Sayap. Patah. Aku… “Maksudmu….” tanyaku kemudian.

“Sayap saya sudah rusak dan tercabik. Kau penyebabnya. Kau harus bertanggungjawab karenanya.  Maukah kau merajutnya kembali untuk saya ?”

Mengapa laki-laki ini sulit sekali berterus terang, bahwa ia jatuh cinta padaku. Seharusnya ia tak perlu berbicara berputar seperti ini. Aku sudah berterus terang padanya mengenai perasaanku yang sesungguhnya. Bahwa … aku mencintai orang ini. Lalu, aku yakin hal demikian dirasakannya pula. Tapi toh pernyataan cinta itu tak pernah keluar jelas dari mulut beningnya. Hanya kiasan-kiasan, simbol-simbol, yang malah membuatku pusing. Rasanya aku harus pandai-pandai menerka deretan kata yang berhamburan dari pikirannya. Duh, aku tak mau berpikir dia sedang mengujiku. Aku tak mau terjebak.

“Bagaimana ? Mengapa kau berdiam diri. Atau kau ragu ?” Tanya Surya memburu. Ia menatap mataku lekat. Aku masih tercenung. Bingung.

Kebingunganku mengandung dilema. Tentu saja. Jika aku katakan bahwa aku tak sanggup merajut sayapnya yang patah itu, ia mungkin akan meninggalkanku. Tak jadi memintaku bersamanya, padahal aku mendamba. Aku telah tunggu ratusan hari. Tuk peluknya. Tuk belaiannya. Tuk tatapannya. Tuk dirinya …. Segala yang ada padanya telah kuhirup dalam dan kuletakkan pada ruang batinku seluas langit. Lalu jika kukatakan bahwa aku sanggup merajut kembali sayapnya yang patah itu, maka akankah itu berarti bahwa, aku harus siap jika ia akan terbang kembali, setelah kubenahi segala sayap yang patah. Ah, persetan dengan sayap ! Toh yang penting aku dapat bersamanya lebih dulu, hingga seiring berjalannya waktu, ia dapat menentukan pilihannya. Maka segera aku menjawabnya, masih  dalam keraguanku….

“Ya, aku bersedia.”

“Kau sepertinya ragu. Sungguhkah jawabanmu itu ? Saya tanyakan sekali lagi padamu, Wulan. Sungguhkah ?!” Surya mendesakku. Ia seperti ingin menggenggam jawabanku.

“Yah. Aku bersedia merajutnya. Yang terbaik untukmu. Hingga waktunya tiba untuk kau memilih arah perjalananmu. Aku akan melakukannya.”

Ada senyum tulus. Ada genangan air di teduh matanya.

Ah,… aku senang melihat pemandangan ini. Tapi sesungguhnya, aku heran dengan kata-kataku. Aku seperti memberi jaminan yang meyakinkan bagi pembeli barang elektronik second yang kelihatan baru. Jaminan untuk waktu yang tak ditentukan oleh si penjual, melainkan justru oleh si pembeli. Karena yang lebih membutuhkan hubungan ini sebetulnya adalah si penjual. Aku.

Aku… hanya ingin memilikinya saat ini. Entah apa yang ada di belakang nanti. Ia memang sempat memiliki keinginan untuk menjadi seorang biarawan. Tapi itu hanya diungkapkan sekilas saja. Dan, pastilah hal itu tidak sungguh-sungguh kukira. Ah, sudahlah. Toh, bila dibandingkan dengan penderitaan Bunda Maria yang tahu persis bahwa bila waktunya tiba ia akan kehilangan Yesus putraNya, dengan cara yang menyakitkan, penderitaanku kelak belum ada artinya.

Aku tertawa mengejek diri. Jelas, terlalu jauh bila membandingkan penderitaan diri sendiri dengan Bunda Maria. Dan perbandingan ini akhirnya membuatku sangat malu… Ada-ada saja.

