RSS

Arsip Kategori: cerpen

Suaraku Sopran

Gambar:http://www.richard-seaman.com/Wallpaper/USA/Seasons/ChicagoGayParade.jpg

Gambar:http://www.richard-seaman.com/Wallpaper/USA/Seasons/ChicagoGayParade.jpg

Kutemui ia dalam kecantikan yang kubenci. Perilaku berlebihan sekaligus menuntut perasaan untuk dikasihani. Adalah Bobby. Tapi semua orang memanggilnya Babe. Cantik. Dan ia lelaki. Ia yang membenturkanku pada satu kenyataan, jiwa manusia berputar seperti dunia.

Lalu dunia bagiku berwarna pekat. Cerahnya sulit kudapati lagi. Bertambah buruk. Dunia jadi tak semestinya, padahal aku berpijak diatasnya. Aku bingung. Seperti dari awal mengenal hidup. Berusaha menerima lagi dunia. Tentang manusia-tumbuhan-hewan. Bulan-bintang yang bergantian waktu dengan matahari untuk menemani bumi, yang sepertinya tak pernah sendiri. Semua dari awal lagi kuamati.

Kuingat saat persahabatanku dengan seorang yang istimewa. Babe. Begitu ia ingin dipanggil. Sebetulnya ia tampan, tapi ia lebih senang dibilang cantik. Mungkin memang lebih cocok begitu, melihat gerak dan geriknya, caranya bicara, cara merawat tubuh, lebih halus dari perempuan manapun.

Babe sangat sensitif. Meskipun jago membuat lelucon dan selalu mampu menghangatkan suasana, ia tetap minder karena tak sama. Merasa berada dalam garis tidak normal, di masyarakat. Tapi kami bersahabat.

“Ju, apa sih yang membuatmu tertarik pada seorang pria?!” tanya Babe suatu ketika.

“Yah, pasti pribadinya lah.. secara keseluruhan.” Jawabku agak bingung.

“Betul, Ju?! Aneh ya.. kalau aku suka dadanya, bokongnya… pokoknya secara fisik, jantan dan macho!”

Kata-kata Babe buat aku terhenyak. Babe suka laki-laki? Apakah mungkin ada laki-laki menyukainya.

“Kenapa Ju?! Kamu bingung ya. Yah, itulah keberuntunganmu dan kesialanku. Kamu adalah wanita tulen, dan kamu bisa menyukai laki-laki manapun dan kemungkinan untuk berbalik disukai sangat besar. Sedang aku,… hanya sedikit laki-laki yang menyukai sesama jenis, rasanya tak mungkin bagiku untuk mendapatkan cinta sejati.”

“Ah, siapa bilang,” hiburku tak yakin waktu itu. ”Pasti karna kamu saja yang belum tahu banyak tentang orang-orang sepertimu dan dunianya. Eh, berarti kamu masih perawan dong.”

Babe tersipu, lalu akhirnya tertawa keras. “Iya, betul juga ya…”

Begitulah sampai akhirnya ia berminat masuk dalam kelompok paduan suara kampus yang kuikuti. Awalnya kedatangan Babe sempat membuat teman-teman merasa aneh. Tapi kemauannya yang tinggi, serta kemampuannya untuk mengikuti latihan-latihan vokal yang diajarkan, membuktikan ia mampu bernyanyi dengan baik. Teman-teman jadi terbiasa dan menerimanya dalam barisan Tenor, setidaknya Babe menerima.

Merasa tertekan di kelompok Tenor yang bukan dirinya, Babe lebih tertarik untuk masuk kelompok suara Sopran. Sopran?! Tentu saja tak mungkin. Tapi lagi-lagi Babe berusaha membuktikan bahwa jenis suaranya adalah Sopran dan bukan Tenor. Kami memberinya kebebasan. Lagipula, suaranya bisa homogen dengan suara kami, para wanita yang berada dalam kelompok Sopran. Meski awalnya berat, semua anggota setuju pada akhirnya. Apalagi Dio, tak keberatan.

Dio kekasihku. Ia seorang pemain piano dan penata musik yang cukup dikenal di kotaku. Jam terbangnya sangat tinggi. Kehadirannya dapat mengembangkan kualitas kelompok. Ia memiliki karisma, hingga prosentase kehadiran anggota selalu lengkap. Mereka takut ketinggalan materi.

Dio begitu hangat dan memukau. Aku bangga menjadi kekasihnya. Meskipun, dalam satu tahun kebersamaan kami, hanya sedikit tentang Dio yang aku tahu. Mungkin karena ia sangat menjunjung tinggi privacy seseorang.

Dio hampir tak pernah memeluk, mencium, ia terlalu kaku untuk melakukan hal-hal seperti itu. Menurutnya karena ia sangat menghargai wanita, sehingga ia harus berhati-hati. Meski aku ini pacarnya, ia tak ingin berlaku sembarangan. Takut jika aku merasa dilecehkan.

Jika aku iseng mencium pipinya yang terang, ia akan tersentak kaget dan diam. Entah malu, entah merasa risih, entah marah karna tersinggung, entahlah…yang jelas ia tak suka bersikap mesra di depan umum.

Yah, mungkin profesinya yang membuatnya harus bersikap sangat hati-hati. Meski tetap saja aku merasa ada yang kurang dalam kedekatan ini, rasa banggaku pada sikap profesional yang dimilikinya menentramkan aku.

Ini adalah demi impiannya. Satu hal jelas, ia sering mengungkapkan kata cinta yang entah berlebihan atau tidak, ia tuliskan lembut pada dahiku, dan menanamkannya pada akar rambutku. Bukan mataku.

Lalu. Tiba-tiba musim bunga berpindah ke tempat lain. Lebah dan kupu-kupu berganti menjadi lalat penebar penyakit. Embun coklat kehitaman tiduran diatas daun yang mengering. Matahari keterlaluan mengeluarkan cahaya. Berlebihan mengirimkan panasnya. Awan menjadi terlalu putih. Tak dapat kulihat biru langit. Tapi yang kulihat tanah yang dahaga, berkerut meminta air mata langit. Inilah kenyataan itu. Hinggap pada tangkai batinku. Kelu.

Dio, memutuskan hubungannya denganku dengan ‘sikap’ yang profesional. Sangat tenang dan anggun. Tak kelihatan cinta dihatinya untukku. Perasaanku berhenti pada orang ketiga yang katanya ia cinta. Cinta.

Dio, mencintai orang ini, yang memaksaku menerima jiwa manusia di dunia yang berputar. Laki-laki yang pernah aku cintai selama lebih dari ratusan babak hidupku mencintai laki-laki lain. Laki-laki, feminin. Sobat istimewaku. Babe.

Aku ingin menghirup kesadaranku. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Marah. Sedih. Gembira. Menangis. Dendam. Bersyukur. Kesal. Maka aku tertawa… aku telah dipermainkan dunia yang berputar. Aku telah dipermainkan oleh jiwa manusia didalamnya. Bersama hujan aku tertawa. Sepanjang waktu… aku tertawa,…

“Aku tidak setuju dia masuk dalam kelompok Sopran!” hardikku pada Dio lima puluh enam hari setelah kami berpisah, menuntutnya untuk memikirkan kembali posisi Babe pada kelompok suara Sopran.

“Ayolah Ju, ada apa?! Kamu kan sebelumnya tidak keberatan. Ingat, pendapatmu sangat berpengaruh.”

“Kita menghadapi kejuaraan Paduan Suara Tingkat Nasional!”

“Kuharap keberatanmu ini bukan karena hubungan kita yang…”

“Tidak! Tidak! Sama sekali bukan itu,” potongku emosi. ”Aku tak peduli lagi pada hal itu, jangan diungkit lagi, kau sudah tidak ada. Jadi jangan lagi bicara soal itu!” Aku jengah. Aku tak bisa bayangkan jika harus cemburu dengan….Babe.

“Maaf.”

Hening.

“Sudah. Aku sudah mulai menerima keadaan. Jangan bicara lagi tentang ini.”

“Aku pelatih kalian, aku yang menentukan, dan suara Babe cukup bisa mengimbangi suara kalian.”

“Aku tahu Babe. Dia selalu mampu bagimu. Tapi,.. maaf,.. ia bukan wanita. Ingat, ini untuk kejuaraan bergengsi. Aku tak keberatan jika untuk hiburan, atau konser. Tapi ini kejuaraan.”

“Kenapa memangnya dengan kejuaraan?”

“Dio, jangan katakan kau tidak tahu aturan kejuaraan paduan suara pada umumnya, kau pelatih berpengalaman. Meski kita bisa menerima Babe, tapi bagaimana dengan peserta kelompok paduan suara lain, terutama juri! Bisa saja nilai kita hancur karena seorang pria masuk sopran. Dan, apakah ini adil bagi kelompok lain. Bisa saja untuk lomba berikutnya banyak pria masuk sopran karena kekurangan personil wanita dan hal itu disebabkan oleh kelompok kita.“

“Sopran bukan jenis kelamin, tetapi jenis suara! Suara Babe adalah Sopran. Titik.” Dio bersikeras menentangku dan matanya menusuk bola hitam pada mataku.

“Sopran adalah jenis suara tinggi. Wanita!” seruku menekan kata ‘wanita’. Aku ganti bercermin pada matanya. Jengkel.

“Kita tak akan pernah tahu reaksi mereka jika kita tidak melakukannya. Toh kita tampil bukan semata-mata untuk menjadi juara. Dari sini kita akan tahu perkembangan dunia seni paduan suara.”

“Jadi maksudmu, kau akan menjadikan kelompok kita sebagai alat untuk memancing reaksi mereka?! Kita bertaruh untuk ambisimu yang konyol itu, ha?! Jika memang begitu, aku adalah orang pertama yang akan mundur dari kelompok ini. Aku tidak sudi, berlatih keras mengorbankan suara untuk sesuatu yang mendekati seratus persen sia-sia. Silahkan kau jelaskan sendiri pada kawan-kawan kita.”

“Kalian tenang saja karna aku tidak akan ikut lomba ini sebagai penyanyi.” sebuah suara lain muncul diantara kami, suara lembut dan kemayu. “Suaraku sopran, dan akan tetap begitu. Jika dapat menyelamatkan lomba ini, aku bersedia mundur. Kau harus tetap disana, Ju! Aku akan mengurus penampilan kalian. Setuju?!” suara Babe yang tenang justru mengagetkanku. Ia mendengarkan perdebatan kami sedari tadi. Aku tak peduli. Ini malah kebetulan, biar Babe tahu gejolak ini.

“Setuju.” Jawabku setenang mungkin, dan kutinggalkan mereka berdua.

Yah, segalanya menjadi beres sementara ini. Meski kutahu Babe ingin sekali ikut bernyanyi, aku tak peduli. Kami tetap berbicara seperti biasa untuk hal-hal yang menyangkut persiapan lomba ini. Babe selalu hadir menemani kami latihan. Membawakan makanan dan minuman. Mendengarkan suara kami dari jauh dan memberikan pendapat mengenai hal itu. Ia juga merancang seragam yang akan kami pakai.

Biar saja. Dio telah membuat aku begitu takut berhubungan dengan lawan jenis. Aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku harus berhati-hati memilih teman laki-laki. Aku takut terjebak. Hah. Mungkinkah aku trauma. Tapi melihat Babe dan Dio sering bersama, membuatku teringat detik per detik hubunganku dengan Dio. Hih. Aku tidak tahu harus bagaimana menghapus kenangan ini.

Sungguh. Aku tak cemburu pada Babe. Hanya merasa aneh. Dunia Babe, dan kini Dio, sangat berbeda. Hal baru yang membelalakkan mataku. Hingga dalam kesadaran aku melihat warna putihnya pelangi.

