RSS

Arsip Kategori: Cerpen A-Be-Ge

Cinta Butuh Siasat, Sayang… (1)

Tira melihat sekelilingnya. Kelas sepi, hanya ia saja sendiri disitu. Tira ingin memberi pelajaran pada Muti yang telah mempermalukannya.Tira ragu-ragu. Tapi ia ingat peristiwa kemarin.

Ya, Muti mengambil tugas Fisikanya hingga Tira sendiri kelabakan. Masih diingatnya wajah seram Bu Un yang memarahinya di depan kelas. Juga senyum kemenangan Muti yang dikeluarkan diam-diam menuju ke arahnya.

Sekarang giliranku untuk meng-KO-mu Muti. Bisik hati Tira. Perlahan dibukanya tas Muti dan dimasukkannya seekor kadal yang menjijikkan… Eits. Apa ini. Sebuah buku merah hati yang tiba-tiba menarik perhatian Tira, diambilnya dari dalam tas Muti yang menganga.  Ah. Buku harian ! Tira seperti menemukan ide baru yang membuat matanya terbelalak senang. Ini bisa menjadi tambahan pelajaran buatmu, Muti!

Tira akan membaca keras-keras buku harian Muti di tengah kelas, hingga seisi kelas tau rahasia Muti dan mentertawakan isi tulisan yang pastinya… bisa bikin malu ! Aku akan membuatmu jadi pendiam sepanjang waktu…..

Tira membayangkan apa yang akan terjadi, sambil memilih-milih bagian dari tulisan di buku harian Muti yang akan dijadikan orasi. Hmmm… buku harian baru, belum ada sebulan dia menulis. Rata-rata tentang keluarga, permusuhan denganku. Sialan. Dia bangga bisa mengalahkan aku. Tira mencibirkan bibirnya. Lalu bagian paling penting akhir … Tira melihat nama Bondan dicantumkan disitu. Cepat-cepat dibacanya tulisan itu…

Kamis murung, 1 April ‘96

Aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan hidup. Pusing – pusing ini ternyata semakin hari semakin sering saja datangnya. Tumor otak, ah…. penyakit itu, kenapa harus menimpaku. Tapi aku harus menghadapinya. Aku harus menyembunyikan semua ini lewat Tira. Ya, lewat dia tak seorangpun menyangka aku terkena penyakit itu. Tapi Bondan, ah .. cowok itu seperti memberi semangat baru buatku. Mengapa dia begitu jauh. Mungkinkah dia jatuh cinta padaku ? Aku harap …..

Tira bingung. Kenapa ini terjadi. Muti menyimpan sesuatu. Lalu ia buka lembar sebelumnya yang terlewat. Ia mencoba mencari nama Bondan lagi disana…

Temaram Rabu, … 8 April ‘96

Bondan, entah kenapa aku jadi sering memperhatikannya. Dia memang pantas jadi idola. Dan Tira memang pantas mendapatkannya. Aku tau, anak itu sebetulnya baik kalau tidak diganggu. Tapi, itulah hidup, dia harus punya pengalaman… karna hidupku singkat, aku lebih menghargainya kini. Mengapa aku jatuh cinta pada Bondan, pacar Tira.. ? dan menjadikannya sebagai sumber semangatku untuk hidup ? Ah, tak mungkin bagiku mengkhianati Tira, meski ia bukan sahabatku … seharusnya mudah saja bagiku merebut cinta Bondan karna aku dan Tira memang tidak pernah akur. Tapi, aku tidak bisa, kecuali jika, diantara mereka sudah tak menjalin hubungan cinta lagi. Tuhan, tolonglah …beri aku kesempatan.

Ah, … ternyata diam-diam, Muti suka pada Bondan. Namun, Muti juga berusaha tidak menyakiti aku. Tira menyesal, mengapa ia baru tau hal itu sekarang. Tira berjalan menuju tas Muti untuk mengembalikannya. Namun teman-teman sudah keburu masuk. Tira berusaha menjatuhkan tas Muti hingga isinya bertebaran di lantai, lalu dilemparkannya buku harian itu diantara buku yang bertebaran, seolah tak disengaja.

Sesaat kemudian, Muti masuk ke kelas. Dilihatnya buku-bukunya berserakan. Iapun melihat buku hariannya ikut terhempas di lantai. Diliriknya Tira. Pasti dia. Tira terlihat pura-pura baca buku. Muti menggerutu. Namun aneh. Muti merasa di atas angin.

****sp***

Bona menghempaskan tubuhnya di kursi teras, rumah Tira. Hari ini ia betul-betul bingung dengan tingkah Tira. Gadis manis tercintanya itu tiba-tiba saja ingin menjauhinya.

“ Kamu kenapa sih … ?!?” tanya Bondan penasaran. Gusar.

“Kak Bondan, kamu selama ini baik ama Tira. Trus…em..” Tira bingung melanjutkan kata-katanya..

“Ada apa sih Tira, ayo dong terusin, jangan ragu. Kamu pikir saya ini siapa? Hm?!” tanya Bondan tak sabar.

*

bersambung ya…

 
2 Comments

Posted by pada 27 Februari 2010 in Cerpen A-Be-Ge

 

KORBAN MEDIA

Satu hal yang bikin Iping cinta akan kegiatannya sebagai tim kreatif OSIS adalah tersalurkannya ide-ide yang ada di kepala Iping dan timnya. Kali ini ide tentang program Gila Majalah Dinding yang sudah tiga bulan jalan, mulai kelihatan hasilnya. Karya teman-teman makin bagus-bagus. Kritis. Pak Pandu, sang Kepala Sekolah mendukung dengan sangat antusias. Beliau memberi fasilitas papan khusus untuk mading yang ukurannya lumayan besar. MadingLas, Mading Kelas dipasang pada teras samping tiap-tiap kelas, sedang MadingMa alias Mading Utama dipasang antara pintu masuk dan aula sekolah. Ukurannya dua kali lebih besar. Wow !