Yah,… begitulah akhirnya. Surya memilihku. Kami berpacaran. Sebetulnya ini adalah masa berpacaran yang aneh. Aku tak dapat menguasainya. Meski ia begitu perhatian denganku, dan jelas menunjukkan rasa sayang dan cintanya padaku. Tapi,… ia bersikap terlalu ‘menjaga’.

Bayangkan, ia terus mewakili dirinya dengan kata ‘saya’. Ia juga tak menunjukkan kemesraan bahkan ketika kami sedang berdua.  Paling-paling hanya… usapan tangannya di rambutku, dan ciuman ringan pada dahiku. Itupun sangat jarang terjadi. Aku ingin lebih. Seperti mereka diluar kami. Namun,.. walau keinginan ini sering menggodaku, aku berusaha juga untuk ‘menjaga’. Akhirnya kuterima. Yah, mungkin ini cara Surya mencintai. Jika ingat masa-masa sebelum kami berpacaran dulu, aku cukup bersyukur dengan keadaan kami sekarang.

Aku sangat menikmati kedekatan ini. Anehnya, keterikatan yang timbul dalam hubungan ini justru membebaskan aku. Yah, mungkin karena keterikatan ini datang dengan sendirinya, bukan karena aturan yang kami buat hingga kami menjadi terpaksa. Aku tak lagi seenaknya berhubungan dengan teman-teman mainku dulu, terutama lawan jenis. Aku juga membatasi kegiatanku, meski Surya sebenarnya tak terlalu keberatan.

Sebetulnya Surya tidak mengekangku, tapi aku senang melakukannya. Aku hanya ingin punya waktu banyak untuk berdua dengannya. Kami bisa saling bicara tentang banyak hal. Tentang penderitaan, kebahagiaan, makna hidup. Dimanapun dan bagaimanapun tempatnya, tetap membuatku nyaman. Asal bersama Surya.

Lalu hari-hariku menjadi berbeda. Jalan-jalan di mall kuganti dengan pergi ke pasar. Menikmati senyum ibu-ibu penjual sayur. Menikmati bau pasar yang berbeda wanginya dengan bau mall yang metropolis. Acara week end dengan teman-teman ke tempat pariwisata, berganti dengan pergi ke tempat-tempat ziarah, bersama dengan Surya. Nongkrong di kafe-kafe untuk ngobrol tentang mode yang sedang nge-tren dan gosip-gosip miring, kini berganti dengan nongkrong di kedai budaya diskusi tentang negara dan gereja atau hal lainnya yang membawa keprihatinan bersama. Juga, … mengikuti misa di gereja dengan sangat kusyuk. Hal yang tadinya sulit bagiku.

Begitulah. Waktuku menjadi lebih terisi, dan berkualitas kurasa. Bersama Surya tentu, dan komunitasnya. Meski Surya bukan termasuk orang yang ‘gaul’, tak mengapa. Atau, meskipun ia tak menyukai mall, kafe dan tabloid, juga pizza. Tak mengapa. Karena jika aku memaksanya masuk dalam ‘dunia’ku yang ia tak mau, ia akan memilih membebaskanku. Itu artinya, ia memaksaku untuk menyadari bahwa ia masih egois yang tidak bisa berbagi hidup bersama orang lain. Itu artinya, lebih baik baginya untuk sendiri agar tidak menyakiti hatiku. Dan itu artinya lagi, hubungan kami kembali menjadi seperti semula. Sahabat. Hanya sekedar sahabat. Oh, tidak. Tolong jangan.

Namun, ada saat dimana aku tak bisa memungkiri diri. Aku tetap membutuhkan teman-temanku, duduk bergerombol di sudut kafe, ngobrol tentang segala hal ringan diselingi derai tawa yang tak henti. Saling mengejek satu sama lain, tapi malah membuat suasana terasa hangat. Saling mencicipi menu pesanan masing-masing, dan berkomentar tentangnya. Surya jauh dari itu semua.

Ada saat aku merasa lelah mendengar diskusi panjang dan berat ditengah Surya dan kawan-kawannya. Seolah dunia ini sungguh memprihatinkan dan tak mampu lagi memberi keceriaan. Surya selalu serius dalam segala hal. Ia selalu mencari makna atas segala sesuatu, termasuk… makna dari keinginanku diperlakukan mesra. Pfff…. Takkan terkabul selama aku belum memaknainya dengan benar.

