Satu Ibu dalam Diriku

Lukisan Shanti Yani Rahman - SIERRA LIONE, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – SIERRA LIONE, dalam Buku SERAPAH IBU

Aku muak pada sosok ibu. Muak semuak-muaknya, sampai sampai aku enggan tatap muka dengan muka ibu. Aku disiksa-siksa lagi. Kuberitahu rasa sakit lewat tangis teriak malah marah ibu makin menjadi, makin ada alasan tuk tusuk tusuki hati jiwa badan.

Keras, sekeras keras tangis keluar, makin keras tubuh dipukul, pun kata kata kasar nyasar ke jiwa. Ini ibu, ibuku kah?

Tangisku makin pecah tak karuan, ibu teriak kencang, ssshhhh ..diamlah! Diam! Diam! Bisa diam tidak!! Tahu-tahu kepalaku ada dalam genggaman ibu, dilemparnya aku ke tembok. Tangisku membengkak, aku terjatuh. Diaaamm!! Diaaamm!! Anak tak ngerti kesulitanku! Ibu injak kepalaku dengan kakinya yang surga, aku mengaduh teriak cari-cari perhatian sesiapa di luar rumah. Makin keras aku menangis, makin kuat ibu pukuli aku.

Aku berusaha lari keluar rumah. Ibu kejar aku. Ibu memburuku. Aku akan berhasil lari keluar, sedikit lagi. Kuraih pintu dan kubuka. Kena! Mau kemana kau? Bajuku ditarik ibu. Tanganku tertangkap ibu. Aku terjepit pintu dan aku teriak ketakutan. Ada beberapa orang diluar melihat ke arahku. Singkat sekali mereka tengok ke arahku. Tak ada yang menolongku. Masuk!! Kamu mau tetangga tahu, ha! Mau bikin hidup ibu tambah susah?!

Tidak ibu. Aku takut.

Ibu tak dengar jeritku. Aku takut untuk teriak. Aku terjatuh dan ibu tendang tubuhku. Diam! Tak ada yang kasihan padamu, tahu?!! Atau masih kurang?! Aku tahan tangisku. Ibu berusaha membuatku berdiri tegak. Dengan satu tangannya, rambutku terikat kuat dalam genggamannya. Jangan cengeng! Diam, ngerti?! Wajah ibu tiba tiba dekat di hadapanku. Mata kupejam rapat-rapat agar air mata dapat kutahan bersama sakit bersama takut. Mau ibu tinggal pergi? Ha?! Bapakmu sudah tak urusi kamu! Mau ibu tinggal juga?!

Jangan ibu. Aku takut.

Ibu kelelahan. Diam. Matanya awasi wajahku. Kulihat ibu kasihan padaku. Mataku yang diam dan memelas, juga dadaku yang naik turun. Ada isak tanpa air mata. Tapi ibu remas dan tinju wajahku lagi. Aku benci wajahmu! Aku benci matamu! Gambar Bapakmu jelas disana. Kamu mau seperti Bapakmu! Tak ngerti kesulitanku?! Ikut-ikutan bikin susah! Mau kubikin nasibmu seperti anak-anak di televisi itu! Mati di tangan ibu kandungnya, iya?!! Hanya isak tersisa dari tubuhku. Airmata rembes masuk ke pori.

Ibu. Aku kehabisan tenaga. Aku tak lapar lagi.

Aku ketakutan. Tubuhku dingin seolah tanpa darah. Anakku. Oh, anakku. Bergeraklah. Bergeraklah! Oh. Maafkan ibu! Maafkan. Kuratapi tubuh anakku. Ohhh,.. aku benci ibu..

Ibu. Ibu!! Lihat anakku! Ia tak bergerak.

Ibu membeku.

Ibu!! Lihat cucu ibu!!

Ibu tak bisa bicara, apalagi menggerakkan badannya yang lumpuh. Hanya air mata. Leleh. Menatapku, juga anakku yang sekarat. Pilu.

Ibu. Kita kalah lagi.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.119-

Tertusuk Bayang Ibu

Lukisan Shanti Yani Rahman - RWANDA, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – RWANDA, dalam Buku SERAPAH IBU

Aku tak tahu bagaimana perasaan ini mulai ada. Juga tak tahu mengapa Tuhan kirimkan kau yang berkelebat lewat, dan akhirnya melekat di hati. Kita berkawan erat. Entah, bagaimana awalnya. Aku tak pernah tahu. Mungkin juga kau.

Persahabatan ini bergulir begitu saja. Subur, kehijauan. Begitu berkilauan cahyanya tanpa pernah silaukan mata. Begitu mencengkeram ke pori pori jantung tanpa pernah membuatnya mati.

Memang, aku pernah memohon pada Tuhan, tuk menghunus sebentuk luka ini. Timbunan luka yang masih basah. Adakah seseorang dapat membantu? Tapi Tuhan memilih mempertemukanku denganmu. Dan Ia tinggalkan aku, sambil sekelebat berkata, “Sembuhkanlah dirimu sendiri!” Hah, Tuhan. Mengapa sebegitu terhadapku.

Kau. Pengamen jalanan yang kesepian. Bagai seorang abdi, ku ikuti perjalananmu, demi ribuan kata yang keluar dari bibirmu. Namun yang kutemui, selalu hening dan penuh jeda. Sedikit saja kata yang tumpah. Padahal aku sedemikian telaten menunggu untuk memunguti kata yang berjatuhan itu.

Kesabaranku timbul dengan sendirinya. Kerelaan hadir begitu saja. Ah. Hampir tak mengerti aku, pada diri.

“Mari nyanyikan lagu-lagu para Dewa.” Katamu sekali waktu. Tanpa kau seret, aku mengekor di belakang. Sebentar kita sudah menyatu dengan terminal tua. Atau stasiun kereta. Kau petik gitar lusuhmu, dan mulai bernyanyi.

Aku mulai terbiasa dengan tugasku. Menyorongkan gelas plastik kosong, kepada para penumpang. Sambil sesekali ikut bernyanyi, atau bertepuk, atau bahkan menari. Kuikuti begitu saja musik yang kau mainkan. Bis bertemu bis. Kereta bertemu kereta.

Tak ada waktu bercerita setelahnya. Sia-sia tunggu tuturmu. Kita lelah dan terlelap.

Sembuhkanlah dirimu sendiri! Yah. Sembuhkanlah! Terbayang suara itu saat terakhir kali Tuhan tinggalkanku. Harapan atas kesembuhan leluka milikku ini, memudar rasanya.

Sungguh. Aku semakin tak mengerti mauNya. Karna bersamamu. Entahlah. Tak ada yang kudapat. Tak ada. Ceritera tentangmu? Bahkan kau pun berkata tak punya kisah.

Suatu pagi yang basah, aku hendak bersiap ikuti perjalananmu lagi. Ibu menahan pergiku. Mengata-ngataiku tanpa saringan kata. Hanya berawal masalah kecil, seperti biasanya. Lalu, merambat ke lain perkara.

“Menyesal aku melahirkanmu! Anak tak tahu diri.” seru ibu sekeras mungkin di teras rumah.

“Aku tak pernah minta dilahirkan, ibu.” Dari dalam rumah berkata tertahan. Malu rasanya ibu mulai berkoar-koar membiarkan semua dengar.

“Dasar anak durhaka. Kualat kamu, berani sama ibu!” makin keras ibu berteriak.

“Ibu yang berhati baik tak akan menghujat anaknya sembarangan.” Aku tak mau kalah. Bertahun-tahun aku diam, bagai anak dungu dan bodoh. Ini saatnya.