Setiap bulan karya harus baru. Jadi, siswa bisa baca seluruh mading yang ada di sekolah itu sebulan lamanya. Kesempatan untuk menelurkan karya baru yang unik dan menarik jadi lebih banyak. Tema yang diangkatpun bisa macam-macam. Lengkap. Resep percobaan kimia-fisika-biologi sampai resep masakan, tips cari pasangan sampai tips melembutkan hati guru, ihhh… ada juga puisi, cerpen yang super romantis sampai tulisan ilmiah yang biasanya paling akhir dibaca…hihihi. Juga cerita dan gambar ilustrasi lucu yang kadang jayus… wah! Eh, mereka juga saling kirim salam  lewat mading lhoh…

Iping senang kerja sama timnya tak sia-sia, terutama dalam hal meyakinkan Pak Pandu dan Bu Semy selaku pembimbing OSIS. Ini bukan kerjaan gampang. Serangkaian jurus sudah disiapkan sebelumnya. Mulai dari melobi, buat proporsal, juga buat jadwal setahun kedepan untuk MadingLas dan MadingMa. Mereka juga berani tanggungjawab atas isi karya yang dibuat. Wih, yang terakhir ini bikin Iping was-was. Gimana kalo redaksi kurang teliti, atao udah teliti tapi salah langkah, atao…kecolongan berita..hiii.. Masalahnya, kini mading-mading itu jadi pusat imajinasi, aspirasi, sekaligus informasi siswa, guru, Pak Pandu (aduh..) dan siapapun yang baca. Pokoknya, pusat perhatian.

Ah, que sera sera lah…, pikir Iping, yang penting sekolah gue maju. Temen-temen nggak lagi ngelamun kosong, teriak-teriak, atao pukul-pukul meja kalo pelajaran kosong atao lagi istirahat. Toh, dengan begitu sekolah boleh bangga bahwa anak didiknya banyak juga yang bisa buat karya jempolan dan nggak kalah ama para penulis terkenal.. Lagipula, mereka butuh media untuk mengalirkan segala ide di kepala yang kadang luber kemana-mana. Apa enaknya nahan keinginan terpendam…

“Iping,… bangun. Ada telepon nih, dari Yeye.” Iping bergegas ke arah Inong. Direbutnya gagang telepon dari tangan Inong. Adek tunggalnya itu cuman bisa bengong.

“Ada apaan Ye? Lo gangguin jadwal tidur siang gue aja…” selonong Iping, mulutnya dibukanya lebar-lebar, menguap berkali-kali. Inong menutup hidungnya. Gile.. punya kakak cewek gayanya selebor abis. Tapi…, Inong ketularan nguap juga.

“ Alah… ulah begitu atuh. Mentang-mentang lagi off ! Cepetan sekarang lo liat tv. Ada ketua OSIS kita eui, si Ruben. Cepetan…” Klik! Yeye langsung menutup teleponnya. Iping menurut.

Iping merebut remote dari tangan Inong. Karena Yeye tidak menyebutkan tv apa yang harus dilihat, maka Iping sibuk menekan semua tombol.

“Weleh weleh… Mau nonton apaan sih lo Teh ?! Maen rebut tontonan orang…” tanya Inong sewot. Tapi mau juga mengalah demi kakaknya.

“Ini nih,… kata si Yeye ada temen gue si Ucok, eh Ruben yang lagi ada di tv. Nggak tau tv mana, lagi ngapain, acara apaan, udah maen ditutup aja telponnya.” Sahut Iping masih sibuk menekan tombol. Iping memang kebiasaan sebut nama orang dengan sembarangan…cuma karna si Ruben keturunan Batak, Iping kasih gelar Ucok!

“Ruben ketua Osis lo ?! Si Ganteng itu?! Lha barusan gue nonton acaranya.”

“Kok lo nggak bilang sih. Biasanya lo udah cuap-cuap duluan…”

“Sini!” Inong merebut remote dari tangan Iping, “Masih iklan… tunggu aja.” Inong tetap menggenggam remote kuat-kuat. Dia tau, kalau remote ada di tangan Iping, bisa bikin pusing yang nonton. Yah, setiap jeda iklan, pasti Iping sibuk liat acara ke seluruh chanel. Dan kalau ada yang menarik, Iping bisa kelupaan dengan acara utama. Hah, jangan sampe deh !

“Ha ?! Acara apaan nih !! Ternyata Setia Selingkuh ?! Ih… mana si Ucok, eh Ruben ? Masa dia ikutan acara kaya beginian sih…nggak intelek banget.”

“Eh, Teh. Makanya, kegiatannya dikurangin. Jadi nggak ketinggalan acara. Ini nih tontonan wajib gue tiap Selasa sore. Biasanya lo kan masih ngejublek di sekolah… lagian, bukan si Ruben yang ikutan, tapi ceweknya. Tuh liat tuh….”

Betul juga. Iping liat cewek cantik yang terus nyerocos ke kamera, di suatu tempat, dan bawa hape. Cewek ini ngaku sebagai pacar Ruben. Ya, Iping pernah liat Ruben jalan dengan cewek itu. Dia sekolah di tempat yang beda. Oh, rupanya tu cewek meragukan kesetiaan si Ruben, terus diam-diam ngikutin gerak-gerik Ruben kemanapun doi pergi. Ngeceknya pake hape en kamera. Ih,… berat amat sih pacarannya.

“Tuh…liatin Teh, si Ruben yang dikuntit..” Inong mulai heboh.

“Iye, iye! Gue liat… wah, gagah juga ya tu anak kalo di tv!” Iping teriak girang. Inong sewot. Ih,.. kampungan.

“Sebentar lagi Kak pembuktiannya. Dia selingkuh atao enggak. Jujur atao enggak. Baru deh… lo boleh bangga.”

“Hih… gaya lo persis tim penyidik kasus berat aja dek..!” ujar Iping sambil nggak sabar tunggu akhir acara soal status Ruben nantinya. Hihihi.. kalo putus, kan lumayan. Toh gue nggak jelek-jelek amat. Diem-diem Iping bangga juga punya ketua OSIS yang populer, dan senang karna lewat kegiatannya di OSIS, mau tak mau membuat Iping harus sering berhubungan dengan Ucok, eh Ruben.

Kata Inong, acara Ternyata Setia Selingkuh memang dikenal manjur untuk membuktikan kejujuran dan kesetiaan pasangan. Tapi kalau korbannya teman sendiri, Iping agak kasihan juga. Gimana kalau memang terbukti Ruben bohong, tapi sebetulnya dia tak bermaksud selingkuh. Ada-ada aja sih.

“Nah, tuh Kak! Ruben jalan ama cewek laen, tapi ngakunya di sekolah lagi rapat OSIS rame-rame! Wah, nama lo juga disebut tuh Kak! Waduh, hebat juga nih Kakak gue, punya kenalan ganteng….hehehe. Kalo putus bisa tuh.. ” cerocos Inong cengingisan.