Ah. Sesekali aku juga ingin melakukan hal-hal konyol… makan gula-gula arumanis, main game sepuasnya di fantasia, menonton grup musik dan ikut menari. Bisa berteriak-teriak, berkejar-kejaran,.. segala hal yang bagi Surya kekanak-kanakan. Sungguh, aku tak keberatan bersama dengan Surya. Hanya saja,.. terkadang aku merindukan situasi ketika bersama teman-temanku.

Anehnya, aku tak bisa melibatkan Surya ditengah teman-temanku meski Surya termasuk  mudah menyesuaikan diri. Yah, Surya dianggap kurang ‘asyik’, dan topik yang dibicarakannya selalu hal yang (menurutku dan teman-teman) terlalu serius untuk dibahas pada saat situasi santai, karena seharusnya kita hanya bersenang-senang. Dan ini menurut Surya adalah hal yang dangkal. Tak berguna. Buang-buang waktu. Kurang berkualitas. Memprihatinkan. Aku bisa berjalan di kedua dunia ini. Surya tidak.

Yah, inilah kenyataan. Memang, tidak mudah menerima perbedaan. Apalagi ketika kita hidup dalam suatu komitmen yang melibatkan dua individu. Mestinya tidak ada yang kurang dalam hubungan ini. Aku merasa penuh dan utuh bersama Surya. Aku menjadi tenang dan damai. Meski tak mampu bersikap mesra, Surya sering menatapku dalam-dalam, seolah ia sedang berusaha memperhatikanku sungguh. Membuat jantungku berdebar. Setiap hari menjadi baru. Hanya saja,.. tentang teman-temanku,… kusadari waktuku telah kuhabiskan bersama Surya. Dan aku ingin sesekali ‘bebas’ bersama mereka. Tapi aku juga ingin menjaga perasaan Surya.

Kebebasan itu akhirnya datang juga ketika Surya KKN selama satu bulan di Banyubiru. Surya ditempatkan seorang diri di sebuah gereja Katolik disana. Ini berbeda dengan universitas di tempatku, dimana kami ditempatkan di desa secara berkelompok untuk menerapkan ilmu. Mungkin karena Surya dipersiapkan menjadi seorang Katekis yang harus bisa merangkul sebanyak mungkin umat Katolik dimanapun mereka berada.

Awalnya aku senang karena bisa berkumpul lagi dengan teman-temanku yang ‘gaul’ dan modis. Aku bisa menikmati riuhnya band sambil menari-nari tanpa orang dekatku memandang aneh atau negatif. Kupuaskan diriku dalam pesona dekorasi seisi mall dan kafe yang kukunjungi bersama teman-teman. Sampai-sampai, mereka berpendapat bahwa aku seorang yang ‘alim’ semenjak bersama Surya dan menjadi ‘gila’ ketika bersama mereka.

Namun baru tujuh hari Surya di Banyubiru, perasaan senang akan kebebasan ini terasa berlebihan. Aku ganti merindukannya. Aku ingin berdiskusi lagi dengannya, tentang segala hal. Aku juga mulai mengkuatirkannya. Bagaimana ia tinggal dan hidup di sana. Meski sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan, karena Surya mudah bergaul dengan siapa saja. Sesekali Surya meneleponku dan mengatakan keadaannya baik. Umat secara bergantian membawakan makanan untuknya. Kedekatan umat Banyubiru terhadapnya membuat Surya merasa seolah dirinya seperti seorang Pastor disana. Tentu saja ia bergurau. Tapi gurauan itu diam-diam membuatku takut. Kuatir. Cemas.