“Oh. Sudah pintar berkata-kata kamu ya! Sombong betul kamu! Mentang-mentang sudah besar! Kualat kamu!” Teriak ibu ke arah rumah para tetangga. Seperti hendak memberikan pengumuman penting. Makin keras saja ibu bicara.

“Lihat kelakuan ibu selama ini. Apa pantas ibu lemparkan kata kualat ke arahku?! Bila arah jalanmu benar, dan hatimu bersih, pasti aku benar-benar kualat. Bukankah sedari kecil, sudah kau takuti aku dengan kata itu!” terpancing aku. Ah. Hanya ibu yang mampu membuatku emosi begini rupa.

“Kau! Kau sungguh kurang ajar. Anak macam kamu itu, yang ajari anak-anak kecil di bawah kolong jembatan sana?! Anak macam kamu, yang katanya sabar membantu orang-orang tua di panti jompo itu, ha?! Anak macam kamu, yang punya banyak kawan setia?! Puihh!! Biar kuceritakan pada mereka bagaimana kelakuanmu di rumah. Lihat saja! Aku tak akan main-main. Lihat saja!!” ancaman yang tak perlu dilakukan lagi. Membayangkan para tetangga yang pasang kuping saja, sudah buatku begitu malu dan putus asa.

“Apa ibu mau, aku beberkan keburukan ibu juga?” tanyaku datar menantang wajah ibu. Kebencianku kembali datang. Belum pernah aku senekat ini. Sedikit kikuk, aku pergi meninggalkannya.

“Hei! Jangan sombong kamu! Bagaimanapun kamu, ingatlah! Kamu tetap saja anak kere! Tak bisa apa-apa! Tak akan ada laki-laki yang mau kawin denganmu! Ingat itu ya! Pergi sana! Pergi yang jauh. Malas ibu melihatmu lagi!”

Aku pergi. Benar-benar pergi. Diiringi suara ibu yang masih teriak-teriak di belakangku. Sungguh tak tahu bagaimana lagi caraku tuk sembunyikan wajahku.

Jalan bergoyang-goyang tak keruan. Rumah, pohon, orang-orang, semua berguncang makin kencang. Kerongkongan kurasa sakit, menahan luapan emosi. Ada air, di ujung mata. Begitu saja menetes. Entah aku hendak kemana.

Pada ibu, aku ingin terbuka. Bila wajah ibu sedang sumringah. Aku bercerita banyak hal. Padahal, aku sudah tahu, akan selalu begini akibatnya. Ceritera-ceritera itu akan hadir di setiap amarahnya yang meledak-ledak. Aku masih saja kanak-kanak baginya, tak punya rasa malu.

Oh. Aku sungguh tak tahu hendak berbuat apa. Aku begitu kewalahan hapusi air mata. Kewalahan berjalan tanpa menatap ke depan. Kewalahan hindari tatapan mata orang-orang sekitar. Aku tak tahu. Aku bingung.

Aku teringat kau. Oh. Akupun tak tahu, bagaimana caraku berkabar. Aku tak mampu ikuti perjalananmu kali ini. Tak sanggup. Tapi, apakah kau mencariku. Selama ini, bukankah aku yang rajin mengikutimu. Demi mencari kesembuhan itu.

Masih terisak, kutemukan tempat tersembunyi. Sebuah gerbong tua, yang lorongnya biasa untuk tidur para gelandangan di malam hari. Tempat yang akhir-akhir ini begitu dekat dan akrab. Ah, bukankah aku mengenalnya karenamu?

Uh. Teringat aku akan serapah ibu. Siapa aku? Aku hanya anak durhaka yang seharusnya belum layak dan pantas mengajari anak-anak di kolong jembatan. Apalagi tentang kehidupan. Lalu apakah kesabaran dan keramahanku pada mereka selama ini cuma topeng? Tidak. Aku memberikan hatiku untuk mereka. Sungguh.

Kukeluarkan sebuah buku harian. Tempat aku menulis warna warni hatiku. Hidupku memang bergantung padanya. Ada setumpuk buku harian yang sudah penuh di rumah, kusimpan di tempat tersembunyi, agar tidak terbaca ibu.

Buku ini pun pernah ketahuan ibu, ia memarahi sekaligus mengolok-olokku. Menjadikannya bahan tertawaan bersama kakak sepupunya, yang belakangan ketahuan bahwa ia ayahku sebenarnya. Itulah mengapa ada bagian tubuhku yang cacat. Ya, kaki ini. Salah satu kakiku sangatlah kecil. Aku selalu berjalan terhuyung-huyung.

Rasa minder sudah lama tak kuberi tempat di hatiku. Banyak kawan mengasihiku. Pelukan mereka selalu terasa hangat. Aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan keterbatasanku. Seadanya aku, dengan segalaku. Aku tak mau mati tanpa bekas.

Kusadari, ibu tak sepenuhnya menerima keberadaanku. Kembali terbayang serapah itu. Hmm…serapah. Ibu memang tak lagi pukuli aku seperti dulu. Apalagi membenturkan kepalaku di tembok, menghempaskan tubuhku ke lantai, lalu menginjak-injaknya jika ia sedang marah. Tapi serapah itu, masih saja tajam menghunusku.

Sambil kutulis dan kutulis…

Aku masih ingin berlama-lama di gerbong ini. Ada bayang lelaki membawa gitar, hadir dari salah satu pintu gerbong. Kaukah itu? Mungkinkah?

Kau naik dan hampiriku. Kuhapus begitu saja peluh di wajahmu. Kusematkan peluh itu di rambut panjangmu, yang kau ikat asal.

“Apa yang kau tulis?” langsung kau rebut buku dari tanganku.

Aku ingin bertanya banyak hal. Tentang bagaimana kau menemukanku. Apakah kau mencariku, ataukah hanya kebetulan. Namun pertanyaan itu tiba-tiba menjadi tak penting lagi.

“Mengapa kau buat puisi seperti ini untuk ibumu?” kau bertanya lagi.

Aku terdiam bukan karna tak tahu harus jawab apa. Aku terdiam karna kali ini kau mulai bertanya. Tentangku. Tentang hal yang kulakukan. Kau selalu hening.

“Ini, hal yang kutulis tentang ibuku…” ucapmu pelan sambil kau keluarkan secarik kertas dari dalam dompetmu. “Ini kutulis waktu usiaku tujuh belas tahun…” tambahmu.

Lipatan kertas itu kubuka perlahan. Lusuh sekali, sedikit koyak disana sini.

“Ibumu sudah tiada?” mataku meleleh lagi.

“Ya. Sejak aku kecil.” Kulihat matamu ikut berkaca.

“Kau sangat merindukannya, ha?”

“Sangat.” katamu terbata, “Aku hanya mampu membayangkan saja. Semacam siluet yang tak pernah sanggup kuhadirkan.”

“Apakah kerap menyiksamu?”

“Uh. Kau tak kan bisa bayangkan rasanya. Ketika kesepian datang, kerinduan ini sangat menyiksa. Hidupku seperti tak berarti lagi. Namun bersamaan dengan itu aku harus terus berjuang agar tujuanku berhasil. Benar-benar situasi yang menyiksa.”

Kau menghela nafas yang begitu berat. Memejamkan mata. Sambil tanganmu merabai saku celana, mengeluarkan korek api. Lalu menyulut sebatang rokok yang sedari tadi kau sematkan di telingamu.