Aku tak bisa mencintai seorang homoseksual, meskipun aku pernah merasa mencintainya. Ah, menyadari bahwa aku pernah mencintai pria gay, membuat perasaanku begitu gamang. Selama ini hanya ada dalam buku yang kubaca dengan terheran-heran.

Namun. Aku telah belajar menerima dunia sebagaimana adanya. Apapun, aku tetap menghargai Dio, Babe, dan kerja kerasnya. Mereka manusia berkualitas. Punya nilai, arti, dan makna tersendiri dalam hidup yang mereka jalani.

Lomba paduan suara tingkat nasional termasuk pertandingan yang bergengsi. Dengan dua lagu wajib dan satu lagu bebas ciptaan Dio, malam itu menjadi milik kami. Kami menerima tiga piala atas prestasi yang kami raih. Juara II, penghargaan The Best Performance, dan Juara Favorit.

Babe layak menerima penghargaan itu. The Best Performance. Ini adalah prestasi Babe. Hasil usaha dan kerja kerasnya mampu membuat penampilan kami memukau. Tapi wajah Babe hanya sedikit sinarnya. Semua penonton riuh bertepuk tangan. Pertama, semoga karena prestasi kami. Kedua, pasti karena Babe. Laki-laki tinggi langsing berwajah cantik yang berjalan kemayu bak peragawati naik ke pentas. Berbicara soal proses kreatif hingga kami juara. Pemandangan langka.

“Selamat dan terima kasih, kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ucapku tulus pada Babe.

“Yah, itu demi kelompok kita.” jawab Babe yang terlihat lebih diam malam itu.

“Kau hebat, rancanganmu banyak dikagumi, kau pasti bangga.”

“Begitu menurutmu? Terima kasih, tapi aku tidak terlalu bangga.”

“Kenapa?”

“Aku ingin berbeda. Aku ingin orang mengenalku sebagai Soprano.”

“Sebegitu pentingkah hal ini bagimu?!” aku heran Babe masih mengungkit masalah ini.

“Ya. Sangat. Aku butuh pengakuan, bahwa aku ini bukan laki-laki. Meski secara fisik bukan wanita, tapi hasratku, pikiranku, perasaanku, keinginanku, segala yang ada pada tubuhku selain kelamin dan bentuk dadaku, adalah milik wanita. Jiwaku seperti milikmu, aku ingin menunjukkan bahwa akupun mampu melakukan hal yang kalian para wanita dapat lakukan. Bernyanyi dengan suara Sopran. Suaraku Sopran!”

“Maafkan aku, jika telah menyakiti perasaanmu. Ini membingungkanku.”

“Tidak, aku mengerti. Kau melakukan ini demi keberhasilan kelompok. Aku akan berusaha sendiri, membuktikan bahwa aku mampu. Kau berbeda dunia denganku, maka kupahami jika kau butuh waktu untuk menerima orang seperti kami. Mungkin kau memandangku berlebihan. Tetapi Ju, awalnya ini sama sekali bukan pilihan hidupku, aku terlahir seperti ini, dan akan selamanya seperti ini. Jika pada akhirnya aku harus memilih, maka aku tak bisa memungkirinya. Aku wanita.”

“Maaf. Terkadang aku masih merasa janggal.”

“Ya. Aku paham. Aku biasa menjadi orang yang ditolak dan diasingkan. Ditertawakan dan dicemooh. Direndahkan dan dijauhi. Keluarga. Saudara. Kawan-kawanku. Dulu, aku hanya berharap kau tidak termasuk di dalamnya. Kau dan kelompok paduan suara kita, menerimaku apa adanya. Aku menemukan diriku hidup disana. Aku menjadi pribadi yang percaya diri, dan akhirnya untuk pertama kali, aku menemukan diriku berguna sebagai makhluk hidup.”

“Begitukah? Lalu ternyata aku meremukkan perasaanmu, harga dirimu, tidak membiarkanmu bernyanyi di barisan sopran saat kejuaraan tadi.”

“Tidak. Jangan bilang begitu. Aku memahami posisimu. Toh aku tetap berguna dan berprestasi. Bukan masalah, aku ikut kejuaraan sebagai penyanyi atau bukan. Sungguh. Aku hanya terpaksa menerima kenyataan, bahwa ruangku terbatas. Seorang waria menjadi penyanyi seriosa yang bersuara sopran, adalah hal yang tidak mudah. Maka, aku akan berjuang untuk mewujudkannya.”

“Kau ingin aku bagaimana?”

“Seperti sebelumnya, Ju. Kita bersahabat. Bercanda seperti biasa. Saling mendengarkan keluh kesah dan bertukar ide. Atau, kau merasa jijik?!”

“Jijik? Denganmu?! Tidak akan, Babe. Sungguh. Hanya saja, aku masih kaget waktu Dio bilang mencintaimu.”

“Maafkan kami. Maafkan aku.” Babe tertunduk dihadapanku.

“Bantu aku membenahi hatiku.”

“Aku bantu. Trimakasih ya say..” Babe mencium pipiku.

“Kau janji tidak akan menertawakan suratku?!” tanya Babe empat puluh sembilan menit lalu dengan tatapan kuatir. Di tangannya tergenggam sebuah amplop biru muda yang segera diserahkan padaku.

“Tidak ada yang akan menertawakanmu. Sebaliknya, tulisan ini akan menjadi kenangan yang indah. Kelak, jika kau kembali ke Indonesia, kau akan selalu ingat kenangan yang kau titipkan disini.”

“Terimakasih. Terimakasih karna menjadi sahabatku. Terimakasih karna berusaha memahami dan menerima, tidak keberatan dengan perbedaanku. Terimakasih.” Babe merangkulku. Dari matanya, kulihat setitik air menetes meresap di lengan bajuku.

“Terimakasih juga Babe. Karena mengenalmu, aku memahami dunia baru. Mengerti bagaimana cara menghargai kehidupan. Karena mengenalmu, kesulitanku menjadi tak ada artinya. Karena memahamimu, aku menyadari bahwa manusia yang memiliki kehidupan sepertimu adalah sama nilainya. Terima kasih.”

Kami berpisah. Babe pergi bersama Dio yang merangkulnya mesra. Aku tak lagi merasa aneh dengan pemandangan ini. Aku menghargai pilihan hidup mereka kini. Mereka memilih tinggal di luar negeri sebagai tempat hidup mereka, untuk hidup bersama. Tak terpisahkan. Dan Babe, mulai menemukan jalan kebebasannya. Tinggalkan segala hal yang selama ini menolaknya.

Aku sendiri kini. Duduk di salah satu sudut bandara, kubaca tulisan Babe. Sepenuh hati…

Semarang berembun dingin, Maret 2004

Jelaga malam lepas satu satu

menempeli dinding rahim ibu.

Biru kelabu.

Berbentuk aku.

Alam sepakat menamaiku lelaki,

sedang diantara bunga dan belati,

rohku memilih bunga dalam tubuh yang belati.

Hasratku mati suri

tertimbun ilalang menjalar, mengunci,

pada sebuah ruang aneh, dan ngeri

berbau maskulin.

…………

Kuikuti hidupku dalam bayang seorang asing bernama Bobby. Siapapun telah menentukan aku adalah pria, dalam sekali panggilan; Bob!! Bob Tutupoli. Bob Marley. Bobo. Bobby… Aku jengah dengan nama ini, nama yang sepanjang hidup harus kupakai. Jelaga malam telah membentukku seperti ini. Tapi alam menamaiku lelaki. Dan mereka terus memanggili ‘Bobby’,’Bobby’… pada tubuh yang kutempati.

Aku sungguh merasa terjebak di dunia. Bapak, kakak-adik, kakek-nenek, tak terlalu ingin mendekatiku. Tak menanyai perasaanku. Tak memberikan sebentuk kebebasan.

Hanya ibu. Bersedia mendekatiku. Menanyai perasaanku. Meski sama dengan lainnya. Tak memberiku sebentuk kebebasan. Aku tetaplah lelaki. Harus lelaki. Hingga bingung dan benci menjalari nafasku tiap detik, kuhembuskan kuat pada segala ruang yang kujumpai. Rumah. Sekolah. Tubuh. Tak bisakah mereka memanggiliku dengan,… Babby?!

Dimanapun aku berada, banyak mata tertuju padaku. Saling berbisik, mengganggui telingaku. Beberapa yang bergerombol, tak segan meneriakiku lancang “Hei, banci!!!”seolah aku adalah maling. Maka, tak ada orang yang mau berjalan denganku. Ibu hanya sesekali. Tapi tetap kulihat wajahnya yang menahan malu. Aku bukan kebanggaan. Aku sampah yang menempeli wajah keluargaku sepanjang waktu.

Lalu kebebasan mulai sedikit menghampiri ketika aku lulus SMU. Kebebasan hanya dalam arti bisa pulang lebih larut di bawah bendera kegiatan mahasiswa. Kebebasan di luar rumah. Artinya, aku bebas mencari-menemukan diriku, tanpa mereka tahu. Bebas menentukan pilihanku. Tentu saja mereka mengharuskan aku kuliah. Jadi sarjana. Bukan sekolah kecantikan, bukan tata boga, bukan perancang mode. Bukan jenis itu!

Segala pengetahuan yang kudapat tentang diriku mulai merajai pikiranku hingga kuberhasil menerima diri. Dalam roh yang kupangku, mau tak mau kusadari, aku memang tergolong banci, aku masuk dalam kategori waria. Hanya saja aku tak suka berdandan terlalu mencolok. Untuk saat ini, aku belum ingin menggunakan pakaian wanita. Kelak, jika aku telah lepas dari keluargaku, aku akan melakukannya. Kan kulakukan apapun keinginanku, termasuk…operasi ganti kelamin. Aku tak mau lagi kecil hati dalam kebingungan yang melata. Aku ingin berarti. Aku ingin menjadi diriku.

Beruntung aku, tak kesulitan mencari teman. Terutama teman wanita yang tak menjauhiku. Aku bisa belajar banyak dari mereka. Tentang kewanitaan. Cara berjalan, berdandan, berbicara, segalanya! Mereka, para wanita, seolah mengucap selamat datang yang menganga. Aku wanita! Feminin! Cantik! Mereka tak curiga dan tak canggung berganti pakaian saat aku ada. Mereka menerimaku. Aku wanita juga!

Aku bahagia di kampus. Hidupku baru dan utuh. Bahkan mereka menyapaku; Halo Babe! Mereka menerimaku. Memujiku. Melihat kelebihanku. Mereka bangga berjalan di dekatku. Cantik. Menarik. Cerdas. Itulah Babe! mereka memanggiliku Babe!

Begitulah. Siapa tidak tahu dengan Babe! Seisi kampus tahu. Tinggi langsing semampai dengan celana jeans dan baju ketat lengan pendek yang menampilkan garis tubuh aduhai, milik wanita. Rambut coklat dan wajah indo, bibir merah lembab. Kulit putih bersih, jemari panjang dan lentik. Suara lembut kemayu. Banyak pria akan tertarik padaku. Yah, tentunya pria-pria tertentu yang – kuanggap – berani mengaku.

Mungkin karena jaman begini modern, sehingga tak seorangpun di kampus keberatan dengan keberadaanku. Meski aku masih sebal dengan kartu mahasiswa milikku yang bertuliskan laki-laki pada kolom jenis kelamin. Seharusnya waria. Atau gay. Tetap saja hanya boleh ada pria dan wanita yang diterima bumi ini. Seharusnya aku ini ‘mahasiswaria’ atau ‘mahasisgay’. Untungnya aku tak terlalu peduli. Bagiku, asal aku bisa berkembang dengan caraku. Selesai.

Maka kuikuti aktifitas kampus. Koran kampus, aku tak tertarik. Pencinta alam, apalagi. Kegiatan religi, akan membuat aku jadi pusat perhatian. Apalagi sebagian besar anggotanya berasal dari fakultas psikologi, bisa-bisa aku dikerubuti untuk dijadikan bahan analisa kasus mereka.