Hari ini Surya kelihatan sangat tenang dan matang. Aku mengunjunginya di Banyubiru. Ini kulakukan karna aku tak dapat lagi membendung rinduku. Ikut misa pagi bersama, menunggu Surya menyelesaikan kegiatannya bersama umat, dan aku disini memperhatikannya diam-diam. Melihat sekeliling. Ah,.. indah sekali tempat ini. Aku dapat merasakan ketenangan yang dialami Surya. Umat yang begitu ramah dan hangat. Kelihatan sekali jika mereka sangat membutuhkan sosok berkarisma seperti Surya. Ah, kulihat kebahagiaan membias di wajah bening Surya… Kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tiba-tiba sekelebat kepiluan menyayat hatiku. Sekilas. Hanya sekilas. Meski sekilas, kepiluan itu sanggup mengikutiku hingga membuat tubuhku bergetar dan kedinginan. Lama. Cukup lama. Aku terhanyut dalam kesedihan yang tiba-tiba ini. Bukan karna angin pagi yang terus berhembus dari puncak pegunungan yang terpampang di depanku. Bukan. Ini adalah rasa cemburu. Gelisah yang bersembunyi jauh di ruang kecilku. Ini adalah ketakutan. Ini adalah firasat. Ini tentang hubunganku dengan Surya.

Ah, kuterawang waktu di awal masa pacaran kami… kuingat jelas kata-katanya…“Sayap saya sudah rusak dan tercabik. Kau penyebabnya. Kau harus bertanggungjawab karenanya.  Maukah kau merajutnya kembali untuk saya ?” Dan, juga… kata-kataku,…. “Yah. Aku bersedia merajutnya. Yang terbaik untukmu. Hingga waktunya tiba untuk kau memilih arah perjalananmu. Aku akan melakukannya.

Hah, kata-kata yang sok tegar. Seolah segala hal akan bisa kulakukan dengan tulus nantinya. Dan aku akan biasa saja jika mengalaminya. Seolah aku adalah wanita mandiri yang berhati tabah dan baik hati. Rela melakukan segalanya demi kebahagiaan seorang yang dicintai. Hai wanita berhati baja nan mulia ! Pergilah kau dengan kegundahanmu. Berkumpulah dengan air matamu ! Kaulah Bunda Maria itu …hahah!. Sesuatu telah tertawa mengejekku.

Aku terkapar sendirian. Surya telah mengungkapkan segala yang telah kuduga sebelumnya. Tiga puluh satu hari di Banyubiru. Telah mengubah segalanya. Kebahagiaan untuk Surya. Bukan untukku. Perjalanan yang makin jelas untuk Surya. Tidak untukku. Pilihan hidup yang akan segera dipilih. Dan Surya telah menemukan panggilan hidupnya, untuk kemudian menjadi pilihannya. Ia tidak memilihku untuk dipilih. Ia pilih untuk mengabdi secara total, ia memihak mereka. Ia memihak menjadi abdi Tuhan.

Surya datang padaku, dengan lukisan yang diberikannya untukku. Sebuah pohon besar dan rindang dengan seorang pria berjubah putih sendirian sedang memandang langit. Dibawah langit terlukis sebuah gereja kecil sederhana berdiri diantara kaki pegunungan dan sawah luas. Pemandangan yang seharusnya indah. Dan kutahu, Surya berada disana. Sendirian. Serta jubah putih… adalah panggilan hidupnya. Ia memilihnya. Dan aku. Sendirian. Berseberangan, melihatnya dalam kebahagiaan yang sesungguhnya. Dapat kulihat, kebahagiaan yang sesungguhnya, di binar matanya.

“Terimakasih, kau sudi merajut sayap saya yang patah,… saya merasa sudah saatnya untuk pergi. Maafkan. Ini adalah sebuah panggilan hidup yang tak dapat saya  pungkiri. Saya akan memilihnya…”

Aku hanya ingin diam.

“Saya percaya, kau akan hidup bahagia, Wulan. Saya percaya bahwa Tuhan akan selalu menjagamu. Saya juga percaya, bahwa hubungan yang telah kita jalin adalah suatu anugerah terindah, yang membuat langkah saya makin jelas untuk berpijak. Disanalah saya akan berada. Diantara manusia yang membutuhkan saya. Saya akan melayani mereka dengan setulus hati. Dan kau, telah membantu membuatnya menjadi mungkin.  Trimakasih, Wulan. Terimakasih banyak.”