Aku tak ingin bertanya apapun. Hanya diam menunggumu berkata-kata. Kepedihanku melebur dengan kerinduan milikmu. Kemarahanku menyublim dengan ketakutanmu. Air mataku terbawa asap rokokmu yang melenggang bersama angin.

Ah. Aku tersenyum dalam hati. Betapa Tuhan penuh kejutan. Tiba-tiba aku tahu mengapa ia mempertemukanku denganmu. Ada yang mendesir di sanubari.

Yah. Bukankah kita memiliki leluka yang sama? Luka yang sedari kecil tak pernah tersembuhkan. Ketika kehadirannya sering tak terduga. Bikin sesak. Bikin penat. Bikin tersiksa dan terisak diam-diam.

Ibu. Leluka karna keberadaan ibu kita. Luka karna kau tak memilikinya, yang justru aku memilikinya. Luka karna bertahun-tahun lamanya kau merindukannya, dan aku membencinya. Kau ingin memilikinya sekali lagi, dan aku ingin membuangnya. Kau ingin dekat melekat dan mendekap pada ibu. Dan aku, ingin mengusirnya. Menyingkirkannya jauh-jauh dari hidupku.

Apakah sungguh sembuh? Entahlah. Paling tidak, masing-masing dari kita mulai tahu, dimana letak syukur itu. Kita saling bercerita tentang ibu-ibu kita. Menangisinya, lalu terbahak bersama. Tawa yang begitu pahit dan getir. Sampai kita lelah dan terlelap.

Lalu bulan tertidur, hingga pagi terlepas dari tangannya. Setelah cium yang indah, kau pergi, sambil mengusung kesepianmu sendiri. Ah, kau memang perindu sepi, apapun kau lakukan tuk menemukannya. Aku sendiri, siap bangkit lanjutkan hidupku. Pulang.

Kutemui wajah ibu yang mencuri-curi mataku. Cemas. Makanan kesukaanku yang ibu masak, begitu nikmat, dan membuat suasana tiba-tiba hangat. Kami menertawai kekonyolan kami. Pun aku, mulai bercerita apapun kepada ibu.

Tak ada lagi bilik rahasia.

Perasaanku begitu ringan, ingin dekat pada ibu. Bukankah katamu, aku masih lebih beruntung memiliki ibu? Dan, ya. Bagaimanapun, ia ibuku.

Seminggu setelahnya, kudapati biji mataku bergambar api yang permanen. Api itu telah membuat panas wajahku, terutama jiwaku. Setumpuk buku harianku, hangus dibakar ibu. Tanpa sisa.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.85-

Rahasia Setia Rosa

Lukisan Shanti Yani Rahman - Okavango River, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – OKAVANGO RIVER, dalam Buku SERAPAH IBU

“Pasti selingkuhannya banyak…” Bu Tejo berusaha memancing Mbok Nah yang sedang menyeterika.

“Waduh. Itu saya ndak tahu njih Bu, yang saya tahu Ibu itu sayang sama Pak Purbo, sama anak-anak, sayang sama saya juga.”

“Lhoh,.. situ pembantu, kok ikut merasa disayang. Kamu biasa dikasih uang banyak ya?” Bu Jumi, yang juga tetangga dekat ikut-ikutan bergosip.

“Mana mungkin bisa menghidupi keluarga kalau Bu Rosa itu tidak macam-macam dengan lelaki berduit, lha wong obat untuk suaminya saja kan mahal sekali,.. ditambah untuk sekolah anak-anaknya, untuk bayar situ, Mbok…”

“Astaga, Bu. Saya saja yang bertahun-tahun ikut Ibu, ndak punya pikiran kesitu. Lha kok ibu-ibu ini, sebagai sesama perempuan, tega-teganya berpikiran begitu,” sanggah Mbok Nah sambil sedikit-sedikit matanya mengawasi kamar utama.

“Sekarang, apa pekerjaan Bu Rosa, ha?! Pekerjaannya saja ndak jelas. Sering pulang malam, kadang malah ndak pulang,” suara Bu Tejo mengeras. Jengkel dia diingatkan oleh Mbok Nah, yang hanya seorang pembantu.

“Ibu itu,… juru tulis. Sibuk. Langganannya banyak…”

“Walah… juru tulis itu kan sekretaris. Apa hubungannya sekretaris dengan langganan? Simbok jelas sudah diakali…” Bu Jumi semakin usil.

“Lagipula, lima tahunan lho, Pak Purbo itu kena stroke. Bayangkan, lima tahun!” Bu Tejo menjulurkan kelima jarinya ke wajah Mbok Nah, ”Masa Bu Rosa ndak kepingin…begituan hehehe..” Tambah Bu Tejo melirik nakal ke arah Bu Jumi sambil sikunya menyenggol lengan Mbok Nah. Mereka cekikikan.

“Aduh,…maksud penjenengan ini apa. Saya sampai risih mendengarnya. Ibu-ibu ini bukannya prihatin dan kasihan, tapi kok malah mikir yang bukan- bukan.”

“Lha justru itu. Aku kasihan dengan Pak Purbo, sudah sakit, namanya tercemar.. kan tambah kasihan…apalagi nasib anak-anaknya.”

“Siapa yang namanya tercemar?!“ Mbok Nah mencabut kabel seterikanya. “Panjenengan ini memang tidak patut dihormati. Sudah dibantu Ibu, hutang ndak pernah bayar didiamkan saja, malah ngerasani jelek!”

Bu Tejo dan Bu Jumi kaget dengan sikap Mbok Nah. “Kamu itu cuma pembantu kok berani omong kasar begitu!”

“Orang-orang seperti panjenengan memang pantasnya dikasari oleh pembantu macam saya ini. Silahkan keluar. Saya pikir kemari mau menjenguk Pak Purbo, malah mengganggu pekerjaan saya. Bawa kembali makanan ini. Kasihan ibu, menerima pemberian beracun!!” Mbok Nah emosi.

“Lha kok situ yang marah-marah! Apa hak kamu menolak. Ini bukan untuk kamu!” Pembicaraan yang semula bisik-bisik di dalam rumah, jadi keras dan ramai menuju pintu keluar, lalu teras. Kini di luar pagar.

“Sesama perempuan kok begitu! Pikirannya curiga, pikirannya jorok, kemproh!”

Orang-orang keluar rumah. Menyaksikan ribut-ribut antara Mbok Nah dengan dua Ibu yang suka bergunjing di komplek perumahan itu.

“E..e.. pembantu saja kok sok! Sok setia, sok benar, sok membela! Kamu juga ndak tau majikanmu bagaimana kalau di luaran kan?!” Bu Jumi tak mau kalah. Seolah berusaha agar para tetangga lain paham apa yang dibicarakan, dan ikut membenarkannya.

“Biar saya kasih tahu ya. Ibu Rosa itu pantas saya bela. Perempuan hebat, ndak cengeng dengan keadaannya, ndak mau merepotkan orang. Setia sama keluarga, kerja keras banting tulang buat keluarga, ndak pernah ikut campur urusan orang, kulo niki bangga nderek Bu Rosa. Ngerti?!” kini airmata rembes di pipi Mbok Nah. Sakit hati, majikannya dibicarakan orang.

 

 

“Mereka kebanyakan memang lelaki. Aku menulis tentang mereka, seturut keinginan mereka, meski dengan caraku. Ini bagian dari pekerjaan, demi kebutuhan dan keutuhan keluarga kita, bukan?” Rosa bicara terbata, penuh tekanan.

Purbo Jatmiko mengerjapkan matanya. Coba diangkatnya kepalanya.

