RSS

Arsip Bulanan: Februari 2011

Belajar Kisah Kasus Ariel, Soal Don Juanisme

Hmmm,.. mari bayangkan. Anda punya segala yang menjadi milik. Karir cemerlang. Populer, banyak penggemar. Semua itu didapat dengan kerja keras. Tak hanya bakat dan kemampuan, anda juga mulai perhatikan penampilan. Berusaha ekstra keras membentuknya biar menarik (siapa bilang menjaga ‘body’ itu kerjaan gampang…) Lalu jadilah wajah tubuh mendekati sempurna, uh, siapa yang tak menggilai anda.

Tentu anda ingin sekali menunjukkan kesuksesan itu kepada banyak orang, bukan? Hal hal yang mengikutinya, seperti sukses memikat hati lawan jenis (yang juga ‘sempurna’ di mata publik) mestinya jadi kebanggaan tersendiri yang segera ingin anda abadikan. Mulanya hanya untuk diri sendiri saja, tapi, hmm…bukankah hampir semua pelaku penyelewengan punya godaan untuk membocorkannya..

Ah. Meski sedikit basi, masih saja menarik rasanya, mengikuti kisah kasus Ariel.

Gambaran di atas sekedar imaji saya ketika membayangkan diri ada di sana. Waow, teringat masa remaja ketika kepingin sekali terlihat seksi, karena bentuk tubuh mendukung untuk melakukannya. Saya cukup paham situasinya, tentang hasrat untuk mengabadikan diri dengan merekam suara (seksi), video (porno) , foto (bugil) atau lainnya. Semua ini terpikir ketika saya teringat tentang narsisme, tentang presentasi (baca: pamer) diri. Apakah Ariel, dan sebagian hasrat dari diri kita itu mengalami kedua hal ini?

Namun sempat saya terpikir juga soal ekshibionis, yaitu hasrat seksual seseorang (merupakan kelainan) untuk memamerkan kelaminnya kepada orang tertentu, bukan agar bisa berhubungan seksual tapi lebih kepada sensasinya (biasanya setelahnya mereka melakukan masturbasi).

Itu bila kita berpikir soal narsisme, presentasi diri, atau ekshibisionis, tapi saya tertarik hal lainnya.

Suatu hari, ketika menonton pendapat salah seorang pakar psikologi di televisi, disebutkan bahwa sosok seperti Ariel kemungkinan mengidap Don Juanisme. Hhmm.. saya jadi kepingin tahu lebih banyak tentang ini. Dan, fuihh… cukup takjub juga dengan hasil pencarian tentangnya.

Perilaku Don Juan terjadi ketika seseorang mengalami kondisi Satyriasis, dari bahasa Yunani ‘satyros’ yang berarti ‘satyr’. Dalam mitologi Yunani, satyr merupakan makhluk separuh kambing separuh manusia yang merupakan ikon perilaku seksual yang acap membuat keonaran.

Satyriasis merupakan keabnormalan gairah seksual yang intens pada pria. Ini adalah perilaku seksual romantik yang berlebihan, tidak normal, tidak terkontrol. Ini juga akibat dari kondisi narcissisme yang ekstrim ketika seseorang merasa segalanya selalu menyangkut dirinya bukan orang atau hal lain.

Seorang yang disebut Don Juan umumnya memiliki dorongan besar untuk menundukkan wanita dalam hal seksual. Biasanya tertarik pada proses penaklukan, dan rasa ketertarikan pada lawan jenis akan surut setelah berhasil ditaklukkan. Ya, merekalah sang petualang kelamin.

Menurut Carl Gustav Jung (tokoh psikologi), pria yang mengidap sindroma Don Juan adalah pria yang ingin mencari figur ibunya (ada konflik Oedipus) dalam diri setiap wanita berbeda. Mereka haus pengakuan dan senang dipuji orang banyak, justru karena kurangnya rasa percaya diri.

Kebanyakan Don Juan tidak menikah, atau menikah namun hanya untuk formalitas belaka.

Ada banyak lelaki di luar sana yang memiliki kecenderungan Don Juan. Jadi, para wanita nampaknya perlu cermati hal ini. Saya pikir, lelaki petualang kelamin mendekati wanita bukan semata karna baik buruknya kepribadian, atau indah tidaknya penampilan fisik, tapi karena ada peluang yang memungkinkan mereka masuk, dan bebas berpetualang dalam hidup banyak wanita.

Jika anda sedang berada disana, jangan lupakan soal penyakit kelamin juga ya. Oke?!

