Bapak
Kutahu. Seekor ranting jati cangkuli rasamu. Ribuan cahaya
hingga darah keluar dari dasar. Melarva.
Lalu kau berontak mencari langit
sesaat. Kau temukan dalam kuntum mawar plastik.
Kira kau itu wangi dari langit.
Kau pikir kira kau itulah langit.
Dan. Ranting duri itu pula cangkuli asa. Mengikat lelahmu
hingga menjejal ruangmu, untuk bercinta pada bayangan kaktus
hingga juga kau bertanya menabik langit.
Dan. Temui kembali ranting jati, yang tlah lama beriku sari.
Kau pikir derita maunya langit.
Kira kau itu restu langit jadi jawaban.
Kau pikir kira kau itulah langit.
Kulihat. Jelitamu lepas satupersatu mengerucut,
ranting jati masih cangkul habis dasar jinggamu jadi abu.
Jawab lekas. Jika kuhabisi kuat dan kelam jati. Hingga musnah habis
akar getahnya. Dan kukatakan aku tak suka sarinya.
Akankah langit duduk disebelahmu. Untuk serukan kuatkuat
bahwa musim hijaumu akan segera subur.
Dan. Kau tinggal segala hutan mengaum
Berjalan pada sebatang bambu bercahya petir bijak.
Sendiri. Bercengkerama dengan langit,
tanpa ampun.
tak ada itu rasa kehilangan
pada akhir kisahmu
tak ada itu
dan aku berada dalam kegelisahan
aku pernah katakan padamu sekali waktu
“hambar
datar
tawar
dapat kuberi kali ini
padamu yang jatuh terkulai
sebentuk cinta yang sayu
siap nyanyikan lagu lelayu”
aku juga pernah bilang padamu
“biar
kurapihkan sedikit
luka batin yang berserak
tiap pandangi awan berarak
hatiku tersengat sakit”
kau tinggalkan aku sekali lagi
tak ada alasan kuratapi
lalu bila mata mata mata tertuju padaku. jahat.
akankah buatmu suci
kala menuju ke liang lahat?
sungguh menyedihkan nasibmu di ujung mati
cintai bayangan kaktus yang entah cintakah?
dan bersandar pada mawar yang ternyata plastik
terjerembab pada nada sumbang kehidupan
amuk gelombang kau akrabi
aku tak kehilanganmu, seperti tangis di ujung mata
aku tak rindukanmu, seperti nyeri di ujung tawa
2009