Kutemui ia dalam kecantikan yang kubenci. Perilaku berlebihan sekaligus menuntut perasaan untuk dikasihani. Adalah Bobby. Tapi semua orang memanggilnya Babe. Cantik. Dan ia lelaki. Ia yang membenturkanku pada satu kenyataan, jiwa manusia berputar seperti dunia.
Lalu dunia bagiku berwarna pekat. Cerahnya sulit kudapati lagi. Bertambah buruk. Dunia jadi tak semestinya, padahal aku berpijak diatasnya. Aku bingung. Seperti dari awal mengenal hidup. Berusaha menerima lagi dunia. Tentang manusia-tumbuhan-hewan. Bulan-bintang yang bergantian waktu dengan matahari untuk menemani bumi, yang sepertinya tak pernah sendiri. Semua dari awal lagi kuamati.
Kuingat saat persahabatanku dengan seorang yang istimewa. Babe. Begitu ia ingin dipanggil. Sebetulnya ia tampan, tapi ia lebih senang dibilang cantik. Mungkin memang lebih cocok begitu, melihat gerak dan geriknya, caranya bicara, cara merawat tubuh, lebih halus dari perempuan manapun.
Babe sangat sensitif. Meskipun jago membuat lelucon dan selalu mampu menghangatkan suasana, ia tetap minder karena tak sama. Merasa berada dalam garis tidak normal, di masyarakat. Tapi kami bersahabat.
“Ju, apa sih yang membuatmu tertarik pada seorang pria?!” tanya Babe suatu ketika.
“Yah, pasti pribadinya lah.. secara keseluruhan.” Jawabku agak bingung.
“Betul, Ju?! Aneh ya.. kalau aku suka dadanya, bokongnya… pokoknya secara fisik, jantan dan macho!”
Kata-kata Babe buat aku terhenyak. Babe suka laki-laki? Apakah mungkin ada laki-laki menyukainya.
“Kenapa Ju?! Kamu bingung ya. Yah, itulah keberuntunganmu dan kesialanku. Kamu adalah wanita tulen, dan kamu bisa menyukai laki-laki manapun dan kemungkinan untuk berbalik disukai sangat besar. Sedang aku,… hanya sedikit laki-laki yang menyukai sesama jenis, rasanya tak mungkin bagiku untuk mendapatkan cinta sejati.”
“Ah, siapa bilang,” hiburku tak yakin waktu itu. ”Pasti karna kamu saja yang belum tahu banyak tentang orang-orang sepertimu dan dunianya. Eh, berarti kamu masih perawan dong.”
Babe tersipu, lalu akhirnya tertawa keras. “Iya, betul juga ya…”
Begitulah sampai akhirnya ia berminat masuk dalam kelompok paduan suara kampus yang kuikuti. Awalnya kedatangan Babe sempat membuat teman-teman merasa aneh. Tapi kemauannya yang tinggi, serta kemampuannya untuk mengikuti latihan-latihan vokal yang diajarkan, membuktikan ia mampu bernyanyi dengan baik. Teman-teman jadi terbiasa dan menerimanya dalam barisan Tenor, setidaknya Babe menerima.
Merasa tertekan di kelompok Tenor yang bukan dirinya, Babe lebih tertarik untuk masuk kelompok suara Sopran. Sopran?! Tentu saja tak mungkin. Tapi lagi-lagi Babe berusaha membuktikan bahwa jenis suaranya adalah Sopran dan bukan Tenor. Kami memberinya kebebasan. Lagipula, suaranya bisa homogen dengan suara kami, para wanita yang berada dalam kelompok Sopran. Meski awalnya berat, semua anggota setuju pada akhirnya. Apalagi Dio, tak keberatan.
Dio kekasihku. Ia seorang pemain piano dan penata musik yang cukup dikenal di kotaku. Jam terbangnya sangat tinggi. Kehadirannya dapat mengembangkan kualitas kelompok. Ia memiliki karisma, hingga prosentase kehadiran anggota selalu lengkap. Mereka takut ketinggalan materi.