Huh. Cara memutuskan hubungan yang egois. Aku hanya ingin diam.

Hingga saat Surya pamit, mengusap rambutku, dan beranjak pergi. Ia tak sanggup mengucap kata perpisahan. Kutahu pasti, langkahnya yang berat. Meski ia berusaha menguatkan hatinya. Meninggalkan aku yang hanya ingin diam. Dengan air mata yang mulai menggelitik pipi dan alirannya menyayat hatiku.

Surya pergi dengan visi dan misi hidup yang dibawanya. Dibawah siraman hujan deras ia berjalan, membiarkan tubuhnya basah… merasakan hati dingin dan beku yang baru saja ia tinggalkan.

“ Tuhan, aku tak mengerti. Jangan paksa aku untuk mengerti….” bisikku pada diriku yang masih memandangi punggung Surya hingga menghilang.

Aku masih belum merelakannya. Aku tak berusaha melupakannya. Juga tak berusaha mencari kabarnya. Aku hanya diam.

***sp***

Lima belas tahun berlalu, dan Surya ada di dekatku kini. Tak sengaja. Tuhan mempertemukan aku dengannya lagi. Dalam suatu pendampingan terhadap anak-anak korban perang di daerah konflik, tempat kami sama-sama ditugaskan. Surya oleh konggergasinya, sedang aku diutus oleh organisasi tempat aku berkecimpung empat belas tahun belakangan ini.

Yah, sejak Surya pergi meninggalkan aku di tengah hujan malam itu, aku telah memutuskan sesuatu bagi hidupku pula. Memberi pengertian pada keluargaku tentang pilihan hidupku yang tiba-tiba kutemukan. Aku pergi berpetualang, melakukan perjalanan kemanapun kumau. Hingga kuputuskan hidupku pada sebuah kota kecil. Aku membuka usaha kerajinan untuk membiayai hidupku, sekaligus mengajari penduduk sekitar beberapa jenis ketrampilan tangan yang kukuasai.  Beberapa dari mereka kuangkat menjadi pegawaiku ketika usahaku mulai menunjukkan kemajuan berarti.

Aku juga bergabung dengan sebuah organisasi yang mendampingi anak-anak korban kekerasan. Aku meleburkan diriku disana. Aku merasa inilah hidupku. Aku dapat menggunakan segala kelebihanku untuk mereka. Aku menjadi berguna, itu yang terpenting. Aku tak takut hal apapun merintangi jalanku. Aku ingin selalu memeluk mereka dan saling berbagi segala rasa dengan mereka, menangis bersama mereka.

Aku sungguh tak memerlukan pernikahan. Meski kedua orang tuaku mengharapkannya. Aku tak bisa. Sesekali aku teringat Surya, dengan segala visi dan misinya. Mungkinkah hal ini yang dirasakan Surya waktu itu. Sebuah panggilan hidup yang amat kuat. Dan mampu membuat hati selalu gelisah untuk segera mewujudkannya. Tak mampu memungkirinya. Aku tak pernah merasa ini adalah suatu pelarian. Jika ini memang pelarian, aku telah memilih jalanku dalam pelarian ini.

Sesungguhnya, aku telah menerima segala hal yang terjadi antara aku dan Surya. Hanya saja, secara tiba-tiba bertemu Surya di tempat ini membuatku sungguh kaget hingga tak tau harus berbuat apa. Maka, rasa sakit hatiku pada caranya meninggalkanku di masa lalu kumunculkan lagi. Wajahnya masih sama kilauannya dan tatapan matanya lebih bijaksana. Namun  dengan seenaknya ia berkomentar  “ Kau masih sama…”  seolah  lima belas tahun bukanlah proses perkembangan yang berarti bagi hidupku.

“ Mengapa kau katakan aku masih sama. Lihatlah, aku sungguh berbeda.”