“Heh. Enak aja! Buat gue dulu… lagian lo bilang ga boleh bangga sebelom tau dia jujur apa enggak…”

Adegan selanjutnya, si cewek menangkap basah si cowok, Ruben yang lagi berduaan ama cewek lain di warung makan. Wah, Ruben kelihatan bingung dan ingin menghindar dari kamera. Pasti dia malu. Kasihan si Ruben. Eh! Belom-belom kok si cewek mencak-mencak nampar Ruben, dan nyiram Ruben pake air minum yang ada di meja Ruben. Ruben keliatan marah banget, malah cewek yang katanya selingkuhannya digandeng pergi buru-buru. Tapi kepergiannya dihalang-halangin tim acara.

“Aduh! Gawat nih…” seru Iping tiba-tiba waktu jeda iklan.

“Kenapa Kak?! Ada hubungannya ama elo ?!” tanya Inong kepingin tau.

“Bukan begitu. Ruben kan ketua OSIS gue. Pasti besok sekolahan heboh. Trus, dia bakalan malu. Trus, tim OSIS gue jadi nggak asyik lagi gara-gara ketua gue ada masalah. Yah,.. dampak kedepannya,.. OSIS bisa garing abis nih…”

“Sampe segitu seriusnya ?!”

“Iya. Jelas. Gimana kalo Ruben mengundurkan diri saking malunya… Dasar tuh cewek! Emosionil. Baru pacaran aja udah berani bikin malu. Belom juga jadi selebritis. Itu kan masalah pribadi. Ngapain pake media tv segala. Publikasi kemana-mana. Keterlaluan. Nggak mikirin perasaan orang, dampak kedepannya. Nggak pake rasio!”

“Lhoh?! Kok jadi mencak-mencak sendiri. Kan jadi terbukti Ruben itu cowok kayak apa sebenernya dan patut dicintain apa enggak !” Inong tak mau kalah.

“Kan bukan gitu caranya. Tega amat ama pacar sendiri.”

“Tapi Kak. Kalo nggak begitu, kita semua nggak bakal tau kalo dia playboy.”

“Belom tentu dia playboy. Bisa jadi karna ceweknya cemburuan. Bisa jadi selama pacaran ceweknya emang bikin bete. Bisa jadi….”

“Bisa jadi Ruben emang tipe cowok nggak setia. Bisa jadi emang Ruben pembohong akut dan kali ini dia kena getahnya. Lo tuh cuma ketipu ama tampang en karismanya doang, makanya lo belain dia mati-matian !” potong Inong ikut mencak-mencak. Otot-otot di lehernya sudah mirip akar pohon beringin.

Begitulah. Mereka berdua jadi perang sendiri, adu pendapat. Itu sudah biasa terjadi di depan tv. Sementara adegan di tv, malah Ruben yang putusin pacarnya tanpa menjelaskan apapun. Cewek yang tadinya pacar Ruben malah bengong dan nangis histeris. Cewek yang dianggap selingkuhan Ruben juga bengong. Lalu duduk di boncengan motor Ruben, dan ikut pergi menghilang. Pembawa acara menutup acara dengan sedikit kata-kata bijaknya (mestinya sih…).

:::::sp:::::

Pagi begini indahnya. Sayang kalau dilewatkan.. Iping sengaja berangkat ke sekolah agak siang. Baru turun dari angkot, Iping langsung dirubung anak-anak tim kreatif OSIS. Yeye dengan gaya anggunnya. Oci yang gampang grogi. Bayu yang hobi bergerak. Lukas si pemikir. Semua tak sabar buka cerita. Wah, sepertinya bakal ada rapat dadakan nih.

“Ada apaan sih.. ngomong satu-satu atuh….!” Seru Iping yang bingung ditarik sana sini. Dandanan rambutnya dirapiin berkali-kali.

“Oke. Begini. Lo udah nonton  Ruben di tv kan. Nah, bisa bayangin nggak dampaknya terhadap tim kreatif OSIS kita ?!” Lukas mulai omong serius.

“Emang dampaknya kumaha ?!” tanya Iping. Sepasang alisnya mulai beradu.

“Gawat! Super gawat, dan yang pasti, bisa bikin perut lo mules!” sahut Oci.

“Apa?! Jadi bener dong prediksi gue! Kalo si Ucok itu bakal mengundurkan diri dari OSIS. Wah! Bener-bener gawat neh! OSIS kita bakal garing. Nggak lagi punya ketua ganteng, berkarisma, enak diliat, pengertian, baek hati, suka ngebodor, nggak ada duanya,….aduh…semangat gue, eh kita bisa turun nih..Iya nggak sih!!” gaya Iping yang hiperbola abis malah bikin timnya geregetan. Tega-teganya tu anak mikir diri sendiri.

“Heh. Kalo masalahnya si Ruben, tim kita nggak bakal kena dampaknya. Tapi masalahnya, ini langsung masuk ke pertanggungjawaban tim kita!” samber si Bayu agak-agak jeles. Masa sih, Ruben segitu hebatnya dimata para cewek, termasuk Iping.

“Maksudnya,… apaan nih ?!” Iping mendadak senang, tapi juga bingung. Yah, si Ruben nggak ngundurin diri seperti dugaannya, hanya… masalah selanjutnya udah menunggu. Dan ini emang lebih gawat! Komplotan OSISnya itu menggiring Iping ke MadingMa. Astaga sekali !! Iping syok dan langsung memegang perutnya. Betul kata Oci, ini bisa bikin perutnya mules! Aghhh…

Tulisan-tulisan dadakan itu… “RUBEN!! TERNYATA…AHHH!!” ; lalu ada lagi.. “KETUA OSIS PLAYBOY ?! IIHHH!!!” ; dan lagi.. “AKHIR PENGEMBARAAN RUBEN,..BETULKAH?!”; lalu..”TIPS SELINGKUH ADA DI RUBEN!”; trus…”TENAR KARNA SELINGKUH?! PLEASE DECH!” ; “KENAPA HARUS KETUA OSIS KITA?!”; “RUBEN…KITA SIAP JADI CEWEK LO..!!”; “ULAH GITU ATUH…BIKIN MALU PISAN EUI!!”; dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

MadingMa memang tertutup rapat dengan kaca tembus pandang yang terkunci. Pemegang kunci adalah tim kreatif OSIS dan Kepala Rumah Tangga sekolah. Hal ini supaya tak sembarangan orang bisa memasang ataupun mencopot karya yang terpampang di dalamnya. Masalahnya, tulisan yang besar-besar itu ditempel menutupi seluruh permukaan kaca luar MadingMa. Ini juga terjadi pada semua MadingLas yang terbuka tanpa kaca pengaman. Temanya sudah tak sesuai schedule bulan ini.