Mahasiswa psikologi memang dikenal paling suka menilai orang, lalu menggolongkannya dalam dua bagian. Normal. Tidak normal. Hal yang tidak normal sangat menarik bagi mereka. Aku, termasuk yang sangat menarik bagi mereka. Hah.

Akhirnya kupilih masuk dalam kelompok paduan suara universitas. Semua orang bersahabat. Aku dimasukkan dalam kelompok tenor. Aku merasa terkekang. Bukankah seharusnya suaraku masuk dalam barisan Sopran?! Tak ada yang salah dengan suaraku. Aku tak bisa nyaman berada dalam kelompok tenor. Suaraku tinggi. Lumayan bening. Tak kalah dengan suara wanita. Maka aku ingin masuk kelompok suara sopran.

Bagusnya, mereka ikuti apa mauku. Jadilah aku anggota bersuara sopran. Hingga semua orang kagum. Benarkah? Aku tak yakin lagi. Tapi aku tak peduli. Karena bagiku, yang terpenting adalah kebebasan menjadi seseorang… itulah babak kebahagiaan hidupku.

Kutahu, pada akhirnya aku harus memahami keterbatasanku, meski tetap tak mau berhenti karena keterbatasanku. Maka kuputuskan untuk memilih masa depanku, karna keluargaku masih malu memilikiku. Hingga kesempatan itu tiba.

Tentang Dio, aku sungguh tak sangka. Dio tak canggung memelukku. Menciumku. Ia tampan dan maskulin bukan? Ia jatuh cinta padaku. Kami sangat menikmati hubungan kami ini. Ia mengerti keresahan hatiku. Ia berjanji untuk mengajakku ke Eropa, untuk mengembangkan bakatku. Kami akan hidup bersama, dan aku berencana mengubah beberapa hal. Kewarganegaraanku. Identitasku. Jenis kelaminku,….

Semua seperti mimpi. Tak kusangka akhirnya aku menemukan cinta. Aku beruntung. Sungguh bahagia bisa merasakan ada seseorang yang begitu peduli dan selalu menjagaku. Ini adalah hal istimewa. Sungguh. Aku harus berkembang. Harus. Seperti bunga di gurun pasir, sanggup memunculkan warnanya. Seperti bintang di gelap malam, sanggup memunculkan sinarnya. Walau hanya sedikit, tak mengapa.

Aku hanya ingin bernyanyi dan bernyanyi. Dengan suara sopranku,.. diiringi alunan musik indah. Aku tak peduli apa yang terjadi kelak. Aku hanya ingin bernyanyi, dengan suara sopran yang kumiliki. Menggapai nada-nada tinggi, dengan suara bening milikku. Sampai semua orang mau mengakui, bahwa jenis suara Babe adalah sopran. Yah… Jenis suara tinggi, milik wanita..

Aku merasakan kerinduan Babe. Ingin lepas dari segala ketakberdayaan. Atas sebuah kehidupan yang dilemparkan Tuhan padanya. Kukagumi usaha Babe untuk meraih keyakinan.

Perjalananku tak seberat Babe, yang jatuh bangun mengenal artinya menerima. Aku belum seberani Babe. Memilih untuk menerima kehidupan yang telah disediakan. Lalu menjalani apa adanya. Berusaha bergembira diatasnya.

Ah, Babe. Kutunggu kabar darimu. Nyanyikanlah aku dengan suara milikmu. Suara sopran yang muncul dari keyakinanmu. Yang nadanya menyentuh dinding langit yang biru, meneriakkan pada dunia bahwa kau ada. Kau berarti. Kau juga manusia.

Kulipat tulisan Babe yang belum selesai kubaca. Aku akan melanjutkannya nanti. Angin sore menarikku pergi. Aku pulang, meninggalkan semua kenangan yang masih saja bersamaku. Semangat dan harapan bergantian temani langkah hatiku.

Aku masih sendiri.

 
Leave a comment

Posted by pada 10 Oktober 2010 in cerpen

 

FAJAR DI TEPI HATIMU

Cerita ini kupersembahkan bagi para perempuan yang berjuang mengalami kanker apapun, baik yang masih hidup, ataupun pada mereka yang telah tiada.

=====================================================


Ketika fajar tiba, kukirimkan tiupan mesra ini untukmu. Akankah kau balas angin yang membawa hatiku padamu. Jika tak lagi kau mampu tuk merasa semua keindahan yang datang bersama fajar.

Tadinya fajar adalah awal segala hari bagimu, yang kau bangun dengan segala keceriaan. Kau bawa kehangatannya masuk kedalam hati seisi rumah. Rasakan langit yang membiru, sejuknya tetes embun, juga nyanyian dedaunan yang memanjakan awal harimu. Fajar adalah harapan. Itu katamu berkali-kali.

Tapi tidak dengan fajar belakangan ini. Fajar laksana senja temaram, yang senantiasa ingin menutup harinya. Aku tak sepandai kau dalam menyongsong fajar. Apalagi jika kucoba untuk mengirimkan tiupan mesra ini. Akankah birunya langit, tetes embun, juga nyanyian dedaunan itu bersekutu denganku untuk menghangatkan lagi hatimu.

Kau katakan pada fajar, hatimu sedang beku. Kehidupan terasa hambar tak beragi. Tak berpengharapan. Absurd. Ah. Bagaimana aku bisa menghiburmu. Katakanlah padaku. Bagaimana rasa hatimu kini. Tolong, uraikan padaku satu persatu.

“Kau tak tahu rasanya..” katamu waktu itu. Apa harus kujawab, aku memang tak tahu. Tapi apa perlunya, jika aku selalu ada disisimu, mencintaimu, sampai kapanpun.

“Setelah semuanya ini, kau akan jadi berbeda, meninggalkanku. Aku harus bersiap diri untuk kehilangan segala yang kumiliki, dan kucinta.”  Katamu lagi sambil mencari arah mataku. Aku hanya menggelengkan kepalaku…tak mungkin sayang…”Jika kau masih disisiku, itu karna kau kasihan padaku. Atau karna idealismemu sebagai seorang Katekis. Atau karna hukum pernikahan kita yang tak terceraikan.”  Lanjutmu datar.

“Tidak Sayang. Aku mencintaimu seutuhnya. Apa adanya dirimu.”

“Cinta.” kau tersenyum getir. “Senang hatiku mendengar kata cinta darimu. Meski usia pernikahan kita hampir seperempat abad. Aku mrasa takjub.”

“Mengapa kau meragu. Kau kenal diriku seperti kau mengenal dirimu sendiri. Kau tahu hal yang tak kuucapkan.”

“Akankah tetap sama? Setelah semuanya nanti?” Lagi, kau mempertanyakannya.

“Ya. Selalu sama.” Aku menjawab tegas.

“Tubuhku tak lagi sempurna. Kau akan melihat hal yang menjijikkan pada tubuhku.”

“Tetap sayang. Selalu sama.”

“Kepalaku menjadi botak. Tanganku menghitam. Aku akan berada dalam krisis kepercayaan diriku.”

“Tak mengubah apapun. Kau tetap cintaku.”

“Keadaanku lemah. Tak berdaya. Aku akan merepotkan kalian. Menguras seluruh tenaga, pikiran. Batinmu tak tenang karena keadaanku.”

“Itu mungkin terjadi, tapi takkan mengubah besarnya kasihku padamu.”

“Bagaimana dengan keuangan kita? Bukankah kau sudah mulai bingung? Darimana semua biaya penderitaan ini dapat kita cari. Ekonomi keluarga kita menjadi kacau. Anak-anak kita ikut kebingungan dan terbebani. Dan, semua ini karena aku. Seorang ibu yang hanya bisa menghiasi fajar dengan keluhan.”

“Mengeluhlah sebanyak yang kau mau. Lalu menjadi kuatlah, semampu yang kau bisa. Semua ini akan kita hadapi bersama-sama. Percayalah, kita pasti bisa melaluinya.” Aku berusaha menguatkan batinmu. Tahukah kau, kesedihanku sungguh  memuncak. Akupun tak tahu, apa yang akan terjadi esok..

“Percaya dengan apa? Inikah hasil doaku? Hal mengerikan yang kini menimpaku. Mengapa Tuhan membisu. Mengapa ini juga menjadi bagianku..” Kau mulai menangis..

“Hei. Kau sendiri bilang. Dalam doa, kita akan menemukan ketenangan dan kekuatan yang kita cari. Kita berdoa bukan agar hidup kita tak punya persoalan bukan? Berdoa bukan agar segala masalah kita menjadi beres. Bukan juga agar Tuhan memberi hal yang kita inginkan. Karena  jika yang kita temui sebaliknya, kita akan mudah berputus asa, mempertanyakan keberadaan Tuhan, kebaikan, kekuasaanNya… Kita berdoa, untuk menemukan kekuatan, menjadi kuat dan semakin kuat dalam menghadapi cobaan apapun.”

“Terkadang aku takut untuk terikat dalam doa. Sebab, dengan begitu sepertinya Tuhan memberiku cobaan yang semakin besar saja untuk mengujiku.”

Kupeluk dirimu erat.. “Lalu, apakah situasi menjadi sama saja ketika kita memilih untuk tidak berdoa? Hmm? Aku yakin, masalah yang kita hadapi selalu sama besarnya. Dalam doa, manusia lebih bisa mengurai satu persatu persoalan hidupnya. Dalam keheningan jiwa, manusia menemukan dirinya dalam keterbatasan sekaligus kekuatan yang akhirnya ia temukan sendiri dalam dirinya. Inilah letak keadilan Tuhan. Bagiku, inilah yang disebut mukjizat. Keajaiban.”

“Letak keadilan Tuhan? Keajaiban?” Kau memandangku penuh. Matamu masih sembab dengan air mata.

“Dalam penderitaan, manusia akhirnya mampu menemukan makna hidupnya. Itulah keajaiban yang diberikan Tuhan. Sebuah penemuan akan makna hidup. Hal terpenting dan sangat berarti.”

“Trimakasih Pak.” sahutmu setelah terdiam beberapa saat. “Kau memang suami sekaligus bapak terindah. Aku tak kan merasa aneh, jika kau tetap setia.”

“Hei, Aku tidak main-main sewaktu mengucap janji dalam Sakramen Pernikahan kita. Bukan semata-mata karena hukum Gereja, ataupun karena idealismeku dalam membangun keluarga yang membuat kita utuh bertahan. Tapi tlah kutemukan belahan jiwa, waktu demi waktu. Hingga saat ini. Bersamaitu pula, kutemukan makna hidup yang sungguh menguatkan kehidupan perkawinan kita.”

“Makna hidup. Hal terpenting dalam hidup manusia. Dan kau akan menemaniku untuk mencari dan menemukannya terus bukan? Aku mencintaimu.” air matamu terurai lagi. Isak tangismu menguat dalam pelukanku. Tapi aku yakin, tangisanmu kini dalam kedamaian.

***sp***

Yah. Disini aku. Bersama kedua anak kita. Menunggumu yang sedang berjuang dalam ruang operasi. Rasanya lama sekali. Kau tak sendirian sayang. Semua yang mencintaimu ada disini. Apapun yang terjadi. Kami tetap ada bersamamu.

Kau takkan kehilangan apapun. Dimataku, kau tetap seseorang yang utuh. Sama seperti waktu pertama kita bertemu. Atau bahkan jauh sebelum kita dipertemukan. Kau tetap wanitaku. Kau istriku tercinta.

Semua ini takkan mengubah pandanganku terhadapmu. Kau tak perlu malu. Aku adalah bagian hidupmu. Kau dan aku, harus kuat demi anak-anak. Mereka akan belajar menerima kehidupan, apa adanya.

