RSS

Arsip Kategori: Zona Rapuh Jiwa

Pulang

Menuju rumah. Siap siap. Siap siap. Ada senyum gugur di musim subur. Ada suara tembok tembok mabuk. Dinding dinding dingin. Jerit pecah di sigar bencah. Si peragu datang dan pergi dan datang. Kebuntuan menjepit air mata. Angin mengaburkan ingin.

Menuju rumah. Siap siap. Siap siap. Ciptakan hati paling sabar di dasar. Segala yang keras pura pura rontok. Segala yang kaku pura pura layu. Cintai luka luka. Cintai duka duka. Beri kemenangan pada kekalahan. Beri kekalahan pada kemenangan. Bahkan tak pernah tahu waktu yang tepat.

Menuju rumah. Ada penat dipenatkan. Ada lelah dilelahkan. Terima salib! Rasakan salib! Nikmati salib! Kecup luka. Cucup duka. Adakah Tuhan.  Menjilati ketakberdayaan dengan cinta yang misteri.

Segala tak sedang indah, dan aku tak bisa pindah…

@Img:daymilovich

@Img:daymilovich

 
Leave a comment

Posted by pada 25 Agustus 2010 in Zona Rapuh Jiwa

 

mimpi yang hhffff..

Kemana perginya mimpi semalam, yang sepanjang hari menyisakan perih. Seperti ombak dalam ragu. Datang pergi. Datang pergi. Menjauh dekat. Jauh mendekat. Keterlaluan menggodaku.

Bukankah kuraih tubuhmu seluruh utuh? Kumiliki bibir kanak kanakmu. Begitu satu kita. Begitu satu. Tapi jiwa aku tak kuasa. Sungguh tak kuasa kugenggam. Sebatas apa hendak kutahu. Rindumu. Cintamu. Hati. Nama ku kah hanya. Bersemayam disana.

Aku tertawan oleh risau sendiri. Kau. Adakah kau ngerti. Aku gila oleh keterbatasan ini. Tak bisakah kubaca kitab rahasia di ceruk hatimu? Mengapa tak bisa. Tuhan?

Mengapa aku begini air mata. Seakan garam sedang kubutuhkan bagi kisahku yang entah. Mimpi mimpi kabur meninggalkan duri. Hari hari lari meninggalkan nyeri. Temani, temanilah aku. Sangat sepi disini. Dan kau sudah pergi. Lagi.

 
Leave a comment

Posted by pada 14 Juli 2010 in Zona Rapuh Jiwa

 

Satu Ibu Dalam Diriku

Aku muak pada sosok ibu. Muak semuak muaknya, sampai sampai aku enggan tatap muka dengan muka ibu. Aku disiksa siksa lagi. Kuberitahu rasa sakit lewat tangis teriak, malahan buat ibu makin marah, ada alasan tuk tusuk tusuki hati jiwa badan.

Keras, sekeras keras tangis keluar, makin keras tubuh dipukuli, pun kata kata kasar nyasar ke jiwa. Ini ibu, ibuku kah?

Tangisku makin pecah tak karuan, ibu teriak kencang, ssshhhh ..diamlah! Diam! Diam! Bisa diam tidak!! Kepalaku ada dalam genggaman ibu, dilemparnya aku ke tembok. Tangisku membengkak, aku terjatuh. Diaaamm!! Diaaamm!! Anak tak ngerti kesulitanku! Ibu injak kepalaku dengan kakinya yang surga, aku mengaduh teriak cari cari perhatian sesiapa di luar rumah. Makin keras aku menangis, makin kuat ibu pukuli aku.

Aku berusaha lari keluar rumah. Ibu kejar aku. Ibu memburuku. Aku akan berhasil lari keluar, sedikit lagi. Kuraih pintu dan kubuka. Kena! Mau kemana kau? Bajuku ditarik ibu. Tanganku tertangkap ibu. Aku terjepit pintu. Aku teriak ketakutan. Ada beberapa orang diluar melihat ke arahku. Singkat sekali mereka tengok diriku. Tak ada yang menujuku, menolongku. Masuk!! Kamu mau tetangga tahu, ha! Mau bikin hidup ibu tambah susah?!

Tidak ibu. Aku takut.

Ibu tak dengar jeritku. Aku takut teriak. Aku terjatuh, ibu tendang tubuhku. Diam! Tak ada yang kasihan padamu, tahu?!! Atau masih kurang?! Aku tahan tangisku. Ibu berusaha membuatku berdiri tegak. Dengan satu tangan, rambutku terikat kuat dalam genggamannya. Jangan cengeng! Diam, ngerti?! Mata ibu tiba tiba dekat ke wajahku. Mata kupejam rapat rapat agar air mata dapat kutahan bersama sakit bersama takut. Mau ibu tinggal pergi? Ha?! Bapakmu sudah tak urusi kamu! Mau ibu tinggal juga?!

Jangan ibu. Aku takut.

Ibu kelelahan. Napasnya tersengal. Diam. Matanya awasi wajahku. Kulihat ibu kasihan padaku. Mataku yang diam dan memelas, juga dadaku yang naik turun. Ada isak tanpa air mata. Tapi ibu remas dan tinju wajahku lagi. Aku benci wajahmu! Aku benci matamu! Gambar Bapakmu jelas disana. Kamu mau seperti Bapakmu! Tak ngerti kesulitanku?! Ikut ikutan bikin susah! Mau kubikin nasibmu seperti anak anak di tetevisi itu! Mati di tangan ibu kandungnya, iya?!! kepalaku dibantingnya lagi. Hanya isak tersisa dari tubuhku. Airmata rembes masuk ke pori.

Ibu. Aku habis tenaga. Aku tak lapar lagi.

Aku ketakutan. Tubuhku dingin seolah tanpa darah. Anakku. Oh, anakku. Bergeraklah. Bergeraklah! Oh. Maafkan ibu! Maafkan. Kuratapi tubuh anakku.

Ohhh, ibu. Ini jawab atas benci. Ini jawab atas dendam. Tertanam sempurna di milyaran waktu.

Ibu. Ibu!! Lihat anakku! Ia tak bergerak.

Ibu membeku.

Ibu!! Lihat cucu ibu!!

Ibu tak bisa bicara, apalagi menggerakkan badannya yang lumpuh. Ibu seolah mengucap sayup i b u, ah ia ingat ibunya. Lalu air mata. Leleh. Menatapi ku, juga keadaan anakku. Terkunci pilu.

Ibu. Kita kalah lagi.

SandraPalupi

 
Leave a comment

Posted by pada 9 Juni 2010 in Zona Rapuh Jiwa

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.