“Yah. Meskipun kalian ikut bertanggungjawab terhadap mading di sekolah ini, kali ini saya melihat ini bukan kesalahan kalian.” Kata-kata Pak Pandu bikin lega hati Iping dan timnya. Setelah acara pembersihan MadingMa, mereka digiring ke ruang Pak Pandu, dan menjelaskan situasinya apa adanya. Disaksikan Bu Semy yang sepanjang pembicaraan tak bersuara. Mules-mules di perut Iping pun mereda.

“Terimakasih Pak!” sahut Lukas mengangguk mantap.

“Ya. Tapi, meskipun tak bersalah, kalian tetap harus bertanggungjawab.” lanjut Pak Pandu. Anak-anak celingukan. Senggol-senggolan. Gimana sih…

Punten Pak, maksudnya teh… bagaimana gitu?” tanya Yeye. Logat Sunda yang campur aduk itu akhirnya keluar juga.

“Program apa itu… Gila Majalah Dinding? Ya, apalah itu,.. kan melatih kalian juga untuk menanggung beban tanggungjawab moral. Jadi, kalian perlu menyelesaikan persoalan ini dengan ketua OSIS kalian juga. Apalagi Ruben langsung yang tersangkut masalah ini. Tadi saya sudah minta guru BP untuk menenangkannya. Sekarang tinggal terserah kalian. Mau model pertanggungjawaban apa yang akan kalian lakukan.”

“Baik Pak. Siap! Kami akan memikirkan cara agar persoalan ini beres.” Iping buru-buru menutup pembicaraan. Lainnya manggut-manggut.

“Eh. Lo kok buru-buru sih ? Gue masih pelajaran Matematik nih.. tega ih!” protes Bayu setelah mereka keluar dari ruang Pak Pandu. Bu Semy masih bicara dengan Pak Pandu. Oci, Yeye, dan Lukas jelas masih sibuk mikir.

“Kelas gue lagi kesenian. Penilaian. Masing-masing nyanyi di depan kelas. Kalo gue telat, bisa-bisa minggu depan gue nyanyi sendiri nih! Ya udah, ntar istirahat kita bikin pertemuan dadakan deh. Kantin ya!” Iping langsung lari ke kelasnya. Mereka pisah saat itu juga.

:::::sp:::::


“Ping. Gue nggak jelas deh ama kata-katanya Pak Pandu. Beban tanggungjawab moral. Maksudnya apaan sih..” tanya Oci serius sambil menyedot teh botolnya.

“Maksudnya, kita tuh punya beban. Nah bebannya itu moral. Trus,.. kita kudu tanggungjawab deh..” jawab Iping ikut bingung.

“Emang begitu?!”

“Nggak tau.”

“Beban tanggungjawab moral itu artinya kita kudu tanggungjawab ama segala macem karya yang dipajang di semua mading sekolah kita tuh! Isinya harus bisa mengembangkan moral kita-kita.” Lukas mulai dengan isi kepalanya.

“Jadi isinya harus bermoral dong. Ah, istilahnya orang-orang gedhe tuh susah-susah ya…” Oci masih linglung.

“Yah…bicara soal moral mah kita kudu mikirin cara biar program Gila Mading jangan tercemar. Lagian, siapa sih yang bikin ulah. Apa kita kudu selidikin orangnya?! Gue ama Bayu siap nih jadi tim penyidik!” Yeye yang duduknya selalu tegak makin semangat. Didukung anggukan Bayu yang masih sibuk dengan dua mangkok sotomie-nya.

“Iya. Siapa sih yang mau bikin kacau program kita!” Oci mulai sewot.

“Menurut gue, daripada sibuk cari oknumnya, mendingan cari cara buat nyelametin perasaan temen kita Ruben. Kasian kan dipojokin banyak orang gara-gara ulah cewek gila mantan pacarnya itu. Punya pacar kok penghianat !” Iping tiba-tiba inget perdebatannya dengan Inong kemarin sore.

“Heh,..ada apaan nih. Ada yang butuh kipas nih ternyata…” Bayu pinter juga ngeliat situasi,.. senggol-senggolan ama Yeye dan Oci.

“Hih… buat apaan !”  Iping sewot.

“ Ya buat ngipasin asep di kepala lo itu atuh…” sahut Yeye, “ Segitu setianya ama ketua OSIS kita, sampe berapi-api belain Ruben. Ada apaan eui…!”

“ Yeee… biasa aja deh.” Iping grogi. Pipinya mulai keliatan merah. Itu artinya Iping malu. Malu banget!

“Iping bener.” Lukas mulai dengan gaya seriusnya, sambil betulin letak kaca mata minusnya yang trendy. Kadang-kadang Iping bersyukur juga punya temen kaya Lukas. Penolong di situasi sulit… “ Lebih baik kita menyelamatkan perasaan temen kita Ruben. Kita harus bikin pendekatan khusus. Selaku ketua tim kreatif OSIS,  Ipinglah yang harus melakukan pendekatan duluan…”

“Ha ?! yang bener aja lo..” Iping tiba-tiba mules lagi. Lukas penolong ?! kayanya harus pikir dua kali deh ..

“Yeye dan Bayu cari oknumnya. Gue dan Oci, akan tetap melakukan tugas-tugas rutin tim kita. Gimana ?!”

“ Yaah.. gue kan ketuanya. Gue dong yang ngatur. Nah, gini aja. Luk, lo sebaiknya yang bikin pendekatan ke Ruben…” Iping mulai sok kuasa.

“Heh! Dalam hal ini, Lukas bener. Antara ketua tim kreativitas dan ketua OSIS harus bikin pertemuan. Lo kan urusannya keluar juga, ketua harus bisa melakukan hubungan  diplomasi gitu loh!”  potong Bayu lumayan teges. Iping sampai mengkeret.

“ Gimana caranya dong… gue takut si Ruben malah sebel ama tim kita gara-gara program Gila Mading.” tanya Iping setelah beberapa saat dia diam. Pasrah.