“Tidak. Kau masih sama. Kau masih Wulan yang sama. Kau wanita yang tak pernah menyerah. Kau berani memilih hidupmu. Saya kagum padamu. Meski kau berada pada lingkungan kehidupan yang cenderung hedonis, kau tak bisa memungkiri diri bahwa sesuatu mengusik hidupmu. Dan kau memilihnya. Kau tulus memberikan hidupmu. Lihatlah, kita memilih keprihatinan yang sama! Kita berada di pihak mereka. Diantara penderitaan anak-anak ini. Memberikan sedikit yang kita punya untuk mereka…”

“Mengapa kau ingin menjadi seorang biarawan ?” potongku tiba-tiba..” apakah kau pesimis pada kehidupan pernikahan ?! Kau takut tak sanggup membangun keluarga, memberi nafkah bagi anak istrimu dan membuat mereka bahagia, juga mempertahankan komitmen untuk mereka ?!” lanjutku memberondongnya dengan pertanyaan.

“Yah. Inilah yang berbeda. Kau tak lagi memilih untuk diam.”

Aku terdiam.

“Nah, kini kau diam lagi.”

Aku sungguh bingung. Kini Surya seperti menggodaku. Aku tak percaya, ia pandai juga bercanda. Ia sepertinya lebih santai menghadapi kehidupan.

“Mengapa kau seolah tak ingin tahu tentangku? Apa saja yang kulakukan lima belas tahun belakangan ini ?!” tanyaku lagi penasaran.

“Saya selalu ingin tahu tentangmu. Apakah menurutmu saya orang yang dengan mudah meninggalkan orang lain yang terluka karena saya ?”

“Lantas, mengapa kau tak pernah lagi menghubungiku ?”

“Saya memang tak pernah menghubungimu, tapi saya selalu tahu perkembangan hidupmu… saya selalu mengikuti langkahmu, kemanapun kau pergi.”

“Bagaimana bisa ?”

“Hei, ingat. Saya dekat dengan banyak biarawan dan saya tinggal menanyakan Pastur Paroki di tempat kau berada. Tentu saja saya juga selalu berhubungan dengan papa dan mamamu. Tidak sulit mencari kabar tentangmu, karena kau selalu aktif  di gereja di paroki manapun kau tinggal. Rupanya kau cukup populer di kotamu sekarang.”

“Pantas saja, orang tuaku tidak terlalu sulit menerima pilihan hidupku untuk tidak menikah. Kau pasti mengatakan sesuatu pada mereka.”

“Tidak. Saya hanya menceritakan kisah hidup saya, dan apa yang saya rasakan. Tapi,.. mengapa kau memilih tidak menikah ? Apakah,… perpisahan kita di masa lalu masih sangat melukaimu…” tatapan kuatir Surya membuatku ingin mengerjainya.

“Siapa bilang!  Aku tetap pilih untuk menikah suatu saat, … tapi hanya denganmu …yah, aku masih menunggumu…” Surya terdiam mendengar pernyataanku. Kulihat gerakannya yang kikuk sambil memandangi anak-anak yang sedang tidur. Mungkin ia takut terdengar mereka atau relawan lain, atau… bingung harus berkata apa. Aku hanya tersenyum geli. Ditengah tawa kulanjutkan kata-kataku…

“Haha…, aku bercanda. Memang waktu itu sangat menyakitkan. Aku terluka. Tapi di tengah perjalanan, aku seperti merasakan apa yang mungkin kau juga rasakan. Suatu panggilan yang kuat. Untuk memberikan yang terbaik dari diri kita bagi orang lain. Dan aku tak menganggapnya ini suatu pengorbanan. Ini adalah pilihan. Dan perasaan ini selalu menggelayuti jiwaku setiap saat, selalu menyeretku untuk menemui wajah-wajah mereka yang terluka hati dan jiwanya, juga pikirannya.”

“Mengapa kau tidak memilih untuk menjadi biarawati saja ?”