“Meninggalkanmu, tak pernah ada dalam pikiranku. Kaulah kekuatanku. Aku mencintaimu.” Bisik Rosa sambil berkali kali menciumi wajah Purbo. Bibirnya dingin. Rahangnya mengeras.

Purbo Jatmiko mencoba tersenyum. Tangannya kesulitan menggapai wajah istrinya. Rosa menarik tangan Purbo, meletakkannya di pipi, lalu menciuminya. Ia seperti sedang menahan sesuatu.

Mbok Nah masuk sebentar, setelah suara ketukan. Meletakkan teh hangat untuk Rosa, dan minyak urut buatannya di dalam mangkuk kecil. Kikuk ia keluar kamar.

 

Rosa mengerjapkan matanya berkali kali, “Tidak..” pundaknya berguncang, ”Aku berbohong,” makin kencang, dan tiba-tiba, pecah tangis itu…”Ya. Kuakui, aku menyerah.. aku menyerah…” sesenggukan di telapak tangan Purbo.

Purbo mengerjapkan matanya. Ada air leleh dari ekor mata menuju telinga.

“Aku harus selalu tersenyum disana. Menguatkan siapapun yang jatuh di pundakku. Atau merayuku menawarkan perhatiannya. Betapa sulitnya ini bagiku. Karna diam diam aku mesti menata keresahanku.” Rosa bicara terbata, sambil mulai memijit kaki Purbo.

Harum minyak ramuan Mbok Nah menjadi biasa saja.

“Aku berusaha menatap pertemuan kita. Kau, penyair yang terbaring sakit. Puisi-puisimu menjadi kekuatan. Kembali kembali kembali, kubacai semua syairmu itu…”

Purbo menyaksikan nafas Rosa yang terengah sedang mencoba mengangkat kakinya. Menggerak-gerakkannya seturut anjuran terapis. Tapi kepalanya terhenti di ujung kaki Purbo. Air mata jatuh disana.

“Kata-katamu menjadi kekaguman, inspirasiku. Kudapati kesepianmu, namun juga cemburu. Menebak-nebak, siapa sedang dalam jiwamu. Andaikan mungkin, akan kubuka negeri imaji di sekelilingmu, seperti menyibak rambutmu tuk mencari si warna putih, dan mencabutinya agar tinggal kenangan.”

Purbo seperti hendak berkata.

“Diam-diam. Akupun ingin kita sama setara. Banyak penyinta puisi terutama para gadis yang datang dan pergi belajar entah apa padamu, sementara aku yang membuatkan minuman untuk mereka. Atau, diskusi hingga pagi diluar sana, sementara anak-anak rindu pada bapaknya. Dan aku, berada di luar kalian.”

“Aku sudah berusaha, dan,… aku mulai ingin menjadi sepertimu, menjadi sesuatu, menjadi seseorang, ..dan berteriak, aku mampu sepertimu!!…”

“Jangan lupa, terkadang. Ada nama-nama perempuan lain terselip dan mengusik kehidupan perkawinan kita….” Rosa memelankan suaranya.

Kepala Purbo bergerak-gerak cepat.

“Tapi, memang begini bagianku, bukan? Kupaksa diri, tuk jadi penulis bayangan, bagi banyak tokoh terkenal itu. Tak ada namaku di buku manapun, tak ada. Asalkan aku dibayar cukup untuk keluarga. Aku menerima keadaan ini. Sementara mereka bergunjing tentang aku tanpa aku bisa leluasa menjelaskannya, anak-anak jadi kurang perhatian.”

Rosa mendesah, “aku tak bermimpi soal kepopuleran lagi, karya perempuan bernama Rosa Venerini,… kisah hidup seseorang yang dibuatnya, novelnya, naskah-naskah pidatonya, puisi-puisinya, aku harus menyimpan rahasia terhadap karya Rosa Venerini, yang berganti nama menjadi entah siapa. Setiap hari aku hidup dalam pertentangan ini…”

“Selalu separuh hati ini berteriak, itu karyaku! Tepuk tangan itu milikku! Dan di kesepian, perasaan-perasaan ini makin liar saja. Dalam keadaan seperti ini aku sangat rapuh, sayang. Tiba-tiba, aku bisa merasakan bagaimana berada di ruang sunyi sepi itu, seperti dirimu. Dan kau tahu? Aku sangat membutuhkan orang yang mendukungku.”

Purbo mengedipkan matanya berkali-kali. Mengeraskan tulang-tulangnya. Kaku. Rosa masih memijiti kaki-kaki Purbo.

“Ya. Ya, suamiku.” Ketegasan Rosa tiba-tiba kembali. “…aku menginginkan seseorang yang membalas kata-kataku. Balas memelukku! Balas merangkulku! Menghapus air mataku dengan jemarinya! Mengusap rambutku dengan telapaknya! Memberiku selimut kala tubuh hampir beku! Membimbingku dengan lengannya! Bujuk rayu mereka makin masuk akal saja bagiku… Ngertikah kau bahwa semua ini begitu menggodaku??… Ah!!” tubuh Rosa terlempar ke dinding.

Sebuah gerak reflek telah menghentaknya begitu rupa. Mangkuk minyak terjatuh di dada Rosa, lalu lepas ke lantai. Pecahannya bikin gaduh.

“Ada apa denganmu?!” Rosa menantang Purbo. Sikapnya datar dan dingin. “Kau takut?! Kau takut aku menjadi sepertimu di masa lalu?!”

Purbo terus bergerak-gerak gelisah.

“Tak bolehkah? Tak bolehkah kuikuti jejakmu? Tak pantaskah?!” Rosa bergegas melepas pakaian yang ketumpahan minyak. Purbo mengawasi gerak istrinya.

Dalam keterpasungan, dilihatnya Rosa berganti pakaian. Ah. Tubuh sintal yang kenyal dan kencang. Pastinya sangat menggairahkan para lelaki penggoda itu.

Lalu terpana pada kutang dan celana dalam Rosa, yang lusuh dan jelek. Disana ada lubang dan sobekan di sana sini.

Purbo tersentak pada masa pacaran dulu, ketika Rosa enggan bermesraan dengannya sebelum menikah. Tak ingin keperawanannya hilang sebelum ada ikatan suci. Gadis kuno. Sampai-sampai Purbo penasaran, begitu kuatnya pertahanan kekasihnya saat itu.

“Memakai kutang dan celana dalam yang lusuh dan jelek, hal yang paling tak diingini perempuan manapun. Ia akan malu membuka baju di depan prianya.” Goda Rosa dimalam pertama mereka.

“Oh ya?”

“Ya, sayangku. Bila hasrat sulit dibendung, perlu jeruji untuk mengekang suatu kebebasan diri, bukan?”

Dan kemesraan yang tercipta di malam pertama itu, menjadi begitu puncak.***

 

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal. 55-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dicari: Sebentuk Peluk

Lukisan Shanti Yani Rahman - DJIBOUTI, dalam Buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – DJIBOUTI, dalam Buku SERAPAH IBU

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Didekatinya seorang ibu yang menangis di samping rumah sakit. Wajahnya kuyu, putus asa. Ibu itu berkisah, suaminya sekarat. Biaya rumah sakit tak terkira, tak mampu berpikir. Hati Ia ikut hancur luluh mendengarnya.

Ia peluk ibu itu. Hendak dibiarkannya menangis di pundaknya. Tapi belum sampai ke peluknya ibu itu meronta. “Apa-apaan sih Mbak ini! Aneh sekali. Tak enak dilihat orang, tahu?!” Ibu itu pergi mempercepat langkahnya. Ada malu yang dibawanya.