Aku ingat, kau berusaha tegar menerima hasil pemeriksaan itu. Kanker payudara. Wajahmu sejenak mematung. Tanganmu menguat dalam genggamanku. Aku merasa wajahku tertampar benda dingin waktu itu.

Ada saat-saat kau begitu rapuh. Membayangkan dadamu rata tak berbentuk.  Berganti gambar parutan bekas luka operasi. Lalu karna proses kemoterapi, rambutmu yang indah itu perlahan rontok. Tubuhmu melemah.

Ah. Tapi lihatlah… kau mampu bertahan hidup, hingga lima tahun lamanya. Kau masih menemani kami, dengan ketegaranmu yang mengagumkan.

***sp***

Ketika fajar tiba, aku selalu ingat semangat dan keceriaanmu. Kukirimkan tiupan mesra ini untukmu. Pasti kau sedang merasa birunya langit, tetes embun, juga nyanyian dedaunan yang lebih sempurna keindahannya. Fajar tak lagi menepi, ia selalu sempurna bersama hatimu.

Selamat berbahagia istriku.

Kelak, dalam pertemuan kita, kan kubawakan cintaku yang utuh padamu.SELESAI

 
4 Comments

Posted by pada 27 Januari 2010 in cerpen

 

UNTUKMU BAPAK

Lepas tengah malam ini, di halaman rumah sakit. Kuikuti langkah Thomas, calon suamiku, sejak kulihat ia bergegas keluar dari ruang ICU. Dari kejauhan, nampak wajahnya tengadah menatap langit tengah malam. Ia seperti mengharap bintang menampakkan diri.

Pada langit yang bersih itu, terlihat dari arah Barat Daya. Satu bintang bersinar. Aku melihatnya. Thomas makin tengadah, matanya terpejam dan air mata mengalir dari situ. Seolah memberikan penjelasan padaku, tentang kabar terakhir Bapak…

Aku hanya berdiri dibelakangnya. Berdiri mematung, dan terisak. Aku tak memintanya mendampingi Ibu, atau menenangkan adiknya, atau juga, segera mengabari sanak saudara tentang berita duka ini. Berita bahwa Bapak akhirnya tiada…

Aku membiarkannya menatap langit itu. Aku ingat, kami pernah menonton film tentang kehidupan seorang anak keturunan Indian yang tinggal dengan kakek dan neneknya. Ayah ibunya telah tiada. Suatu ketika, kakeknya juga tiada. Tak berapa lama, sang nenek menyusul kepergian sang kakek.

Si anak tinggal sebatang kara, namun ia merasa tenang dan tidak merasa kesepian. Si anak ingat, sebelum meninggal, neneknya berkata, “ Jika kau rindu pada kami, pergilah ke atas bukit dan pandanglah langit. Disana akan kau temukan sebuah bintang. Itulah Bintang Anjing, dan itulah kami. Kau tidak akan pernah sendirian.”

Kenangan akan Bapak begitu melekat dalam hatiku. Kini aku mengalami bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicinta. Belum mampu kuhayati sungguh hancurnya hati Bunda Maria kala Yesus wafat disalib. Tapi ketika aku benar-benar mengalaminya, aku merasa tak berdaya. Rasa kehilangan itu. Rasa sakit. Kesedihan yang tak terkata. Kini tertinggal dalam hatiku. Aku sungguh tak mengerti. Mengapa aku sangat terluka dengan perginya Bapak. Ayah dari Thomas.

Melalui Thomas, aku dekat dengan Bapak. Berbeda dengan keluargaku, keluarga Thomas sangat harmonis dimata masyarakat sekitar dan lingkungan Gereja. Bapak dan Ibu adalah sepasang orang tua yang teguh dalam membina perkawinan. Selalu setia dalam suka dan duka.Memberi teladan tidak dengan kata-kata, namun perbuatan. Juga tidak menjadi sombong karenanya.

Bapak tak menilaiku berdasarkan latar belakang keluargaku yang hancur. Kedua orang tuaku telah sama-sama menghianati Sakramen Perkawinan. Aku malu. Namun, dengan senyum tulus Bapak berbagi cerita tentang masa lalu yang juga berasal dari keluarga hancur. Kering dari kasih sayang. Tapi Bapak berjuang untuk membuktikan bahwa Bapak mampu membangun keharmonisan keluarga. Ada kehangatan yang senantiasa hadir… Meski hal apapun menimpa.

“Saya ndak ingin anak-anak menderita seperti kehidupan saya dulu. Maka saya dengan Ibunya anak-anak menjaga sungguh, berusaha membina keluarga jangan sampai hancur. Mbak Upik pasti juga bisa nantinya. Lha wong jadi orang Katulik itu memang ndak mudah, kita harus menerima salib.”

Sejak itu hatiku menjadi tenang. Diam-diam, sering kuperhatikan Bapak dan Ibu berpandangan. Indah dan penuh cinta. Ada kesejukan disana. Tak pernah kutemui sebelumnya pemandangan kedamaian ini.

Bapak membiarkan pacar dari ketiga anaknya hampir setiap hari main ke rumahnya. Kami bercanda, berdiskusi tentang segala hal. Bapak dan Ibu merangkul kami, membuat kami jadi anak-anaknya juga. Terkadang pada acara keluarga besar, Bapak justru mengajak kami untuk ikut terlibat. Bapak sangat terbuka dan demokratis. Ketulusan Bapak merekatkan hati kami satu sama lain. Hal yang sungguh sulit dilakukan keluarga lain, membangun sebuah paguyuban.

Bersama Bapak, kami belajar memaknai setiap kehidupan yang dijalani dan bagaimana menerimanya. Kadang aku gemas dengan hati Bapak yang lugu dan terlalu percaya pada kebaikan orang. Meski menyadari bahwa dirinya diperlakukan tak adil, Bapak tetap memberikan hatinya yang tulus.

Menurutku, Bapak terlalu baik. Terlalu mengalah. Tapi pada hari kematian Bapak, segalanya menjadi jelas bagiku. Bapak telah menanam pohon cinta.
Bapak mencintai semua bentuk kehidupan dan persoalannya. Manusia. Alam. Sejarah. Kesenian. Budaya. Bapak hanya ingin mencipta, dan berkarya. Bapak telah  meninggalkan kenangan. Tulisan dan gagasan masih tertinggal dan tumbuh di Gereja maupun masyarakat. Sentuhan tangannya membuat benda-benda bersejarah yang disusunnya pada beberapa museum  jadi bermakna dan mengandung arti.

Bapak adalah orang tua yang paling berarti. Sukrosono, Kalabendono, Semar, Togog, Wayang Panji, serta batu berpahat kodog ngerok simbol kesederhanaan dan syukur adalah filosofi hidup Bapak. Juga Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II.

Namun bagiku, Bapak adalah filosofi hidupku sesungguhnya. Ada dan nyata di dekatku. Aku adalah seorang yang pesimis memandang kehidupan, tak pernah mampu menjadikan orang lain sebagai idola. Namun akhirnya aku bahagia, Tuhan memberiku cinta melalui kisah yang diukir oleh Bapak. Bagiku Bapak simbol semangat dan harapan. Kejujuran dan kesetiaan. Rendah hati dan syukur..

Aku merasakan indahnya kesederhanaan yang bersahaja. Hidup takkan sama tanpa Bapak didunia. Kami akan merindukanmu. Namun, aku akan berjuang seperti Bapak. Berdiskusi tentang segala sesuatu. Memaknai segala sesuatu. Mencari dan menemukan kembali segala sesuatu dalam hidup ini.

Pada langit yang luas itu, kami temukan Bintang Anjing. Kuyakin Bapak disana… memberikan kekuatan pada kami dengan hatinya yang bersahaja. Thomas tersenyum, mengangguk sendiri, seolah berbicara pada Bapak, dan ketenangan merasuk jiwanya yang sedih. Aku mendekat.

“ Aku juga melihat Bapak disana…” kuhampiri Thomas, dan kugenggam erat tangannya. Kami memandang langit. Thomas tersenyum menguatkan rahangnya. Lagu Ave Maria kesukaan Bapak terngiang dibenakku…Lalu kami mulai berbagi tugas.

Wajah Bapak yang selalu tersenyum penuh kebijaksanaan ada dalam hati setiap orang yang mengenalnya. Begitu banyak orang yang hadir pada Misa Requiem untuk Bapak, ikut merasa kehilangan. Mereka memiliki kesan yang mendalam terhadap Bapak.

Seorang tokoh masyarakat dalam sambutannya berkata bahwa Bapak contoh manusia Katolik seratus persen, Indonesia seratus persen, bahkan pengabdian terhadap keluarga juga seratus persen. Entah apa pendapat Bapak tentang hal ini, namun pengakuan itulah yang menghibur hati kami. Ah, Bapak seperti talang air. Melaluinya, air kasih Tuhan mengalir.

Bapak tercinta. Trimakasih atas pelajaran kehidupan yang Bapak taburkan untuk kami. Tahun depan aku dan Thomas akan menikah. Restuilah kami. Semoga Tuhan mengabulkan keinginan Bapak atas kami berdua. Memberikan cucu pertama untuk Bapak. Amin.

( Untuk Alm. Bapak RVA. Marsudi tercinta di Langit Surga)

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Oktober 2008 in cerpen

 

BUKIT SAMBIROTO

Kita berdua bertetangga. Dekat sekali kita berkawan. Gembira selalu ada dalam jiwa kita. Masih ingatkah kau. Kala kita dibangku SMP, sekolah di tempat yang berbeda. Hari Rabu hingga Sabtu, seragam kita berbeda rok. Rok seragam yang kupakai bercorak kotak jingga ungu, dan kau pakai rok polos berwarna hijau. Hanya Hari Senin dan Selasa kita sama-sama pakai rok biru tua. Bedanya, rokku sebatas lutut, sedang kau pakai rok sepanjang mata kaki, dan kau juga memakai kerudung. Dulu kau bilang sangat gerah memakainya. Tetapi hingga kini kudengar kau masih memakainya, meski tak ada yang memaksamu. Lagipula,.. kau nampak manis dengan kerudung melingkari wajahmu.

Aku ingat segala kebersamaan kita. Masih ingatkah kau,… hampir setiap hari kita mengadakan pertemuan di Bukit Sambiroto. Ya, bukit besar di belakang rumah kita itu. Mulanya hanya iseng-iseng, kala hari menjelang senja. Setelah lama kita hanya melewati dan memandanginya, kita berlomba menuju puncak bukit. Sampai di atas, betapa takjub mata kita waktu itu. Pemandangan begitu indahnya. Kita berada pada batas langit dan bumi. Antara matahari yang ingin menghilang dan rerumputan yang kita pijak. Tak perlu tengadah memandang langit, karna kita sudah berada di dalamnya.

Pepohonan di atas bukit begitu rindangnya, hingga kitapun bergelayutan di dahannya. Menceritakan kisah-kisah lucu di sekolah masing-masing, hingga saling mengejek kekonyolan kita. Tak ada siapapun mengganggu kita. Hanya kita berdua. Tak ada orang-orang dewasa yang akan mengawasi kita. Tak ada yang bisa menguping pembicaraan kita. Jika ada orang lain mendekat, pastilah kita bisa melihatnya.

Lalu kita berlarian dari ujung ke ujung bukit sambil merentangkan tangan yang seolah bersayap…“Yuhuu….!!” Aku berteriak girang, rasakan angin memburu tubuh.

“Yihaaa…. !!” sahutmu…, lalu kita saling berteriak lepas dan bernyanyi.

Tiupan angin begitu kencangnya waktu itu, menari bersama tubuh kita. Berteriak-teriak memanggili nama kawan-kawan kita. Entah terdengar hingga ke kaki bukit di bawah sana, atau tidak … kita hanya ingin berteriak. Melepaskan segala kegembiraan akan hal nyata, bahwa tempat asing dan indah yang pernah kita temui,… ternyata ada di belakang rumah kita. Bukit Sambiroto.