Salam,

SandraPalupi

 
Leave a comment

Posted by pada 23 Februari 2011 in Pojok Kejiwaan

 

Kaitkata: , , , ,

Facebook dan Buku

Fesbuk. Fesbuk. Fesbuk. Wuihh… begitu banyak kemajuan disebabkan olehnya. Tak hanya soal jalinan silaturahmi yang tersambung, mempertemukan mereka yang mustahil ketemu di dunia nyata. Tapi juga soal kemanusiaan, mampu membentuk ‘people power’nya yang tak bisa diabaikan pemerintah. Bahkan soal karya. Tak dapat dipungkiri, fesbuk bisa jadi tempat penyinta dunia kreatif saling menularkan spirit, saling memberi inspirasi, dan sebagainya.

Khususnya dalam soal karya, fesbuk sungguh memungkinkan seorang yang tadinya merasa karyanya biasa saja, nyatanya malah mendapat ‘sambutan meriah’ dari para penikmatnya yang sesama fesbuker. Ini nampak dalam dunia kepenulisan.

Budaya baca dan tulis yang berkembang pesat, seringnya menginspirasi para penulis dan menemukan gairahnya dari sana. Membuat buku bukan lagi cita-cita yang mustahil dan langka. Pemilik dana yang merupakan penikmat dan peminat suatu karya, akan tertarik untuk membantu menerbitkan. Baik beramai-ramai, maupun seorang diri. Fesbuk memungkinkan segalanya terjadi, tanpa keharusan sering-sering bertatap muka di dunia nyata.

Saya sungguh menyambut gembira kehadiran karya kawan-kawan fesbuk (satu lagi keasyikan tiba-tiba ketemu, bisa menyebut mereka yang ternama sebagai ‘kawan fesbuk’..hehehe) dalam bentuk buku. Baik itu berupa antologi puisi, cerpen, maupun novel. Banyak dan makin banyak saja, tumbuh begitu subur.

Ehm, saya tak hendak membicarakan kualitas dari buku-buku tersebut. Saya hanya ingin mencari solusi bagi buku yang dijual secara online. Sebagai penyayang buku dengan dana pas pasan, biasanya saya mencari buku yang berkualitas dengan harga terjangkau. Menunggu datangnya diskon, atau memburu ke penjual buku yang sudah terkenal bisa menjual buku dengan harga miring.

Sedih juga, jika karya kawan-kawan fesbuk yang makin banyak itu tak bisa saya dukung dengan membeli buku ciptaan mereka.

Pertama saya kesulitan melakukan seleksi lewat kualitas karya, juga kegunaannya bagi saya untuk belajar.

Kedua, ongkos kirim yang menyertai harga bukunya (yang terkadang sudah dimulai dengan harga cukup tinggi) memang cukup memberatkan bagi saya. Terkadang ongkos kirim hampir sama besarnya dengan harga buku.

Ketiga, cara pembayaran yang ‘ribet’ bagi saya jika tak punya ATM yang sama untuk melakukan transfer. Saya akan dikenakan ongkos tambahan lagi untuk jasa transfer. Terkadang saya juga harus menuliskan kode-kode tertentu yang Ya Tuhan, bukan saya banget untuk berusaha tahu semua itu. Bahkan ada ATM yang menolak transfer bila jumlahnya tidak memenuhi standar minimal. Lewat Bank, jelas saya harus mencuri waktu kerja saya. Lewat kantor pos, yah… ada biaya tambahan lagi untuk jasa wesel.

Saya jadi bertanya-tanya, adakah solusi bagi semua ini. Apalagi jika kelak saya yang mendapat ‘giliran’ untuk bisa membukukan karya saya. Bagaimana cara saya agar tidak merepotkan para penikmat karya yang hendak membeli buku saya kelak, bila terpaksanya saya harus mendistribusikan buku-buku tersebut dengan cara yang sama, online.

Sepenuhnya saya sadari, buku sastra seperti puisi atau cerpen yang saya geluti, sedikit diminati bila tak ‘bagus bagus amat’, apalagi ‘terbit’ dari fesbuk (banyak orang menyangsikan karya yang datang dari pengarang dunia maya seperti facebook), ditambah amatiran seperti saya. Book from facebooker. Sudah disangsikan kualitasnya, rumit pula cara pemasarannya. Repot bukan?

 

Salam,

SandraPalupi

 

 
1 Comment

Posted by pada 17 Februari 2011 in Pangkalan Fesbuk

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.