“Ping. Lo kan banyak akal. Lagian, sejak kapan sih lo maju mundur ngadepin orang. Iya sih, gue ngerti kok. Ruben emang agak bikin degdeg serrr buat dideketin. Nicho Saputra banget! Pake kaca mata pula, lo kan suka cowok berkacamata. Apalagi berduaan..hihihi..” Oci cengengesan liat ekspresi Iping. Lukas bolak balik megangin kacamatanya,..perasaan gue juga pake kaca mata deh. Kok gak dilirik Iping ya.

“ Ihhh… dasar pada keterlaluan semua !” Iping marah nutupin rasa groginya.

“ Oke. Udah bel. Berarti semua udah ada pembagian tugas ya. Kita kerjain bagian masing-masing. Nih, nomor telepon Ruben. Habis dari BP, gue liat dia pulang. Mungkin dia malu banget. Takutnya besok dia gak masuk sekolah. Kalo bisa sih pulang sekolah lo temuin dia. Biar cepet kelar masalahnya. Oke ?! Good Luck semua.” Lukas dengan gaya cool-nya langsung pergi begitu aja, yang lainnya langsung bubar.

Iping bengong. Kadang-kadang Iping ngerasa Lukas lebih pas jadi ketua timnya. Pemikirannya jelas sistematis, dan dia rasional. Hah. Nggak kaya gue, yang selalu serba spontan. Tapi spontanitas itu pula yang menghasilkan Gila Mading. Spontanitas itu juga yang menyeretnya pada masalah sekarang ini. Berhadapan dengan Ketua OSIS. Ruben.

:::::sp:::::

Taman Topi sore ini nyaman banget. Anginnya semilir. Tanpa hujan gerimis seperti biasanya. Indah. Tapi susah buat Iping untuk menikmatinya. Rasanya campur aduk nggak keruan. Janjian. Kencan?! Hah.. Iping nggak berani mikir lagi. Membayangkan Ruben duduk di salah satu tempat makan dan nunggu Iping dateng aja cukup bikin hati Iping kebat-kebit. Ih, nggak mungkin banget gitu loh !

Iping memang sering janjian ama temen-temen di Taman Topi. Tepatnya di Kafe Daun. Paling gampang dan enak janjian disana. Bisa duduk-duduk sambil ngobrol, diskusi, curhat, kerjakan pe-er, …. segalanya deh. Semua pelayan disana sudah hapal dengan Iping. Menunya juga murah meriah. Meskipun selebor, Iping lumayan bisa diandalkan temen-temennya yang lagi punya masalah. Kata mereka, Iping bisa mendengarkan. Menganalisa. Bisa kasih masukan dan  memotivasi hati siapa saja.

Tapi.. ngobrol dengan Ruben. Berdua. Aduh…nggak kepikiran deh. Apalagi inisiatif dimulai dari Iping sendiri. Nekat telpon Ruben, basa-basi dikit, lalu ngajak ketemuan. Untungnya Ruben langsung oke. Meski Iping bingung lagi, karna rasanya Ruben terlalu cepet setuju. Aneh sih.. apa karna sekarang doi lagi jomblo..

Ah, Ruben. Si Ucok sang Ketua OSIS yang sebetulnya sering berhubungan langsung dengan Iping. Tapi, bagi Iping Ruben terlalu jauh dijangkau. Susah banget untuk bisa bergaul akrab dengan Ruben. Mungkin karna beda di banyak kelas. Beda kelas di sekolahnya, beda kelas ekonomi,.. otomatis juga beda kelas pergaulan. Iya, Ruben kan anak orang kaya. Iping serasa bikin janji dengan selebritis. Mesti ati-ati banget.

Wih… Ruben keliatan dewasa banget tanpa baju seragam. Duduk di depan meja dengan dua tempat duduk. Tampangnya yang tenang bikin Iping maju mundur duduk di depannya. Pantesnya sih,.. orang seganteng Ruben janjian ama cewek secantik Agnes Monica, Masayu, Dian Sastro… kaya di sinetron itu. Cewek Ruben di acara Ternyata Setia Selingkuh itu juga cantik… untungnya, eh.. sayangnya udah putus.

“Hai! Dah lama nunggu ya…” seru Iping sambil mukul pundak Ruben dari belakang. Tapi kayanya suara en pukulannya terlalu keras. Iping sampe kaget sendiri.

“Aduh! Lumayan sih. Emang sengaja dateng duluan kok. Mau pesen apa ?”

“Mmmm,… es teh aja deh…” jawab Iping kikuk sambil bayangin kocek yang ada di tasnya sekarang. Susah banget ngilangin grogi…

“Apa?! Masa es teh sih. Tenang, saya yang traktir.. sama makan sekalian deh. Kita kan mau ngobrol panjang. Iya kan ?!” Ruben nyebut dirinya dengan kata ‘saya’.. itu bikin Iping takjub. Seolah mereka berjarak.. tapi gimana dengan kata ‘ngobrol panjang’?!

“ Oke deh. Saya mau jus jeruk. Pie apple. Saya juga mau kentang goreng… hihi, nggak tau diri ya.” Iping cengar-cengir pura-pura blo’on. Maksudnya sih, demi mencairkan suasana. Iping bertekad untuk jaga rasa pe-de nya. Tapi tetep aja dia merasa kecil di depan Ruben, sampe nggak sadar dia ngomong sendiri…sepelan mungkin..,”..gue ngerasa kaya orang kerdil duduk disini nih….”

“ Masing-masing dua ya. Makasih.” Ruben senyam senyum ama Bang Ering, pelayan Kafe Daun. “Eh, apa maksud kamu orang kerdil?” pendengaran Ruben tajem juga. Pandangannya yang penuh selidik bikin Iping lemes…

“ Eh, anu.. setiap kali saya kesini,.. saya selalu ngerasa kaya kelompok smurf,.. orang-orang kerdil. Bedanya mereka tinggal di jamur, sedangkan kita di dalem topi…” Iping ngeles. Cukup pinter untuk bikin Ruben manggut-manggut en ketawa kecil.

“ Iya. Lucu juga ya. Kenapa saya nggak mikir sampe ke situ ya..”