Sejak itu kau ingin selalu pergi kesana. Akupun demikian. Sadarkah kau, Bukit Sambiroto itu menyatukan jiwa kita yang selalu ingin berpetualang, dan selalu ingin tahu. Lagipula, kau katakan sungguh menyenangkan memakai kerudung di atas sana. Yah, kerudungmu berkibar-kibar, dan kau tak mengeluh kegerahan. Akupun senang karna kita kini punya tempat pertemuan menakjubkan. Lalu kau mulai dengan segala ide ajaib yang membuatku selalu bersemangat untuk mendengarkan,… bahkan melakukannya.

Awalnya, kita hanya membawa tikar dan sedikit bekal makanan untuk melewatkan senja di atas bukit. Lalu, entah darimana kau punya ide membuat rumah-rumahan di atas pohon.. mungkin dari buku cerita yang pernah kau baca. Akupun pernah berkhayal, memiliki rumah-rumahan di atas pohon. Tapi mewujudkannya… Hah. Tak kan pernah bisa tanpamu kawan!

Keesokan harinya, kegiatan kita sepulang sekolah adalah berkeliling kampung, mencari segala benda yang dapat kita gunakan untuk mendirikan rumah idaman kita. Mulai dari sisa-sisa kayu, seng, bambu, besi, plastik bekas ember,…apa saja kita bawa. Kita melebihi pemulung cilik waktu itu. Kuingat kau membawa beberapa peralatan dari gudang pamanmu. Palu, gergaji, paku, martil,…. Wah ! Aku tidak tahu bagaimana cara membuat rumah. Tapi kau sungguh terampil menyatukan kayu demi kayu sebagai alas rumah kita. Mungkin kau sering memperhatikan kerja pamanmu yang tukang kayu itu.

Namun kita tak sendirian. Masih ingatkah kau dengan Pak Soyib yang sering pula ke bukit menggembalakan kerbau. Anak lelakinya Suyen, yang seumuran kita dan tak lagi sekolah itu selalu menemani ayahnya. Mereka tertarik dengan apa yang kita lakukan di bukit itu. Mereka membantu kita dengan suka ria. Yah, … mereka bisa ikut  berteduh di rumah pohon itu nantinya. Kita berlindung bersama. Angin yang kencang. Terik matahari. Hujan. Tak lagi membuat kita khawatir.

Beberapa bibit tanaman mangga kau tanam disana. Kau ingin menjadikan rumah itu milikmu. Ah. Rumah pohon yang besar. Kokoh. Nyaman. Akhirnya terwujud juga. Ini milik kita. Menyenangkan sekali melihatnya. Tak dapat kubayangkan  perasaan kita waktu itu. Puas. Bangga. Aku terharu mengingatnya hingga kini.

Sejak itu kita punya kawan baru. Suyen. Yah, tentu saja ayahnya senang karna anaknya tak sendirian. Kitapun jadi lebih semangat belajar. Bagaimana tidak, Suyen selalu minta diajari segala mata pelajaran yang telah seharian kita pelajari di sekolah. Kita berganti-gantian menjadi guru bagi Suyen. Terkadang kita berdebat tentang suatu hal yang sebenarnya sama-sama tak terlalu kita mengerti.

Mula-mula Suyen hanya diam dan bingung menyaksikan ulah kita. Namun, lama-kelamaan Suyen mulai bisa mengikuti hal-hal yang menjadi perdebatan. Tiba-tiba ia menengahi perdebatan kita. Tak lagi malu-malu seperti sebelumnya. Kitapun jadi terheran-heran dibuatnya. Lalu kau tertawa. Sejenak bingung, akupun ikut tertawa. Yah, bukankah kini Suyen menjadi lebih pintar dari kita. Terlebih lagi, kita menjadi bangga karna kita berhasil menjadi guru kecil bagi Suyen.

Kehangatan di rumah pohon membuat semua gembira. Terutama dirimu. Aku tahu, bukankah ini semua sangat berarti bagimu. Merasakan kehangatan sebuah rumah. Keluarga yang utuh. Mampu melindungimu. Yah. Kau pernah ceritakan kepedihan hatimu padaku, yang sebelumnya tak pernah kubayangkan.

Masa kecil yang indah. Lahir di Jakarta. Dalam keluarga harmonis. Ayah pelindung. Ibu pengasih. Kau punya satu orang adik laki-laki. Kau kasihi. Kau jaga. Kehidupan yang hangat. Bahagia. Meski kesulitan hadir ditengah-tengahnya, tak pernah terlalu dirasa. “ Karena kami selalu bersama…” katamu waktu itu. Kau bangga dengan keluargamu. Merasa beruntung dilahirkan ke dunia.

Suatu hari ayah dan ibumu bertengkar. Ibumu mengemasi barang-barangmu dan adikmu sambil menangis. Melihat itu, kau dan adikmu ikut menangis. Tak tahu mengapa. Hanya firasat bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dalam pandangan yang terus bertanya-tanya,.. kau dengar mereka telah membuat suatu keputusan. Kalian akan hidup terpisah. Ayah dan ibumu tetap di Jakarta. Kau dan adikmu terpaksa mereka titipkan pada sanak saudara. Kini adikmu tinggal di Surabaya. Sedang kau di Semarang. Bersama dengan pamanmu.

“Harmonis. Bahagia. Itu hanya angan-angan kami…” katamu waktu itu. Di atas bukit, di luar rumah pohon kita. Air matamu mengambang.

Lalu kau remas sejumput rumput. Kau cabut kuat-kuat bersama akarnya. Lantang kau berkata,…“ Hidupku sama denganmu wahai rumput kasihan!.. kau kupilih menjadi kawanku…harus pergi dari segala yang kau cinta. Hilang dari keindahan. Lepas dari perlindungan. Kau akan menjadi buruk. Sendirian. Tercampak di suatu ruang. Hidupmu hanya akan mengikuti angin!” lalu kau lempar rumput itu menuju langit…

Yah. Meski sulit. Aku berusaha memahami kesedihanmu. Kedua orang tuamu ternyata tak akur. Mereka telah saling menyakiti. Saling menghianati. Saling membenci. Kau bingung karena tiba-tiba kalian tak lagi punya rumah tempat tinggal. Rumah yang memberi beribu kenangan indah. Rasa hangat. Rasa nyaman. Rumah itu telah dijual murah. Hasilnya  untuk menyenangkan wanita lain. Kekasih ayahmu.

Ayahmu melakukan itu karena balas dendam pada ibumu yang telah lama tak lagi memperhatikan ayahmu. Ini semua karena ibumu diam-diam telah pula menjadi kekasih bagi laki-laki lain. Dan, ibumu melakukan ini semua karena ayahmu tak mampu memberi nafkah yang cukup bagi keluarga. Bagi ibumu, ayahmu kurang bertanggungjawab. Bagi ayahmu, ibumu terlalu menuntut.

Kau sangat mengkhawatirkan adikmu. Kadang kudapati kau menangis sendirian di atas bukit. Saat merindukan kehidupan lalumu. Orang tua. Adik. Kawan-kawan lama. Rumah. Tempat kelahiranmu. Jakarta. Nafasmu sesak dengan rasa rindumu.

Hah. Aku sendiri belum pernah menjumpai kehidupan serumit itu. Telah kau alami di usiamu yang begitu belia. Itukah arti kata selingkuh, yang telah banyak dilakukan orang-orang dewasa di sekeliling kita waktu itu…

Aku sungguh beruntung. Memiliki keluarga yang kau sebut harmonis. Padahal kami hanya keluarga sederhana. Aku sering mengeluh karena terkadang tak kudapat yang kumau… ikut prihatin oleh teriknya kehidupan.

Namun kata-katamu waktu itu seperti menyentuhku, “ Biarlah miskin, kau toh masih punya sebuah rumah, lengkap dengan kedua orang tua dan saudara kandungmu. Tak ada yang lebih berarti dari itu semua…keberuntungan yang tiada bernilai.”

Aku malu padamu dan seisi Bukit Sambiroto, tempat kita merebahkan diri. Merasakan hembusan angin. Aku terlalu kolokan. Tidak bersyukur pada hidup yang telah kumiliki. Kau betul. Toh aku masih bisa sekolah, dalam lingkungan orang-orang kaya itu. Orang tuaku ingin aku sekolah disana, biar tidak diremehkan katanya. Aku menurut saja. Kau tahu, hidup kita sangat ditentukan oleh pilihan orang dewasa. Kita amat tergantung pada mereka. Hampir di segala hal. Makanan. Pakaian. Pikiran.

Aku masih lebih baik. Aku tidak harus melakukan pekerjaan rumah. Mencuci. Mengepel. Menyetrika. Menyapu.  Aku bisa menolak melakukannya  kalau merasa lelah atau malas. Orang tuaku tak menuntutku untuk bertingkah laku seperti wanita kebanyakan. Penurut. Anggun dan lembut. Harus diam rumah. Tidak.

Tapi kau. Kau alami hal yang lebih buruk. Tidak mudah hidup menumpang. Kau adalah wadah bagi segala perintah. Apalagi anak dan istri pamanmu tak suka padamu. Kau hanya dianggap pengganggu jatah mereka. Kau tak temukan kebahagiaan itu. Lihat dirimu saat itu. Kau sungguh tak terurus. Mereka tak peduli padamu.

Pernah aku kerumahmu, seolah menyindirku istri pamanmu berkata, “Bocah wedok orang ngerti tandang gawe..!” Dilain waktu ia berkata, “ Bocah wedok kelayapan wae…” Lalu,” Bocah wedok ora ngerti wedokke!” Seolah penting baginya mengingatkan bahwa kita adalah anak perempuan, yang harus patuh. Untung kau orang yang keras dan tegar. Kau kerjakan segala pekerjaan itu sepulang sekolah, sambil menunggu sore.

Lalu saat kebebasan itu bagimu datang, kita berlomba-lomba menuju ke atas bukit. Tak hanya deru angin dari atas bukit yang menjemput kita. Rumah kita juga telah menunggu, dengan ukiran kehangatannya. Bertemu dengan pak Soyib dan Suyen yang telah seharian kerja. Tukar cerita. Berbagi bekal. Tertawa. Semua sangat berarti bagimu.

Namun, setamat  SMP kau pindah ke Jakarta. Kembali ke tempat kelahiranmu. Keluarga pamanmu juga telah lama pindah ke kota lain. Aku sedih mendengarnya. Sebenarnya, aku senang karena keadaan keluargamu membaik. Kau bisa berkumpul kembali dengan orang tua dan adikmu yang kau cinta. Tapi tetap tak mungkin bagiku menutupi rasa kecewa. Kehilangan sahabat sepertimu, sungguh sulit kurasa. Aku merasa sendiri kini.

Kau minta aku untuk merawat rumah pohon kita. Tapi tahukah kau, aku tak sanggup. Sudah kubilang, semua tak mungkin tanpamu. Aku sudah jarang kesana. Pak Soyib dan Suyen tak pernah lagi ke bukit. Aku menunggumu. Mengapa kau tak pernah datang menjengukku. Menginaplah di rumahku. Bukankah kita ini melebihi saudara kandung. Kita bisa bebas bertukar cerita.

Ah, dunia sekarang memang telah berubah banyak. Aku tak tahu, apakah kau selamat dari berbagai kerusuhan di Jakarta. Selamat dari hal-hal kriminal yang sering terjadi di Jakarta. Setiap kali aku melihatnya di televisi, aku selalu teringat dirimu. Aku sungguh tak mengerti, apa yang dilakukan orang-orang dewasa seperti kita sekarang ini. Apakah yang menjadi harapannya, keinginannya.