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Sampai akhir hidup ayah, Ia tak pernah dipeluknya. Ada semacam perasaan ganjil, canggung berbentuk marah, bila Ia coba memeluk ayah. Pernah mata ibu membeliak curiga, kala saking senangnya Ia peluk tubuh ayah yang ringkih.

Bahkan di hari kematian ayah, Ia dan ibunya tak saling peluk. Tak ada peluk untuk menenangkan. Peluk. Mengapa begitu asing dalam keluarga, kampung, mungkin negerinya. Tabu. Ataukah Ia, memiliki kelainan jiwa?

Hidup yang asing akan peluk. Telah membuat Ia gila.

Dijumpainya para sahabat. Mereka saling bercerita, bercanda, akhirnya berkeluh. Ketika mereka tahu, Ia mencari sebentuk peluk. Mereka tertawa terbahak-bahak.

Ia begitu gusar karena mereka terus tertawa. Langsung saja Ia peluk salah seorang diantara mereka, yang meronta-ronta melepaskan diri. Ditariknya lagi coba Ia peluk, kawannya meronta lagi. Ia tarik sekali lagi agar masuk kepelukan. Lagi-lagi kawannya meronta.

Suasana yang tadinya penuh canda, jadi serius dan memucat. Mereka menganggap Ia sudah gila. Tiba-tiba mereka menyudahi pertemuan. Pergi tinggalkan Ia. Seonggok daging yang kering. Kembali pada sunyi.

Ah… Siapa hendak memeluk Ia?

Suami Ia sendiri enggan dan risih, merasa keinginan istrinya sepele dan mengada ada. Kolokan dan manja, bikin kikuk suasana.

Biasanya langsung saja ditindihnya sang istri, dibukanya kain yang melekat, melumuri tubuh Ia dengan hasratnya. Lalu, begitu saja mereka bergoyang dan, selesai.

Ah,… Siapa hendak memeluk Ia?

Selalu Ia berpikir, begitu hebatkan mereka, hingga tak butuh peluk? Apakah rahasianya? Orang-orang yang rapuh, namun jaga martabat. Pilih menderita daripada meminta. Pilih saling pukul, daripada saling peluk.

Oh. Ingin Ia menembus layar kaca, pergi ke negeri orang. Tempat dimana peluk begitu subur, mudah didapat. Kau senang, kau bangga, kau terharu, kau sedih, kau takut, kau bahagia. Seolah siapapun layak mendapatkan peluk. Begitu saja. Tak ada yang marah. Tak ada yang terusik gusar. Atau merasa kikuk karenanya.

Siapa hendak memeluk Ia?

Entah anugerah atau bencana, ada sosok lelaki mendekat. Wajahnya tak asing lagi. Tokoh masyarakat dan terkenal. Kata-katanya memberi cerah semua orang. Buku tentangnya laris di pasaran. Sosoknya kerap muncul di tabung kaca. Ia jatuh percaya padanya.

“Saya paham dan cukup mengerti kegelisahan anda.” Kata lelaki terkenal itu. Kegelisahan? Gelisah? Tokoh terkenal itu, pandai betul membacai aku. Pencarianku akan sebentuk peluk, ia sebut kegelisahan. Sungguhkah?

“Apa kau tahu apa yang harus aku lakukan?” Ia bertanya tanpa ingin memberinya jarak.

“Aku bisa membantumu. Kita bisa buat pertemuan jika kau ingin.” Tokoh itu mengubah sebutan ‘saya’ dan ‘anda’.

Mereka berada di sebuah ruang yang nyaman. Ruang kerja tokoh terkenal itu. Luas, bersih, sejuk oleh pendingin ruangan.

“Jadi, apa yang menjadi kegelisahanmu?” Lelaki itu bertanya penuh simpati.

“Aku mencari sebentuk peluk.”

“Hanya itu?”

“Ya. Aku penasaran dengan peluk. Peluk seperti oase, daripadanya aku mendapati hidupku penuh gairah. Damai. Penuh kekuatan. Aduh, aku mulai gusar. Ya. Aku butuh peluk.”

“Apakah kau tak pernah mendapatkannya?”

“Itu hal yang asing di sekitarku.”

“Begitukah?” Tokoh terkenal itu tersenyum simpul.

“Apakah aku ini aneh?”

“Bagiku tidak. Kebutuhanmu sederhana, tapi tak bisa diterima oleh budaya yang membesarkanmu. Kau hanya berada di tempat yang belum tepat saja. Belum tepat tempat, situasi, dan waktu.”

“Tepat tempat? Tepat situasi? Tepat waktu?? Rumit.”

“Ya. Kita tak bisa memburu keinginan kita begitu saja. Tahukah kau, sebetulnya di Bali, terdapat budaya Omed Omedan, dimana ada saat peluk cium bagi pria dan wanita diperbolehkan. Bahkan mereka pun kuatir terancam Undang Undang Pornografi yang terbit di negeri ini.”

“Begitukah?”

“Ya. Banyak orang mendamba peluk, namun kesulitan mendapatkannya.”

“Oh, ya?” Mata Ia berbinar. Ia tak sendirian. Jiwanya tak jadi layu.

“Bersediakah kupeluk?” Tokoh terkenal itu menawarkan hal yang mengejutkan.

“Kau ingin?”

“Ingin, bila kau juga ingin.”

Jawaban terakhir meluluhkan hati. Mereka berpeluk erat melekat. Oh, jiwa Ia begini tenang. Takjub pada rencana Tuhan. Sebentuk peluk yang berharga. Ada sayatan es menyisipkan dingin di jiwa. Ia telah mendambanya ribuan waktu lalu.

Sebuah cium terselip. Mula-mula terasa di rambut. Kening. Pipi. Dagu. Dalam peluk, ciuman lelaki itu memburu bibir.

Perlahan, tangan lelaki itu begitu saja terlepas. Hendak menuju kancing celana.

Pelukan terlepas.

Hangat peluk pudar seketika. Hambar. Tubuh Ia jadi dinding. Bercat putih pucat. Terang lampu jadi benderang. Tebal mengepal, hati Ia.

“Aku tak bisa.” Lirih dan yakin Ia mengejar mata lelaki itu.

Begitu saja segalanya terhenti. Pembicaraan hangat lesap keluar jendela. Hening. Berjarak. Setelahnya, mereka jadi dua orang asing kembali.

Ia berpisah penuh gelisah. Bukan bukan bukan bukan. Bukan peluk tadi yang Ia cari. Perasaan Ia semakin kacau. Tadinya Ia sudah bahagia. Sungguh. Ia jengah peluk yang itu! Ia mau peluk tulus tanpa hasrat lain. Oh.

Dilajunya kendaraan dalam gundah pikir. Motor tuanya menuju jalan menanjak yang panjang. Sebelah kiri jalan terdapat hutan liar. Sebelah kanan, ada sungai sempit tertutup tanaman liar. Letaknya kira-kira lima belas meter di dasar jurang.

Sebuah bis menyalip pelan, sembarangan. Bis miring dan sesak. Duh. Hampir saja. Dibelakang bis, laju motor Ia tahan. Makin menanjak, bis sedikit pelan. Tak tahan asapnya, Ia berusaha menyalip bis itu lagi. Sulit.

Mengapa tokoh terkenal itu begitu terhadapku. Adakah ini hal biasa baginya? Bukankah awalnya ia begitu hangat? Ataukah peluk di negeri ini malah membuat kemaluan lelaki mengencang?

Ataukah pencarianku ini keterlaluan. Hingga mudah dijadikan permainan.