“Mungkin karna kamu jarang ke sini. Saya udah biasa  sama temen-temen tuker pikiran disini. Yah,.. kalo lagi ada duit sih. Kadang kita patungan. Abis disini tempatnya enak. Mau kemana-mana deket. Serasa di rumah sendiri aja…”

“Saya sering denger sih tentang kamu yang bisa bergaul sama siapa aja. Eh, saya suka tuh, liat cara kamu ngelobi ke saya, Bu Semy, dan Pak Pandu tentang program Gila Mading itu. Saya suka cara kamu bicara soal budaya menulis, soal penyaluran ide, soal hal-hal yang malah Pak Pandu sendiripun kelihatan takjub sama pemikiran kamu…”

Iping duduk lebih tegak dari sebelumnya. Matanya melebar memandangi wajah Ruben yang simpatik. Aduh.. kenapa keren banget sih. Rambutnya dipotong agak pendek. Garis mukanya tegas.

“ Saya nggak nyangka kalo program itu malah bawa suasana baru di sekolah kita. Mulai dari Pak Pandu dan para guru yang sangat mendukung, lalu temen-temen yang tambah kritis, daya intelektual mereka berkembang,….”

Dia juga cerdas. Liat matanya dong, tajem. Kacamatanya bikin dia keliatan makin cerdas. Bener Oci, Nicho Saputra banget !

“ Lalu tulisan-tulisan di MadingMa yang cukup memberi spirit baik dalam… pikiran, perasaan, juga akhirnya perilaku mereka.. seperti yang kamu bilang waktu itu.”

Pesanan datang… bikin lamunan Iping buyar. Untung deh. Aduh, bangun dong! Jangan sampe gue keliatan tolol…. Misi pendekatan ke Ketua OSIS harus berhasil. Jangan mikir yang aneh-aneh. Demi kelancaran tim kreatif OSIS !

“ Kamu makan kentangnya cepet banget… kalo laper pesen makan malem aja sekalian…”  Ruben ketawa liat Iping sibuk makan kentang. Kaya kejar setoran!

“Eh, sori. Ini tandanya saya lagi konsentrasi penuh. Bener kok. Saya tetep dengerin kamu ngomong. Terusin aja..” Iping pengen mukul diri sendiri. Bodo banget sih gue…ga bisa jaim…lalu buru-buru minum jus jeruk. Hampir aja keselek.

“Yah. Saya liat kerja keras kalian, terutama kamu sebagai ketua tim kreatif. Saya sangat berterimakasih. Kalian memberi warna bagi tim OSIS kita, yang otomatis juga memberi warna bagi sekolah kita. Saya minta maaf, karna harus kamu duluan yang menghubungi saya untuk bisa bicara seperti sekarang ini.”

“Ah. Saya, eh, kami nggak mengharapkan pujian kok. Asal misi kami berhasil, rasanya udah puas. Kami yakin ini bisa mendongkrak popularitas tim OSIS, sekaligus sekolah kita juga.”  Rupanya Iping udah berhasil nginjek tanah lagi. Pe-Denya udah kembali. Hah.. cukuplah acara salah tingkah liat makhluk alus di depannya ini. “Tapi sebetulnya, saya atas nama tim kreatif OSIS yang seharusnya minta maaf. Gara-gara program Gila Mading itu, beberapa orang merasa punya tempat untuk mengeluarkan pendapat dengan cara seperti peristiwa pagi tadi. Itu reaksi mereka tentang…acara Ternyata Setia Selingkuh… yang membuktikan kalo kamu….”

“Saya tau. Selingkuh. Nggak setia. Playboy.”

“Maaf. Mungkin karena mereka bermaksud untuk cari perhatian. Mereka ingin nunjukkin reaksi mereka terhadap media yang mereka liat, rasain, pikirin. Saya liat di satu sisi ini ini emang keterlaluan karena mereka nggak pake jalur bener, tapi di sisi lain,…kita bisa liat kalo mereka peka dan berusaha kritis terhadap acara itu dan…”

“ …dan, saya korbannya.” potong Ruben pelan dan tenang.

“Yah, kamu saat ini korbannya. Saya… minta maaf.” Aduh. Iping takut Ruben dendam. Trus, muncul pro dan kontra program Gila Mading. Trus…harus dibredel!!! Ah, jangan, dia harus berjuang,” Yah… untuk itulah program Gila Mading ini harus terus dijalanin, Cok, eh.. Ruben. Dengan adanya masalah ini kita bisa sama-sama belajar. Dari proses belajar itu kan kita bisa berkembang. Pokoknya percaya deh, saya akan mikirin cara biar nama kamu bersih. Sekali lagi saya bener-bener minta maaf, tapi jangan diilangin ya program Gila Mading ini, please…”

“ Kamu udah pernah pacaran ?!” tanya Ruben tiba-tiba.

“ Apa?! Eh,…mmm, belom.” Iping hampir loncat dari tempat duduknya.

“ Menurut kamu, cinta itu apa ?!”

“ Hah?!…” Iping bingung.  Apa-apaan nih…kok tiba-tiba sih ?!

“ Kamu percaya cinta sejati ?..sebagai orang yang belom pernah pacaran.”

“ Oh. Yah,.. percaya.”  Iping masih bingung kemana arah omongan Ruben.

“ Kenapa ?”

“…karena cinta itu anugerah Tuhan yang nggak mustahil kita terima..”

“ Kapan kita terima cinta sejati itu…”

“ Yah,… suatu hari. Kalo kita udah siap. Semua ada waktunya…”

“ Kamu yakin ? Gimana kamu bisa seyakin itu …”

“ Yah,.. saya nggak tau. Saya cuma ngikutin hati saya aja…”

“ Kalo ternyata kamu salah..”

“ Saya akan mulai dari awal lagi… sampe saya ketemu dengan cinta sejati itu.”

“ Kamu nggak menyesal ?!”

“ Nggak. Nggak boleh. Saya yakin, semua itu malah bisa bikin kita makin dewasa. Kita jadi lebih hati-hati melangkah.”

“ Begitu ya.”

“ Iya.”

“ Menurut kamu, saya ini orang yang kaya gimana…?” tanya Ruben lagi.

“ Mmm…. kamu cukup..pinter, populer, mmm..trus..” Iping tiba-tiba salting lagi.

“ Trus.. apa lagi, selain…ganteng, berkarisma,..trus enak diliat, pengertian, trus..” Ruben berenti sebentar, matanya bergerak-gerak dari ujung ke ujung, “…baek hati, suka ngebodor, nggak ada duanya,….bisa bikin semangat kamu turun…” Ruben geli lihat makhluk yang tiba-tiba bengong di depannya. Salah tingkah.