“Biarawati ?! Ayolah, kau tahu aku tak bisa hidup dibawah peraturan. Terkadang aku juga masih butuh mall dan kafe untuk ngobrol dengan teman-teman lamaku. Aku juga masih ingin memperhatikan penampilanku. Tampil modis, dan berdandan. Apapun itu, tak akan dapat mengubah diriku yang sesungguhnya. Aku adalah aku. Aku yang punya jiwa bebas meski terikat, dan punya jiwa terikat meskipun bebas.”

“Yah. Ternyata kau memang masih sama.” Surya menepuk pundakku. Tanpa bermaksud untuk menghadirkan kembali romantisme masa lalu kami yang indah dulu. Wajahnya penuh senyum.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Soal apa ?”

“Alasan sesungguhnya kau memilih…memakai jubah itu…”  aku menunjuk jubah putih yang masih dikenakan Surya. Sehabis memimpin misa kudus tadi, ia memang belum melepasnya. Hatiku  tak lagi tersiksa melihat jubah itu.

“Maafkan saya. Dulu saya begitu kesulitan menjelaskannya padamu. Ada suatu panggilan yang kuat dari dalam diri, dan saya menjawab ‘ya’ atas panggilan itu. Dan saya tak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu. Namun kini kau telah tahu apa yang saya rasakan sungguh. Yah, waktu berubah dan kitapun berubah di dalamnya. Saya merasa bahagia. Kau masih ingat, lukisan yang saya berikan padamu ?!”

Aku mengangguk pasti. Tentu saja. Lukisan itu terpampang indah di kios kerajinan tangan milikku hingga kini.

“Seorang berjubah Pastur yang memandang luas langit adalah saya, yang hanya bisa memberikan sepotong langit untukmu. Hati sayapun terbelah. Namun, inilah persembahan saya bagiNya. Maafkan saya.”  Kupandangi Surya yang tiba-tiba sedih. Ah, amarahku tak ada lagi padanya. Meski lima belas tahun berlalu, aku tetap melihatnya seperti dulu. Malam ini, aku ingin bicara tentang banyak hal mengganti ‘aksi’ diamku di masa lalu. Aku tak ingin lagi hanya sekedar diam.

“Tidak. Terimakasih karna kau memberi sepotong langit untukku. Aku  menerimanya, dari seseorang yang sangat berarti. Tidak semua orang bisa memilikinya. Meski hanya sepotong, aku akhirnya dapat melihat langit. Meski hanya sepotong, sanggup membuatku mengerti tentang dunia dan kehidupan yang berjalan di dalamnya. Meski hanya sepotong, aku sudah menemukan dan merasakan kebahagiaan itu. Tak perlu seluruhnya, karena mungkin tak akan membuatku menjadi seperti sekarang ini. Sungguh. Aku bersyukur dengan jalanku kini.”

“Ah, inilah bagi saya pengalaman yang paling ultim. Ketika kita dipertemukan lagi, dengan rambut yang sudah mulai tumbuh uban,… dan kedekatan yang sama sekali berbeda. Visi dan misi hidup kita yang semakin diteguhkan. Kebahagiaan apa lagi yang ingin saya tuntut dari Tuhan. Ia memberikannya dengan manis. Sangat manis.”

Kulihat mata Surya berkaca-kaca. Aku kagum pada perjuangannya.

“Yah. Kita akan berjuang bersama. Seperti matahari dan bulan. Membawa dan mendampingi anak-anak yang terluka ini melihat dunia senantiasa. Dan menerima apa adanya. Aku akan bersama mereka, mencintai, memberi segala kisah yang bisa kuberi, hingga mereka menemukan makna hidupnya masing-masing.”

“Benar. Maka tak ada waktu bagi kita untuk mengasihani diri. Jika melihat hati mereka yang hancur oleh penderitaan. Tak adil bagiku untuk bersenang-senang, hanya memikirkan kesedihan dan kebahagiaan diri.” Surya bangkit berdiri, “ Baiklah. Besok kita mulai bekerja. Saya akan melihat anak-anak. Kau boleh tidur.”

“Baik, Romo Surya…” godaku dan beranjak pergi meninggalkannya.