Sampai pada tanjakan paling curam. Bis itu semakin pelan menanjak. Ia masih kesulitan melewatinya.

Peluk. Mengapa sulit sekali mencari peluk. Ia merasa tak berharga. Mengapa mereka begitu munafik. Ia yakin tak hanya dirinya. Tapi semua orang butuh peluk. Setiap orang!

Mengapa mereka begitu tangguh tanpa peluk. Sudah limpahkah kebahagiaan mereka. Ia ingin melihat semua orang saling peluk. Kapan? Kapankah? Tepat tempat, tepat situasi, tepat waktu. Nasihat tokoh terkenal yang merobek peluknya tadi, melintas.

Lihat orang-orang dalam bis disana. Campur baur. Laki laki, perempuan, berbagai generasi. Orang kantoran, pedagang, buruh, guru, anak sekolah dan sebagainya. Apakah mereka juga merindu peluk? Mencarinya sampai kepayahan. Haruskah menunggu waktu paling terpaksa. Paling genting.

Terpaksa? Aha! Ia temukan kini. Terpaksa, artinya tepat segalanya. Akhirnya Ia temukan jawab. Jiwanya kewalahan oleh girang yang meletup seketika. Tergoda bayangkan orang-orang di dalam bis saling peluk.

Alangkah hebatnya bila semua menemukan peluk. Menuju tempat paling damai. Sungai ketenangan. Hutan kekuatan. Tiada keterasingan jiwa. Tiada tubuh dibiarkan basah dan dingin oleh hujan kabut. Jiwa-jiwa terselamatkan, bukan?

Tak akan ada lagi kisah tentang mati bunuh diri. Tentang orang-orang marah di jalanan. Tentang ibu yang membiarkan anak-anaknya ketakutan oleh siksa.

Ia ingin rasakan sensasi, ketika laju bis itu melambat mundur, berhenti. Mundur, dan berhenti lagi. Lalu mundur teratur, menerjang jalur berlawanan, lalu meluncur menuju jurang. Mau tak mau, mereka akan pasrah saling berpeluk di dalam bis sana bukan? Ah. Tidak. Jangan. Tak boleh ada korban.

Lagipula, siapa bisa bersaksi, betapa indahnya bertemu peluk.

Oh, ya. Begini saja. Laju bis itu merambat mundur, lalu tiba-tiba ada suatu penghalang sehingga terhenti. Orang-orang panik saling peluk. Saling jaga. Saling melindungi. Ia yakin. Peluk akan datang dari gelisah, lalu lahir gairah. Bis itu sedikit lagi jatuh ke dalam jurang, dan, ya, Ia melihat orang orang di dalamnya teriak panik, dan, saling peluk!

Tak ada kakek nenek saling acuh. Tak ada ibu dan putrinya saling sengit. Tak ada kakak adik saling sengketa. Tak ada suami istri saling asing. Kekasih saling egois. Antar kawan saling curiga. Guru dan anak sekolah berjarak. Orang kantoran dan pedagang kecil menjauh. Orang-orang saling sunyi. Ahaha.. Tak ada lagi! Sebab disana peluk ditemukan. Ah. Haha.. Ia terbahak sendiri. Yah! Tepat tempat, tepat situasi, tepat waktu. Hahaha. Ahahaha…

Ada sebuah peti berwajah Ia di dasarnya. Senyum paling manis dan ayu. Inikah kematian Ia? Baiklah, bila kau mati. Tak mengapa. Nyatanya seperti ibu melahirkan. Sakit sebentar lalu hilang karna kebahagiaan. Bisik hati Ia…

Ada pesta pemakaman Ia. Sebuah Misa Requiem tergelar.

“Saudara saudari terkasih,” seorang Pastor berkotbah dalam suara penuh tekanan, lirih, “di hari kematiannya, saudari Maria seharusnya bisa menghindar dari laju bis yang mundur ke arahnya. Namun almarhum memilih diam, berhenti dibelakangnya. Mengapa? Semua karena hati almarhum yang kaya. Saudari Maria mengorbankan diri, agar seluruh penumpang dalam bis selamat, tak terperosok ke dalam jurang. Ia tahu persis, motor yang ditumpanginya dapat menahan laju bis. Saudari Maria masih sempat tersenyum lebar ketika tubuhnya digendong penduduk setempat.“

Soal kematian, Ia bisa terima. Tapi kotbah ini…

“Seperti teladan Yesus yang rela mati di kayu salib demi keselamatan umat manusia, saudari Maria seolah berusaha meneladaninya dalam sikap dan tindakan….”

Berhentiiiii…! Tiba-tiba saja Ia ingin teriak. Berontak sekuat-kuatnya. Berusaha masuk ke dalam tubuhnya lagi. Berharap mayat itu bangun dari dalam peti. Ia harus menyudahi kotbah Pastor ini. Ia harus segera meluruskannya.

Oh. Sesiapapun harus tahu, ini hanyalah soal mencari peluk.***

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU, hal.29-

Pernikahan dalam Mal

Lukisan Shanti Yani Rahman 1, dalam buku SERAPAH IBU

Lukisan Shanti Yani Rahman – ADDIS ABABA, dalam buku SERAPAH IBU

Dalam kosong ceriaku, ikuti langkah kemana lalu. Pergi meniti awan berkantung tebal, penuh dengan taburan ribuan kertas, lembar uang seratus ribu. Ceriaku mengangkasa, menyeret kakiku melangkah tegap menuju sebuah mal mewah di metropolitan. Pada pintu masuk yang berputar, aku merubah diriku.

Tubuhku menyukai kerja sama antara celana, baju, sepatu jinjit, tas, dan aksesoris yang kupasangkan. Persis dandanan artis di berita selebritis. Apalagi wajahnya kutaburi bedak dan seperangkat pewarna lain, hingga percaya dirinya membuatku sedikit kewalahan.

Aku sedang banyak masalah, dan baiknya kuselesaikan di sini. Aku dapat meletakkan masalahku di toko kelontong raksasa ini. Sebaiknya pula kuselaraskan cara berjalanku seperti mereka kebanyakan. Senyum mengembang sempurna dan dagu diangkat, sedikit saja. Lalu biarkan dada memimpin di depan, sedikit membusung, dan tinggalkan pantat di belakang. Ia akan setia mengikuti kemanapun, dengan sendirinya. Ramah pada siapapun termasuk pelayan toko, dan tunjukkan tutur kata yang berkesan intelek, berpendidikan, terpelajar, dan sejenisnya.

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk kedua orang tuaku di kampung, bertengkarlah sepuasnya. Bercerai sekalipun, aku takkan peduli. Pikirkan saja diri kalian sendiri. Lupakan anak perempuanmu ini, di masa dewasa akhir. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Baju pengantin. Ini kios milik perancang terkenal. Wah, indahnya. Aku ingin berwarna merah. Oh, tidak. Atau biru. Oh, tidak. Hijau redup. Tidak. Ah, putih. Aku jarang sekali memakai warna putih. Putih dengan hiasan siluet bunga perak. Aku ingin berbentuk kebaya modern dan mewah. Seperti yang dikenakan orang-orang terkenal dalam tabung kaca. Kebaya yang berbuntut panjang menyapu bumi.

“Ya, betul. Saya suka ini. Yah, saya pesan yang seperti ini.”