“ Oh! Hehe…kamu denger…hehe.. dari siapa..” Aduh! Yeye. Oci. Lukas. Bayu,…dari siapa ?! Kapan  mereka omongnya..?! Tiba-tiba Iping pingin jadi bekicot..

“ Saya denger langsung dari ruang BP. Saya tau persis itu suara siapa.. suaranya khas. Nyaring, heboh, berisik.. dan sumbernya jelas dari satu orang. Kamu.”

Iping syok.  Kaya patung. Ga bisa gerak. Ternyata pagi tadi Iping gak sadar kalo tim kreatif ribut soal mading  di depan ruang BP … dan, Ruben lagi ada di dalemnya…

“ Makasih ya.. ternyata masih ada yang punya pendapat positif tentang saya. Setelah tayangan di tv kemaren sore itu.”

“ Makasih ?!.. hehe aduh. Sori deh,.. hihihi jadi gak enak badan nih…”  Iping super salting, tapi suasana jadi agak mencair persis es krim yang dikulum.

“ Hehehe..kamu itu, kadang-kadang memang suka bikin gempar, sampai-sampai guru BP berhenti omong ! Trus… sebutan Ucok lumayan juga..”

“ Hihihi…Eh, iya ya. Maaf ya. Saya betul-betul minta maaf atas semuanya.”

“ Kok kamu minta maaf terus. Bukan masalah kok. Saya seneng-seneng aja.”

“ Trimakasih kalo begitu. Mmmm… boleh saya tanya soal tayangan kemarin ?”

“ Menurut kamu, adegan apa yang kamu lihat ?” Ruben ganti bertanya.

“ Waduh,.. ya.. pacar kamu membuktikan kalo kamu betul-betul selingkuh dengan cewek lain. Kamu bohong waktu kamu bilang sedang rapat OSIS padahal kamu pergi dengan cewek lain. Jadi, terbukti bahwa kamu memang selingkuh. Gimana ?”

“ Kamu percaya dengan tayangan itu?”

“Ummm…itu kan reality show, jadi yah,..karna kejadian sebenarnya, jadi ya….saya percaya.”

“Kamu masih ingin berkawan, padahal kenyataannya saya penipu ?”

“Ah, itu kan hanya soal kecocokan jiwa aja. Mungkin memang kamu nggak pernah sayang sama cewek itu? Saya masih mau berteman kok!”

“Sungguh?”

“Sungguh.” Alis Iping terangkat mengucapkannya. Mana mungkin gue ga mau berteman ama makhluk ganteng gini. Hihii. Tapi kok sekedar berkawan sih….ih, Iping malu sendiri dengan pikiran nakal yang kecentilan itu. du..du…du..du..

“Bagaimana kalau saya bilang kalau adegan itu cuma pura-pura?”

“Ha? Apa?! Pura-pura maksudnya….” Iping tertegun. Dendang di hati Iping sirna perlahan. “Maksud kamu…..”

“Yah. Adegan yang kalian lihat di tv itu hanya bohongan.”

“Ummmm,….yang disebut reality show adalah…fiktif?”

“Mungkin ceritanya nggak, tapi sebagian besar pemainnya, ya.”

“Jelasin. Tolong.” Ketegasan Iping tiba – tiba muncul dari dalam semak-semak. Semak berduri di belakang Ruben yang sedari tadi dipandanginya.

“Bagian mananya? Reality show atau bagaimana saya terlibat?” Ruben sedikit kaget dengan perubahan Iping.

“Semuanya, Ruben. Kamu tipu kita semua. Buat apa?! Biar kelihatan hebat? Populer? Cari perhatian?!” Meski setengah berbisik sambil menahan marah, kata-kata Iping cukup menusuk.

“Tunggu. Tipu? Saya Cuma berperan untuk jadi orang yang selingkuh. Tapi itu bukan saya. Saya hanya berakting. Harap bedakan itu.” Ruben berusaha mengontrol emosinya. Ia cukup terlatih untuk itu.

“Lalu apa bedanya? Itu sama aja dengan kamu mendukung acara itu untuk membohongi publik.”

“Membohongi publik….” Sambar Ruben,” membohongi publik bagi kamu? Sekarang saya tanya. Sukakah mereka menonton film seperti Matrix, Superman, dan sejenisnya?….”

“Apa hubungannya?” potong Iping.

“Hubungannya adalah,…. Mereka sangat suka meski tahu bahwa itu semua cuma efek.  Cuma tipuan kamera. Cuma akting”

“Kamu jangan mencoba menyatakan bahwa masyarakat kita senang dibohongi!”

“Bukan hanya masyarakat kita, tapi sebagian besar  penonton.”

“Dan film itu berbeda dengan reality show yang harusnya real.” Potong Iping.

“Iping. Dengar saya. Sinetron, film, termasuk reality show itu dibuat tujuannya adalah untuk menghibur penonton. Jadi pendapat kamu yang menyertakan bahwa itu menipu, tidak benar. Lalu….”

“Lalu kenapa nggak buat yang nyata sekalian? Sejelas-jelasnya, apa adanya?”

“Lalu apa bedanya dengan film dokumenter?”

“Ha?” pikiran, juga amarah Iping tiba-tiba terhenti.

“Banyak alasan kenapa reality show nggak bisa ditayangkan apa adanya. Setahu saya konsep reality show memang kisah nyata yang sudah dimodifikasi. Makin tumbuh subur karna banyak diminati penonton.”

“Hmmm,…”

“Oke. Lalu apa motivasi kamu ikut acara itu? Kamu tahu itu bakal merusak citra kamu sendiri.”

“Iya. Saya tahu. Tapi percayakah kamu kalau saya memang membutuhkan peran itu untuk kemandirian?”

“Kemandirian? Demi uang biar mandiri maksudnya? Kamu kan anak orang kaya…”

“Hehehehe,…..tampang saya mungkin.”

“Pergaulan kamu keliatannya  gitu..”

“Hei. Kamu ternyata emang belum tahu saya. Saya beruntung dikasih anugerah punya wajah, juga badan yang disukai banyak orang. Hehehe. Makanya banyak tawaran untuk saya di dunia model dan sejenisnya itu. Suer, saya anak orang biasa aja. Keluarga kita memang cukuplah, tapi saya punya dua adek yang juga butuh biaya sekolah. Jadi, saya kepingin belajar mandiri, sekaligus belajar soal-soal kehidupan. Eh, tua ya??”