Dio begitu hangat dan memukau. Aku bangga menjadi kekasihnya. Meskipun, dalam satu tahun kebersamaan kami, hanya sedikit tentang Dio yang aku tahu. Mungkin karena ia sangat menjunjung tinggi privacy seseorang.
Dio hampir tak pernah memeluk, mencium, ia terlalu kaku untuk melakukan hal-hal seperti itu. Menurutnya karena ia sangat menghargai wanita, sehingga ia harus berhati-hati. Meski aku ini pacarnya, ia tak ingin berlaku sembarangan. Takut jika aku merasa dilecehkan.
Jika aku iseng mencium pipinya yang terang, ia akan tersentak kaget dan diam. Entah malu, entah merasa risih, entah marah karna tersinggung, entahlah…yang jelas ia tak suka bersikap mesra di depan umum.
Yah, mungkin profesinya yang membuatnya harus bersikap sangat hati-hati. Meski tetap saja aku merasa ada yang kurang dalam kedekatan ini, rasa banggaku pada sikap profesional yang dimilikinya menentramkan aku.
Ini adalah demi impiannya. Satu hal jelas, ia sering mengungkapkan kata cinta yang entah berlebihan atau tidak, ia tuliskan lembut pada dahiku, dan menanamkannya pada akar rambutku. Bukan mataku.
Lalu. Tiba-tiba musim bunga berpindah ke tempat lain. Lebah dan kupu-kupu berganti menjadi lalat penebar penyakit. Embun coklat kehitaman tiduran diatas daun yang mengering. Matahari keterlaluan mengeluarkan cahaya. Berlebihan mengirimkan panasnya. Awan menjadi terlalu putih. Tak dapat kulihat biru langit. Tapi yang kulihat tanah yang dahaga, berkerut meminta air mata langit. Inilah kenyataan itu. Hinggap pada tangkai batinku. Kelu.
Dio, memutuskan hubungannya denganku dengan ‘sikap’ yang profesional. Sangat tenang dan anggun. Tak kelihatan cinta dihatinya untukku. Perasaanku berhenti pada orang ketiga yang katanya ia cinta. Cinta.
Dio, mencintai orang ini, yang memaksaku menerima jiwa manusia di dunia yang berputar. Laki-laki yang pernah aku cintai selama lebih dari ratusan babak hidupku mencintai laki-laki lain. Laki-laki, feminin. Sobat istimewaku. Babe.
Aku ingin menghirup kesadaranku. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Marah. Sedih. Gembira. Menangis. Dendam. Bersyukur. Kesal. Maka aku tertawa… aku telah dipermainkan dunia yang berputar. Aku telah dipermainkan oleh jiwa manusia didalamnya. Bersama hujan aku tertawa. Sepanjang waktu… aku tertawa,…
“Aku tidak setuju dia masuk dalam kelompok Sopran!” hardikku pada Dio lima puluh enam hari setelah kami berpisah, menuntutnya untuk memikirkan kembali posisi Babe pada kelompok suara Sopran.
“Ayolah Ju, ada apa?! Kamu kan sebelumnya tidak keberatan. Ingat, pendapatmu sangat berpengaruh.”
“Kita menghadapi kejuaraan Paduan Suara Tingkat Nasional!”
“Kuharap keberatanmu ini bukan karena hubungan kita yang…”
“Tidak! Tidak! Sama sekali bukan itu,” potongku emosi. ”Aku tak peduli lagi pada hal itu, jangan diungkit lagi, kau sudah tidak ada. Jadi jangan lagi bicara soal itu!” Aku jengah. Aku tak bisa bayangkan jika harus cemburu dengan….Babe.
“Maaf.”
Hening.
“Sudah. Aku sudah mulai menerima keadaan. Jangan bicara lagi tentang ini.”
“Aku pelatih kalian, aku yang menentukan, dan suara Babe cukup bisa mengimbangi suara kalian.”