“Baik. Jadi yang putih, dengan siluet perak. Untuk kapan?” asisten perancang gaun pengantin bertanya sopan, dengan anting yang selalu bergerak mengikuti kepalanya. Wajahnya kelabu, seperti penjual peti jenazah.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk saudara-saudaraku. Tak usah campuri pernikahanku. Ayah dan ibuku memang egois, tapi itu cukup dalam daftar masalahku saja. Tak perlu kalian bergosip, ingin menjadi pahlawan. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Perhiasan-perhiasan ini begitu indahnya. Aku ingin warna perak. Yah, emas putih pasti cocok. Tentu saja, agar serasi dengan gaunku. Kalung berinisial namaku. ‘S’. Dihiasi permata berbunga indah. Cincin, gelang, anting, ah… segala bertabur bintang kerlip. Kreasi terbaik yang kulihat. Tanganku menggenggam rindu. Mataku menggeliat terpesona.

“Ya, saya mau yang ini, dan masing-masing diukir dengan inisial ‘S’.”

“Baiklah. Jadi ini sudah anda pesan. Akan diambil kapan?” pramuniaga bersuara alto tersenyum ramah. Wajahnya berkerudung malam.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk calon mertuaku. Jangan tanya padaku kapan hendak melamar. Meski tak karuan, orang tuaku yang harus kau ajak bicara. Tak usah tunggu hubungan mereka membaik, karna kutahu takkan. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Kugeluti buku demi buku tentang pernikahan di sebuah toko buku. Nama penulisnya cukup terkenal dan tak diragukan lagi pengalaman dan keahliannya. Konsultasi seputar Pernikahan, Persiapan Pernikahan, Pernak-Pernik Pernikahan, Pernikahan yang Bahagia, Menuju Pernikahan Sejati,…kubeli seluruhnya. Tentang pernikahan. Ini penting. Agar aku tak keliru langkah.

“Saya beli semua buku tentang pernikahan ini.”

“Baik. Selamat, karena tentu anda akan segera menikah.” Pramuniaga bergigi mungil merasa perlu memberi selamat. Wajahnya remang-remang.

“Ya, betul. Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk kawan-kawanku. Berhentilah merasa kasihan. Tak perlu kalian membantuku. Aku telah biasa sendiri. Akupun lahir atas usahaku sendiri. Mencari udara dan bertahan hidup sendiri, meski ayahku memukuli kantung asalku, ibuku menyiramiku dengan racun. Aku tetap tumbuh dan menjadi besar karena diriku. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Salon terkenal di mal ini membantu pikiranku berkelana akan cantiknya diri di hari pernikahan. Perias terkenal itu mendengarkan keinginanku dalam tatapan kosongnya. Pria yang gemulai itu sangat profesional sebagai penabur riasan pengantin. Aku percaya padanya. Segala sepi di wajahku akan sanggup dihapusnya, jadi topeng kegembiraan. Yah, bukankah itu sudah menjadi tugas utamanya.

“Jadi, kapan tepatnya anda akan siap untuk dirias?” perias itu bertanya lagi dalam wajahnya yang tertutup awan mendung.

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk semua tamu yang hadir nantinya, tunggu saja di pesta pernikahanku nanti. Akan sangat berbeda, berkomentarlah yang baik saja. Sebab jika tidak, aku akan sedih, dan pasti marah. Kan kubuat semua orang bahagia. Sungguh. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Jangkrik-jangkrik di perutku saling berceloteh ‘krik-ikrik’ dalam suaranya yang lebih besar dan parau. Merajuk pada otak yang memutuskan bahwa tubuhku lapar. Pada suasana nyaman sebuah tempat makan dalam mal kutemukan brosur menu makanan pesta dari catering terkenal. Ini penting. Harga tidak ada artinya dibanding pujian para tamu undangan di pesta pernikahanku nantinya. Makanan adalah pengikat tali keakraban. Maka, aku tak boleh sembarangan dengan pengisi lambung ini. Hubungan gampang sekali remuk meski ini hanya soal makanan.

Mie hot plate dan coffee rhum juice asyik menyela pembicaraan antara aku dan pemilik catering, tentang segala makanan istimewa yang akan kupesan untuk pesta pernikahanku. Lengkap dengan dekorasi yang sempurna. Redup, bernuansa alam liar. Pemilik catering nampak ceria pada wajahnya yang buram. Aku yakin pada keramahan semunya, dan pada kuku jarinya yang di cat hitam mengkilat.

“Yah. Jadi kita sudah sepakat dengan menunya.”

“Oke. Terimakasih. Kapan menu ini akan dihidangkan?”

“Tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus kalian dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April, tahun depan, dan ini sudah bulan Desember. Aku harus bergegas.

Untuk calon suamiku, yang tak pernah berani menantang masa depan. Delapan tahun lelah bertali kasih. Rengkuh segala cinta dariku seluruh. Tak lupa selingan kisah tentang tikaman kepedihan pada jaring sukmaku yang ringkih. Tunda dan tunda lagi masa pernikahan. Tidak. Kali ini tidak lagi. Tidak ada lagi kepedihan. Jika ia yang karena masih merasa miskin belum berani, maka aku takkan lagi menunggunya. Karena rasa miskin itu takkan pernah lepas dari dirinya yang bernyali kecil. Tapi aku adalah wanita berhati baja yang berani. Sanggup menghadapi segala badai. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri.

Ah, tinggal tentukan gedung pernikahan yang akan kugunakan. Aku mengingini tempat besar, megah, dan itu ada dalam… mal ini! Yah, tentu saja! Bukankah tamu yang akan datang di pernikahanku ada ribuan orang. Tak ada gedung yang dapat menandingi mal ini. Wih, aku tersenyum sendiri membayangkan hal ini. Pernikahan ini akan menjadi sejarah sepanjang masa yang tak pernah terlupakan, bagi siapapun.

“Saya setuju dengan perjanjian ini. Ini akan menjadi berita yang menarik. Jadi mal ini akan anda gunakan sepenuhnya?” tebaran tanya dari pemilik mal yang kaku dengan keramahan yang kelabu. Pada lehernya tertambat kilauan kalung emas dalam kerut wajah abu-abu penuh tekanan.

“Tentu. Jangan lupa, tanggal satu, bulan April. Terimakasih.”

************

Tanggal satu. Bulan April. Hari pernikahan kebahagiaanku … dan saat ini bulan April, dan tanggal satu. Hatiku bersenandung haru… cincin emas bernama engkau/ kapan kan hampiriku/membiarkan jari manisku/menjejalmu dengan rindu bercahaya emas menggebu,…lalu/cincin emas bernama aku/kusarungkan pada jari manismu yang berkilau mesra/merayap di hamparan lautan berwarna cinta/yang menganga oleh harapan/berbingkai awan kesetiaan berarak mengikuti pelukan kita/pada segala waktu.. /yah, di segala waktu…

Segalanya telah kusiapkan… seharian pagi wajahku telah diubah menjadi topeng kegembiraan. Perias ini berhasil. Guratan sendu tak ada disudut wajah dalam cermin itu. Gaun pengantin menjuntai indah dengan segala perhiasan berinisial ‘S’, milikku. Sempurna. Mal riuh rendah ramainya, oleh tamu undangan yang tak sabar melihat kecantikanku,… atau perubahan wajahku yang sangat berbeda, hingga mereka sukar mengenali seluruh diriku …

Segala kios dalam mal berubah menjadi meja jamuan makan. Indah, mewah,… dalam dekorasi taburan angkasa yang menyeruak membelai bintang. Malam ini telah menjadi hari yang sangat berbeda dalam hidupku… Lihat, banyak orang berwajah jelaga membawa kamera, … Oh, mungkinkan itu wartawan,… Ah, ya. Tentu saja, pernikahan dalam mal suatu hal yang sangat jarang terjadi.