“Iya. Omongan kamu tua bener… nggak apa-apa.” Emosi Iping mereda.

“Kamu ilfil ya? Saya orang biasa aja?”

“Ah, kita semua luar biasa. Nggak ada yang biasa bagi saya. Kita semua hidup kan saling mengisi. Makanya Tuhan nggak ciptain kita seorang diri. Iya kan??” Iping mulai dengan gayanya yang sok bijak… lehernya dibuat setegak mungkin.

“Kamu tua juga ya. Hahahaha…” tawa Ruben lepas.

“Hehehehe,..sok tua ya? Trus,..kamu minta saya bagaimana? Katanya kamu juga sebenernya mau ketemuan sama saya?” Hemm,..dasar gengsi. Iping mau menekankan bahwa Ruben juga butuh dia sebetulnya.

“Saya yakin, kamu bisa netralisir keadaan di sekolah…”

“Tunggu,….kamu sedang minta nama baik kamu dibersihkan? Kamu minta saya tulis besarbesar tentang sisi positif kamu untuk membalas coretan-coretan itu di semua mading sekolah kita?” Mata iping menyipit curiga. Ia mengendus maksud terselubung Ruben.

“Bukan. Jangan curiga begitu dong. Saya kan Ketua OSIS, saya punya tanggungjawab atas ini semua. Saya butuh kamu terutama sebagai Ketua Tim Kreatif untuk bantu kami memecahkan masalah ini.” Ruben menjawab kecurigaan Iping selogis mungkin.

“Motivasi kamu ikutan reality show itu memang untuk kemandirian? Bukan untuk cari sensasi? Atau kepingin populer? Kepingin jadi selebritis??” Iping menyelidik sekali lagi, tapi sebelum Ruben menjawab, Iping berubah pikiran,” Ah,…apalah motivasi kamu. Itu kan urusan hati kamu. Lagian, kamu juga kan yang ambil resikonya. Okelah, saya cari cara untuk beresin ini semua bareng tim saya.”

“Trimakasih atas pengertian kamu. Saya pingin jadi aktor hebat suatu saat.”

“Tapi Cok, eh…Ruben. Lain kali kalo pilih peran dipikir yang smart dong. Jangan semata-mata karena honor…memang sih,.. akting kamu bisa natural begitu, makanya bisa bikin temen-temen kebawa emosi lalu buat tulisan-tulisan spontan di mading itu.”

“Yah, Iping…namanya juga pemula. Peran apa aja kan yang penting belajar dulu. Hehehe makasih ya pujiannya.”

“Oke, pulang dulu ya.”

“Apa? Pulang??”

“Kan udah selesai masalahnya…”

“Kesepakatannya gimana?”

“Saya pikir dulu. Selain itu saya butuh diskusi dengan tim saya.”

“Oh, eh. Iya deh..”

“Lagipula udah mau gelap”

“Yuk, saya anter. Tunggu ya, saya bayar dulu.”

“Dianter?? Ah,..nggak usahlah..”

“Ya udah, bareng.”

“Kok bareng ? Maksudnya..”

“Angkot kita kan sejalan…”

“Wih,…kok tau!”

“Taulah,…saya masukkan kamu jadi Ketua tim kreatif OSIS, artinya saya udah incar kamu sejak lama…hehehehe.” Ruben langsung pergi menuju kasir…Iping melongo bengong.

“Apaan sih….” Gumam Iping risih. Soal beginian, nanti dululah.. masih jaauuhhh…

:::::sp:::::

Kebun Raya Bogor. Atmosfir begitu menggairahkan untuk menulis disini. Bersama timnya, Iping mengajak semua yang terlibat dalam penulisan MadingLas dan MadingMa menuju Kebun Raya yang tak jauh dari sekolahnya.

“Oke,…perhatian semuanya. Silahkan Teman-teman mencari tempat senyaman mungkin untuk menulis.  Seperti yang sudah saya tulis dalam undangan, tema mading kita bulan ini adalah Reality Show.  Jika ada yang belum sempat mencari dan mendapatkan bahan, silakan baca kliping tentang reality show yang sudah kami buat ini. Trimakasih……” Teriak Iping bising dengan toa yang tulat tulit tak keruan.

Wih,..kasus si Ruben ternyata bisa jadi ide untuk tema mading selanjutnya. Reality show. Pak pandu, Kepala Sekolah setuju dengan langkah Iping dan tim-nya. Apalagi Ruben. Paling tidak, teman-teman tak memojokkan Ruben dan belajar untuk tidak menelan apa yang disajikan tayangan televisi secara mentah-mentah.

Hahahaa…Iping tertawa dalam hati. Sebetulnya siapa si korban media disini. Ruben yang kepingin jadi aktor. Teman-teman yang langsung kecewa dengan profil Ruben lalu mencoret-coret mading dengan emosi. Tim kreatif OSIS yang menyelenggarakan Mading untuk kebebasan berekspresi. Iping yang ribet dengan urusan diplomasi karna masalah ini. Atau… tayangan televisi itu sendiri yang menjadikan penonton korban padahal tayangan itu sendiri juga korban karena harus mempersiapkan acara sambil dikejar waktu….berarti,..semua yang terlibat didalamnya juga merupakan korban media. Lalu,..makin menjamurnya acara itu, juga menambah korban media?

Astaga…. Ternyata kita memang hidup dalam kesempatan menjadi korban  media. Apa sih sesungguhnya korban media. Siapa yang disebut korban media. Apakah jika kita menikmati suatu media,..berarti kita harus bersiap karna telah menjadi korbannya. Dan,..apakah korban media selalu menderita?

Dibawah pohon raksasa ini,…Iping makin tenggelam dalam tulisannya… di sebelahnya, Ruben tiduran sambil baca skenario yang telah dibuat Iping untuk pementasan teater di sekolahnya. Mereka barter. Iping menulis tentang kisah Ruben, dan  Ruben akan berperan menjadi salah satu tokoh di pementasan teater itu. Demikianlah mereka bersinergi. Kekompakan itu memberi udara yang menyegarkan bagi kemajuan sekolah mereka. Belajar, berkarya dengan semangat dan suka cita. SELESAI

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Oktober 2008 in Cerpen A-Be-Ge

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.