“Aku tahu Babe. Dia selalu mampu bagimu. Tapi,.. maaf,.. ia bukan wanita. Ingat, ini untuk kejuaraan bergengsi. Aku tak keberatan jika untuk hiburan, atau konser. Tapi ini kejuaraan.”
“Kenapa memangnya dengan kejuaraan?”
“Dio, jangan katakan kau tidak tahu aturan kejuaraan paduan suara pada umumnya, kau pelatih berpengalaman. Meski kita bisa menerima Babe, tapi bagaimana dengan peserta kelompok paduan suara lain, terutama juri! Bisa saja nilai kita hancur karena seorang pria masuk sopran. Dan, apakah ini adil bagi kelompok lain. Bisa saja untuk lomba berikutnya banyak pria masuk sopran karena kekurangan personil wanita dan hal itu disebabkan oleh kelompok kita.“
“Sopran bukan jenis kelamin, tetapi jenis suara! Suara Babe adalah Sopran. Titik.” Dio bersikeras menentangku dan matanya menusuk bola hitam pada mataku.
“Sopran adalah jenis suara tinggi. Wanita!” seruku menekan kata ‘wanita’. Aku ganti bercermin pada matanya. Jengkel.
“Kita tak akan pernah tahu reaksi mereka jika kita tidak melakukannya. Toh kita tampil bukan semata-mata untuk menjadi juara. Dari sini kita akan tahu perkembangan dunia seni paduan suara.”
“Jadi maksudmu, kau akan menjadikan kelompok kita sebagai alat untuk memancing reaksi mereka?! Kita bertaruh untuk ambisimu yang konyol itu, ha?! Jika memang begitu, aku adalah orang pertama yang akan mundur dari kelompok ini. Aku tidak sudi, berlatih keras mengorbankan suara untuk sesuatu yang mendekati seratus persen sia-sia. Silahkan kau jelaskan sendiri pada kawan-kawan kita.”
“Kalian tenang saja karna aku tidak akan ikut lomba ini sebagai penyanyi.” sebuah suara lain muncul diantara kami, suara lembut dan kemayu. “Suaraku sopran, dan akan tetap begitu. Jika dapat menyelamatkan lomba ini, aku bersedia mundur. Kau harus tetap disana, Ju! Aku akan mengurus penampilan kalian. Setuju?!” suara Babe yang tenang justru mengagetkanku. Ia mendengarkan perdebatan kami sedari tadi. Aku tak peduli. Ini malah kebetulan, biar Babe tahu gejolak ini.
“Setuju.” Jawabku setenang mungkin, dan kutinggalkan mereka berdua.
Yah, segalanya menjadi beres sementara ini. Meski kutahu Babe ingin sekali ikut bernyanyi, aku tak peduli. Kami tetap berbicara seperti biasa untuk hal-hal yang menyangkut persiapan lomba ini. Babe selalu hadir menemani kami latihan. Membawakan makanan dan minuman. Mendengarkan suara kami dari jauh dan memberikan pendapat mengenai hal itu. Ia juga merancang seragam yang akan kami pakai.
Biar saja. Dio telah membuat aku begitu takut berhubungan dengan lawan jenis. Aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku harus berhati-hati memilih teman laki-laki. Aku takut terjebak. Hah. Mungkinkah aku trauma. Tapi melihat Babe dan Dio sering bersama, membuatku teringat detik per detik hubunganku dengan Dio. Hih. Aku tidak tahu harus bagaimana menghapus kenangan ini.
Sungguh. Aku tak cemburu pada Babe. Hanya merasa aneh. Dunia Babe, dan kini Dio, sangat berbeda. Hal baru yang membelalakkan mataku. Hingga dalam kesadaran aku melihat warna putihnya pelangi.
Aku tak bisa mencintai seorang homoseksual, meskipun aku pernah merasa mencintainya. Ah, menyadari bahwa aku pernah mencintai pria gay, membuat perasaanku begitu gamang. Selama ini hanya ada dalam buku yang kubaca dengan terheran-heran.