Aku juga pernah takut menjadi dewasa. Yah. Seperti pertamakali disapih, aku takut menjadi dewasa seperti mereka. Ah,..aku rindu masa kita dahulu. Bermain-main di atas bukit. Entahlah,…kau lebih suka yang mana, karna kutahu waktu itu kepedihan selalu hampiri dirimu..toh kitapun waktu itu sering mengeluh, karna seluruh hidup kita, bahkan mimpi kita, diatur oleh orang-orang dewasa. Namun memang segala masa ini mesti kita jalani. Semoga kita menjadi orang dewasa yang tak semena-mena terhadap hati anak-anak seusia kita dulu.

Kini, sudikah kau datang kemari? Tempat kau tinggalkan sebuah hati yang masih merindu. Segalanya sudah canggih bukan? Kau lebih mudah mencariku ketimbang aku yang kehilangan jejakmu. Kembalilah untuk sekeping kenangan itu, meski, kutahu kau akan kecewa. Iya benar. Kau kan kecewa.

Bacalah puisi ini. Bacalah. Simak. Simaklah dengan hatimu.

Kenangan Bukit Gersang

(Jeppe Indrawisudha)
Tak ada lagi aku di bebukit gersang itu begitupun dengan pepohon mangga yang pernah jadi hiasanmu. Akarnya menjelma pondasi batu kali, batangnya menjadi rangka merah bata, rantingdaunnya adalah atap rumah-rumah mewah yang harganya bikin resah kere-kere gerah.

Tak mungkin ada lagi aku di tanah padas itu. Kembali pada dulu.


Semarang, 24 Agustus 2009

Perih bukan. Pedih bukan. Tak sedikit orang yang sedih karenanya. Terutama  si penulis yang syairkan kegetiran itu. Ah, takjub aku mengetahui bahwa ia juga pernah tinggal bersama kita di Bukit Sambiroto ini. Juga keterikatannya yang sama besarnya dengan milik kita. Lihatlah, ia merindu pohon mangga itu. Apakah itu pohon milik kita dahulu. Adakah rumah pohon kita terlihat olehnya.

Ketika seorang sahabat merasakan keresahan puisinya, ia menjawab tegas, “Kenangan yang menghadapkan padaku resah. Mungkin, sekitar 20 tahun lalu kujejakkan kaki untuk kali pertama di kegersangan itu (rasanya seperti Amstrong menginjak bulan) yang puisinya tak pernah kugali. Tapi sekarang, kapitalis properti justru menggali tanahnya jadi rumah-rumah mewah. Ngeri kalau membayangkan bencana! Ngeri!”

Ia juga membayangkan, kota kita. Semarang. Kota yang 462 tahun itu, justru sedang membangun untuk menenggelamkan diri.  Kota yang sebenarnya rawa, setiap tahun tanahnya mengalami penurunan, tinggal tunggu tenggelam, entah kapan.

Kau tahu, Bukit Sambiroto kini bersungai jalan aspal. Banyak perumahan baru dibangun di atasnya oleh pengusaha properti yang baru saja mendapat penghargaan dari pemerintah.  Kita kehilangan rumah pohon kita. Mereka merobohkan tanpa sisa. Aku takut bayangkan kisah anak cucu kita esok.

Hatiku sakit ratapi takdir Bukit Sambiroto. Kuyakin juga kau. Kau yang setia genggam mimpi-mimpimu di tanah ini. Kau yang tak pernah surut semangatnya. Kembalilah. Yah kembalilah kemari. Bantu aku hadapi kengerian ini. Aku tak mampu sendirian. Aku butuhkan perempuan setangguh dirimu.

Bersiap-siap kita hadapi badai segala musim. Angin kan langsung hunjami tubuh, lucuti kulit kita. Hujan ludahi hati hingga banjir air mata. Tanah bergulingan ajak rumah kita kelahi. Dan panas, usir itu semilir kesejukan yang sering terbit di siang hari. Akankan mereka datang kelak, beramai ramai gaduhi kota kita.

Atau. Jika kita bawa mereka ke waktu itu. Dapatkah luluhkan hatinya? Kita ceritakan indahnya berjalan diatas Bukit Sambiroto di masa itu. Seperti. Ya seperti,  pertama kali Neil Amstrong lahir di bumi. Bumi yang subur dan lembut. Bumi yang ramah dan tersenyum. Tetumbuhan, hewan, dan manusia saling tulus berikan sari cinta. Ah. Meski. Yah. Mekipun kini. Kusadar. Ohhh, kusadar. Hanya cerita dapat mereka kunyah.

Ah, sahabat. Bukit Sambiroto terbelah-belah tak keruan. Namun satu hal, janganlah hati kita ikut terbelah. Bumi memang sudah begini hancurnya. Aku ingin kau datang segera. Meski. Ya. Meskipun. Ceriamu kan sedikit payau bila kembali.

Masih mungkinkah, wahai sahabat. Bukit Sambiroto di kota kecintaan. Kota Semarang ini. Sanggup bawa kau kembali. Pada kerinduan yang sama. Seperti milik ratusan purnama lalu.SELESAI

Keterangan :

Bocah wedok orang ngerti tandang gawe..!” = “Anak perempuan tak mengerti pekerjaan..!”

Bocah wedok kelayapan wae…” = “Anak perempuan keluyuran saja….”

Bocah wedok ora ngerti wedokke!”  = “Anak perempuan tak mengerti keperempuanannya!”

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Oktober 2008 in cerpen

 

IBUNYA BILANG CINTA

Malam kali ini melahirkan angin yang saling merayu. Rayuannya maut hingga mendorong tubuh hausku larut dalam dekapan mata laki-laki bernama Suluh. Kusebut laki-laki setelah kira-kira sepuluh panenan jagung ia adalah sahabat setia. Sahabat setia yang akhir-akhir ini tak tentu kedekatannya. Kawan, abang, kekasih, suami…

Mungkin angin nakal yang tak juga menyerah itu memuntahkan rayuannya yang mulai mengikat jantung Suluh, hingga degubnya menyayat pori-poriku dan membungkus  kami berdua dalam kedekatan yang sama sekali lain. Ada yang asing. Ini berbeda. Suluh bukan biasanya. Dia lebih berkilauan malam ini.

Dia sobatku, yang karena tak ingin berdekatan dengan wanita maka hanya aku yang bisa dekat. Mungkin karena bersamaku lebih aman, atau bersama aku ia tak akan tergoda. Atau karena sebuah sumpah. Sumpah untuk hidup sendiri dan tidak Breng-Sek. Berhubungan Seks. Dengan siapapun…Sumpah bersama untuk tidak kawin.

Mata Suluh yang dingin dan sanggup mengikat air sungai jadi beku bagi para gadis, tak kudapati bila ia bersamaku. Tatapannya sedalam matahari pagi. Sinarnya tak menyilaukan namun sungguh menghancurkan kepingan kalbuku. Tapi ia manusia seribu wajah. Begitu neneknya bilang. Misterius, sulit ditebak.

Malam ini, di belakang rumah perpustakaan yang kami bangun… tempat kami bekerja. Suluh memelukku. Mungkinkah. Pertama kali, merasakan pelukan seorang laki-laki bernama Suluh. Aku mendamba, roh dalam jiwaku menyatu dalam rayuan angin malam. Berteriak. Saling memaki. Jangan teruskan! Tapi ini pertama kali! Dasar wanita gatal, ingat sumpahmu! Akhirnya aku dapat merasakan ini! Kamu kalah!! Ini bukan soal kalah atau menang! Kamu tak cinta! Bukan soal cinta atau bukan !! Libidomu membengkak! Biar! Kamu mau bersenggama! Terserah!! Kamu bukan lagi perawan! Banyak perawan yang bukan perawan, dan tidak perawan tetapi perawan, siapa peduli!

Bukan soal roh mana yang akan menang atau kalah,.. atau remis. Pikiranku tak lagi beradu dengan perasaanku. Tubuhku ingin disentuh,.. seperempat abad lamanya aku bersumpah tak ingin melakukannya. Setelah sebuah malam di masa lalu merampas mata dan telinga kecilku. Memperkosa pikiran dan mencabik rasa ulu hatiku. Aneh. Bingung. Tapi saat itu kuputuskan untuk diam dan membenci.

Suluh menghancurkan sumpahku. Tangan kanannya mengusap pundakku yang ringkih. Menuju dadaku…menyambut payudaraku yang bergerak-gerak kemayu ingin disentuh. Berlawanan dengan daun putri malu, payudaraku justru menggenggam erat sentuhan jemari Suluh.  Aku terangsang oleh hangatnya. Ada bagian tubuhku yang kelaparan. Menceracap ingin disuapi. Mungkin lidah. Mungkin bibir. Kini payudara. Sebentar lagi, ….. mungkin gunungan pantatku duluan, atau…. pada sisi disebaliknya.

Ketika bibirnya mulai mencubit bibirku, dan lidahnya ingin merontoki langit-langit kelamku, aku sungguh tak dapat lupakan sumpahku. Tiba-tiba segala beton berlapis malam mengepung rasaku dari segala arah. Sungguh, tak kudapat yang kumau. Atau juga yang Suluh mau. Tak kami dapat yang kami mau.

Mata Suluh beribu tanya, tapi dia sobatku. Seorang sahabat harus mengerti. Dia bisa mengerti. Termasuk satu hal: tak aman lagi bersamaku… atau iapun mulai tergoda denganku. Kami serentak berhenti bagai serdadu diperintah diam di tempat. Mata kami sulit beradu pandang. Ia melicinkan pakaianku, termasuk mengunci kancing bajuku dan mengucapkan selamat tinggal pada belahan dadaku yang cemberut.

Mungkin memang benar jika mendiang ibunya menyebut Suluh si seribu wajah. Mimik mukanya yang tadinya penuh dengan tarikan-tarikan arus listrik yang berloncatan tak tentu arah, kini tenang seolah arus itu tak pernah ada. Misterius. Aku sendiri tak pernah tahu latar belakang sumpahnya.

Aku rasa dia begitu gelisah. Duduk disampingku, menatap gambaran alam di depan kami. Malam hari, di belakang rumah perpustakaan lantai dua tempat kami menghilangkan penat setelah seharian kerja. Serambi itu menyuguhkan kerlap-kerlip kota Semarang waktu malam tiba. Jelita. Angin masih semilir dan rayuannya mulai beringsut pergi ke tempat lain. Perasaanku gamang… hanya mampu melihat lampu yang hilir mudik di bawah sana, dan merasakan hangat lengan Suluh.

Suluh mengambil sebatang rokok dari kotaknya. Mengetuk-ngetuk pangkalnya tiga kali lebih pada sebuah meja disampingnya. Rasanya lebih nikmat katanya dulu. Lalu mencelupkannya pada sepasang bibir miliknya yang gundah. Menyalakannya dengan korek api yang dibelinya pagi tadi waktu sarapan bersamaku di warung Mbok Jum. Ia mulai merokok setelah api yang keempat. Mungkin angin sedikit tersinggung karena rayuannya gagal, hingga rokok Suluh tak jua berasap.

“Maafkan …..” Suara Suluh berat diseling kepulan asap rokok yang sedikit.  Cara Suluh merokok lumayan memukau mataku. Dia begitu maskulin.

“Tak apa. Mungkin ini sebuah proses. Entah akan jalan kemana kita nantinya.”

“Kau tak marah ?”

Aku menggeleng tanpa ragu. Tapi malah membuatku malu. Bukankah sesungguhnya aku memang ingin. Tapi toh aku dulu yang berhenti.

“Apakah kita sedang merindukan lautan yang sama, hingga karena tenggelam dalam ombaknya kita menjadi jera untuk kembali?”

“Mungkin karena benci memandang ombak maka kita menjauhinya beratus-ratus hari…”  Sumbu api ulu hatiku tiba-tiba tersulut. Suluh membuka percakapan yang seharusnya dia tahu bahwa aku tidak akan merasa nyaman.