Kilatan lampu dari kepala mereka telah menusuk keheningan otakku yang kaku tak tersentuh. Segala tamu undangan yang tak dapat kulihat wajahnya berkelompok dan berbisik. Bayang wajahnya kabur ke arahku, tanpa mata yang membutakan senyumku, sedang riasan pada wajah ini, mengapa mulai dilumuri air dari mataku.

Aliran air ini bukan buatan. Wajah yang basah ini bukan bagian dari rekayasa make up yang disapukan di wajahku. Tak mampu kukendalikan. Menggulir perlahan dan tak henti, selalu sabar menunggu gilirannya untuk menitik pada kilau lantai keramik. Sukmaku layu dan sulit bernafas. Ada yang aneh. Seharusnya tidak begini perasaanku. Ada sesuatu yang lain.

Lagu pernikahan yang lupa kususun, menjadi lagu hingar bingar tak keruan. Jauh dari melodi kedamaian agung dan romantisme yang seharusnya. Oh, pernikahan ini harusnya indah. Aku lupa wajahku. Aku tak tahu ekspresi yang seharusnya kuhidangkan untuk mereka. Mimik wajahku kebingungan. Dalam sedih yang tertawa. Dalam bahagia yang luka. Dalam hambar yang gamang. Dalam bangga yang sunyi.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku…

Aku berjalan perlahan dalam dingin yang menjalar, dari telapak kakiku, hingga seluruh tubuh yang mulai menggigil. Ah, aku lupa membeli sepatu pengantinku. Pakaian ini terlalu tipis untuk udara sedingin mal ini. Aku sendirian, tak ada yang berjalan disampingku. Tak ada yang kupeluk. Tak ada yang menatapku hangat penuh cinta. Sayatan ini datang tiba-tiba menghias rangkaian bunga yang kugenggam hampa.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut.

Aku juga lupa membeli segala perlengkapan pengantin priaku. Baju pengantinnya, perhiasannya, ah, aku sungguh tak mengingatnya. Buku-buku tentang pernikahan yang telah kubeli entah dimana. Sesuatu telah menyembunyikannya. Atau, … telah menjadi alas bagi ranjang tidurku yang gulita.

Aku adalah pengantin sendirian yang kesepian. Oh, dimana dia. Tak ada yang menuntunku berjalan. Segala wajah yang menggiringku adalah wajah kelabu yang mulai kabur oleh hujan kasihan. Aku telah salah mengundang mereka. Disini aku menikahi ruang kepedihan yang memerah, sunyi oleh harapan tak terengkuh. Sakitku mulai menyesak udara panas diwajahku.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku kembali pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu.

Aku ingat, sesungguhnya ini adalah hari kelahiranku. Yah, tanggal satu, bulan April. Aku lahir, menunggu dewasa untuk menikah dan melahirkan. Pernikahanku pada diriku, dalam usiaku yang sudah terlalu dewasa. Tak jua kurengkuh dirinya dalam pelukku, dalam sepasang cincin berinisial ‘S’ dan nama seorang pria, yang belum juga meminangku. Hanya mal ini mampu mengikat lelahku, mampu menidurkan pikiranku, memanjakan pandanganku, merangkulku erat dan dekat.

Maka kan kunikahi mal ini, dengan sepenuh hati. Kan kuhempas wajah-wajah berkabut itu. Jangan minta aku untuk pulang atau ikut kalian. Aku ingin tinggal disini saja. Bersama dengan wajah-wajah hitam, gelap, dan pekat. Bersedia menciumi pipiku. Memeluk tubuhku.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak lagi. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara-suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu. Itu karena mereka, yang berteriak palsu, seolah tangis tumbuh dari suara mereka, bermuatan kasih yang menggelegak rindu.

“Suyem, ayo pulang, nduk…”

Tidak. Aku memilih disini. Dalam toko kelontong raksasa ini, tubuhku telah terikat, sama seperti kalian telah mengikatku. Hanya kali ini dengan kebebasan yang gembira. Sungguh. Keterikatan ini membebaskan aku. Tak perlu memintaku pulang, untuk kubiarkan lagi perlakuan yang sama menimpaku.

Tanpa air mata penantian. Tanpa harapan yang terus terpaku pada kekosongan. Aku telah muak oleh segala kabut ketidakpastian ini. Bunga-bunga yang tak juga tumbuh, layu yang tak pernah berakhir.

Lalu tiba-tiba, beberapa orang diantara mereka berteriak-teriak lagi. “Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku… membenamkanku ke dasar laut. Bersama dengan ikatan rantai yang membelengguku berpuluh waktu. Itu karena mereka, yang berteriak palsu, seolah tangis tumbuh dari suara mereka, bermuatan kasih yang menggelegak rindu. Sulit kupercaya.

“Suyem, ayo pulang, nduk…” Aku benci suara-suara itu. Menarikku pada segala persoalan hidupku. Coba tusuk-tusuk awan mimpiku dengan jarumnya yang besar berkilat. Cahayanya ajakku melihat perempuan metropolitan kampung yang kere, putus asa dan sempoyongan oleh bayangan luka bawah sadar di dalamnya. Wajah keangkuhan yang tak yakin, keramahan yang tolol, dan percaya diri yang tersisih. Akulah kini.

“Suyem, ayo pulang, nduk…”

Tolonglah. Biarkan aku disini. Menjadi bagian dari para patung peraga yang kesepian, dan mungkin pernah mengadakan pernikahan yang sendiri, dalam mal ini. Tak lagi menunggu dan berharap untuk dinikahi.

Berdiri tegar dalam deretan embun yang tak lepas dari mata yang putus asa. Berpagar kaca besar sambil memperhatikan orang yang lalu lalang. Sesekali orang-orang itu ganti melihat aku, memperhatikan gaun pengantin yang kukenakan, ah tidak hanya itu, tapi juga diriku utuh. Dalam pandangan kekaguman yang melati.

Lalu di setiap malam yang hening dalam mal ini, kami para patung peraga akan berkumpul saling bercerita dan pada giliranku, akan kuawali kisahku dengan…, “Ini adalah saat tepat melonggarkan sendi otakku. Menantang mereka yang menyebutku wanita malang. Wajah-wajah yang menatapku kasihan, akan kuhapus mereka dari daftar undangan pernikahanku. Yah, aku akan menikah. Pada tanggal satu, bulan April. Lihat saja, aku akan dapat menyelenggarakan pernikahanku sendiri. Sendiri…..”

Hingga giliran mereka diluar sana yang ganti menggilaiku, sarat dengan kenangan tak terengkuh. Menangis dan meratap, karena duniaku yang tak lagi tersentuh. Selamat tinggal semua. Mal ini adalah tonggak perubahanku. Biarkan aku menjadi bagiannya. Menjadi patung peraga yang setia penuh, meski tak lagi gaun pengantin yang kukenakan.

Lalu kan kukabarkan sebuah puisi kecil, untuk bentangan alam di luar sana yang mungkin tak lagi dapat kutemui nafasnya, pada langit berbintil cahaya, pada tanah bermata hijau, pada laut bergerigi karang, pada matahari yang ramah, kukatakan…

Aku Menikahi Damai

Kesepianku sendirian, pada malam pertama kau lahir

hadir sebuah tanya berkeringat embun, cintakah kau padaku

karna kemewahan ini ternyata milikmu, aku hanya meminjamnya

untuk kutebar pada hening.

Dan kami telah temukan pernikahan yang bersahaja. Sungguh.

-SandraPalupi dalam SERAPAH IBU hal.3-