Namun. Aku telah belajar menerima dunia sebagaimana adanya. Apapun, aku tetap menghargai Dio, Babe, dan kerja kerasnya. Mereka manusia berkualitas. Punya nilai, arti, dan makna tersendiri dalam hidup yang mereka jalani.
Lomba paduan suara tingkat nasional termasuk pertandingan yang bergengsi. Dengan dua lagu wajib dan satu lagu bebas ciptaan Dio, malam itu menjadi milik kami. Kami menerima tiga piala atas prestasi yang kami raih. Juara II, penghargaan The Best Performance, dan Juara Favorit.
Babe layak menerima penghargaan itu. The Best Performance. Ini adalah prestasi Babe. Hasil usaha dan kerja kerasnya mampu membuat penampilan kami memukau. Tapi wajah Babe hanya sedikit sinarnya. Semua penonton riuh bertepuk tangan. Pertama, semoga karena prestasi kami. Kedua, pasti karena Babe. Laki-laki tinggi langsing berwajah cantik yang berjalan kemayu bak peragawati naik ke pentas. Berbicara soal proses kreatif hingga kami juara. Pemandangan langka.
“Selamat dan terima kasih, kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ucapku tulus pada Babe.
“Yah, itu demi kelompok kita.” jawab Babe yang terlihat lebih diam malam itu.
“Kau hebat, rancanganmu banyak dikagumi, kau pasti bangga.”
“Begitu menurutmu? Terima kasih, tapi aku tidak terlalu bangga.”
“Kenapa?”
“Aku ingin berbeda. Aku ingin orang mengenalku sebagai Soprano.”
“Sebegitu pentingkah hal ini bagimu?!” aku heran Babe masih mengungkit masalah ini.
“Ya. Sangat. Aku butuh pengakuan, bahwa aku ini bukan laki-laki. Meski secara fisik bukan wanita, tapi hasratku, pikiranku, perasaanku, keinginanku, segala yang ada pada tubuhku selain kelamin dan bentuk dadaku, adalah milik wanita. Jiwaku seperti milikmu, aku ingin menunjukkan bahwa akupun mampu melakukan hal yang kalian para wanita dapat lakukan. Bernyanyi dengan suara Sopran. Suaraku Sopran!”
“Maafkan aku, jika telah menyakiti perasaanmu. Ini membingungkanku.”
“Tidak, aku mengerti. Kau melakukan ini demi keberhasilan kelompok. Aku akan berusaha sendiri, membuktikan bahwa aku mampu. Kau berbeda dunia denganku, maka kupahami jika kau butuh waktu untuk menerima orang seperti kami. Mungkin kau memandangku berlebihan. Tetapi Ju, awalnya ini sama sekali bukan pilihan hidupku, aku terlahir seperti ini, dan akan selamanya seperti ini. Jika pada akhirnya aku harus memilih, maka aku tak bisa memungkirinya. Aku wanita.”
“Maaf. Terkadang aku masih merasa janggal.”
“Ya. Aku paham. Aku biasa menjadi orang yang ditolak dan diasingkan. Ditertawakan dan dicemooh. Direndahkan dan dijauhi. Keluarga. Saudara. Kawan-kawanku. Dulu, aku hanya berharap kau tidak termasuk di dalamnya. Kau dan kelompok paduan suara kita, menerimaku apa adanya. Aku menemukan diriku hidup disana. Aku menjadi pribadi yang percaya diri, dan akhirnya untuk pertama kali, aku menemukan diriku berguna sebagai makhluk hidup.”
“Begitukah? Lalu ternyata aku meremukkan perasaanmu, harga dirimu, tidak membiarkanmu bernyanyi di barisan sopran saat kejuaraan tadi.”
“Tidak. Jangan bilang begitu. Aku memahami posisimu. Toh aku tetap berguna dan berprestasi. Bukan masalah, aku ikut kejuaraan sebagai penyanyi atau bukan. Sungguh. Aku hanya terpaksa menerima kenyataan, bahwa ruangku terbatas. Seorang waria menjadi penyanyi seriosa yang bersuara sopran, adalah hal yang tidak mudah. Maka, aku akan berjuang untuk mewujudkannya.”