“Yah,.. dalam ratusan hari itu kita sama-sama mencari segala hal. Danau. Sungai. Segala laut tak berombak. Tapi tak kutemukan puasnya hati. Karena aku ingin lautan itu, yang ombaknya pernah menghantamku.”

Aku memandangnya. Akhirnya ia harus akui. Malam itu. Suluh mulai mengikis satu persatu sumpahnya. Belum dengan diriku. Ombak-ombak itu terlalu besar untuk aku hadapi. Sedang punyamu mungkin mulai mengecil. Atau.. karna kau telah temukan cara menantang ombak. Baguslah. Tapi aku tak mau tahu.

“Mengapa kau memandangku beribu rupa. Bisakah kita lupakan saja sumpah kita masing-masing. Aku ingin kita lebur di dalam ombak bersama-sama. Lautanlah tempat kerinduan kita. Kita sudah begini dewasa. Tak bisakah kau berdamai dengan hatimu ?”

“Sulit bagiku untuk mendamaikannya. Akupun tak paham mengapa pula kita punya sumpah sejalan sepersimpangan. Sekian lama kita bersahabat, tak satu juga kau ceritakan padaku tentang masa lalumu. Lalu bagaimana aku bisa memutuskan untuk menepis ombak bersamamu. Bagaimana pula kau sudi pilih aku.”

“Jangan kau kira aku tak belajar dari perjalanan kita. Kulihat  matamu  berembun melihat ibu kawanmu Hanah bercengkerama hangat dengan kalian. Tanganmu ringan memindahkan seikat besar kayu bakar dari punggung seorang ibu tua yang kau tak kenal ke punggungmu sendiri sewaktu kita berlibur di desa Gondang. Telingamu melebar ramah mendengar cerita ibu-ibu kesepian, juga nenekku walau puluhan kali cerita yang sama selalu kau dengar. Kau ciumi tulus ibu-ibu yang kehilangan anaknya saat kecelakaan bis naas itu,.. kau menangis bersama mereka. Tapi lidahmu  tak jua menyebut ibundamu, wajahnya, dukanya, sarinya… sejak itu kuputuskan kau sedang merindukan lautan yang sama sepertiku…”

“Merindukan sangkamu. Tapi ada juga benci. Ada juga dendam.  Aku tak sangka. Kau mendalamiku. Kau baca lembar demi lembar kekelamanku. Untuk itu aku berterimakasih. Mungkin kita berasal dari lautan, mencoba pergi dan ingin kembali. Jalan untuk kembali nampak jelas, tapi ombak yang kubenci begitu besar hingga aku urung untuk kembali..”

“Bolehkah kutahu, mengapa begitu besar bencimu pada ombak? Ketahuilah, makin besar bencimu, makin besar berlipat ombak itu kau rasa. Aku ingin menyelam dalam air matamu. Sudah saatnya aku mengikir sumpahku.”

“Oh, mungkin kau rasa akupun akan mengikir sumpahku. Sejujurnya kukatakan aku menginginimu. Tapi sumpah itu sudah menghalangi aku. Baiknya tak kuceritakan pada siapapun. Tidak juga padamu. Tidak.. jangan kau paksa aku.”

“Aku tak akan paksa kau menyingkap deburnya. Aku akan paksa diriku sendiri untuk melakukannya. Aku akan berterus terang padamu. Sudah saatnya aku kembali pada laut, yang karenanya aku ada dan dapat mengalami berbagai kisah denganmu.”

“Jangan lakukan, jika kau tak ingin….”

Tapi Suluh sangat ingin.

***sp***

Suluh tak mengikuti saranku. Suluh malang. Dia bercerita, sampai berbatang-batang rokok panjangnya. Tapi ceritanya tak membuatnya mengecil. Ia terlempar ke dunia sebagai anak tunggal dari keluarga bahagia di Manado. Suluh dipisahkan dari orang tua  saat usianya menginjak sepuluh tahun. Suluh kecil tak tahu sebabnya dan begitu lugu percaya pada janji, bahwa mereka hanya akan berpisah tujuh hari. Tak ada yang menjawab tangisnya. Ia harus tinggal dengan neneknya di Semarang. Hanya suara ibunya ia temukan dalam kabel telepon.

Lalu tujuh hari menjadi tujuh minggu, tujuh bulan, tujuh tahun. Dan tahun tidak lagi tujuh, tapi delapan, sembilan, sepuluh… banyak … Hingga Suluh tahu ayahnya meninggal kala ia berada di awal remaja  karena radang paru-paru. Suluh melunglai. Merasa diri terbuang. Telepon ibunya semakin jarang dan sedikit. Suluh akhirnya hanya menunggu lagi saat ibunya bilang “Kami mencintaimu nak, apapun dan bagaimanapun kami…” dan tak lagi bisa berharap peluknya.  Berkali-kali ia berontak dan melarikan diri. Namun tak ditemukannya arah. Sampai lelah. Suluh memanggil-manggil ibunya “Mamak,..mamak petotok..”  Sunyi. Nenek yang telah sendirian  diam dan melindungi. Kasihnya tak pernah habis untuk Suluh. Tapi cinta ibu tetap didambanya. Juga Suluh sering bertanya, tidakkah nenek rindu pada anaknya. Nenek bilang ada saat rindu, ada saat sangat, tapi rindu biarlah tetap merindu, hidup manusia siapa yang kira. Nenek tak jawab lebih. Tak  mungkin bertemu. Ia sudah sangat tua. Suluh pun tak boleh. Ini permintaan ibunya, tanpa Suluh boleh tahu sebabnya.

Hingga  suatu saat Suluh mendengar lagi suara ibunya terbatuk-batuk dari kabel telepon. Suaranya pelan dan hambar. Tapi sangat merdu ditelinga Suluh , ahhh.. mamak petotokku…kata terakhir Ibunya sangat berarti… “Ibu akan selalu mencintaimu, anakku sayang..” Harapan untuk bertemu tak bisa dibendung. Tapi pemakaman ibunya baru ia tahu tiga hari setelah Suluh sampai di tanah lahirnya, Manado. Setelah untuk pertama kalinya ia diperbolehkan pergi ke Manado sendirian. Suluh berteriak edan. Seribu pertanyaan dimasa kecil beterbangan menuntut jawab. Ribuan air di matanya menyamai laut. Harapan bertemu musnah memandang gambar kelabu, foto orang tuanya.

Sanak saudara hanya ada beberapa di pemakaman kabarnya. Suluh heran masih menuntut jawab. Hanya Tante Joel adik ayahnya yang belum menikah. Ia yang telaten merawat orang tua Suluh. Lalu tanya  yang berbunga-bunga itu ia tiupkan lekas-lekas pada wajah  anggun Tante Joel.

Saat itu usia Suluh enam tahun. Ayah Suluh mulai berubah perangai, pulang tak tentu hari dan sering bermain seks dengan segala jenis pelacur karena dorongan rekan-rekan kerjanya. Ia tergoda kehidupan orang elit yang gemar mencicipi jajanan baru. Beberapa waktu menjelang,  ayah Suluh mulai gampang sakit. Demam tinggi yang aneh, terkena diare dan  berat badan mulai berkurang. Setelah diperiksa darah, ternyata  HIV itu sedang mencumbui liktosit ayahnya yang ternyata juga telah mencemari ibunya, Martuti yang asli Jawa.

Martuti segera meminta ibunya, nenek Suluh, untuk membawa cucunya pergi ke Semarang sebelum tertular. Meski Martuti tahu, bahwa hanya melalui cairan darah dan cairan mani atau vagina orang lain baru dapat tertular. Tapi Martuti tidak mau karena kecerobohan berikutnya, anaknya ikut merasakan penderitaan orang tuanya. Sementara Martuti juga harus menguatkan hati suaminya yang mulai depresi dan marah karena rasa bersalah, diasingkan orang lain dan kehilangan sahabatnya, hingga sesekali mencoba bunuh diri.

Dikuatkannya hati dan segala gunungan derita duka yang bergumul untuk berpisah dengan Suluh sang buah hati tercintanya. Ia putuskan untuk mengampuni suaminya dan menjaganya hingga akhir kisah hidupnya. Biarlah semua orang menjauh, tapi harapan indah hidupnya telah ia titipkan pada putranya. Suluh.

***sp***

Akhir kemarau adalah musim semi di Bogor bagiku. Daun-daun keemasan rontok puluhan lembar, lalu disambar angin tipis yang menari-nari bersama daun-daun itu, ..  sesekali angin membesar, dan membawa pergi beberapa daun ke segala tempat. Ujung jalan, atap rumah, ada juga yang mengelilingiku, duduk dipangkuanku dan beberapa mengotori rambutku yang kusemir hitam kecoklatan.

Sudah dua hari aku di Bogor, tapi tak juga kukabari ibu. Suluh memintaku untuk berdamai dengan hatiku. Menemukan arah benciku dan mencari jalan menuju lautan. Wuih… Suluh masih saja memintaku mengarungi lautan itu bersama. Mungkin pengalaman hidupnya yang lebih menyakitkan bagiku, yang mendorongku untuk jalani begitu saja nasihatnya. Atau, karna umurku kini melebihi tiga puluh…..

Tapi sudah dua hari di Bogor, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Kini aku cuma berdiri di sudut masa remajaku, gedung sekolah yang  penuh dengan kenangan ribuan kisah. Setiap pagi aku mampir di Gereja Katedral yang kini sedang kutatap dengan seksama. Letaknya persis di depan sekolahku. Dulu aku senang sekali menaiki tangga gereja yang melingkar sampai menuju lonceng. Merasakan angin yang begitu dingin di ketinggian, dan memperhatikan dinamika gerak orang-orang dibawah sana, juga merasakan pelukan lonceng  yang dentangnya mengingatkan  manusia dibawahnya untuk berdoa. ‘Hoiii…. Ingatlah Tuhanmu…!!’ Lonceng itu berteriak.

Aku tersenyum mengingat masa itu. Terkadang sepulang sekolah  di hari Jumat, aku dan beberapa teman pergi ke Kebun Raya sekedar jalan-jalan. Aku senang melihat hijaunya. Sesekali kami mengganggui orang-orang yang sibuk berpelukan di balik rerimbunan pohon ingin mengungkapkan hasratnya.

Lalu kami duduk-duduk di tepi sungai, mengeluarkan bekal, menikmatinya bersama sambil bertukar cerita, bernyanyi. Seluruh alam seperti berbahagia dan bersepakat untuk menciptakan atmosfir yang paling sempurna. Tanpa gerimis seperti biasanya, hanya angin semilir, dan secuplik cahaya matahari. Aliran sungai yang saling mengeluarkan suara gemericik bergantian, lalu burung-burung kecil mulai bertingkah dengan  sayap dan cicitnya, sampai kami puas dan beranjak pulang.

Pulang. Saat yang paling aku hindari. Saat yang menyesakkan rongga jiwaku. Ada ibu dan Mas Broto keponakannya disana. Kalau bukan karena adikku, aku memilih untuk minggat selamanya. Sungguh.

Bayangan masa lalu belum juga hilang. Malah selalu nyata sampai kini. Bertahun-tahun mereka membangun rumah tangga di dalam rumah tangga. Membodohi kami sekeluarga. Membiarkan aku dan adikku tumbuh dihinggapi oleh luka dendam yang memborok. Menembaki  nafas ayahku dengan peluru kebencian.

Kuingat kala tujuh tahun usiaku. Gembira ria kami  menyambut kedatangan ibu yang datang dari Semarang. membawa pulang seorang tamu lelaki keponakannya yang hendak mencari kerja di Bogor. Mas Broto. Ia begitu baik dan sering bercanda dengan teman-teman kecilku. Ia akrab dengan ayahku.