“Tunggu sebentar,…” suara Surya menahanku, “Saya menyimpan sesuatu untukmu dan berharap bisa memberikannya padamu  bila saatnya tiba. Ini, bacalah…” Surya menyerahkan sepucuk surat untukku. “Selamat malam. Sampai besok..”

***sp***

Hanya ada sebuah puisi di surat Surya. Tanpa kata-kata lain. Ia telah menulisnya lebih dari lima belas tahun lalu. Ketika ia di Banyubiru. Kala ia sudah menetapkan panggilan hidupnya dan menjatuhkan pilihan atasnya.

Kubaca perlahan puisi itu. Kurasakan tetesan roh tinta yang mengalir dari tangan Surya, saat menuliskannya untukku. Ah, tentu hatinya gundah sekali waktu itu. Antara keinginan  dan penyerahan diri …..

Perjalanan Luka

ternyata Jesus lebih suka

berjalan di sepanjang laut tak berwarna

burung-burung yang tak pernah lelah

terbang di sepanjang kasih dan berumah

kata-kata

renungkanlah untuk sesaat

adakah yang lebih bahagia

karena luka, ternyata Jesus lebih suka

pergi sendiri. Aku mengikuti jejak jubahNya

yang terseret di tanah membekas

dan seperti Jesus, akhirnya

akupun juga pergi sendiri pada kesabaran

atau pada awan yang berjalan

Puisi itu ditulis di Solo, tahun 1981 oleh sang penyair, Kriapur. Kristianto Agus Purnomo. Jalan kematiannya persis sama seperti puisi-puisi yang pernah ditulisnya. Beberapa puisi tentang maut karyanya, seperti sebuah firasat peristiwa akhir hidupnya. Kupahat Mayatku di Air dan Aku Ingin Menjadi Batu di Dasar Kali, adalah dua contoh puisi karyanya yang pada akhirnya sungguh menggambarkan kematiannya. Yah, Kriapur meninggal di dasar kali, dalam kecelakaan naas saat mobil yang ditumpanginya terguling di sungai. Kematiannya seperti Chairil Anwar, di usia muda, 27 tahun. Meninggalkan seorang anak, dan seorang istri. Aku pernah membaca tentangnya, di beberapa bacaan sastra. Karya-karyanya memang memukau.

Ah, mengapa Surya tak jadi menyerahkan isi suratnya padaku waktu itu.. Mungkinkah  menurutnya aku belum cukup baik untuk mengerti pilihan hidupnya. Surya tahu aku sangat suka puisi. Ia tidak hanya memberiku sebuah puisi, tapi juga latar belakang si penyair yang unik dan mengagumkan.

Yah, bukankan Kriapur memiliki keyakinan yang kuat tentang hidup yang dijalaninya. Demikian pula dengan Surya kurasa. Mereka telah memiliki pengalaman yang sungguh ultim. Kriapur, dengan cara hidupnya berakhir; dan Surya, perjumpaan denganku dalam pengabdian yang semakin diteguhkan. Mereka  sungguh teguh dengan keyakinan hidupnya. ‘Faith’. Bukan hanya sebatas ‘believe’ atau ‘trust’. Puisi itu telah menjelaskan segalanya. Aku tak perlu lagi bertanya soal panggilan hidupnya. Tidak lagi.

Tiba-tiba hatiku merasa lapang. Aku ingin tidur, berbekal sepotong langit, yang diberikan Surya untukku… dan puisi Perjalanan Luka yang kini jadi bagianku juga,… juga kisah Kriapur yang memperteguh keyakinanku. Aku terlelap dalam malam yang tersenyum. Lagu Bryndle kuijinkan menemani tidurku kali ini, Forever Ride,…syairnya sering kunyanyikan bagi anak-anak menjelang tidur…. Ah, indahnya hidup ini…

In a world that’s always changing

Find the things that stay the same

Like the moon and stars that guide you

Out across the sweeping plains

Keep your eye on the horizon

When you cross that great divide

All you have is what’s inside you

And may you forever ride ……

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s