“Kau ingin aku bagaimana?”
“Seperti sebelumnya, Ju. Kita bersahabat. Bercanda seperti biasa. Saling mendengarkan keluh kesah dan bertukar ide. Atau, kau merasa jijik?!”
“Jijik? Denganmu?! Tidak akan, Babe. Sungguh. Hanya saja, aku masih kaget waktu Dio bilang mencintaimu.”
“Maafkan kami. Maafkan aku.” Babe tertunduk dihadapanku.
“Bantu aku membenahi hatiku.”
“Aku bantu. Trimakasih ya say..” Babe mencium pipiku.
“Kau janji tidak akan menertawakan suratku?!” tanya Babe empat puluh sembilan menit lalu dengan tatapan kuatir. Di tangannya tergenggam sebuah amplop biru muda yang segera diserahkan padaku.
“Tidak ada yang akan menertawakanmu. Sebaliknya, tulisan ini akan menjadi kenangan yang indah. Kelak, jika kau kembali ke Indonesia, kau akan selalu ingat kenangan yang kau titipkan disini.”
“Terimakasih. Terimakasih karna menjadi sahabatku. Terimakasih karna berusaha memahami dan menerima, tidak keberatan dengan perbedaanku. Terimakasih.” Babe merangkulku. Dari matanya, kulihat setitik air menetes meresap di lengan bajuku.
“Terimakasih juga Babe. Karena mengenalmu, aku memahami dunia baru. Mengerti bagaimana cara menghargai kehidupan. Karena mengenalmu, kesulitanku menjadi tak ada artinya. Karena memahamimu, aku menyadari bahwa manusia yang memiliki kehidupan sepertimu adalah sama nilainya. Terima kasih.”
Kami berpisah. Babe pergi bersama Dio yang merangkulnya mesra. Aku tak lagi merasa aneh dengan pemandangan ini. Aku menghargai pilihan hidup mereka kini. Mereka memilih tinggal di luar negeri sebagai tempat hidup mereka, untuk hidup bersama. Tak terpisahkan. Dan Babe, mulai menemukan jalan kebebasannya. Tinggalkan segala hal yang selama ini menolaknya.
Aku sendiri kini. Duduk di salah satu sudut bandara, kubaca tulisan Babe. Sepenuh hati…
Semarang berembun dingin, Maret 2004
Jelaga malam lepas satu satu
menempeli dinding rahim ibu.
Biru kelabu.
Berbentuk aku.
Alam sepakat menamaiku lelaki,
sedang diantara bunga dan belati,
rohku memilih bunga dalam tubuh yang belati.
Hasratku mati suri
tertimbun ilalang menjalar, mengunci,
pada sebuah ruang aneh, dan ngeri
berbau maskulin.
…………
Kuikuti hidupku dalam bayang seorang asing bernama Bobby. Siapapun telah menentukan aku adalah pria, dalam sekali panggilan; Bob!! Bob Tutupoli. Bob Marley. Bobo. Bobby… Aku jengah dengan nama ini, nama yang sepanjang hidup harus kupakai. Jelaga malam telah membentukku seperti ini. Tapi alam menamaiku lelaki. Dan mereka terus memanggili ‘Bobby’,’Bobby’… pada tubuh yang kutempati.
Aku sungguh merasa terjebak di dunia. Bapak, kakak-adik, kakek-nenek, tak terlalu ingin mendekatiku. Tak menanyai perasaanku. Tak memberikan sebentuk kebebasan.
Hanya ibu. Bersedia mendekatiku. Menanyai perasaanku. Meski sama dengan lainnya. Tak memberiku sebentuk kebebasan. Aku tetaplah lelaki. Harus lelaki. Hingga bingung dan benci menjalari nafasku tiap detik, kuhembuskan kuat pada segala ruang yang kujumpai. Rumah. Sekolah. Tubuh. Tak bisakah mereka memanggiliku dengan,… Babby?!