Lalu suatu saat. Malam yang begitu panas. Kami bertiga tidur beralas tikar. Mas Broto, ibu, dan aku. Ayah dan adikku tertidur pulas di dalam kamar. Aku mendengar suara orang berbisik-bisik. Mengganggui telingaku dan memaksa mataku untuk melihat.  Mereka berdua saling berbisik, bergumul dalam pakaian yang tak jelas di kegelapan, lalu berhadapan mereka bertumpuk dalam satu gerakan seirama, naik dan turun. Sesekali mereka terhenti, memeriksa kedua mataku yang terpejam. Dan suara-suara yang bergesekan dengan tikar berlanjut lagi.

Lalu tak hanya suara saling berbisik, ada suara-suara lain tak kutahu memperkosa dan menyiksa telingaku, dan lonceng gereja yang besar itu bergemuruh didadaku. Aku berusaha menahannya. Takut terdengar semua orang… Aku tak tahu kisah apa yang tengah diukir ibuku. Aku hanya tahu itu akan menyakiti ayah dan adikku. Aku hanya tahu kebahagiaan telah berakhir. Lalu kuputuskan untuk diam dan membenci. Memutuskan bahwa aku takkan melakukan hal – yang dalam pikiranku – rendah seperti yang ibuku lakukan.

Sebulan, setahun, sewindu.. ia tak juga pergi dari rumah kami. Ibu selalu melarangnya pergi. Ayah, tak pernah membantah. Ia selalu meminta kami untuk selalu mengalah pada ibu, tanpa mengerti sikap istrinya yang tak selembut dulu. Aku tak pernah tahu untuk alasan apa ibu sering menghina ayah dan memancingnya untuk marah. Aku juga tak pernah tahu mengapa ibu sering menghajarku, menginjak-injak tubuh dan kepalaku, membenturkannya pada tembok, dan menyuruhku tak boleh menangis. Ibu juga memarahi adikku dan menghajarnya setelah menyantap makanan yang katanya disediakan untuk Mas Broto.

Ibu tak pernah meladeni ayah seperti ia meladeni Mas Broto. Tak pernah memperhatikan Ayah sebaik ia memperhatikan ‘kutu kurap’ itu. Binatang itu juga yang berkali-kali mengancam untuk membunuh ayahku dengan ayunan goloknya.

Ayah semakin menciut. Kedamaian yang tak pernah bisa diraih, ia cari ke tempat lain. Lalu ibu mulai berbalik, berusaha membawa ayah kembali. Berjanji untuk berubah, tapi kutahu ibu berjuang untuk uang ayah. Ayah kembali, ibu juga kembali lupa.

Pernah aku bertengkar dengan ibuku saat kurasa mulai bisa melawan dan tak peduli lagi dengan ancaman ‘kualat’ yang biasa ia lemparkan. Dadaku mendidih, hingga dalam marahku aku ungkapkan rahasia hatiku dan kutorehkan di wajahnya kuat-kuat tentang peristiwa malam panas itu. Setengah kaget ibuku berkata, tanpa Broto – kutu kurap itu –  aku dan adikku  tak bisa sekolah dan kita akan tetap kere, melarat. Ayah tak becus memberi uang.

Waktu ibu dan binatang itu lupa bahwa aku dan adikku sudah dewasa, dalam suatu luapan emosi yang ditaburkan mulut sihir ibuku, kutu kurap itu tiba-tiba memukuli dan mendorong jatuh ayahku tanpa sebab tepat pada saat adikku melihatnya, dan dengan satu tenaga … adikku balas menarik kuat tangan binatang itu dan menjepitnya pada sebuah kisi pintu hingga membengkak, lalu….pada satu kesempatan kutu kurap itu berhasil meninju muka adikku saat ibu menahan kedua tangan adikku untuk menangkis.

Sejak itu, ayah pergi dari rumah, adikku tinggal di Jakarta, dan aku pilih tinggal di Semarang. Kami biarkan ibuku tetap tinggal dengan Mas Broto-BAJINGAN itu hingga sekarang, dan kami anggap itu adalah pilihan hidupnya….

***sp***

“Haning! Kau sudah pulang. Mengapa tak kau kabari aku, agar aku bisa jemput kau di stasiun?” mata Suluh yang biasa lembut kini terbelalak lebar melihatku. Ingin dipeluknya aku, tapi belasan pengunjung perpustakaan menghalangi kemerdekaannya.

Aku hanya tersenyum dan berjingkat naik ke atas. Rindu juga aku padanya. Beberapa barang bawaanku kubiarkan dulu di bawah. Suluh kembali sibuk melayani peminjaman buku bersama lima orang karyawan kami lainnya, sambil matanya masih sedikit mengawasiku.

Ruang atas adalah tempat beristirahat santai, nonton TV, ngobrol, berdiskusi. Selain ruang santai, ada dua kamar tidur. Kamar tidurku lebih besar. Kamar tidur lainnya hanya ditiduri bila ada yang mau menginap. Lalu ada satu kamar mandi dan teras yang cukup lebar untuk duduk-duduk dan melihat pemandangan. Tak jarang, rumahku menjadi ruang konsultasi gratis. Aku senang tak sendirian.

Rumah yang aku tempati tadinya adalah rumah Suluh yang akan dijual. Berkat uang pensiunan ayah yang diberikan padaku sebagian, aku bisa membayar uang muka rumah dua tingkat itu. Suluh hanya ingin menjualnya padaku, memberiku harga ringan, dan kuputuskan untuk membuka usaha persewaan buku bersamanya. Jadilah rumah perpustakaan yang terus berkembang hingga kini.

“Halo. Piye kabarmu ?” Suluh mengganggu istirahatku sambil tergopoh membawa barang bawaanku yang tadi masih kutinggal di bawah.

“Perpustakaan sudah tutup?! “ tanyaku kaget dengan anggukan Suluh. Rupanya tidurku cukup lelap juga.

“Bagaimana pertemuanmu dengan ibumu?” Suluh ingin tahu.

Aku terpejam.

“Mas Broto?”

Mataku terpejam.

“Hubungan mereka?”

Hatiku terpejam.

“Apakah kau masih dendam? Ibumu telah berubah? Bagaimana kabar ayah dan adikmu? Kapan kau mau ceritakan semua padaku? Hatiku selalu meledak rindu. Bagaimana dengan hatimu? Lalu lautan kita, maafkan, kurasa kau masih lelah, tapi…”

Tanya yang beruntun kusambut erat dalam pelukanku. Lama. Suluh terdiam. Aku terdiam. Tapi sesak dadaku keburu melilitkan rasa sakit di kerongkongan dan mendorong keluar segala air dari mataku yang telah lama menyendiri. Sesenggukan. Pada pundak Suluh yang mengerti. Selalu mengerti.

“Ibu tetaplah ibu,” gumamku mulai bisa berkata-kata dalam rangkulan hati Suluh yang damai,”Tetap garang sekalipun bersalah. Balik menyalahkan Ayah yang tak mau pulang. Sibuk menuntut keadilan karna Ayahku bersama wanita lain hingga lupa memberi ibuku nafkah yang katanya adalah haknya. Menuntut aku dan adikku bersekutu melawan Ayah, sementara ia masih serumah dengan Broto yang sudah beristri dan mulai berusaha mengusirnya..”

Suluh mengelus pundakku, menggenggam erat tanganku, memandangi mataku.

“Tapi ibu itu ibuku. Ibu yang tertutup dan kecil hati, karna masa lalu yang terhina dan menderita… yang karena tak sekolah jadi babu dimana-mana, lalu kerja di pabrik. Merasa terangkat martabatnya ketika bertemu ayahku yang mahasiswa pandai, dan berwibawa. Tapi kecewa setelah menikah ayah malah memilih kesederhanaan. Terlalu mengalah dan tak menghasilkan berjuta uang. Hidup dirasanya berbingkai kecewa… dan aku tak sanggup membencinya. Aku tak bisa bergelayut dengan dendam padanya sepanjang hidupku…”

“Mengapa?”

“Karena. Karena.. aku mencintainya. Lekat dalam ingatanku. Segala ibu yang aku jumpa dalam hidupku. Ibu sendiri yang mencuci dan menyeterika pakaian kami tiap hari. Ibu pula yang memilih dan memasak makanan untuk kami, menjaga gizi dan kebersihannya. Ibuku pula yang berjualan di kantin sekolah, menangis menyaksikan aku dijemur guru karena tak mampu beli buku pelajaran. Pernah, ibu membohongiku akan menyusulku bersama ayah ke Sea World, Ancol padahal mereka di tempat parkir, menunggui aku dan teman-temanku yang asyik melihat pemandangan laut di dalamnya. Aku lupa, uang mereka telah habis untuk membayari kami demi kesenanganku, di hari ulang tahun yang sudah ke-21! Bayangkan. Aku malu dan menyesal mengingatnya. Ibu selalu ada kala kami dalam kesulitan, tak pernah habis jalan keluar di tangannya. Ibu tetap perhatikan kami sangat. Lalu bagaimana aku membencinya.”

Suluh menatapku kuat.

“Kau tahu?! Untuk kedua kalinya dalam hidupku, ia mengungkapkan perasaannya. Waktu kecil aku berharap sakit parah, agar ibu memanggilku ‘sayang..’, tapi sakit parahku hanya sekali hingga aku cemburu pada adikku yang sakit berkali-kali. Kemarin ia memanggilku, memelukku dalam dekapan kerinduan dan berbisik merdu.. ‘Sayangku, aku adalah ibumu, yang senantiasa menyemburkan cinta pada setiap aliran darah di ruang batinmu, dan kasih yang tak kentara pada deru nafas di setiap waktumu… Bagi banyak manusia, caraku memberi taklah sempurna, tapi mataku kuselipkan pada helai rambutmu, hingga kutahu segala resah di sudut jiwamu dan akan kaudamaikan sendiri dalam kedewasaanmu..’ dan kata-kata ibu itu menggiringku kembali pada lautan, berjabat erat dengan ombak dan buihnya. Ada bahagia membalut nafasku.”

“Sungguhkah?!..” tanya Suluh dengan tatapan syukur.

“Kau benar,” kepalaku mengangguk mantap padanya,”Aku harus berdamai dengan hatiku jika aku tak ingin tercabik-cabik oleh hempasan ombak yang senantiasa menubruk karang kesempurnaan.”

“Apakah yang akan kau lakukan ? Akankah kau berlari lagi ketika lautan itu mulai terasa meremukkan asamu ?!”

“Tidak. Ibuku mungkin tak akan pernah berubah, begitu pula ayahku. Biarlah mereka memutuskan kedamaian hari tuanya dengan pilihan hidup mereka sendiri. Entah apapun jadinya, aku hanya akan menghadapinya. Inipun ‘kan kujadikan cermin hidupku kelak, membenahi segala kapal yang rapuh, hingga aku menjadi kokoh di lautan…”

“Yah,” kepala Suluh mengangguk kuat, kutemukan embun di sudut mata bercahaya itu,” Telah kita temukan lautan yang kita rindui dan ingini. Siapkah kau menyelaminya bersamaku…?”

Dalam satu pelukan erat sekali lagi, kutahu Suluh sudah mengerti. Bahwa takkan ia sendirian, karena beribu kisah terangkai dan terkubur di lautan sana, takkan pernah membosankan dan percuma. Sumpah kami untuk sendiri, telah terkikis dalam lautan.

Kami tersakiti oleh ombak, tapi ombak pula yang membawa kami pada kesadaran untuk mengampuni dan menerima. Segala ombak menggulung yang ‘kan kami alami, mungkin akan menghempas kami, tapi kali ini kami tak kan berontak atau membenci. Kami hanya akan memeluknya, mencium, dan menimang-nimangnya hingga menjadi buih yang bertebaran bagai bintang di langit lepas.SELESAI

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Oktober 2008 in cerpen

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.