Dimanapun aku berada, banyak mata tertuju padaku. Saling berbisik, mengganggui telingaku. Beberapa yang bergerombol, tak segan meneriakiku lancang “Hei, banci!!!”seolah aku adalah maling. Maka, tak ada orang yang mau berjalan denganku. Ibu hanya sesekali. Tapi tetap kulihat wajahnya yang menahan malu. Aku bukan kebanggaan. Aku sampah yang menempeli wajah keluargaku sepanjang waktu.
Lalu kebebasan mulai sedikit menghampiri ketika aku lulus SMU. Kebebasan hanya dalam arti bisa pulang lebih larut di bawah bendera kegiatan mahasiswa. Kebebasan di luar rumah. Artinya, aku bebas mencari-menemukan diriku, tanpa mereka tahu. Bebas menentukan pilihanku. Tentu saja mereka mengharuskan aku kuliah. Jadi sarjana. Bukan sekolah kecantikan, bukan tata boga, bukan perancang mode. Bukan jenis itu!
Segala pengetahuan yang kudapat tentang diriku mulai merajai pikiranku hingga kuberhasil menerima diri. Dalam roh yang kupangku, mau tak mau kusadari, aku memang tergolong banci, aku masuk dalam kategori waria. Hanya saja aku tak suka berdandan terlalu mencolok. Untuk saat ini, aku belum ingin menggunakan pakaian wanita. Kelak, jika aku telah lepas dari keluargaku, aku akan melakukannya. Kan kulakukan apapun keinginanku, termasuk…operasi ganti kelamin. Aku tak mau lagi kecil hati dalam kebingungan yang melata. Aku ingin berarti. Aku ingin menjadi diriku.
Beruntung aku, tak kesulitan mencari teman. Terutama teman wanita yang tak menjauhiku. Aku bisa belajar banyak dari mereka. Tentang kewanitaan. Cara berjalan, berdandan, berbicara, segalanya! Mereka, para wanita, seolah mengucap selamat datang yang menganga. Aku wanita! Feminin! Cantik! Mereka tak curiga dan tak canggung berganti pakaian saat aku ada. Mereka menerimaku. Aku wanita juga!
Aku bahagia di kampus. Hidupku baru dan utuh. Bahkan mereka menyapaku; Halo Babe! Mereka menerimaku. Memujiku. Melihat kelebihanku. Mereka bangga berjalan di dekatku. Cantik. Menarik. Cerdas. Itulah Babe! mereka memanggiliku Babe!
Begitulah. Siapa tidak tahu dengan Babe! Seisi kampus tahu. Tinggi langsing semampai dengan celana jeans dan baju ketat lengan pendek yang menampilkan garis tubuh aduhai, milik wanita. Rambut coklat dan wajah indo, bibir merah lembab. Kulit putih bersih, jemari panjang dan lentik. Suara lembut kemayu. Banyak pria akan tertarik padaku. Yah, tentunya pria-pria tertentu yang – kuanggap – berani mengaku.
Mungkin karena jaman begini modern, sehingga tak seorangpun di kampus keberatan dengan keberadaanku. Meski aku masih sebal dengan kartu mahasiswa milikku yang bertuliskan laki-laki pada kolom jenis kelamin. Seharusnya waria. Atau gay. Tetap saja hanya boleh ada pria dan wanita yang diterima bumi ini. Seharusnya aku ini ‘mahasiswaria’ atau ‘mahasisgay’. Untungnya aku tak terlalu peduli. Bagiku, asal aku bisa berkembang dengan caraku. Selesai.
Maka kuikuti aktifitas kampus. Koran kampus, aku tak tertarik. Pencinta alam, apalagi. Kegiatan religi, akan membuat aku jadi pusat perhatian. Apalagi sebagian besar anggotanya berasal dari fakultas psikologi, bisa-bisa aku dikerubuti untuk dijadikan bahan analisa kasus mereka.
Mahasiswa psikologi memang dikenal paling suka menilai orang, lalu menggolongkannya dalam dua bagian. Normal. Tidak normal. Hal yang tidak normal sangat menarik bagi mereka. Aku, termasuk yang sangat menarik bagi mereka. Hah.
Akhirnya kupilih masuk dalam kelompok paduan suara universitas. Semua orang bersahabat. Aku dimasukkan dalam kelompok tenor. Aku merasa terkekang. Bukankah seharusnya suaraku masuk dalam barisan Sopran?! Tak ada yang salah dengan suaraku. Aku tak bisa nyaman berada dalam kelompok tenor. Suaraku tinggi. Lumayan bening. Tak kalah dengan suara wanita. Maka aku ingin masuk kelompok suara sopran.
Bagusnya, mereka ikuti apa mauku. Jadilah aku anggota bersuara sopran. Hingga semua orang kagum. Benarkah? Aku tak yakin lagi. Tapi aku tak peduli. Karena bagiku, yang terpenting adalah kebebasan menjadi seseorang… itulah babak kebahagiaan hidupku.
Kutahu, pada akhirnya aku harus memahami keterbatasanku, meski tetap tak mau berhenti karena keterbatasanku. Maka kuputuskan untuk memilih masa depanku, karna keluargaku masih malu memilikiku. Hingga kesempatan itu tiba.
Tentang Dio, aku sungguh tak sangka. Dio tak canggung memelukku. Menciumku. Ia tampan dan maskulin bukan? Ia jatuh cinta padaku. Kami sangat menikmati hubungan kami ini. Ia mengerti keresahan hatiku. Ia berjanji untuk mengajakku ke Eropa, untuk mengembangkan bakatku. Kami akan hidup bersama, dan aku berencana mengubah beberapa hal. Kewarganegaraanku. Identitasku. Jenis kelaminku,….
Semua seperti mimpi. Tak kusangka akhirnya aku menemukan cinta. Aku beruntung. Sungguh bahagia bisa merasakan ada seseorang yang begitu peduli dan selalu menjagaku. Ini adalah hal istimewa. Sungguh. Aku harus berkembang. Harus. Seperti bunga di gurun pasir, sanggup memunculkan warnanya. Seperti bintang di gelap malam, sanggup memunculkan sinarnya. Walau hanya sedikit, tak mengapa.
Aku hanya ingin bernyanyi dan bernyanyi. Dengan suara sopranku,.. diiringi alunan musik indah. Aku tak peduli apa yang terjadi kelak. Aku hanya ingin bernyanyi, dengan suara sopran yang kumiliki. Menggapai nada-nada tinggi, dengan suara bening milikku. Sampai semua orang mau mengakui, bahwa jenis suara Babe adalah sopran. Yah… Jenis suara tinggi, milik wanita..
Aku merasakan kerinduan Babe. Ingin lepas dari segala ketakberdayaan. Atas sebuah kehidupan yang dilemparkan Tuhan padanya. Kukagumi usaha Babe untuk meraih keyakinan.
Perjalananku tak seberat Babe, yang jatuh bangun mengenal artinya menerima. Aku belum seberani Babe. Memilih untuk menerima kehidupan yang telah disediakan. Lalu menjalani apa adanya. Berusaha bergembira diatasnya.
Ah, Babe. Kutunggu kabar darimu. Nyanyikanlah aku dengan suara milikmu. Suara sopran yang muncul dari keyakinanmu. Yang nadanya menyentuh dinding langit yang biru, meneriakkan pada dunia bahwa kau ada. Kau berarti. Kau juga manusia.
Kulipat tulisan Babe yang belum selesai kubaca. Aku akan melanjutkannya nanti. Angin sore menarikku pergi. Aku pulang, meninggalkan semua kenangan yang masih saja bersamaku. Semangat dan harapan bergantian temani langkah hatiku.
Aku masih sendiri.

